
Di luar kecamuk-kecamuk rezim Phantom, kejadian-kejadian tak terkirakan terjadi: Cecil benar-benar kerja-keras untuk bebaskan belenggu dari Phantom. Kedua tangannya tidak putus-putus sibak koran, koran sudah wajah kekuasaan dan manusianya, bukan tidak mungkin tiga tahun kemarin, tiga tahun itu Amerika sudah hendak menerkam diam-diam. Beberapa di antaranya dapat dipadukan begini:
Dr. Subandrio diketahui akan ke Filipina. Sekaligus bawa pesan kusus dari presiden, dalam mana itu Jumat pagi setempat, Menlu Subandrio hadiri konperen Macapagal Filipina. Katanya, katanya menerangkan masalah akut pembentukan Malaysia yang dirundingkan dengan Menlu Palaez di Manila. Kami akan bicarakan dekolonialisasi Asia Tenggara, tanpa melibatkan jatuhnya korban bersenjata di Asia. Begitu katanya. Mudah-mudahan selama di Manila nanti akan lebih terang, bagaimana keterangan-keterangan KTT yang diusulkan Filipina, kita akan bisa menentukan sikap selanjutnya. Katanya kembali.
Kata orang-orang konperensi itu dimaksudkan pula misi muhibah Menlu Subandrio, orang pada menantikan keputusan lebih lanjut 13 Maret tiga tahun lamanya. Diketahui Indonesia dan Filipina begitu mendukung satu sama lain, menguntungkan akibat berjuang untuk keamanan dan ketertiban Asia Tenggara. Menlu seterusnya akan bertemu Presiden Macapagal, demikian kutipan RRI tiga tahun lewat.
Cecil menduga-duga keamanan dan ketertiban Asia di sini; dimaksudkan minimalisir perang, AS sendiri mulai merongrong bangsa-bangsa baru berdiri dengan ideologi kebebasan, salah satunya kerjasama mereka dengan Inggris, melalui fenomena A GO-GO, gerakan rock n roll suatu api politik menjalar memasuki istana-istana negara lain. Sesam! Satu sesam sudah menyasmitakan brittish invasion, musik bukan semata prodak budaya, melainkan sudah pedang penakluk politik dan manusianya. Tidak lain propaganda golongan tertentu, yang menyertakan peran-peran politik ke negeri-negeri hendak ditaklukannya, sehingga tak kurang membosankannya. Semata Beatles, Stones, pelarangan-pelarangan keras Soekarno satu tahun belakangan bukan tanpa alasan, memang alasan yang jelas akarnya; pelarangan-pelarangan itu hampir memutus perkembangan baru dalam budaya dan masyarakatnya. Itulah kenapa Henk bikin hiburan malam anti barat-anti imperialis, suatu gerakan Eropa sedang menyasar pembesar-pembesarnya sendiri. Pangkalnya belumlagi ketemu.
Meledak pada waktunya, kata sebuah risalah. Katanya, katanya atas banyaknya pertanyaan; bagaimana kedudukan imperialis Inggris di Kalimantan Utara harini?
Mentri Penerangan Abdulgani menjelaskan, bahwa revolusi rakyat Kalimantan dewasa ini meledak pada waktunya, sang revolusi mengkunyah-kunyah kuman imperialis Inggris di waktu yang lemah. Semisal Inggris bukan dalam penghabisan, mustahil kebebasan diberikan mereka. Tetapi Inggris tidak tinggal diam, mereka berusaha selamatkan investasi Kalimantan Utara dan Malaya, berbondong-bondong membentuk kongsi, berbondong-bondong menyekutukan dukungan tertentu untuk memperkuat barisan, Tengku Abdurahman sebagai bonekanya.
Sekarang semakin terang, semakin benderang; segala bendungan larangan presiden bukan lain hendak putuskan kerakusan Inggris, jadi bukan dongeng, Inggris ketika itu sedang ganas-ganasnya memakan sumber manusianya, menjadikan negeri-negeri mana pun peternakan dirinya; segala upaya selamatkan modal asing, segala kekuatan mereka tempuh lunakan presiden tetapi pendirian presiden tetap tegak di atas kakinya. Nyatanya sampai sekarang pun begitu ....
