
Yakub yang mendengar hilangnya kolega setianya, Amandas Dee, marah-marah dan mengutus lima polisi politik untuk menemukan manajemen terpercaya miliknya. Sedangkan Phantom kosong kepemimpinan. Maria yang tidak tahu harus berbuat apa, merasa hilangnya Amanda suatu beban baginya. Arnita menjadi sangat pemarah dan sering menyalahkan Maria. Maria sendiri menunggu kedatangan Emma. Sedangkan Julianna berkabung atas hilangnya Sri Ratu. Marry banyak disalahkan atas lenyapnya mahkota Phantom itu. Marry merasa bersalah. Harusnya aku tidak mengadakan pesta buru-buru. Katanya menangis. Suszie dan Jeanette semakin menangis. Sarah berusaha hubungi Norah dan Norah sudah usahakan. Amanda benar-benar hilang.
Emma yang baru menyelesaikan semester pertama, pulang, perempuan itu melakukan tindakan inlichtingen dienst. Melaksanakan komisi visman dan tilik sandi darurat. Emma mencurigai adanya kesekongkolan pihak intern. Ia pun putuskan pengadilan dibuka untuk keadilan Sri Ratu. Lima saksi terakhir diundang. Chintami mengakui bahwa Amanda diajak Melissa ke ruangan skene. Melissa justru mengatakan ia sedang berseteru dengan Adeline. Adeline pun mengakuinya. Maria mengatakan malam itu sangat ramai. Kami kesulitan melihat Amanda saking ramainya.
Saksi terakhir Puspita, entah kenapa Puspita tidak mengakui, Puspita katakan Amanda kabur karena tekanan politik dan keluarga dunia.
Kontan kehebohan itu membenihkan konspirasi untuk berjingrak hantam pemberitaan. Yakub memasuki istana. Lelaki itu bersimpati atas hilangnya Amanda, perempuan itu sangat kami andalkan, kalian jangan tidak urus kasus ini. Jika Amanda tidak secepatnya ditemukan, kami tarik delapan milyar dollar dari properti veste Phantom. Nyatanya ancaman itu benar-benar menyusutkan Phantom.
Mereka langsung adakan pencarian. Sementara korporasi sementara Yakub mendudukinya. Meski harusnya Maria. Namun Maria tidak punya keberanian. Ia tahu siapa orang itu. Ia tahu apa yang tidak mungkin bisa dilakukan manusia itu. Sarah justru datang ke kantor Melissa. Perempuan itu menyarankan Emma untuk sementara memimpin Phantom. Tetapi usulan itu segera ditolak karena surat-surat Yakub tidak bisa digugat. Justru akibat dia korporasi kita dikenal sekarang. Kata Melissa meminum bolsh akibat kena tekanan.
Seminggu sampai dua minggu Amanda belum diketemukan. Yakub tidak keberatan kalau Emma memegang sementara Phantom. Kau jangan pentingkan dirimu, perusahaan hanya sementara kosong, Amanda kembali sebentar lagi.
Emma diangkat jadi presiden dan bukan Ratu. Entah mulanya bagaimana Amanda bisa diangkat jadi Sri Ratu. Mungkin karena pimpinan mula-mula dan pimpinan mula-mula dicintai akibat ketulusannya. Emma diawal pimpinan justru mengutamakan studi, perempuan itu membentuk komite studi, memberikan fasilitas gymnasium dan lyceum. Melatih niaga dan hitungan. Dan menindak tukang-tukang untuk tidak punya urusan ke pusat. Mereka harus bisa mandiri. Kami hanya berikan jaminan ke sekolah dan studie club. Kata Emma tidak ragu-ragu.
Sarah menilai Emma punya watak keras. Maria menilai Emma perfeksionis dan keras. Melissa menilai Emma tidak pernah puas dan keras. Marry menilai Emma perempuan buas dan keras. Emma sendiri menanggapi tertawa saja.
Yosi yang sekarang baru muncul. Meletakan sebucket bunga di bawah monumen Leve Koningin Amandas Dee. Sontak muncul dugaan Amanda mustahil kembali. Yosi pun diundang ke sidang akibat sikapnya. “Aku hanya mengenang Ratu. Kalian sendiri mungkin pembunuhnya.”
Yosi pun di gelundung ke pulau T selama satu bulan. Dan bebas akibat amnesti Yakub. Perempuan ini hanya letakan bunga dan kalian buang dia ke pulau? Hukuman macam apa itu?
Bodoh!
