
Amanda mempekerjakan semua dengan peraturan semula, dan melalui kepercayaan kelirunya dengan Shelly. Amanda semakin bertanggung jawab untuk membesarkan hati bawahan. Maria pun kembali dipulihkan seluruh saham-saham miliknya. Marry juga kembali ke istana Waddesdon Dee.
Setelahnya Shelly kembali bekerja
di toko donat, setiap minggu ia tidak menolak tawaran lelaki menginap bahkan menidurinya, hanya harus memberikan lima juta, setiap kenikmatan kau rasakan tidak lain mustahil dijamah, aku ratu dulunya. Semua pelanggan merasa terhibur dan tidak percaya. Shelly jadi penghibur dengan tarif tinggi. Amanda yang mendengar itu sudah tutup kuping tidak peduli. Padahal ia seorang pandai, pandai bakteri dan pallidium, kenapa melacurkan diri juga? Kata Amanda. Maria memberikan majalah Simto. Kita musiumkan peninggalan perempuan ganas itu, dan berdirilah bangunan untuk menghargai pengajaran-pengajaran Shelly. Swarte & Symtology Plague. Bahkan dihari-hari tertentu pengagum perempuan hebat itu mengadakan layar tancap, menyaksikan ceramah-ceramah besar pernah terjadi dan dipercaya semua umat Ordo Phantom. Sayang sekali, perempuan sehebat itu, kenapa harus jadi kurban gerakannya sendiri. Kata Maria. Shelly tetap dikenang. Arnita justru meneruskan kelas kedokteran, ia mengakui Shelly sangat berani dan lebih lagi, seluruh pengaruhnya benar-benar matang, tidak carut marut seperti kedua diplomat itu.
Arnita benar-benar mewujudkan mimpi perempuan itu, ia mendirikan cabang-cabang farmasi untuk memutus bakteri satyriasis dan gonoccocus gonorrhea, semua pegawai medis di sana kebanyakan mantan kaum Shellyisme. Arnita mempekerjakan mereka hanya sebagai layanan masyarakat. Jika ada yang membutuhkan silakan periksa dan diobati secara gratis. Itu katanya.
Suatu malam minggu Shelly berencana untuk mengunjungi Phantomon, tanah luas dan besar milik Amanda, ia sudah berdandan dengan baju terbaiknya, bahkan menolak pelanggan berahinya, sebuah taksi mengantarkannya ke sebuah gerbang tua dan berlumutan, di papan depan terpasang verbonden: kehutanan pemerintah dilarang masuk. Shelly sadar berdasar petunjuk peta dulu, ia memang masuk lewat pintu kotor kemudian menemukan istana Phantom. Ia diam-diam mendongkel gerbang, memijakan kasut kotornya, menyeberangi hutan-hutan besar dan tidak dia tahu bekas rokok membakar hutan jadi seperti neraka. Shelly terperangkap di tengah-tengah hutan sedang berkobar hebat. Ia berusaha menyelamatkan diri tetapi dahan-dahan besar terus berjatuhan. Shelly akhirnya pingsan. Sesuatu yang terbang membawanya entah ke mana. Sesampainya ke sebuah gedung tenang dan sejuk. Shelly terbangun di atas ranjang empuk dan besar. Ia tersadar dan memanggil-manggil Amanda. “Aku mohon maafkan aku Manda!”
Seseorang tertawa dengan suara menghinakan. Shelly bangkit dari dipan dan berjalan ke tengah kamar. Duduk seseorang di ujung jendela. “Sudah bangun?”
“Siapa kau keparat!”
__ADS_1
“Kenalkan aku sudarimu.”
Shelly membeliak di mana perempuan itu turun ke lantai dan mengeluarkan sayap kelelawar terbakar kemudian padam. “Tidak mungkin, sudarimu sudah katakan kau minggat! Jadi l****!”
Cecil hanya menyeringai.
“Mau kau aku bantu?” tanyanya.
“Hancurkan Phantomon, aku kembalikan kepercayaanmu untuk rakyat dan uangmu.”
Mereka tertawa besar.
