Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Pistol mematikan


__ADS_3

Paginya Amanda berpakansi lebih awal, ia sengaja mendandani seragam dengan lornyet dan rambut dengan sirkam, sehingga tas bertilam blacu dari jahitan sutranya seperti dia baru-baru keluar pelabuhan. Meriah! Memang hendak berkepentingan, selesai dari markas besar Phantom di persimpangan Balai K. Perempuan itu memasuki mobil karavan. Mobil meluncur mengantar sampai ke perpustakaan kota. Di sana dirinya membuka-buka pelajaran lama, menyimak jauh epos-epos, semua berbahasa Melayu pasaran, ia membenci bahasanya yang sukar dimaknai. Ketika baru duduk seseorang menegurnya, mereka berkenalan, Shelly. Perempuan itu. Kau bukan sembarangan, papamu orang penting? Shelly mendekati Amanda. “Tidak. Mungkin kau hampir benar.”


“O, aku sadar kau siapa, namamu kemarin kulihat di majalah. Siapa? Amanda!”


“Ah, senang juga kau mengingatku, siapa kau?”


“Hanya pekerja dan pelayan donat umumnya.” katanya meratapi diam-diam.


“Boleh aku pesan lima dus?”


Shelly seperti kegirangan. Tetapi ditahan kuat-kuat. “Sekarang atau nanti?”


Mereka meneruskan pertemuan di kedai kecil-kecilan. Kawasan Sawah Besar.


“Dulunya tempat ini punya ladang luas sekali, perkebunan dan tentu sawahnya, makanya kolonial menamakan Sawah Besar, karena keadaan sawah dan isinya sangat banyak.”


“Sekarang hanya manusia yang berhimpit.” Amanda membalas.


“Kau masih siswi? Dari pakaianmu bukan sembarang bisa pakai. Sepatumu, rambutmu.”


“Tidak, aku punya korporasi biasa, umumnya produksi dan niaga.”


“Kalau tidak berkeberatan, bolehkah aku jadi sebuah dari kalian?”


“Tergantung sikapmu. Berapa gajimu?”


“Lima belas ribu seminggu, sebulan tidak cukup kebutuhan, paling tiga puluh, bisa juga empat puluh. Itu kalau lima bulan kerja.”


“Sampai mana hasil didikanmu?”


“Sma, semester terakhir berhenti, orangtuaku tidak kuat membayar.”


“Tunjukan rumahmu.”


Shelly mengantar Amanda bersitinja ke dalam kediaman kumuhnya, keadaannya dicapai dengan sungai-sungai dan getek Ciliwung, sampah-sampah berserakan. Pemandian bocah-bocah sibuk dengan pencuci dan baunya, mendekati kenyataan ibukota harini.


“Kau tidak tahan?” Shelly tergelitik badannya.


Amanda diam-diam tertawa.

__ADS_1


Mereka mendarat ke perkampungan Ketapang. Shelly kemudian mintakan Amanda untuk menginap semalaman di rumahnya. Kedua ajudan Phantom tidur ke dalam tenda lapangan. Mereka sudah ditelan manusia-manusia besar yang membangun hunian tanpa pernah membayarnya. Penuturan Shelly. Shubuh mereka sudah bangun, pertama kalinya Shelly keliling komplek dengan Amanda, mereka menyiapkan sarapan nasih goreng. Dan: Sabtu datangi saja rumahku, jangan gentar, kau pegang kartu masuk dan sudah jangan tanyakan apa pun ....


Amanda pergi jam tujuh pagi. Shelly tidak pernah menyangka, ia dipertemukan sahabat baru yang lebih mengertinya, sendirinya ia mengemas kebutuhan secukupnya. Sepatu pada pojokan lemari gantung dibongkar-bongkarnya. Seekor kepinding habis ditindas kasutnya. Satunya lagi sedang disumpal benang depan giginya yang menganga lebar, memasukan sol demi sol ....


Pada hari-hari seperti telah dijanjikan Amanda hanya menyuruh Melissa dan Shenna menyambut tamu. Meisya tidak diperkenankan. Kau carikan makanan manis, semalam kau sudah menggelitik Marry, sekarang ia marah atas sikapmu. Meisya hanya mengangguk mengiakan. Kemudian terbang entah ke mana.


