
“Seseorang yang mengejar pendidikan hanya untuk lulus sama kecilnya seperti kuda yang turun naik bukit. Ia hanya membawa batu-batu tanpa tahu merancangnya. Pendidikannya punah hilang ke dalam sembah dan gila hormat. Percuma orang mengenal ilmu kalau dia tidak peduli pada sebangsanya. Kemanusiaan harus terus hidup untuk membantu sesamanya. Sendirinya suatu bangsa mampu besar ada dalam empati dan sosialisme. Kedua wajah dan dekorasi pada yang hidup, kenyataan yang dihasilkan dari sana mampu memajukan manusianya, semata bukan bintang atau pangkat, mari sudara-sudaraku bukalah kuping, pendengaran, sudara-sudara kita membutuhkan perhatian untuk sama rata dan majunya. Maka baik daripada itu; kesadaran dibutuhkan untuk bahu membahu mengangkat nasib manusianya ke dalam tangan, kesetaraan dan kemanusiaan.”
Semua termenung-menung menyaksikan Saint Simon berpidato panjang lebar. Semua masih memintakan tambahan sesi:
“Kebesaran suatu bangsa patut dinilai dari banyaknya orang-orang yang saling terbuka. Tidak membeda-bedakan sesamanya. Apalagi golongan? Cara-cara pemisahan ras sudah tidak berlaku. Ia hanya tinggal kapuk kering yang harus ditiadakan. Untuk apa perkembangan kalau menguntungkan pemakan manusia? Kekayaannya hasil pemerasan. Kekuatannya hasil penebusan. Kebesarannya hasil penindasan. Ketiga pesakitan itu yang menyerang manusianya. Saling kecil mengecil, saling kerdi mengerdil tanpa kesetaraan.
Sekarang tidak harus memisahkan diri untuk lebih diterima masyarakat besar. Memang ada golongan-golongan rasis, yang terkungkung fanatisme, negeri sekarang harus bisa adil semua kalian kelak. Jangan biarkan bangsamu sakit, ekonominya macet, pengeluaran sendat, lancarkan penghasilan dengan saling menjabat tangan. Karena manusia butuhkan hanya perhatian untuk lebih dimanusiakan. Cuma makhluk tak kenal perikemanusiaan membiarkan sudara-sudaranya mati diseberang.
Diseberang saja sudah dibiarkan mati.
__ADS_1
Apalagi sekelilingnya?
Patahkan rasisme. Kuman itu harus ditiadakan. Tidak ada bangsa miskin hanya karena peradaban terkebelakang. Yang seterusnya habisi kesetaraan adalah hilangnya asas-asas pengikat; pendekatan-pendekatan dengan merasakan sendiri manusianya, mereka punya hati, perasaan, mereka bukan alat, mereka berhak punya dunianya—mereka tidak pantas diketawakan dan dilecehkan.
Tidak ada manusia bodoh, yang terlambat hanya kebiasaan, komunikasi pada dunianya dan perkembangan daripadanya. Tidak ada manusia pantas dihinakan hanya akibat ia punya perkembangan sendiri. Kadang-kadang Tuhan memberikan kesempatan untuk mengubah nasib manusianya. Jangan melupakan pula; terpelajar yang baik bukan mereka yang bersekolah tinggi, melainkan seberapa besar hati dan perasaannya, hati dan perasaannya untuk manusia lain, lebih membutuhkan darinya.”
Saint Simon disambut gegap gempita hadirin. Terpelajar terpuaskan dengan pengalaman mereka, berhadapan dan bertukar pandangan langsung dengan manusia berpengaruh. Abad 19!
Kedatangan itu disambut baik Amanda, mereka mengobrol dengan tanpa kamera, keduanya memutari bangunan bersama ajudan resmi. Shenna dan Melissa. Kepulangan Saint sudah pasti memberitakan pemikiran-pemikiran itu ke dalam betamax, yang beredar hanya sekeliling bumi asrama, kemudian Shenna membukukan kunjungan setengah bulan itu. Secara runut dan menjualnya dengan harga mampu dijamah semua orang. Tujuh ribu perak. Dan spontan bukunya laku keras dalam lima bulan penjualan. Maria sampai-sampai menyematkan bintang untuk puteri angkatnya. Shenna semakin rajin untuk bekerja. Dan selalu mendatangi konperensi Ordo Phantom ....
__ADS_1
Dalam pada itu kejadian-kejadian tak terkirakan terjadi: Puspita yang sudah dikeluarkan Heidy dari restoran miliknya. Memutuskan mengadukan Cecil. Adiknya begitu marah mendengar itu. Cecil tidak dibiarkan hancurkan perusahaan pangan Heidy. Maka permintaan penebusan atas diputusnya kerja sudaranya. Tidak lain mempekerjakan Puspita ke dalam rusuk organisasi. Mula-mulanya Maria menyangsikan. Tetapi berkat Amanda semua mampu dikendalikan.
Cecil senang menjadikan Puspita bawahan, namanya yang sulit dieja, Deborah Smevendimen Dvorak, mampu dikenalkan ke siswa-siswi demonologis. Mereka sering memanggilnya Miss.Deborah atau Puspita. Dengan keramah tamahan perempuan berhati besar itu—kesukaran-kesukaran Cecil dalam mendidik dapat terpecahkan. Antara demikian Puspita mampu menggambar bentuk demon dengan bagus dan teliti. Cecil tinggal menambahkan keterangan.
Puspita rupa-rupanya sudah punya kekasih, namun tambatan hatinya memilih perempuan lain, setelah Cecil menyidiki sendirinya; pria itu tidak lain Antonio yang buduk dan brengsek. Lelaki perayu handal itu pula yang mengajak Puspita bersantap kasih. Puspita memang sukses dalam sekejap selama dua setengah tahun. Sendirinya ia angkat kaki dari komuni sudah membesarkan hidupnya. Puspita tidak tahan dengan perjanjian Numerian dan semacamnya.
Cecil dengan diam-diam memasuki perumahan seseorang. Ia terbang dalam pakaian drakula. Melayang menembus pohon-pohon besar dan luas. Badan tingginya berhenti ke tengah halaman rumah. Pukul satu pagi Antonio sedang bercinta dengan pacar barunya, bukan pemuas berahi mobil silam, perempuan berdarah Mesapotamian itu menyelundup, berubah jadi kelelawar.
Selepas percintaan luarbiasa membakar kedua insan muda itu. Antonio membuka kulkas kemudian duduk hadap siaran betamax. Ia tertawa-tawa menyaksikan komedi malam, yang mesum dan menjijikan, meski tidak ada pelaku telanjang atau ****. Cecil berapi-api dibawah kursi meja makan. Ia mengubah diri jadi kelelawar betina. Kembali melayang jauh ke atas kandil-kandil antik. Antonio masih tertawa-tawa. Cecil menajamkan matanya kemudian menyerang habis lelaki itu tapi. Antonio menyabit sapu besar dan Cecil terlempar jauh ke tong sampah. Wujudnya berubah. Antonio keburu naik tangga dan tidak melihat itu.
__ADS_1
Bersambung ....