Api sudah dipadamkan. Amanda menerima pemberitahuan, kehutanan kekuasaan pemerintah sendirinya hangus, seseorang jawatan perkebunan datang memberitakan: bahwa kebakaran luarbiasa berlangsung tujuh malam sampai mana sepuluh malam. Seterusnya kobaran baru diketemukan sejam kemudian. Satu dini hari. Norah juga bersaksi: perempuan komisaris itu menduga penghabisan pohon-pohon besar diakibatkan penyulut puntung. Amanda menugaskan mendapatkan keterangan lebih jelas.
__ADS_1
Sepulang itu Norah mendapati, keamanan sudah pada pulang tujuh malam, kebenaran kami tidak punya kewaspadaan. Jadi hutan termakan habis mulut api. Kata kesaksian. Pelakunya hilang setelah diketemukan tembakau gosong, mungkin bisa saja orang dalam atau sengaja jatuhkan rokok untuk kubur hutan jadi api. Norah kembali menguatkan. Penghijauan sangat dibutuhkan, kami butuhkan reboisasi, mengatasi kebakaran demikian berulang, barangkali sembilan bulan kehutanan bisa pulih sedia kala. Itulah penegasan utusan belantara.
Amanda merasa harus menemukan pengacau itu. Kita tidak bisa membikin perkara. Mereka penyundut perkara itu. Kita mestinya demikian mengerti keadaan, pelakunya mengambang tanpa akar ke buminya, hebatnya melarikan diri semudah-mudahnya, harapkan kemudian waktu pembakar diketemukan. Pemerintah dengan senanghati memberikan wilayah kosong untuk operasi-operasi komisi kita. Sebaliknya menjungkir kepercayaan jadi buyar pecah merelakan kewajiban dan pertanggung jawaban. Amanda menyangsikan keras-keras suaranya. Semua dewan-dewan dan kanselir dan bawahan, mentri-mentri, sekertaris jendral semua-mua seperti ketiban raksasa dan pantatnya.
Arnita datang menerangkan: anggaran sedang menipis sementara, katanya, mendengar itu Amanda memintakan waktu berpikir keras, lima hari kemudian surat kembali menyambar laci kantornya. Perempuan bongsor itu menyerahkan selebaran penarikan bank. Datang saja ke Handelsbank, begitu katanya. Arnita menyanggupi. Perempuan garang itu sendirinya pergi, mengantri berkepanjangan, putuskan tiduran di pinggir kedai dengan koran menutupi wajahnya seperti mayit. Arnita terbangun setelah tiga puluh menit, menyambang bangunan, menerima sebesar 60 juta, sekembalinya ke luar kuping miliknya mendengar keributan bahkan letusan pistol terus meraung-raung. Arnita tidak jadi naiki kumbang kunonya. Memalingkan wajah penuh ketegangan, matabesarnya semakin menganga seakan menelan bumi sekali santap. Dikejauhan lima mobil ceper milik perampok busuk dan bau sudah pada hening depan bank. Arnita melarikan tubuh ke sana.
Orang-orang ditawan dengan satu manusia bersenjata pestol, kalian serahkan nyawa atau gadaikan kalung, emas, perak atau kuburan. Mereka tertawa-tawa mendengar itu. Tentu bandit babi. Maki Arnita diam-diam. Badannya mengintai diam-diam, satu persatu perampok merampas barang-barang pegawai, pelanggan. Sudahnya seseorang menilpun diam-diam bawah kolong meja. Seorang perampas menembak meja kayu sampai keping. Lelaki penilpun buyar menggenang dengan darah menembusi lantai dingin. Dingin seperti hati manusia-manusia mati luar sana. Arnita sudah kobar. Sendirinya pintu kaca dihancurkan kedua tangannya. Kelima preman menganga. Mereka menyemburkan omongan-omongan manusia najis dan kotor. “Tidak ada perempuan sedungumu, kecuali kau menyeboki kami pagi ini.” mereka semakin menertawakan.
Wajah-wajah itu semakin juga mengkerut ke atas, semakin juga mengkerut-kerut, semakin meringis-ringis.
“Biadab!” Arnita menggeletar memajukan sepatunya.
Bersambung ....
__ADS_1