Sepasang sepatu usang sudah berdiri depan gerbang besar Waddesdon Dee. Shelly kebingungan. Betulkah kartu nama sebagaimana kemarin? Seseorang opas membukakan pintu. Membantu-bantu kopor miliknya. Kedua mata miliknya menganga menyaksikan rumah besar dengan pekarangan seperti lapangan bola. Shelly terkagum-kagum. Semua bangunan di kota-kota besar mustahil mampu seperti istana ini. Itu perasaannya. Memasuki pagar pembatas antara taman-taman dan patung Cupido Venus, perempuan hitam manis itu masih geleng-geleng, menembus prieel Shelly kedapatan. Seseorang menegurnya, tidak lain Amanda. “Mari jangan malu!”


Shelly didudukan ke ruangan utama. “Kami biasa menyambut tamu di sini. Tidak mengecualikan siapa pun.”


“Kau nyaman sekali jika begini.”


“Tidak juga, nah Shelly, kenalkan ini Meli dan Shenna, mereka nantinya mengajarimu.”


“Kenalkan aku Shelly,”


Melissa membuang muka. Shenna mengikuti contohnya.


“Tidak usah pedulikan. Kau biar aku saja mengajarkan.”


“Rumahmu terlalu besar, mungkin satu kadipaten bisa tinggal ke sini.”


“Itulah kenapa kau satu antara mereka yang kupilih.”


“Mencuci kandang kuda.” Melissa menyilakan dengan topi vilt miliknya.


Amanda kesal diam-diam melirik ke sana.


“Tidak benar. Sana kau gantilah bajumu. Istirahat dulu ke kamar tamu seberang itu.”


Shelly dibimbing Shenna ke ruangan ganti.


“Baju-baju ini dipakai setiap hari atau semasa tugas?”


“Kau bisa mengenakan jika nonton polo. Atau makan di sini dengan Ratu kami.”


Shelly tercenggang mendengar itu. “Siapa pemilik rumah semua kalian?”


“Kami ditugaskan merawat saja. Tidak lebih.” katanya bohong.

__ADS_1


Shelly mengangguk mengerti.


Selesai mandi di dalam bak besar dan dingin. Shelly sudah duduk depan cermin hias. Ia berkali-kali meniup cermin dengan abab, menuliskan kata-kata atau simbol hati dan terakhir melompat-lompat di atas ranjang besar dan empuk. Shenna yang masuk menjatuhkan nampan dengan ayam goreng dan minumannya.


Tidak cukup di sana—Shelly benar-benar kehabisan kepukauan sewaktu Amanda mengajak keliling komplek restorasi. Shelly mengangkat pedang tinggi-tinggi kemudian melempar ke titik dinding. Semua terpesona kehebatannya. Termasuk Amanda. Mereka mengunjungi rumah-rumah bambu dan melihat ukiran-ukiran patung. Juga pembikinan ranjang serta kasut jaman tengah sampai modern.


“Lihatlah, mereka hanya tahunya berternak, tidak tahu apa harus dibikin atas bangsanya harini, mungkin kau sukar percaya, pendidikan kami butuhkan sekarang.” kata Amanda berdiri di samping Shelly.


Shelly membantu pengukuran kayu dan penebangan. Sepulang itu ia menyatakan, luarbiasa kerja mereka, jadi benar tidak seorang pun punya keluarga?


Amanda menjawabnya, ketahuilah, kau jadi murid di sini, kami siap membiayai dengan sejuta lima ratus per bulan.


Shelly tidak dapat menolak demikian. Ia menyetujui kontrak kerjasama. Selama pengabdian awal, dirinya biasa saja, semakin ke tengah-tengah ia sadar; Amanda bukan pengasuh bangunan apalagi pengawas. Tetapi ia pimpinan satu organisasi, dan Shelly sudah bagian intim di sana. Mula-mulanya Shelly berniat lari tetapi tertangkap pengawasan. “Aku tidak akan membocorkan. Percayalah, kalian aman dengan kesaksianku harini.”


“Kau begitu justru menyuruh kami tarik sebutir peluru.” Maria menekan kedua bahu Shelly dari belakang.


“Aku tidak bisa dipaksakan! Aku punya duniaku! Kalian sudah memeras otak semua putri di sini untuk sama seperti kalian.”