Bayi nekolim Malaysia harus gugur punah sebelum lahir! Kata selebaran, Mentri Sudibjo telah berikan dukungan kepada ranting-ranting, pengurus daerah untuk tidak henti-henti berikan moril dan materil demi revolusi rakyat Kalimantan Utara. Mengagalkan rencana-rencana nekolim Malaya, kenyataan itu dinyatakan dalam serah-terima pemasukan Panitia Setiawakan Revolusi Kalimantan Utara, berpusat di sekertariat PB Nasional. Kalau bayi kolonialis lahir di bulan Agustus, secepat mungkin kita harus gugurkan sebelum bulan itu. Mengikuti keputusan konperen PB dan PD Front Nasional bulan Februari, maka semua gerakan Kalimantan Utara bergerak dalam Fond Nasional.
Mentri Sudibjo menjelaskan, bukan berarti revolusi juga harus dihentikan, tetapi kegiatan Kalimantan Utara masih harus hidup dalam lindungan Fond Nasional.
Dengan begitu bukan kami saja, melainkan sudah keharusan rakyat menentang Malaya dan gembongnya; Tengku Abdurahman. Bukan tindakan Bung Karno saja tetapi segenap golongan mana pun di bangsa ini, dengan tegas dan sadar menolak keras nekolim dalam segala wujud dan bentuk apa pun. Katanya kembali.
Mentri Sudibjo kembali terangkan, rakyat Indonesia juga mengajukan keberatan, atas penangkapan pimpinan rakyat Malaya yang menentang keras Tengku Abdurahman, seterusnya seruan itu menyebar luas ke Asia-Afrika untuk semakin memperkuat kesatuan dan perjuangan rakyat Kalimantan Utara.
Bukan hanya itu, Tengku sendiri akan menundukan Riau ke dalam cengkeraman mautnya, pernyataan itu jelas dia sampaikan lewat sidang PBB, melalui UMNO, gerakan-gerakan pemuda mendesak sendirinya wilayah Kalimantan untuk jadi satu federasi dengan Malaysia.
Apalah kata, kerusuhan dan kekacauan demokratis negeri ini sekarang derita, tidak lain penentangan keras tiga tahun itu, melalui Inggris dan Amerika, Malaya menggulingkan presiden dengan diam-diam tanpa kecuali, tidak satu pun rakyat kembali yakin dan percaya, September Berdarah tak lain ulah kerakusan dan ketamakan kuman imperialis.
Cecil sendiri pun baru tahu, sekeras itu barat menjatuhkan negeri sekecil apa pun, sekeras itu barat memakan habis kemanusiaan bangsa-bangsa kecil, selagi kekuasaan berbicara dengan cara-caranya, selagi pimpinan tidak mampu bicara dengan kekuasaan, sendirinya pimpinan itu diamuk dan dimusnahkan kekuasaan itu sendiri.
Leipzig jembatan perdamaian, keterangan selanjutnya; pekan raya Leipzig sepenuhnya untuk kepentingan hubungan internasional dan lebih penting lagi, konsistensi damai, begitulah Armunanto, duta besar Indonesia di Praha. Dalam konperen itu dia banyak bicara depan pengunjung dan undangan gedong pameran budaya.
Di sana segala bangsa berlainan, berpuluh-puluh warna dan golongan, datang, memajang barang-barang dari bermacam-macam lapisan menengah sampai bawah, begitu katanya. Bukansaja itu, tanpa dukungan satu sama lain untuk mendirikan suatu bangsa, mustahil negara mana pun mampu berdiri. Selebihnya persahabatan.
Leipzig sendiri tidak bukan pertemuan rakyat, mempersatukan semua golongan untuk kedamaian dunia.
Belakangan Eropa merugikan dagangan, Indonesia sendiri kurang menyukai negara-negara diluar PBE itu sendiri. PBE begitu merugikan bahan-bahan gubal kami, daripada pengekspor lain.
Indonesia menyokong diadakannya konperensi dagang dunia, karena kami berusaha hancurkan diktator-diktator harga dan monopoli internasional, Armunanto tandaskan.
Sementara itu ADN beritakan RI yang punya luas sama besarnya dengan 3000 pulau, kedua kalinya mewakili Leipzig dengan pameran-pameran kolektif pimpinan Soeripto Djayusman.
Pameran-pameran karet, kayu, cengkeh, batik dan pertama kalinya mineral baru diekspor baru-baru ini. Pimpinan sendiri menyatakan, selain pameran pekan raya sudah kenalkan pokok-pokok penting, antaranya kopi, kopra, cengkeh dan rempah-rempah Indonesia.
