
Sampai sana Amanda sendiri belum mendengar. Phantom sendiri dalam bahaya. Sementara mereka sibuk dengan tujuan, Amerika, penurunan pimpinan sebentar lagi. Itu penuturan Eve. Keadaan hari itu benar-benar siaga, semua membara dengan tuntutan rakyat, kebebasan semu mereka benci dan caci maki; liberte en imperialis, sebenarnya sudah menguasai negerinya. Sekali lagi Eve. Sebanyak puluhan koran sudah dihentikan, Oktober-November semua habis dipreteli hak-haknya. Bahkan mereka tidak tahu menahu salah tidaknya, sendirinya dipenjarakan, sampai sekarang belumlagi tahu di mana. Sebagian kantor berita habis diserang amukan, sebagian kantor berita menderitakan kerugian besar-besaran. Harian Rakjat, Warta Bhakti, Harian Abadi, Trompet Masjarakat paling hancur; Bintang Timoer.
Seruan-seruan pembakaran akibat golongan merah, manusia-manusia revolusi merah tidak pernah kembali, dihabisi diam-diam bahkan mayat-mayat itu gelimpangan sepanjang kota-kota besar sampai pedalaman. Tidak sampai sana, presiden harusnya dilindungi, serba salah dalam tindakan dan harus bagaimana? Suaranya tidak lagi didengar. Suaranya tinggal sorak-sorai turunnya manusia hebat itu dari panggung kehidupan. Tidak seorang pun tahu, pendekatan macam apa perempuan itu lakukan, presiden tidak mengenalnya secara dekat, mereka hanya sepasang manusia asing saling dituntut keadaan, bangsanya dan rakyatnya.
Cecil nyatanya diam-diam membaca kamus hidup Eve. Mungkin perempuan di sini, Cindy? Siapalagi? Perempuan asing itu selalu menampakan diri di mana-mana. Presiden pun seperti sudah dikenalnya seumur hidup, padahal keduanya sekedar kolumnis meladeni manusianya. Manusia serba luarbiasa. Sekarang sudah banyak mencurigainya. Tidak seorang pun tahu, sepenuhnya bukan salahnya.
Amanda tanpa Cecil tahu mengintip. “Kau mencurinya?”
“Astaga, tentu tidak Manda.”
“Harian bersifat pribadi. Hanya boleh dibaca pemiliknya.”
“Eve sudah begitu baik. Tidak ada kelirunya kita ambil sedikit miliknya.”
“Ke mana perempuan itu?”
“Sedang tidak di rumah.” Cecil menggeletakan buku sampul merah ke bawah tudung saji mejamakan.
“Cil, kemarin Indri mengundangku, katanya kita boleh main ke sana.”
“Siapa Indri?”
“Indriati, masakan kau lupa? Perempuan hebat itu, sering datang ke istana, katanya suka punya pesan penting ke presiden. Mereka kenalan, malah di antara seniman lain, Indri paling berani menatap dan tertawa dengan presiden.”
“Sudah pasti gundiknya.”
“Ih! Kau kok sinis sekali.” Amanda kesal berapi-api.
“Baik, mungkin bisa kita ambil keterangan ke sana, tetapi ibuku belum mau ketemu.”
“Soal itu? Mudah saja. Sehabis lusa kita pulang ke sana, rumah kumpulan siswa itu.”
“Idemu boleh juga. Sekarang atau nanti? Kau mau ketemu pacarmu kan?” Cecil berdiri mengkunyah kacang goreng.
“Terserah!” Amanda bangkit memasuki kamarnya.
Cecil tergelitik perutnya. Perempuan itu mencomot kamus kehidupan Eve.
Andong meluncur mengantar mereka ke pekarangan luas.
“Betulkah?” Cecil melompat turun dari tumpangan kusir.
“Tidak salah, alamatnya sudah benar, Kebayoran lama blok M.”
Mereka menyangka Indriati seniman kaya dan rumahnya bagus. Nyatanya tidak. Kediaman itu begitu sederhana atau malah biasa saja. Serambi hanya satu dengan sice rotan baris kanan kiri. Bangunan itu sunyi akibat sekitarnya kebun cemara. Sekeliling burung kicau, sekeliling mereka pohon-pohon pinus, ketapang, kamboja, semuanya rindang dan besar masih nyiur kehijauan.