“Apa salah kami? Kau hidup pun dari uang kami. Tidak ada yang lepas dari keluarga dunia. Pemerintah sampai kaki tangan, kami yang membiayai!” Amanda gemas menerangkan.


“Mudahnya, kau manfaatkan aku untuk kepentingan, kalian.”


“Sudah! Pulangkan kalau itu maunya!” Amanda membuang muka jengkel.


Maria mengurus pengunduran Shelly setelah lima hari jadi eleve, kopor miliknya dibungkus ke dalam angkutan, Shelly diantarkan Shenna dengan mobil putih milik Sarah.


Mereka berpisah diterminal Jago Rawi jam tiga pagi. Shelly yang baru merasakan hidup enak, terpaksa lepas dari kasih sayang keluarga barunya, ia sadar Amanda tidak main pengaruhnya, sementara dirinya sebatas murid yang tidak bisa berbuat untuk mencegah kekuasaan itu-itu juga. Sementara ini dia menidurkan diri di samping radio Nawala. Keadaan di sana begitu hening dan sepi. Shelly berusaha menyembunyikan kopor miliknya. Ia penasaran dengan isinya, kedua tangannya meraba-raba bingkisan Amanda. Kedua matanya menipis dari atas ransel yang menganga, setumpuk uang dengan jumlah besar sudah dipegangnya. Haruskah aku keluar? Katanya memasukan uang semakin jauh menyentuh perut datarnya. Aku lapar. Katanya beranjak bangkit.


Lima kilometer pedagang asongan masih membuka hidangan nasih goreng, ia makan dengan perasaan kecamuk, Amanda dan kebaikannya, seakan sudah terpadu jadi satu penyatuan luarbiasa dalam dirinya. Shelly berhenti makan. Wah, terlalu banyak ning, mang tidak punya kembalian. Kalau begitu ambil seratus semua untuk mamang, balas Shelly kembali pergi.


Tidak dia sadar kedua lelaki yang baru makan. Tidak jadi. Mamang itu segera menutup warung karena untung tiba-tiba. Sementara Shelly diikuti kedua lelaki brengsek. Memasuki shelter yang hening perempuan itu tidur. Tidak lama suara motor membaung-baung membikin kaget. Shelly terkejut melihat kedua penjahat sudah naikan pisau keluar sepatu busuknya. Shelly panik dengan mengambil tas melarikan diri. Sampai-sampai motor liar itu menubruk tapi tak kena. Shelly menggelinding ke depan bangunan bioskop Centra. Sekarang dia di Jatinegara. “Serahkan tas itu! Atau kami renggut berahimu!”


“Mana sudi!”


Shelly hampir dikekang kedua tangannya. Beruntung muncul suara mesiu hantam kedua lelaki kurang ajar itu. Mereka terkapar mati seperti mumi pasir, jasadnya hilang jadi debu. Shelly terperangah di tempat. Sayup-sayup di pinggir jalan Shenna menutup payung kertasnya. “Masih mau tinggalkan kami?”


“Jangan-jangan barusan siasat kau?”


“Tentu tidak. Lagipula kau bawa uang berarti nyawamu siap disantap penguasa jalanan.” tetapi Shenna jujur, ia diam-diam membuntuti Shelly, benar saja, tidak perlu lama sebungkus uang sudah jadi khasiat mematikan untuk diburu-buru bandit ....

__ADS_1


Shelly diterima kembali dengan kelas rujukan, perempuan itu hanya hendak mengumpulkan uang, ia tidak sudi tercebur ke dalam politik dan sejenisnya. Kata Maria ke Amanda. Amanda membiarkan. Selama itu Shelly sudah mengungguli murid-murid lain, ia mampu dengan mudah menuliskan kerangka-kerangka hewan dan tumbuhan, juga memaparkan ilmu-ilmu kedokteran. Shelly cepat naik tingkat berdasar kesungguhan belajar. Amanda bangga melihat itu.


Menuju bulan terakhir, Shelly diundang untuk jadi pelaksana program edukasi, kami membutuhkanmu, karena kaulah yang bawa perubahan untuk perusahaan ini. Kata Amanda menyerahkan seragam baru untuk Shelly. Shelly mendekap terharu Amanda.


__ADS_2