Tentunya ada yang lebih menarik, di samping sokongan kaum dagang negeri, di samping itu Eropa menderitakan saham mereka belum menyentuh kekayaan harusnya semakin timbun. Justru menyendatkan visa asing, tantangan itu negeri ini sendiri, penentangan terhadap pembaruan, budaya dan haslinya, industri dan hasilnya. Kurban daripada itu gerakan revolusi anti Inggris dan benderanya. Mungkin saja akibat kekerasan belakangan, Kalimantan Utara, semakin menyendatkan industri dan fungsinya sampai ke palung. Cecil menggunting kolom-kolom; Eropa merasakan kecaman negeri ini semakin marak, anti liberal dan anti nekolim, kekerasan pimpinan yang sekarang menelan kerugian bahkan pencurian musium, sendirinya mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.
Bagaimana AS tiga tahun itu? Cecil menyibak-nyibak koran, menyelam dalam sederetan kata, Amerika justru menyiapkan NATO, tujuan utama hadapi perang nuklir.
Amerika sudah jadi kesatuan dengan nuklir multilateral, melalui NATO nantinya kapal-kapal perang akan mampu menyemburkan peluru-peluru proyektil, polaris. Satu kesatuan tubuh dengan nuklir itu sendiri.
Kekuatan bom itu bukansaja besar, malah mengungguli little boy, kekuatan ledak dilaut sudah diusulkan Amerika ke negara-negara sekutunya, lebih jauh dua tahun mendatang, konperensi diadakan dengan NATO yang menampung bejibun dukungan dan sekutu Eropa. Atau bahkan tidak sampai habisi dua tahun, mungkin secepatnya. Mula-mula Amerika merombak kapal-kapal dagang, sementara mereka gunakan untuk proyek baru itu.
Pembesar NATO menyatakan, besar kemungkinan proyektil bom mampu mencapai 4.633 kilometer atau setara 2000 mil! Sejauh itu!
Semisal perang meletus nanti, semisal saja perang nuklir, sebuah kapal militer NATO sudah dipersiapkan dengan polaris A-3, akan mudah binasakan musuh dalam arti sesungguhnya. Mudahnya kapal mana pun mustahil hindar.
Amerika menyiapkan NATO mengartikan, mereka seperti sudah mengenal perang, seterusnya memang itu yang benar-benar berlangsung, Vietnam War, Teluk di jamannya. Tidak menutup kemungkinan, mereka sendiri siapkan perang dengan pialang perang itu sendiri, pemilik modal dan penentu nasib segala bangsa, kesatuan konspirasi dan jerat-jeratnya. Tujuannya hanya satu, kemakmuran. Kebebasan penuh di tangan kaum modal. Cecil semakin yakin, keterlibatan keluarganya mustahil lepas tangan. Ia sendiri tahu, sebanyak dua sudaranya duduk di parlemen Pentagon.
Selain itu ada yang jauh lebih penting, Nazir Pamontjak, menyatakan keprihatinan ekonomi melanda Jepang, sendirinya impor negeri itu semakin banyak ke Indonesia tetapi sebaliknya ekspor ke Jepang menurun. Sehingga dalam jangka panjang mampu mengakibatkan hubungan buruk keduanya.
Pamontjak merumuskan diadakannya komisi penyidikan atas menurunnya hubungan dengan Jepang, suatu cara-cara untuk meluaskan dagangan negara-negara ECAFE. Indonesia sendiri terlambat. Dalam mana itu perkembangan ekonomi melambat akibat kecamuk-kecamuk keamanan negeri dan kecamuk-kecamuk luar negeri, yang cukup lama sejak disahkannya kemerdekaan.
Sedangkan utusan Uni Sovyet menyatakan Korea Utara dan Vietnam Utara tidak diikut-sertakan dalam konperensi itu, mereka sengaja menekan dan tak mampu bertanggung jawab, memperparah ekonomi sendirinya, Jepang terancam kehabisan modal.
Sampai ke sana semua sudah jelas, seseorang berusaha menjauhkan Korea Utara, sendirinya negara komunis itu diketahui bukan cabang keluarga setan dunia, keluarga itu tidak bisa pasang kuda-kuda ke negara itu. Cecil sendiri sadar, keterlibatan pemilik modal sudah umum, mereka pemicu garis keras gejolak politik, mudahnya semakin mempertentang situasi semakin curam dan tajam, semakin curam dan tajam mengartikan konflik dan senjata sudah pasti buyar pecah menguasai negeri-negeri sedang kehilangan modal.