“Ya Tuhan, Amanda?” Indriati menyambut mereka. Senyumnya lebar. Menutup kedua jendela sebesar pintu. “Masuk angin nanti, kita ngobrol di dalam, diluar panas soalnya.”
Cecil tercengo-cengo memandang persada. Ada dua lemari Jepara berukir. Satu buah piring hias, satu buah potret Alice dan Boy saling tentang, perabotan-perabotan tembikar dan prastika, satu buah fonograf padam di pojokan ruangan. Sebuah radio keluaran prodak Jepang. Sebuah lukisan etiket-etiket Prancis.
“Silakan nikmati apa adanya.”
Indriati meletakan ficelle, bougette, bitter-balen, janhagel dan satu teko teh manis.
“Tidak usah susah-susah, kami kebetulan main saja.”
“O, saya belum kenal kamu, siapa?” matanya memandang cengar-cengir Cecil.
“Aku bicara depan kalian kemarin. Aku berdiri samping presiden.”
“Demi Tuhan sudah lupa mukamu.”
Amanda senyam-senyum menahan bahak.
“Sekarang masih sering main ke pantai? Setahuku, kau suka ski air.”
“Dulunya begitu. Sekarang tidak. Lagipula anak sudah punya, kamu tahu aku ibu rumahtangga sekarang, kami sibuk mengurus popok sampai kebutuhan bayi.”
“Aku sampai simpan banyak potomu.” Amanda menarik tas portepel miliknya. Menarik potret Indriati senyum dalam pakaian kebaya sutra dan berpayung.
“Memang semua sudah lama sekali. Kami sekeluarga punya urusan sendiri-sendiri.”
“Tetapi, kamu sering ke istana presiden bukan?”
“Memang betul. Kebenaran main-main saja.”
“Apa saja kau tahu dari sana?”
“Tahu pun mereka tidak peduli.” Indriati sekali lagi mesam-mesem.
“Kami suka rumahmu Indri. Ke mana suami atau anakmu?” Cecil melempar mata ke mana-mana.
“Mereka ada di rumah mertua saya. Manda, kamu sendiri suka membaca buku?”
“Bukan suka lagi. Tenggelam di dalamnya.”
“Saya tahu banyak belum kamu tahu. Makanya, sering kemari, tidak banyak menyenangkan tanpa kamu.”
“Adakah koran-koran aktif sekarang?”
“O, tentu banyak, bukan banyak juga. Sebagian sudah tutup, sebagian terus menulis. Kamu mau baca sebuahnya?”
“Sangat senang, sangat senang.” Amanda merasa basa-basi ini begitu menyenangkan. Cecil sendiri terasingkan sambil menunduk.
“Mungkin kamu maksud begini.” Indri meletakan satu lusin suratkabar sudah tidak pakai.
__ADS_1
Mereka berdua menembusi keterangan-keterangan satu demi satu. Sebuahnya begini; Tanpa sokongan kaum tani mustahil homefront diperkuat.
“Soal itu,” Indriati menerangkan. Mengambil satu suratkabar. “Jangan anggap serius. Sesekali keadaan harus dianggap lelucon saja.”
“Mengapa?” Amanda duduk lebih dekat.
“Sekarang bukan salah siapa pun. Bangsa ini cuma saling salahkan satu sama lain. Tidak ada satu pun mampu mereka benarkan.”
“Gubernur Djakarta Raya, dalam sambutan konperensi Pangan BTI, menyerukan untuk meningkatkan bahan pangan guna mengganyang Malaysia, nyatanya petani tidak serendah kaum tani jahiliah. Mereka punya sokongan luas kaum separatis, maksudnya; besarnya kekuatan Dwikora maka harus besar juga produksi pangan. Gubernur menyatakan, tanpa kaum tani mustahil landreform mampu disukseskan, mereka benar-benar mendukung petani Djakarta maju, selebihnya satu tahun lamanya, gubernur mintakan sumbangan besar untuk berhasilnya reformasi pertanian, nah, bantuan itu hanya bisa mereka dapatkan dengan ormas-ormas petani dan BTI. Semata menunaikan hajat, semboyan mereka cita-citakan Tanah Untuk Kaum Tani, gagasan itu sekaligus seruan insentif, sebagian terbesar kaum petani harus menyambut baik ajakan itu. Mereka harus melipat gandakan produksi pangan.” Cecil membacakan terang-terangan.
