Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Paulerian


__ADS_3

Paulette yang baru pulang menyanyi di gedung Solid Gold, mengadakan temu penggemar setia, sebanyak lima pengawal sudah pada berdiri di pintu apartemen. Mereka yang menamakan diri Paulerian, memintakan tanda tangan, memintakan poto bareng bahkan menukar kaus kaki sampai sepatu dengannya. Paulette suka-suka saja meladeni mereka. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Selesai itu ia menitipkan apartemen sudah sah atas namanya. Kebetulan aku sangat lapar, bawalah ke McDee. Sekarang wabah sedang menggarang nona. Kata supir melajukan mobil. Baiklah bawa ke Lunch Dee saja.


Sampainya ke sana mobil diparkir bawah gambar restoran. W besar dengan D di atasnya. Paulette menghirup nafas tenang-tenang, ia sadar sudah menyentuh bumi Phantom kembali. Padahal sudah putuskan untuk tidak pernah lagi. Sekali-kali menyantap tidak ada salahnya, kan? Katanya ke asisten Liana Staveren.


Mereka memasuki ruangan luas namun minimalis dan sedap dipandang, kelima pelayan terus menyajikan menyambut kedatangan mereka, musik-musik menyenangkan membubung keluar fonograf pojok kasir.


“Baik, silakan nona pilih mana kesukaan, kami berikan promo spesial atau satu paket keluarga dan paket hangout.”


“Mana manajer?” Paulette senyum menerima pembukuan menu. Masih berdiri begitu depan kasir. Kasir menjawab ramah:


“Nona Yosi tidak pernah punya waktu. Sesekali datang setiap Jumat dan Minggu, itu pun lima sore.”


“Sibuk sekali.” Paulette menunjuk urutan-urutan lunch. “Satu martabak keju tanpa cokelat, satu lagi untuk supirku, satu lagi untuk asistenku. Satu lagi dua minuman stroberi yogurt.”


“Silakan duduk dan selamat menikmati.”


“Aku makan pun belum.” Paulette menggerutu mengusap perut makmurnya.


Ketiganya duduk memutari meja kayu. Paulette tidak bakal percaya, lima tahun lamanya komunitas kecil itu akan berkembang sebesar sekarang, mungkin itulah takdir, semua usaha tidak ada yang khianat. Kecuali manusianya saling ingkari sesamanya. Tuhan tidak. “Bagaimana Staveren? Suka kau ke sini?”


“Bukan suka lagi, mungkin ketagihan!” bisiknya menggenit.


“Itu sih maumu. Berapa kemarin makan di Singapura?”


“Taco saja dua puluh ribu, apalagi nasih padang bisa-bisa lima puluh non!” tutur Staveren yang semangat tinggi.


“Wah, mahal juga? Kecuali semua sengaja bikin miskin penduduk.”


“Kalau murah tentu tidak bakal orang sudi, Nyonya.” kata supir.


“Kau benar. Eh, kalau benar mahal, mana mungkin modal bisa terus hidup dan kembali ke semua pengusaha, pengusaha sudah raja sekarang, di mana pun.”


“Nona benar, saya semakin lapar.” Staveren mengeluh.


“Kalau begitu telan saja seluruh manusia di sini.” Paulette menata-nata jambulnya depan cermin hias mungil.


“Ah, non brengsek!”


Paulette hanya terhibur terbahak-bahak.


Pelayan dengan seragam putih merah itu datang, menyuguhkan nampan pesanan, mereka langsung makan lahap dengan Paulette menikmati martabak meleleh dan manis memuaskan cacing-cacing jadi pesta pora. Staveren benar-benar habisi sampai keping susu stroberi. Supir memakan secukupnya meski sudah sediakan kresek untuk oleh-oleh bininya. Paulette melarang keras itu. “Jangan ndeso Paiman, aku pesankan dua untukmu dan anakmu, binimu bisa kau bagi dengan pesanan pertama.”


“Wah, kalau dua saja saya tidur dikuburan non.”


“Syukur aku belikan, memang ke mana gajimu?”


“Bikin empang satu kolam non.”


“Untuk?”


“Untuk berenang satu keluarga kalau panas non.”


Paulette saling melirik dengan Staveren. Mereka tertawa besar persis manusia goa dilempar ke ibukota.


“Sudah?”


Mereka mengangguk kemudian Paultte membayar masing-masing empat puluh lima.


“Murah tapi boros juga.”


“Jadi pesan?”