Dalam pada itu Jepang mengeluhkan Amerika sudah menyendatkan ekonomi negerinya, membatasi impor tekstil dengan keharusan pengangkutan, harus dengan kapal-kapal dagang AS, sekarang Jepang sedang berusaha keluar sarang pemangsa-pemangsa kelaparan. Amerika!
Dan dugaan sementara mampu dibuktikan, nyatanya Amerika membikin rontok habis ekonomi kemarin bahkan lambat laun, lambat-lambat negerinya semakin tidak berkuasa, nasih yang lebih mahal daripada roti atau bahkan emas, sendirinya sudah titik kemusnahan ekonomi yang Amerika semburkan. Cecil sendiri percaya, bukan tidak mungkin Amerika berusaha keras meratakan kekuasaan ke negeri-negeri terpencil.
Anehnya, anehnya Amerika sendiri tenang-tenang saja, mereka tanpa ketar-ketir sering melakukan kunjungan. Sebuahnya istana Bogor, Presiden Soekarno sendiri menyambut kedatangan mereka hampir berturut-turut, kunjungan-kunjungan kehormatan itu seakan tidak kenal waktu dan keadaan, mereka beramah tamah tanpa mengindahkan kebalauan sedang dideritakan Jepang. Dalam mana itu James P. Collins, Hans Gunter dan Dr. Inhoffen, yang keduanya utusan kota Brusweig.
Sebagaimana orang kenal, Djendral Collins sendiri punya hubungan demokrasi dengan Panglima A.Yani.
Ada Jerman. Ada Amerika. Kalangan militer sendiri sudah jelas, mereka hanya mengambil kesempatan mengili-ngili perkembangan negeri saingannya, semenjak Kennedy dihabisi pemilik modal, semenjak itu presiden semakin garang menolak imperialis tetapi bukan mustahil. Kejatuhannya suatu prasangka baru; longsornya pertentangan modal, antaranya kubu berlawanan, mereka yang berkuasa semakin mudah melancarkan siasat-siasat penaklukan selanjutnya, melancarkan propaganda kebebasan untuk negeri-negeri haus kebebasan. Dan terjadilah, kerusuhan Santa Cruz mendatang, kejatuhan pimpinan semakin dekat, kejatuhan pimpinan korup semakin dekat.
Siapa pembayar hutang-hutangnya?
Negerinya sendiri.
Cecil meremang menyentuh lehernya. Nyatanya Eve sama persis sepertinya, perempuan itu sudah merumuskan kemungkinan-kemungkinan, Timor Timur lepas kekuasaan dari Portugis, Timor Timur melompat untuk minta perhatian lebih untuk semakin didengarkan.
Pastinya raksasa-raksasa kelaparan itu semakin banyak mengulurkan tangan. Australia mengulurkan balabantuan, puluhan tahun dari sekarang, sekarang Cecil persatukan kembali dengan pemikirannya.
Seminggu lebih mereka menemukan janjinya, bahwa pagi itu Amanda bangun lebih shubuh, merangkum koordinat di mana barang-barang mentereng itu akan hilang entah ke mana. Cecil sendiri tidak tidur. Matabesarnya menganga. Kedua tangannya terus melingkari merah barisan kalimat minor atau punya ketimpangan, sebuahnya kekerasan negerinya selama tiga tahun, pelarangan terhadap unsur-unsur barat terlampau tajam dan keras. Mengakibatkan punahnya sandang pangan.
__ADS_1
Kenaikan beras dan macetnya persawahan, sendirinya membibitkan kecenderungan mewabahnya inflasi, diakibatkan propaganda revolusi yang sudah mengancam keamanan dan ketertiban, meruyaknya revolusi juga berakibat pecahnya golongan merah. Mereka kurban puncak-puncak api revolusi. Seseorang sudah gunakan keadaan serba senjata dan kekerasan untuk longsorkan presiden.
Cecil mengangkat wajah. Amanda mengambil selongsong koran berkomentar;
Dan kau sendiri paham maksudku, pemicu September Berdarah bukan golongan merah, melainkan ada dukungan manifestasi politik dan militer, militer seperti juga kata Baginda Yakub; mereka busur mampu gerak ke mana pun, selagi upeti mencukupi bukan mustahil satu golongan mampu pecah buyar di tangan pemilik modal.