Indriati melacak perhatian perempuan itu. “Memang, kemarin 10 Desember satu tahun itu, kami sendiri merasakan kaum tani kekurangan ladang, semua penduduk mungkin bukan Djakarta saja, mereka kehilangan penghidupan, mudahnya saja malaise kembali berulang. Sekaligus pula upaya kerja, perbaikan kekurangan pangan secara menyeluruh, bukan hanya itu saja. Kesulitan petani tahun lalu belum adanya distribusi, pengangkutan, demokrasi pemerintah desa, pemanfaatan sampah pinggir Ciliwung untuk rabuk tanaman. Selain itu pihak lain mendesak pimpinan pusat untuk perhatikan tekstil dan bahan mudah dipasarkan.”
“Tetapi bukan itu saja, kalian mungkin baru tahu; belakang itu Dwikora terus menentang nekolim, segala bentuk neo-kolonialisme, mereka tebas buyar dengan senjata, bukan cuma itu Malaysia punya dukungan Inggris dan Amerika, hanya aku tidak mengerti, bagaimana mungkin; lebih baik mati bersama imperialis daripada hidup bawah kaki imperialis?” Indriati tertahan bahak sebentar.
“Agak aneh semboyan itu.” Amanda mencoreng garis lurus ke susunan ucapan Indriati. Geletak spidol merah, melingkari sebagian tulisan kembali.
“Saking seru aku sampai lupa, mereka pun bikin GERMET, gerakan mengganyang tikus, pimpinan Komandan Njono, wakilnya Hartoyo SW, sebagai halnya BTI mereka minta gubernur sudi menyokong.”
Indriati berderai tawa sementara. “Baik. Manda, ngomong-ngomong, kalian siswa angkatan berapa?”
“Kami sendiri cuma wartawan kecil. Mencari berita cuma untuk makansiang, itu ibaratnya.” sekarang Cecil menjawab.
“Sekedar wartawan? Sebaiknya kalian hati-hati. Sekarang bangsa sedang tidak baik-baik saja. Ada kemungkinan, semua kalian sendiri mungkin dengar atau sudah tahu; gerakan September sudah memutus Dwikora secara total, sekaligus matikan landreform, pengaruh reformasi sedikit sekali kami rasakan. Sebagian hanya senjata, melawan dan melawan hingga akibatnya sekarang ini, mereka hanya tahunya hukum saja, kami sendiri tidak mendukung anti nekolim, kami percaya imperialis tidak seburuk jaman barok, katakanlah jaman londo godong. Sekarang fokus semua kami hanya mengikuti arus ke hilir, biarkan jaman membawa ke mana manusianya, selagi tidak terlibat, sanak keluarga ada di tangan keselamatan.”
“Terimakasih Indri.” Cecil justru menjawab. “Kami sendiri tidak setuju denganmu. Sekarang Amerika sedang gencar menguasai negeri mana pun, lihat saja seberapa lama presiden bisa tidur malam ini. Gerakan nekolim memang aku setuju, tetapi tidak semuanya. Kau pun tahu bukan? Prodak dunia sekarang hampir kekuasaan asing. Prodak dunia sekarang bukan milik kaum tani. Mungkin gerakan landreform hanya pemicu bom waktu, sekarang bom itu sudah membakar separuh Jawa.”
“Aku paham sekali.” Indriati membuka-buka sebarisan koran. “Tidak banyak bisa aku katakan. Pastinya, pembaruan total untuk kaum tani itu, pemilik modal tidak menyukainya, mereka punya jalan sendiri, kalian sudah dengar September Berdarah? Itulah garis keras kaum modal. Mereka mencoreng homefront, melukai siapa saja tidak menyetujui.”
“Siapa orang-orang itu?” Amanda menyilang garis merah ke deretan kata-kata koran.
“Mereka punya badan kuat, komisi besar bangsa-bangsa sudah aku katakan, siapalagi jika bukan Inggris atau Amerika?”
“Wajar saja.” Cecil mintakan mentol. Indriati merokok dengan Cecil. “Kami sebenarnya punya hajat lain. Semata bukan duduk ke samping presiden, lebih jauh mencari siapa maling kuburannya sendiri.”
