
Puspita duduk-duduk merokok dengan Amanda. Puspita melempar mata besarnya ke denting pendule besar ruangan. “Bagus juga bangunan ini.”
“Kalau kau terus bekerja untuk kami. Kami sediakan hunian sebaik-baiknya untukmu.”
“Terimakasih Amanda. Hanya, kau jangan termakan mereka, tidak kau tahu? Cecil sudah sangat baik denganmu. Kau harus bisa mengimbanginya. Kalian adalah sudara. Aku tidak bisa terus menerus mengawasi adikku.”
“Kau jangan marah dengan Maria. Ia bisa saja memecatmu.”
“Aku tahu ia punya kekuasaan di sini. Maafkan, semua bukan kesalahan adikku, kalian yang gagal membinanya. Cecil sangat penurut tetapi sekali hatinya disakiti, ia tidak pernah mau kembali lagi.”
“Akan aku usahakan berbaik dengannya.”
“Baguslah.” Puspita ditinggalkan sebentar. Perempuan itu meneruskan menulis dengan pena bulu. Mencorengi tanggapan pribadinya. Seterusnya garis tinta membentang dalam urutan-urutan peristiwa Inggris dan Belanda. Arnita membawakan nasih goreng. Mereka berlima menyantap masing-masing. Jamuan sederhana tandas dengan sambungan tinta di atas kertas dan pembenihan suara masih terjadi:
“Baik, kita lewati Franklin Institute Philadelpia, Pensylvania.” Arnita membentang kertas miliknya. “Kota-kota besar paling besar pengaruhnya, tidak lain Prancis dan Inggris, kedua negeri itu ibaratnya kuman yang mengganasi habis sumber manusianya. Selain Herzl ada juga Howight, katanya kedua negeri besar itu bisa saja kami hantam dari bawah, sebuahnya kami merencanakan Inggris memasuki perang tak putus-putusnya, musim perang berkepanjangan itu, dengan sadar mereka benihkan ke negeri-negeri jajahan. Mereka akan semakin kehabisan logistik dan penghidupan. Kehancuran lain yaitu: menggentarkan kekuasaan Prancis dengan panasnya revolusi yang kalian kenal sebagai revolusi Prancis.”
“Aku begitu penasaran dengan Prancis, tetapi Puspita menyarankan, sebaiknya Inggris dulu.” Amanda mendekati meja Arnita. Arnita menggeletakan mistar dari ruyungnya.
“Benar. Maafkan untuk kalian yang aku sakiti. Nah, kami punya pengaruh besar dalam pencapaian selama menundukan Inggris, mungkin akan sangat panjang, tetapi ketahuilah kalian beruntung dapat membacanya sekarang, kami punya kehidupan sangat berwarna sekali jaman-jaman itu. Dari sana juga, kekuasaan tidak absolut bisa dikuasai kekuasaan asing, mula-mulanya Charles I—mahkota muda—berusaha memerangi kami. Sebutlah persekutuan setan Cromwell, tetapi ia tidak berhasil akibat kegabahannya. Charles I akhirnya dilempar jauh ke Prancis, 1651.
Setahun kemudian Inggris melawan Belanda. Cromwell semakin marak tinggi namanya sebagai penguasa Inggris, The Lord Defender of Great Britain. Itu satu tahun kemudian. Satu tahun sudahnya Inggris melawan bangsa-bangsa Eropa lagi. Dua tahun setelahnya 1656 untuk pertama kalinya sejarah umat manusia, negeri besar yang berkuasa telah terlahir yang kalian kenal sekarang, Amerika. Cromwell disemayamkan ke dalam dengung duka cita. Tetapi putranya Richard naik tahta sebagai Kaisar Inggris.
Dua tahun pengangkatannya. Richard mengundurkan diri akibat sukar menerima kenyataan, dirinya hanya mangsa kekuasaan dan kerakusan kaum Jewish. 1660 Inggris berhasil menguasai London dan mengibarkan benderanya, ketika itu juga Charles II telah diresmikan penguasa baru. Satu tahun setelahnya makam Cromwell diamuk habis kemarahan manusia-manusia, penduduk London sendirinya tahu, Cromwell tak lain boneka kekuasaan semata penggulingan Charles menaikan kekuasaannya.