“Tiga martabak lapis biasa, jangan manis tinggi.”


Pesanan sedang ditunggu-tunggu. Tidak lama seseorang masuk menyapa. “Sudah sebesar ini?”


Paulette menengok suara itu. Matanya menganga menakjubkan. “Nita?”


“Aku suka melihatmu kemarin. Apalagi suaramu yang tegas dan tinggi. Apalagi suaramu mirip Olivia.”


“O?” Paulette menutup mulut tertawa diam-diam. “Padahal aku lebih suka Branigan dengan Gloria miliknya, tidak masalah, banyak mereka menduga aku lebih mirip Olivia.”


“Bagaimana usahamu?”


“Kami wakil korporasi tidak lebih.”


“Alah, alasan saja,” Paulette membuka rokok menawarkan Arnita. Arnita menerimanya.

__ADS_1


“Kau sudah lebih baik. Aku melihatmu kurus sekali dulu. Kerjamu mengejar pria.”


“Semua sudah lewat tidak ada gunanya untuk sekarang.”


“Katamu boleh saja. Apa sedang terjadi?”


Arnita membisikan dibalik buku makanan. “Perempuan itu sudah bikin kekacauan besar.”


“Aku sudah tidak hafal siapa saja di sana? Shenna? Eh-eh, O, Galin, Melissa, Marry, Maria? Amanda! Apa kabar juga?”


“Mereka baik-baik saja. Nah, Amanda semakin sibuk, Maria pun begitu, Galin sudah wafat, Shenna penggantinya, Marry pengusaha sekarang.”


“Marry? Perempuan idiot itu. Bagaimana bisa?”


“Amanda terus menyokongnya. Tentu saja bisa.”


Paulette menyemburkan minuman miliknya. Paiman basah kuyup. Staveren mandi air liur.


“Galin?”


“Pesawatnya hancur, hancur sampai keping.”


“Aku tidak pernah lupa, Galin pernah aku berikan Pattie Coklat, katanya suka sekali. Semoga damai di sisi Tuhan.”


“Stella tentu kau sudah dengar.”


“Dia paling mengenaskan, mobilnya habis ditembusi peluru, siapa pelakunya?”


Arnita diam-diam memberikan kartu nama.


“Demokrasi?” Paulette meringis jengkel. Membuang nafas kesal. “Kurang biadab apa mereka sudah banyak bikin hancur negeri ini.”


“Mereka seperti kartel, syndicatt, mereka punya suap di mana-mana. Mereka bukan golongan bank atau korporasi.”


“Mengapa tidak dibersihkan saja.”


“Butuhkan tidak sedikit waktu.”


“Amanda punya saham besar. Harusnya dia lebih cepat darimu.”


“Ssst!” Arnita membungkam mulut Paulette. Melepaskan dengan telunjuk menuding ke hidung bangirnya.


“Memang kenyataan tetapi Amanda hanya wakil, tidak punya wewenang ke sana.”


“Kalian bergerak hanya seruan atasan?”


“Memang begitu dari dulu-dulu.”


“Baik. Aku mengerti, aku mengerti. Tenang aku sudah bagian kalian.”


“Kupikir kau sudah kaum Anton.”


“Jangan hinakan dulu, mereka hanya pengimpi dunia tanpa akar ke buminya, bisa saja keluarga dunia hapus mereka?”


“Kemungkinan bisa.”


“Pesanan sudah jadi.”


Paulette membayar sebesar dua empat ribu. “Yosi pandai juga, minuman tujuh ribu, makanan biasa delapan ribu, coba setahun begitu terus? Sehari saja sudah banyak sekali peminatnya.”


“Begitulah bisnis.” Arnita mengangkat kedua bahunya.


“Mau ke rumahku?” Paul menawarkan.


“Lain kali mungkin aku bisa. Banyak belum selesai.”


“O, baik, senang bicara denganmu.”


“Paul, kau tidak mau kembali? Aku tahu kau masuk ke sana.” Arnita membuka arloji kantong.


“Tidak ada Cern dalam hidupku!”


“Kau bohong. Sudahlah, lupakan, lagipula kau sudah punya jalanmu sendiri.”


“Aku mengaku. Aku memang ke sana.”


“Jangan ke sana lagi. Itu pintu ke neraka.” Arnita bicara dalam lidah Prancis.

__ADS_1


“Selamat malam, jangan lupakan malam ini.” Paulette memasuki mobil cepernya. Arnita melambaikan tangan. Lunch sudah hendak ditutup dan dibuka paginya, tetapi orang-orang kantor yang bermarkas seberang lapangan bola pada datang.