“Aku paham,” Indriati membubung asap besar keluar mulut. Satu telunjuk menjetik. Keluar kata-kata begini; “maksudmu, seseorang itu berusaha dekati presiden, pastinya bukan kolumnis genit itu, perempuan itu terlalu elok untuk ukuran pencuri. Mungkin tidak banyak aku tahu. Ketahuilah, terakhir kunjungan kemarin, kondisi bung sudah semakin menua.”
“Dia sudah tahu; ada tidak suka gagasan lamanya, bung pernah protes sewaktu PBB, menentang Amerika sebagai negara kapitalis baru.” Amanda memperkuat.
“Nah, Manda, Cil, jangan bicara pada siapa pun, aku bilang begini karena kalian sahabatku, lain tidak. Cukup kalian sendiri tahu. Sebanyak kunjungan Risjwijk, mereka hanya mau tahu kondisi bung, mereka sendiri tidak peduli bukan seperti banyak orang bilang; bung punya dukungan barat. Nyatanya tidak, bung tidak punya kuasa apa pun, Supersemar sudah diambilnya, tidak ada bedanya Sabda Pandhita Ratu, gugatan apa pun tidak bisa matikan surat sakti itu. Kemarin bung lebih baik. Hanya tidak banyak bicara, Cindy terus mendesaknya, seorang juru kamera datang, dokumentasi itu hanya gambar terakhir bung, wajahnya tenang tetapi perasaannya, mungkin aku bisa percayakan bangsa ini ke orang itu? Tidak jelas siapa maksudnya. Pastinya, pertemuan orang penting, mereka menunggu bung angkat kaki keluar istana, tidak ada orang tahu persis, kebetulan aku lihat dua lelaki Eropa. Mereka berlidah Prancis, sepertinya bukan orang sana. Mereka utusan badan keuangan, entah apa urusannya. Mungkin hutang atau bantu? Kalau bantu dari mana melunasinya.”
“Tidak aku hitung berapa banyak orang asing. Mereka seperti tidak punya tujuan. Duduk bicara hal tidak harus bung jawab, sebuahnya sampai kapan bung begini? Sampai kapan rakyat harus mendengarmu.”
“Kesaksianmu sudah lebih dari cukup.” Cecil berdiri minta ijin, membawa sebagian koran untuk dipelajari.
“Bawa saja. Lagipula banyak buku tidak kami tamatkan. Apalagi koran? Tetapi jangan salah. Kami seperti juga katamu. Mengutuk yang membakar buku.”
“Belandamu begitu fasih.” Amanda menyahut.
Indriati mengangguk takzim. Meneruskan. “Kau juga Belanda? Sama sepertiku kan.”
“O, satu siang, cepat sekali.” Indriati gumam menatap pendule emas di ruang tengah. “Kalian makanlah dulu. Jangan buru-buru.”
Mereka tidak lagi gusar. Semua hidangan nyatanya begitu sedap, sambal ayam dan panggang, nasih kecap dan ikan bakar. Cecil merasa puas, perutnya tidak lagi gemuruh riuh rendah, kenikmatan panggang bukan satu senti saja, panjang kenikmatan benar-benar bikin ketagihan sampai-sampai milik Amanda. Ia habiskan juga. Amanda membaung, menghentak kasut Cecil. Indriati terhibur tertawa-tawa.
“Apa pandangan bung dimatamu?” Amanda sudah duduk ke samping Indriati.
“Sosok ramah, hebat dan penyanyang, beliau mengundang anak-anak, mengajak bermain dan bukan orang mudah marah, penyabar dan mudah bergaul. Pokoknya susah jelaskan. Orangnya baik, orangnya pengertian. Satu lagi, tegas dan karismatik. Aku sendiri punya pendapat, bung orang kuat meski banyak suka melihatnya jatuh, aku sendiri tidak suka mereka, jujur saja mustahil negeri ini punya pimpinan seperti bung. Mungkin akan ada. Atau mungkin seratus tahun lagi.”
Cecil dampingan dengan Amanda. Mereka sibuk cerocos satu sama lain. “Apa kubilang, wanita itu pasti tahu sesuatu.”
“Bahasa orang-orang sekarang begitu aneh.”
“Maklum saja. Sekarang kau kenal mereka. Sejatinya sudah nenekmu atau ibumu sendiri.”
“Eve?” Cecil buru-buru melarikan diri melewati Megaria, Benteng Citadel sampai ke pekarangan.