Mungkin baginda sendiri pelakunya? Cecil merenung-renung.
Belum tentu, bisa saja Amerika menginginkan perdamaian, mereka tidak temukan jalan lain kecuali menumbangkan kekuasaan, menumpasnya melalui Kennedy dan Supersemar.
Ya, tetapi bukan mustahil Yakub meletakan tangan.
Amanda kurang menyetujui. Ia bangkit bersiap mandi. Cecil menenggelamkan kepala ke pangkuan. Meremas merobek koran-koran belum dibacanya, mungkinkah maling itu sekarang sudah menerima hadiahnya? Penebusan kotor dengan jatuhnya pimpinan.
Eve anehnya tidak ditempat, perempuan baikhati itu entah sedang ke mana, sementara Santo sudah lama tidak pernah muncul. Cecil mencurigai hubungan mesra keduanya, melekat dengan perabotan kekuasaan, penyokong dan pendukung mentri-mentri baru, penyokong ethisi barat. Cecil gelengkan kepalanya, merokok cengkeh godong kaung. Membubung asap keluar mulutnya.
“Tidak mungkin kita datang baik-baik. Itu sama saja tololnya.” Amanda duduk kenakan pakaian seragam, syal merah sudah menutup lehernya.
“Tentu tidak adikku. Kita akan lewat lorong.” Cecil berdiri membuka ransel, keluarkan satu batang korek setan, satu batang geretan panas. “Kita bolongi dimensi relativitas.” katanya mengedip.
Amanda bangkit menerima sokongan korek. Telunjuknya ditusuk jarum bening. Cecil mengikuti contohnya. Mereka meletakan trimatra berupa arloji gantung ke atas meja. Cecil meludah ke dalam kertas gambar Satanian. Amanda mengikuti contohnya. Cecil menyetter mesin giroskop ke sabuk mereka masing-masing. Amanda mengikuti contohnya. “Siap?” Cecil melinting kertas sobekan sebelumnya. Membenamkan ke dalam sabuk masing-masing.
Arloji gantung berputar seratus derajat, putaran jarum semakin keras dan keras, semakin jauh dan semakin dalam menarik melempar keduanya. Amanda terlempar seratus meter memegangi kaki Cecil. Mereka mengangkat badan. Keduanya sudah berada di dalam mousoleum. Keadaannya remang-remang, sebagian lampu gas padam dan sebagian lampu prastika benderang, mereka melanjutkan penelurusan.
Amanda kagum memandang koleksi-koleksi musium. Antara lain keris Tan Kadang, Pecalang 1 dan pusaka-pusaka Legiun Mangkunegaran, deretan topi kompeni jaman Der Dussen sampai senjata api jaman Panglima Polim.
Cecil menariknya jauh menyusuri lorong panjang dan luas.
Perempuan Jewis itu merunduk badannya, mengakali kunci sebuah pintu, Cecil kesal berapi-api, perempuan itu menyuruh Amanda mundur. Seketika gerandel ***** terbakar habis oleh sinar matanya. Amanda terkagum-kagum menyerupai Sri Ratu Beatrix.
“Kita hanya punya waktu sejam sepuluh menit.” Cecil menyuruh Amanda cepat-cepat membobol brankas negara.
Amanda meragukan tetapi nasib bangsanya, tergantung mereka sekarang, perempuan bongsor itu pun merogoh saku, menembak satu persatu laci-laci pembesar musium dan arsivaris negara. Amanda meraba-raba satu demi satu dokumen, membacanya, membuangnya terus menerus. Cecil mendudukan diri ke meja perdana mentri. Kedua matanya sibuk menyalang pandangi gambar dokumen, selama sepuluh sampai dua puluh dan sejam berlalu begitu saja. “Bangsat! Semua di sini tidak ada apa pun.” Cecil meremat dokumen dan membakar ke dalam tangannya.
“Jangan meledak dulu. Periksa patung pojokan podium.” Amanda menyarankan.
“Dari mana kau tahu?”
“Semasa kecilku, sepuluh tahun dari sekarang, Santi selalu curiga ada tidak beres dengan bentuk patung kamar musium.”
Cecil menunduk malas mengikuti seruannya. Mereka menyalakan senter sambil menendang keras-keras kaki patung. Benar saja, patung bergerak mundur menjauh. Satu ruangan rahasia, satu ruangan sempit menyerupai kamar bola mereka masuki.