Bukan saja Maria kena semburan empedu pimpinan besar bank dunia itu. Sarah sampai menulis surat permohonan audiensi. Emma sang pembuang justru bungkam. Perempuan itu memberikan surat tugas kaum servant untuk membuat saluran air dan persawahan. Julianna yang senang akhirnya membantu.
Tidak mereka tahu Shelly diam-diam menyamar menjadi peserta. Perempuan itu mengenakan topeng kulit. Wajahnya begitu persis Galin, kontan saja Maria mengundang perempuan itu untuk bekerjasama. Shelly sangat senang. Siapa namamu? Tanya Maria.
Sunamun, Maria tercengo-cengo mendengar itu.
Mustahil? Kau bohong!
Shelly merobek wajahnya. Dan matanya menyala kuning. “Kalian akan aku kuasai.”
“Keparat! Kau!” Maria membuka laci menarik pestol.
Shelly tidak mati ditembusi *****-***** panas kepalanya. “Mengalah saja Maria. Amanda baik-baik saja.”
“Apa maumu?”
“Aku mau menjadi ratu di sini.”
“Mintalah Yakub, aku tidak punya wewenang.”
“Aku datangi saja kamar Emma!” Shelly mengecil jadi kucing hitam. Melompat hindar entah ke mana.
Maria kesal berapi-api.
***
Amanda yang tersadar tahu-tahu bangun sudah dalam keretapi. Mukanya memandang masinis dan cerobong lok nampak kehitaman. Lokomotif seperti bukan di jamannya. Lokomotif seperti puluhan tahun lamanya. Perempuan dengan topi polkah duduk di sampingnya. Amanda melirik Cecil yang dandan rapih dipadukan celana linen, lehernya tertutup lornyet. “Sekarang kita di Jakarta.”
Cecil menunjuk orang-orang baju sederhana. Orang-orang berambut tipis dan sibak tengah. Ibu-ibu berkebaya dan berkacamata minus tebal. Perempuan berkebaya dan bersanggul dan bertanduk dan bersirkam. “Selamat datang di tahun 1966!”
__ADS_1
Cecil membeli sebungkus kacang goreng. Membeli koran-koran Pandji Masjarakat. “Presiden akan ditindak, Amerika lebih tepatnya.”
“Kau lahir dua tahun lagi.” Amanda menebak.
“Dan kau satu tahun lagi.” Cecil menawarkan kacang ke Amanda. Amanda memakannya.
“Kita liburan?”
“Boleh dikatakan begitu. O, siapa kau sebelum diasuh Santi? Manda.”
“Aku tinggal di panti asuhan Surabaya, dekat gereja Kepanjen.”
“Sedekat itu? Santi berumur berapa sekarang.”
“Baru tiga tahun!” bisik Amanda sedikit tertawa.
Cecil terhibur diam-diam lalu melepas lornyet. Memberikan kacamata hitam ke Amanda. “Gunakan. Jangan sampai ada mengenali kita.”
Mereka merapat ke tempat duduk perron. Stasiun Gambir masih dalam fasilitas kolonial. Semua bangunan dan pos pengantri loket masih nuansa kolonial. “Pertama-tama, kita harus cari kampung ibuku, ibuku kerja guru honorer baru satu tahun. Itu keterangan Puspita.”
“Kau kelihatan letih. Kita ke penginapan? Bagaimana?”
“Mungkin ada baiknya. Ah, tukarkan dulu ke Javasche Bank, uangku baru semua.”
Cecil menyuruh Amanda untuk menukar nominal mereka. Petugas sempat tidak mengerti. Bagaimana mungkin kedua pelancong punya uang sebanyak lima juta?
Andong meluncur melewati gedung-gedung Asia Afrika. Dulunya Harmonie, jika sekarang gedung parlemen.
Cecil mengajak Amanda untuk makan di warung. Mereka menyantap nasih goreng. Cecil celingukan ke kanan kiri. “Mungkin belum ada warung Puspita di sini?”
“Adik salah kira jika warung itu ada. Masih lima kilometer dari sini.”
“Jauh juga.” Amanda meminum es teh.
“Kita tidak bisa terbang.” Cecil meminum es milik Amanda. Amanda menggeram.
“Kalian siapa?”
“Kami pramuniaga. Ini Djumilah dan saya Sonja.”
“Kalau mau kursus model bisa ke samping gedung kesenian. Gedung gajah. Mungkin sudah pindah.”
“Terimakasih bu!” Cecil membayar lima ribu. Pemilik warung tidak punya kembalian sebesar itu.
“Kita berikan semua tanpa kembalian.” Amanda pamit membawa kopor miliknya.
“Aku tidak tahu ibuku sudah di sini atau masih di Timur Tengah.”