Mereka sudah bertamu dengan lima pelayan melayani cakap. Tahu-tahu muncul diambang pintu sepasang perempuan musafir. Mereka menyambang masuk. Melihat-lihat, kagum, tetapi meremehkan dengan gigi hampir membahak. Mereka putuskan mengambil tempat.


“Coba saja sediakan bunny di sini, pasti banyak cukong datang,”


“Aku penasaran.” Cecil menunduk memandang Shelly. “Apakah Yosi akan menari untuk mereka?”


Mereka membahana dengan tawa mengganggu.


Pelayan datang. “Selamat malam. Menu biasa atau paket hangout?”


“Bagaimana kau?”


“Ada candu? Birma! Birma!”


“Maaf kami tidak menyediakan itu.”


Shelly meringis *******-***** pundak Cecil.


“Payah, bolsh? Cognac? Bir? Coctail? Brendi? Arak? Wine? Wodka?”


“Tidak ada, kami bisa sediakan stroberi yogurt atau susu panas.”


“Kau masih perawan?”


“Maaf aku tidak punya waktu.”


“Kau suka pakai pengaman?”


“Silakan keluar atau kami hubungi polisi!” gertak pelayan.


“Yosi sudah tidak perawan. Harusnya dia jadi bunny untuk ***** magang.” Shelly menggigit kentang pengunjung.


“Lebih baik keluar atau kami hubungi polisi.”


“Sudahlah tempat ini kami hancurkan sebentar lagi.” Cecil menyeringai.


Mereka pergi dengan pelayan buru-buru menutup pintu kaca. Yosi mendapatkan berita  Lunch Dee baru mengalami masalah. Ia menyuruh pegawainya hubungi Amanda. Amanda mengirimkan keamanan lima polisi politik samaran, mereka akan melindungi kalian, mereka hanya patuh atasan, mereka tidak bisa disogok atau disuap. Kecuali atasannya. Yosi semakin sering ke Lunch Dee. Semua orang ajaibnya lebih suka melihatnya. Mereka semakin banyak datang untuk belajar atau bertanya langsung Yosi. Yosi tidak keberatan. Mereka akhirnya semakin mengenal pengusaha muda itu. Sampai akhirnya: kau sudah tidak perawan?


Yosi kebingungan. Kedua matanya membesar menganga. “Siapa? Siapa suruh kau bicara begitu?”


“Kemarin kami mendengar sendiri. Ada dua perempuan.”


“Tidak benar. Sepuluh tahun aku lebih memilih karir daripada keluarga. Kau punya pacar berarti harus siap punya keluarga. Toh semua jatuh ke modal. Dari mana aku hidupi keluargaku kalau tidak bekerja?”


Kontan pendapat itu laksana tombak-tombak menembusi majalah-majalah ibukota, sebagian menyerang Yosi dalam suara-suara sumbang, kau munafik dan tidak punya cinta, kata seseorang. Bagaimana sepasang kekasih punya hubungan saling menguntungkan, semisal lebih penting karir daripada pasangan, bayi, popok. Bagaimana bayimu nanti? Kau suapi segepok dollar? Yosi kepanasan. Ia membuka pertemuan mendadak dengan pers bebas buka suara dan pertanyaan.


“Aku memang katakan itu, bukan berarti aku tidak punya belas kasih, aku mencintai siapa saja, siapa saja yang memberi hati dan perasaan. Bagaimana aku hidupi keluargaku? Tentu dengan bekerja. Tanpa itu kalian tidak akan hidup sampai sekarang. Aku tidak ada kemauan sombong. Aku ingat pernah makan telor sebulan penuh, aku ingat pernah dibayar lima ribu saja, semua sudah aku anggap proses, proses itu kekuatan manusia untuk semakin bertanggung jawab dan tentu bekerja.  Caranya? Caranya harus lebih baik dari hanya tahunya tindas hinakan. Hasilnya bagaimana? Bekerja!”


“Usiamu sangat muda. Hebatnya semua kau dapatkan mudah. Jika semua dulunya benar? Kau mau apa?”


“Aku akan mengajak mereka makan. Aku akan mengajak mereka ke restoran. Tidak ada sesuatu pantas ditakutkan? Aku hanya usahawan. Aku bukan penjahat. Mereka yang kikir itulah penjahat.”


“Bagaimana semisal kau sekarang bohong? Siapa dibelakangmu?”