Cecil menyentuh salah satu epos-epos, lemari dengan tiba-tiba mundur dan mengeluarkan api. Amanda melempar penghisap ledakan dan sebuah komponen kombusi melindungi seluruh ruangan. “Mereka pasang pengaman serupa neraka.”
“Lima menit!” Cecil mondar-mandir gusar seperti beruang minta lepas kandang.
Keduanya menjungkir setumpuk buku-buku kotor dan bau, sebuah ikatan-ikatan dokumen menyerupai kitab purba, membangkitkan keduanya buru-buru ambil dan menarik kitab keluar pelindung;
Sebagian golongan komunis mula-mula, telah berusaha meyakinkan manusia, sejatinya komunisme tidak lain gerakan progresif dari minus ke plus, yang mana berdiri dengan kesadaran dan tanggung jawab golongan proletar. Dan tidak lain habisi kesadaran-kesadaran kapitalisme dan kaum ningrat tinggi. Sejatinya begitu jauh sekali, diadakannya pembentukan pemicu revolusioner itu.
Kata risalah anonim, sebagian rahasia itu sudah mereka ungkap dan tangkap, golongan-golongan pemilik modal menyumbangkan sebagian saham besar mereka untuk membesarkan gerakan-gerakan Lenin dan Trotsky. Mereka mengurus anggaran rumahtangga atas gerakan besar-besaran, Pyke, Mazzini, Karl Marx dan Engels. Sendirinya sabotase internasional sampai kerusuhan-kerusuhan hebat karenanya;
peperangan 1776 bahkan sampai sekarang. Menyusutnya ekonomi selepas pecahnya perang, negeri-negeri Eropa akan meminjamkan anggaran besar ke negeri-negeri sedang krisis, semua belaka untuk mencekik negara-negara menanggung hutang dengan bunga besar dan merusak negara dengan krisis keuangan, maka begitu pimpinan negara bisa mudah mereka boneka dan gunakan pengaruhnya; semata kepentingan pemilik modal.
Ada pun persekutuan setan itu, selepas pecahnya perang ketiga, sama sekali belum mengikat kedua belah pihak, ekonomi dan dampaknya, penguasa dan dampaknya. Sendirinya huruf-huruf itu membunyikan kosinye sebagai berikut;
Kami akan membiarkan dasar-dasar atheis dan radikal, semua semata mengadakan kerusuhan sosial dan kenegaraan, sampai sana bangsa dunia sadar atheis tidak lain perabotan kekuasaan kami, sepandai mungkin mereka merombak keketatan negara mana pun untuk pecah belah di atas kekuasaan kami. Ketika itu banyak manusia akan kehilangan keyakinan. Kristen akan kehilangan keyakinan atas agama mereka. Sendirinya mereka akan membutuhkan ideologi. Ketika itu ideologi setan yang akan mereka tangkap, kenyataan akan jatuhkan mystik yang mengikat manusianya, yaitu logika semakin menguasai manusianya, mereka semakin tidak menempatkan nilai-nilai ketuhanan dan memaklumi kebebasan tanpa batas.
Cecil melongo begitu pun Amanda, semua sekarang sudah banyak terjadi; balabantuan kemanusiaan. Balabantuan itu sudah upaya penaklukan diam-diam, dan balabantuan itu sekarang banyak negeri menerimanya; mungkin longsornya pimpinan sekarang, suatu saat hutang harus ditebus, lunas bahkan dengan manusianya ....
“Bung sudah tahu semua akan begitu.” Amanda memasukan guntingan kertas ke ranselnya.
“Mereka sudah menertibkan dunia sudah sejak, Agustus 1865, hari-hari itu perang sipil AS sedang panas-panasnya.”
“Aku paham maksudmu. Sekarang negeri ini mengalami krisis hebat serupa AS, bukan mustahil suatu saat negeri ini akan menyamainya.”
Amanda memandang boladunia. Satu titik kecil dengan segala bangsa dan segala golongan dan darah dan pengorbanan, seterusnya harus berdiri melupakan kehebatan-kehebatan dewata dan pewayangan yang telah runtuh, setidak-tidaknya kesadaran dan kebangkitan harus terus hidup dan memanusiakan sesamanya, kesetaraan dan persaudaraan, pertiwi selamanya rumah sampai mati ....