“Sebaiknya ke sekolah temui dia.”
“Idemu boleh saja, hanya aku tidak tahu alamatnya.”
__ADS_1
“Warung lima kilometer lagi. Berarti sekolah tidak jauh dari sana.”
“Seingatku ada tiga sekolah. Sekolah kanak-kanak, sekolah Kristen dan sekolah rakyat.”
“Ibumu pasti sekolah Kristen.”
“Tidak sia-sia aku membawamu Ratu.”
Amanda menjembik membuang muka.
Mereka datangi satu persatu sekolah itu. Semua jawaban sama. Mereka tidak ada kenal Elissah Smevendimen. Mungkin perempuan itu sudah diusir sejak Santa Hitam sembilan tahun lamanya. Kata seseorang. Cecil menyarankan untuk istirahat di bawah shelter. Amanda sudah haus kembali. Mereka tidak menyangka cuaca akan sepanas ini ditahun 1966. Tahu-tahu berdiri perempuan putih memakai kacamata sedang gusar menunggu jemputan. Cecil yang duduk-duduk perhatikan gerak-gerik pinggang perempuan itu. Rambutnya dicepol. Warnanya kepirang-pirangan. Mukanya bulat mendekati Amerika Latin. “Maaf! Sudari kenal Elissah?”
Perempuan itu menyipitkan matanya. “Aku tidak kenal siapa dia. Pastinya aku sibuk. Aku Letty, bukan Elissah.”
Cecil mendudukan diri. Amanda menenangkan sudarinya.
Letty melompat naik ke kopaja. Cecil sepintas mencium harum rambut perempuan itu. Merasa tidak asing. Mungkinkah perempuan itu tahu ibunya? Atau justru perempuan itu ibunya sendiri. Amanda membenarkan. Bahwa mungkin Elissah tidak membuka nama aslinya selama sembilan tahun. Mungkin itu upaya bebas dari Sinyokolas Hitam. Cecil terpikirkan untuk mengejar Letty. Amanda segera hentikan mobil angkot. Mereka menyerbu masuk. Keduanya benar-benar kehilangan jejak. Belum ada perempuan putih seperti nona katakan. Kami sendiri belum pernah ketemu, mungkin nona maksud pragawati. Tidak seorang pun tahu. Tidak seorang pun. Cecil keletihan.
Amanda melepas kacamatanya. Mereka berjalan sempoyongan menuju apartemen sewaan. Cecil menolak membaringkan badan. Perempuan itu bersila di atas kasur. Kedua matabesarnya terpejam. Kedua tangannya menyatu. Cecil berusaha menembus seluruh titik dalam kota-kota besar Jakarta. Perempuan itu menangkap energi seseorang mereka cari. Cecil meraba-raba keberadaan Letty, perasaannya menarik ke dalam kejauhan sanubari perempuan itu. Dalam monitor batin perempuan itu, Letty bukan seorang diri, dirinya sedang ramai dengan banyak orang, dirinya sedang bicara dengan banyak orang, sekilas seseorang seperti dikenalnya. Indri Makki? Batin Cecil melepaskan jangkauan Letty.
“Mungkin perempuan itu tahu.” Cecil melepas kaus kaki lalu sepatunya. Dan bajunya hingga hanya kenakan celana dan kutang hitam.
“Siapa Cil?” tanya Amanda merapihkan baju-baju baru mereka beli.
“Pastinya pemain film itu tahu ibuku di mana.”
“Yakin kau itu ibumu?”
“Ya, kenapa tidak, memang segalanya asing di sini. Aku pun lupa di mana pasar malam dan jalan ke sekolahku dulu.”
“Besok kita teruskan. Pakai bajumu.”
“Kau suka bentuk tubuhku?”
“Aku suka. Mau kau ajari aku senam?”
“Mungkin nanti saja. Aku mau kau pijati aku.” Cecil mendekati Amanda. Amanda sedikit sungkan memanjakan sudarinya.
“Kau sebetulnya jahat atau tidak?”
“Kenapa begitu? Kalau kau anggap aku baik berarti kita sudah cocok satu sama lain. Kau sudariku Amanda.”
“Sikapmu mirip sekali dengan Puspita.”
“Memang, kadang kami sering tengkar, tetapi kembali akur.”
Cecil mengenakan jas putih miliknya. “Kau mau sebentar di sini? Aku mau tanya alamat saja. Kau jangan ke mana-mana.”
“Pasti Ratuku!” Amanda membentuk donat telunjuknya.
Cecil terkekeh kemudian hindar dari pintu.
__ADS_1
Bersambung ....