Rumah belum dinyalakan. Mengartikan belum adanya manusia di dalamnya. Mereka masuk merebahkan diri ke atas dipan. Amanda menyalakan radio telesonik, siaran-siaran bosanova mengumandang, seterusnya drama udara Badai di Sorga asuhan Delsy radio. Cecil menjatuhkan segepok koran, kedua tangan lentiknya gerak-gerak, matanya menembusi setiap bunyi siaran-siaran, hampir satu jam menerjunkan diri ke suratkabar. Amanda sudah mandi, berdandan hadap meja hias. “Sudah kau temukan?”
“Beruntung sudah.” Cecil menjeblos minuman kaleng. Minum kemudian mondar-mandir seperti beruang gusar di kandang. “Tahu siapa? Tahu?”
“Jangan bikin penasaran!” Amanda menjembik.
“Henk,” suratkabar diambil Amanda. Matabesarnya menganga mencermati salinan perempuan itu.
“Siapa mengurus kedai mesumnya?”
“Memang bukan pasar malam tetapi hiburan malam.”
“Butuhkan satu jam ke sana.” Cecil meletakan transmitter ke seluruh titik radio harini. Sineskop diambilnya. “Kebetulan aku mau beli satu atau dua baju swalayan, penasaran saja baju ibuku muat berapa ukuran, oh astaga! Kenapa tidak kita belikan baju untuk Letty? Siapa tau hatinya lunak.”
“Aku setuju-setuju saja. Uang? Siapa?”
“Kau dulu, ayolah sudarimu butuh masak kau begitu, ayoh ya!”
Amanda mengeluarkan dompet linen miliknya, menyodorkan lima ratus ribu. “Kita bisa beli satu toko sekalian orangnya.”
“Kau ini, ah, sebaiknya pakai baju bagus, kita mau plesiran sayang, yuhu!” Cecil melenggok kemudian mandi.
Mobil blue bird meluncur menjangkau Djalan Thamrin.
Satu swalayan berdiri menantang di tengah-tengah bangunan hening dan sepi menindas hati. Cecil melangkah di dampingi Amanda. Pemandangan toko serba lengkap, penuturan Henk Ngantung satu tahun lamanya, sekarang sudah membubung lengkap dengan pertokoan baju, springveren matras, makanan roti dalam kaca sajian dan restoran sederhana, perabotan-perabotan lampu tidur, meja belajar bahkan perpustakan buku. Semua begitu apa adanya, semua begitu sepolos-polos bayi baru lahir. Cecil melongok sebaris rak koran-koran. Hampir tidak ada ganyang nekolim. Semuanya basa-basi bahasa nasib bangsa harini; imprealis sudah semakin nyata dan memakan negeri. Semakin banyak judul semakin mendekati; pers sepenuhnya tidak steril. Ada orang belakang panggung. Amanda mengawe-ngawe. Cecil langsung mendekati. Ada dua perempuan sedang membeli baju balita. Satunya mengemong jabang lincah. Satunya mengomel entah kenapa. Cecil melompat hindar untuk mendengarkan mereka;
“Lambat laun, perempuan itu tahu, ibunya tidak satu pun dari kita, kau tahu? Kau harus pura-pura mengakui dia anakmu.”
“Aku tidak tega. Perempuan mana biarkan putrinya begitu? Aku tidak tahu Elissah wanita macam apa sakiti benihnya sendiri.”
__ADS_1
Amanda menarik pinggang Cecil. Mereka lepas landas, berangkat bawa selongsong koran, menenteng persis perempuan jalanan. Keduanya saling bicara riuh rendah sampai ke hadapan gedong hiburan malam. “Orangnya ada di dalam, masuk saja.”
Amanda mengangguk kenakan kacamata. Cecil mengikuti contohnya. Amanda mencemburui hebat sudarinya.
Sampai ke dalam kedua-duanya semakin kebingungan. Pewayangan sedang berlangsung, gamelan dengan kain beledu merah anggur telah dibuka bertalu-talu, gong dibunyikan, sayup-sayup ketiga penari kunang-kunang muncul, seterusnya tari pendet, tari piring dan tari lilin. Keheranan belum berakhir. Cecil mengira club malam seperti bayangannya, pertunjukan alkohol dan ladys night, nyatanya mereka keliru masuk sarang hiburan. “Tidak kita tidak salah. Sudah nikmati saja.” Amanda memagut pinggul Cecil duduk ke pojokan.