Cecil menitikan airmata. “Selamat jalan bung, kami tidak mampu menolongmu, kami tidak mampu patahkan takdir, tetapi kami akan terus hidup dan membangun bangsa ini. Jika perlu darah dan pedang akan kami hadapi.”
Mereka berlompatan keluar lorong-lorong luas dan besar. Benar saja, sebanyak lima orang sindikat sudah berdiri. Orang-orang penting itu melelang harga tinggi, justru seorang lelaki menolaknya, seseorang keluarkan pestol. Sudah serahkan saja, kami tidak akan pernah membayar, kebebasan kalian idamkan itulah tebusannya. Kata rombongan. Amanda dan Cecil memandang dari jauh. Siapkan mobil lalu angkat pusaka-pusaka ini ke dalamnya! Perintah keras orang Eropa tidak ketahui siapa.
“Enak sekali kalian mencuri.” Cecil tahu-tahu menekuk tangan ke pinggang, petentang-petenteng menantang ke depan.
Berombongan menoleh terheran-heran. “Siapa pelacur itu?”
Seseorang keluar rombongan. “Biarkan. Presiden pun tidak akan tahu. Pembelanya berusaha keras, peluru kami sudah habisi dewan jendral. Kembalilah, pelurumu sudah habis kaum keparat!” Martono menyilang tangan ke dadanya.
Orang-orang Eropa itu tertawa seperti setan yang berhasil menang dan menumbuhkan kekuasaan dan memakan kekuasaan, kedudukan brilian di atas carut-marut negeri lain, kedudukan bangsa perampas dan perampok.
“Kembalikan pusaka itu! Atau kuhabisi!” Cecil keluarkan pistol paterson.
“Tembak saja kami,” Eve muncul tiba-tiba ke depan. “Bunuhlah rahimmu sendiri.”
__ADS_1
Cecil lemas seketika. “Eve?”
“Kau bukan putri Letty, kau putriku. Kembalilah ke ibumu, kembalilah ke golonganmu.”
“Jangan Cil!” Amanda mencegat lengan Cecil.
Eve menyeringai, “Ayoh, peluk ibumu, kau mau tahu ibumu sendiri kan?”
Cecil melarikan diri ke sana dan sebutir peluru bersarang ke tengkuknya, Cecil jatuh, perempuan itu tidak mampu gerak.
Amanda langsung meremas leher perempuan itu, sepasang tangannya menyedot timah panas itu, Amanda mengangkat peluru ke depan mukanya. “Perak?”
“Aku kembalikan perak ini busuk! Keparat!” Amanda melempar mesiu gosong yang berubah panas membara, peluru itu langsung habisi penembak, orang Eropa itu tewas, mereka melarikan diri membopong pusaka satu-satunya sementara pusaka lain masih ditempat. Eve melarikan diri menyusul rombongan.
Cecil bangkit dengan syal melapisi lukanya. Amanda bersandar di akuarium kaca berisi keris, badik, karabin, pedang sultan, parang eksekusi londo ireng dan pestol Louis Lodewijk. “Mereka sudah mencurinya.”
“Tidak ada yang bisa mengelak takdir. Supersemar sekarang sudah mengusai istana negara.” Cecil mendudukan diri ke lantai. “Seperti dikatakan orang-orang, mereka benar-benar mencuri dalam keadaan semua manusia terancam, benar-benar setan kekuasaan sudah habisi kemanusiaan.”
“Aku tidak mengimpikan akan bertemu Indriati.”
“Aku pun tidak mengimpikan akan menjadi saksi biadab Eropa jaman ini, kebebasan dan kebebasan hanya topeng dan wajah kerakusan sebenarnya, peluk aku.”
Amanda mendekap Cecil. Berdua mereka menangis sedu sedan seperti sepasang bocah tersesat di Afrika Selatan.
***
Sepulang itu keduanya menemukan rumah Eve sudah kosong, tidak seorang pun pernah ke sana, tidak seorang pun tahu keduanya saksi busuknya Eropa harini, pencurian pusaka dan kesaktian Supersemar.
Cecil menyiapkan kepulangan mereka. Amanda menelpon Indriati terakhir kalinya. Tidak mereka tahu, seseorang sudah berdiri di ambang pintu. Cecil terpakukan bawah kandil penerangan, sekarang setengah tujuh petang, ibunya berdiri memandangnya. Eve menghambur memeluknya. “Lepaskan! Kau bukan ibuku bangsat!”