“Manusia tidak ada yang jujur. Mereka punya kekurangan. Siapa? Mereka yang datang berikan modal sudah keluargaku.”


Pertemuan pers membuat Yosi tidak pernah berhenti untuk baik ke semua orang. Dalam mana itu Amanda menyempatkan ke rumah Yosi di perumahan Kenanga Timur. “Kami siap berikan bantuan, kau jangan takut-takut atau sungkan, kami keluargamu.”


“Berikan surat perjanjian.”


Yosi menyepakati sumbangan Amanda. Amanda sebulan mendapat saham lima puluh persen. Mengapa? Amanda bisa menjaga perusahaan dari mulut-mulut panas dan membara. Aku tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, Yosi menyetujui, berarti saham harus atas namaku juga.


Lunch Dee selanjutnya semakin diminati dan dikagumi tetapi mereka tidak tahu: Yosi sudah tidak punya kuasa besar atasnya. Semua properti sudah milik Amanda. Yosi hanya berperan mengatur keuangan dan manajer pasar. Amanda meletakan Lunch Dee ke kota-kota besar dan begitulah cabang dibangun dan meluas seketika itu juga.


Aku sudah tidak pernah melihat Yosi tertawa di tv. Biasanya aku sering melihatnya, wajahnya suka sekali senyum. Ke mana dia?


Yosi yang sadar namanya memucat. Amanda menyuruhnya bintangi iklan. Yosi mengikutinya tetapi suara-suara sumbang kembali naik: perhatikan saja perempuan itu berusaha sembunyikan sesuatu.


Yosi membintangi banyak sitkom komedi. Sesekali dirinya berperan jadi bos pemarah dan suka menyindir makanan persis taco dengan sambal lima hari belum ganti. Semua sepakat mengatakan: Yosi seperti sudah dikuasai. Yosi bodoh saja menanggapinya: tidak ada kuasa konspirasi, itu omong kosong, kadang lelucon bisa benar atau tidak sama sekali. Katanya tersenyum meminum cola dingin.


Amanda menanam uang lebih banyak dari sebelumnya, ia memberikan satu miliar untuk kemajuan korporet luar sana, tentu masih sepenyusuan keluarga setan dunia. Lunch Dee tetap milikmu, kau hanya harus setia untuk kami. Yosi mulai tidak kerasaan. Ia tahu, ia tahu Amanda sudah benar-benar berubah. Mungkin dengan tekanan pihak luar atau keadaan-keadaan organisasi. Boleh jadi perempuan itu sudah umum begini atau malah menikmatinya. Yosi merindukan Amanda yang dulu. Dulu Amanda membiarkan anak didiknya punya perkembangan sendiri. Mengajarkan mereka untuk jadi majikan dirinya sendiri. Sekarang semua sudah ditindih uang dan keadaan. Keadaan mengubah Amanda lebih memilih karir daripada keluarga. Yosi termakan dirinya sendiri. Love lost by money, love lost by power who control people. And people still enjoy it. Yosi berusaha mendekati Amanda tetapi perempuan itu lebih mudah akrab dengan Maria atau Arnita. Seminggu dibulan Juli—Yosi tahu siapa biang keladi tokonya: Cecil datang dengan Shelly mengganggu pelayan.


Mereka benar-benar biadab. Yosi menggeram membisiki Amanda. “Mudah saja punahkan mereka. Kita tunggu gerakan besar mereka.”


Dengan banyak jaminan dan saham-saham sudah diduduki bendera Phantomon, tidak satu pun mengira, perempuan itu punya satu resimen politik yang hanya dan bisa diperintahnya, selain itu tidak bisa. Mereka bukan baleo, baleo liar dan tidak punya kemampuan, polisi politik lebih mengenal keadaan dan kondisi suatu negara, mereka hanya bisa digerakan unsur-unsur pemiliknya. Tanpa itu mereka tidak mempan kekuasaan pemerintah sekali pun. Kata Amanda bicara dengan Maria.

__ADS_1


Memang keadaan mengubah manusia begitu cepat. Semoga kekuasaan bermurah padamu Amanda. Maria tahu Amanda tertekan polisionil—seharusnya dia tidak menaruh tangan malah sebaliknya. Mereka tidak mati karenamu tetapi penguasa negeri yang membutuhkan senjata untuk membunuh manusianya sendiri. Arnita menenangkan Amanda. Amanda memeluk Arnita.


Bersambung ....


__ADS_2