Tidak lama keluar pelayan datangi mereka. Cecil pesan minuman cognac. “Kami tidak punya begitu non.”
“Ah, payah, harusnya ada, kepuasan pelanggan harus bisa, kami puas kalau ada bir atau wodka.”
“Ada tidaknya nona sudah datang. Silakan bayar jika sudah mau pulang.”
Amanda tergelak hebat menyaksikan itu. Cecil berang meremas tangannya.
“Henk tidak mungkin ada di sini. Bagaimana kalau ke rumahnya?”
“Begitu beresiko. Jangan, jangan. Aku punya ide.”
Mereka mengundang lebih banyak tamu dengan tari perut, sepasang perempuan menari menggairahkan, sepasang matanya mengedip gemulai, lekuk liku badannya gemerincing apalagi pinggulnya, sentuhan ketimuran membangkitkan hasrat luarbiasa. Sesekali Cecil menggoyang pinggul begitu panas dan membara, sementara adiknya menggerakan pinggul lebih hebat lagi. Tidak dinyana-nyana datang orang mereka cari. Lelaki berkumis sedang mengagumi kelincahan bokong wanita itu.
Cecil menarik punggung Amanda, sekejap badan mereka meledak dengan asap, menghilang tiba-tiba, semua sorak-sorai kompak menyaksikan itu. Satu ruangan seketika temaram seperti pertunjukan ilmu hitam dengan perempuan berjubah hitam, wanita itu merapal mantra, semua terkantuk-kantuk, suara nyanyian Cecil menyerang habis pengunjung sampai lelap ke perut bumi.
Anehnya, anehnya satu lelaki tidak tidur. Justru menggelagak, keheranan, hampir kabur pria itu dihadang Amanda ke pintu putar. Cecil melayang turun ke atas bartender. Kontan lelaki itu kencing di celana.
“Betul kau Martono?” Cecil merokok di depan dasboard mobil.
“Siapa kalian! Setan!”
“Kami hanya mau tahu, kau sudah lima kali datang ke proyek Henk Ngantung, kau pasti tahu, presiden sedang terancam, mustahil jika tidak.”
“Untuk itu bicara saja ke dewan jendral. Mereka lebih tahu, apa bisa kalian dapat dari lelaki sepertiku?”
“Maksudmu kami golongan merah?”
“Siapalagi? Kecuali bukan pembela presiden.”
“Bung tidak salah, kau yang salah!” Cecil menyorong puntung ke kuping Martono. “Nikmatilah luka itu. Anggap kehormatan ketemu kami.”
“Siapa kalian! Siapa!”
“Percuma kau orang purba, orang daluarsa mustahil percaya kami, maka dari itu bilang saja, peranmu punya arti selama bareng Henk? Jawab!” Cecil membesarkan suaranya.
“Aku beritahu, bung kalian maksud, memang sudah punya musuh, kalian tahu Amerika? Mereka tidak pernah suka bung, apalagi Kennedy. Keduanya kuman harus habis. Keduanya bakteri pemakan modal. Asing tidak akan berani sentuh pertambangan, ambilah Freeport, mereka lambat sedikit saja bung bisa menyikat bersih kuman imperialis.”
“Semakin terang, semakin jelas.” Cecil senyum jahat. “Kami tidak percaya begitu saja.”
“Martono pun bukan sebenarnya nama.” Amanda menyahut.
“Kalian kerashati sekali. Tidak ada cara lain, seminggu lagi banyak kunjungan Eropa, satu dari mereka bukan mustahil merampas pusaka musium, kalian buktikan bung pantas dibela, aku tidak punya urusan mengurusi perawan edan.”
“Sudah aku duga, kau pun mungkin kenal, siapa mereka itu.”
“Kemarin aku lihat mukamu di koran. Kau bukan perempuan Eropa, kau Yahudi. Kau putri salah seorang mereka?”
“Siapa mereka?” Amanda menyempil ke tengah mereka.
“Orang Inggris, menetap di London.”
“Tidak usah dijelaskan aku tahu siapa.” Cecil menyedot puntung, menindas habis ke pipi Martono.
“Setan! Rokokmu habisiku!”