Eve menyembah-nyembah memohon maaf.
Cecil bersikukuh mengelak. Amanda dampingi keduanya. “Siapa ibuku sebenarnya!”
“Aku sudah merawatmu hampir belasan tahun! Aku tahu Elissah tidak akan pernah pulang.”
“Siapa kau sebenarnya?”
“Aku ibu angkatmu, Eve Natalia, ibumu Elissah, tidak pernah bisa kembali, dia belum mati, dia sekarang tiga puluh tahun jauhnya, perempuan itu pulang sekali-kali saja.”
“Jadi? Kau? Ibuku sendiri?”
“Kau yang menyiram makamku. Aku ibu asuhmu selain Elissah.”
Cecil mendekap perempuan sudah banyak berkurban untuknya. Cecil mencium habis kening Eve sampai Eve menangis. Mereka kembali ke mejamakan. “Katakan di mana ayahku sekarang!”
“Elissah kabur dari keluarganya di London. Dia menolak bisnis kotor Dvorak. Perempuan itu tidak mau makan uang riba seumur hidupnya. Ibumu sudah menikah dengan lelaki Aljazair, keturunan Yahudi dan Timur Asing.”
“Jadi? Ibuku masih hidup.”
“Jangan katakan ke Puspita.” Eve melipat kacamata minus baru dipakainya. Menyerahkan kertas serupa matrai.
“Apa ini?” Cecil membolak-baliknya. “Space adminstrasi? Kau maksud ibuku anggota itu?”
“Elissah perempuan pekerja keras. Ia lulus bidang akademik lima tahun lalu, selepas perang, Eropa merancang Cern, Cern adalah lab terbesar selain Area 51, ibumu pernah terlibat Manhattan Project dan tidak pernah pulang. Sudahnya Puspita lahir pun langsung pergi.”
“Sekarang apa ibu akan pulang untuk melahirkanku?”
“Entah, suaminya sudah cerai dengannya, kau bukan Timur Asing, mungkin Amerika Latin, wajahmu begitu persis ibumu dan matamu Eropa tulen.”
Cecil menunduk menangis diam-diam. Amanda menepuk-nepuk pinggang Cecil. Eve memeluk putrinya, “Maafkan ibumu. Biar begitu kau tidak akan sakit hati seumur hidupmu, kau masih punya keluarga dan harga dirimu akan terus hidup dalam keluargamu.”
“Tetapi kau wafat menjelang delapan puluh nanti.”
“Aku sudah tahu itu. Aku tidak peduli. Aku hanya mau mencintaimu. Tidak ada yang lain.”
Cecil terharu mendengar itu. Eve ibu angkatnya sudah banyak kurban perasaan untuknya, Eve sudah kehidupan dan nafasnya, ibu paling baik baginya, meski dirinya tidak pernah kenal Elissah ....
“Kami akan pulang, kau buka bungkusan kertas besar di ranjangmu, kami tidak akan kembali ke jaman berdarah ini. Semoga hidupmu bahagia selamannya Eve, semoga kau lepas dari kerakusan barat.”
“Aku pendukung Amerika. Mereka jaminkan kemajuan lebih cepat ketimbang bangsa ini. Itulah kenapa jangan kecewa. Lupakan sikap kejiku, selamanya aku tetap ibumu, ibumu yang tidak akan habis mencintaimu.”
Cecil mendekap Eve sekali lagi.
Amanda mengangkut tas, kopor mereka bawa sampai keduanya melompat ke gerbong kereta. Eve sayup-sayup melambaikan tangan, keduanya membalas lebih semarak dan lepas, keduanya tidak menyangka, sejarah telah mencatat jejak kakinya, Cecil dan Amanda.
Sampai ke rumah Eve terharu mendapatkan baju-baju baru bikinan Marseille, semua miliknya sekarang tidak ada sebagus pemberian perempuan itu, putrinya sendiri.
Arloji gantung kembali melempar mereka ke titik pukul berlawanan, Amanda muncul ke dalam tilpun umum, Cecil melepas pintu tilpun umum, keduanya duduk-duduk bersandar tepian tilpun. “Harusnya Elissah ada di tahun sekarang.”
“Mungkin nanti dia datang sendiri.”
Cecil membakar kertas propaganda AS dengan tangan kosong.
__ADS_1
Amanda mendapatkan transmitter membunyikan kosinye.
Bersambung ....