“Aku sadar kau orang penting, Tono. Kau pun harusnya sudah mati, Njoto mestinya kau susul, kau sendiri tahu banyak September Berdarah itu kan? Kemanakan korbannya? Bukan komunis hanya satu lambang saja? Mereka memang salah, tetapi pemicu masih selamat, bukan kau saja tahu, mungkin jendral juruselamat itu tahu belaka; kaum modal ada di belakang September Berdarah.”
“Biadab, kau tahu terlalu jauh, besok kalian tunggu, kami akan lebih dulu masuk istana.”
“Kita main bersih, lihatlah jarum dua belas, kau atau aku yang habisi kalian.” Cecil membunuh cerutu dengan memakannya.
Martono melirik dengan menggigil hebat. Amanda terus mengkunyah kacang goreng.
“Pulanglah, kami tidak punya urusan lagi, dasarnya kau umpan kami Martono. Kau jual dirimu untuk kematianmu.” Cecil membiarkan Martono meloloskan diri, lelaki itu kabur menyeberang pemukiman Cibarusa, seterusnya entah ke mana.
Cecil berjalan lunglai ke tepian jembatan. Meletakan tangan-tangan, memandang ke bawah lalu lintas sunyi sedingin hatinya.
“Sudah aku duga, keluarga itu sejauh ini.” Amanda berdiri ke samping Cecil. Cecil mengusap jambulnya, mencengkam tepian jembatan, berteriak selantang mungkin, suaranya bangunkan sebaris polisi jam malam. Mereka sesaat berhenti. Bersaluir memasuki perumahan-perumahan besar.
“Apa bisa kita cegah?”
“Tenang Cil, tenang, percaya kataku, jamanmu nanti mungkin akan lebih baik dibanding jaman ini, semuanya serah padamu atau padaku, kita bekerja untuk habisi lebih dalam, palung pemilik modal sulit ditembus, mereka benar-benar iblis bawah permukaan semoga tidak mereka tahu; gelagat Martono sengaja bocorkan, ia pun sadar jiwanya sebagai tebusan, semua sekarang bisa kena tangkap, mereka yang baru jadi bangkai tidak kurang curiganya, maksudku orang besar belaka kurbankan ribuan nyawa. Revolusi Prancis belum sebanding, tolok ukur jaman ini harus bisa memutus adu domba, jaman Louis XVI bukan pandangan sekarang, terlalu primitif suatu masyarakat modern dan berakal waras begitu mudah habisi, bakar, jarah bahkan bunuh. Amerika berusaha keras kuasai kita. Kau ada di golongan mana?”
“Aku?” Cecil meringis sementara. “Aku Dvorak. Jelas semua moyangku kaum modal. Sebenarnya bisa saja aku kembali. Heidy selalu menolak, kau mau makan uang kotor seumur hidupmu? Ia kerap begitu. Ya, benar mereka punya hubungan darah denganku, mungkin kau bekerja untuk keluarga dunia, sebagai halnya aku, perasaan nurani, welas asih, kasih sayang, kebajikan semua harus dibayar tuntas; uang memakan habis semua itu. Kau sendiri tahu, tidak satu pun mereka pihak negara, mereka bisa tiup permusuhan kapan pun dan di mana pun, di sanalah semakin banyak modal menjanjikan.”
“Soal Elissah?”
“Besok pagi, kita belikan baju, maafkan aku Manda, kau tidak harus begini karena egoisku.”
“Tidak perlu cemas. Kau sudariku, pakai saja uangku, jangan pergi kalau kau bukan pengecut, manusia bajingan suka begitu untuk sama bajingan seperti dirinya.”
“Tentu itu tidak akan kulakukan. Mau terbang?” Cecil membentang sayap miliknya, adiknya semula termangu-mangu. Amanda menindas keraguannya. Cecil melewar luarbiasa jauh dengan gerakan santai, Amanda menahan tekanan udara, mereka menyusut semakin kecil memasuki jendela kamar Eve.
Suara bising gelontangan, kontan tombol listrik menyala menampakan Cecil ditibani Amanda, sementara Eve terpukau sekaligus terpingkal. Seluruh rambut Cecil putih kena sawangan.
Perempuan itu berdiri membakar sekujur rambutnya. Eve gelumpruk pingsan depan pintu. Amanda gopah-gapah sadarkan Eve. Cecil terbahak-bahak ....
Bersambung ....
__ADS_1