1662 pertentangan Kristen Prostestan menjalari golongan-golongan lain untuk runduk takluk bawah lindungan kaum Kristen Protestan. Semua api permusuhan ditiupkan Gereja Anglikan. Dua tahun Inggris perang lagi dengan Belanda. 1666 tahun terberat bagi pribadi Inggris, malaise menjamah hampir kota-kota besar dengan kekurangan lapangan kerja, ditambah lagi kebakaran besar kota London di sebuah toko roti, membesarnya wabah Lepra. Satu tahun kemudian Inggris kembali perang dengan Belanda dan Prancis. Kekuasaan tetap nomor puncak!
Satu tahun yaitu di tahun 1667 gerakan bawah permukaan terjadi, benih api menjalar tertiup ke pintu-pintu pemerintahan, yang dikenal Kabala atau sabotase rahasia melancarkan penindasan agama sampai politik. 1674 kami muncul kembali dengan pengaruh-pengaruh baru, menggunakan dan merancang watak bangsa baru, kami menyusup gantikan kaki tangan baru dan hentikan perang Inggris Belanda.
Pertama-tama kami mengangkat Willem Straad Holder sebagai panglima bintang militer Belanda, dan mengaruniakan Prins of Oranje. Sudahnya kami kata risalah itu, mempertemukan kedua nasib manusia lain benua dan dunia, Permashuri Lady Mary, putri pewaris kaisar Inggris yaitu Duke of York.”
“1688 kekuatan kami menyebar menyemai kekuasaan baru, selesai memecah belah Inggris, melihat keadaan negeri itu hampir penghabisan. Petempuran pecah ketika itu juga, Belanda menyerbu menguasai pesisir-pesisir Inggris dengan armada lautnya—menyerang habis pantai Turbay. Raja James II berhasil digulingkan terlempar ke Prancis. Penduduk percaya begitu saja, pandangan berlainan pun tumpah buyar di atas tanah Inggris, penduduk-penduduk telah terserang pembersihan besar-besaran Raja James II, mereka yang menentang tersingkirkan, maka begitu Inggris terkecoh—: Belanda bisa masuk mengendalikan habis konstitusi Inggris.
Duke of Mouth Mooth sebenar-benarnya senjata kehancuran jatuhnya mahkota James II. Sendirinya juga James tidak pernah koperatif terhadap rakyatnya dan semena-mena, maka habis sudah kekuasaan di atas perintah dan semburan, dirinya. William Oranje akhirnya persunting Mary sang penguasa Inggris murni, kekuasaan keduanya mampu dikukuhkan, pengangkatan serah kekuasaan terjadi. Keduanya benar-benar jadi ratu dan raja Inggris.
Dilain itu James dikenal Katholiek yang taat, maka penduduk masih meletakan jantung dan hatinya pada pimpinan itu, berusaha menyokong James kembali naik kursi raja. Dan kekuatan kaum pilihan berhasil menyatakan, William, sebagai pahlawan Protestan. Dan benar saja James II kembali ke Irlandia di bulan Maret masih tahun sama, petempuran besar-besaran tidak mampu dihindarkan antara Prins van Oranje dan James II, bulan Juli 12, dengan bahasa lain, Katholiek melawan Protestan.”
__ADS_1
Puspita selesai membacakan panjang dikali lebar, dikali jam dan waktu, semua terkesima dengan semua itu. “Nah, sudah Ratuku, mau aku teruskan lagi?”
“Sudah cukup, sudah cukup.” Amanda menahan senyum. “Memang berapa Inggris hutangkan untuk semua itu?”
“Tidak terhitung Amanda, aku bisa meneruskan, tetapi dua jam sudah lewat, bagaimana?”
“Teruskan saja.” masih Amanda.
“Dalam pada itu 1694 sampai 1698 Inggris sudah habiskan 1,250 juta euro menjadi 16 juta euro, semua belaka dibikin atas petempuran sudah-sudah dengan Eropa. Kekuatan kaum itu-itu mencengkam kekuasaan lebih merata lagi, maka banyak mengira Spanyol habisi bangsa-bangsa Eropa 1701—itu tidak lain ulah kami juga. Seseorang panglima besar kembali dihadapkan ke bumi hangus, Duke of Malbour, Belanda memilihnya. Dikatakan saham besar penyokong petempuran setiap tahun diberikan Solomon Medina sebesar 60.000 ribu setiap tahun! Jangan heran juga; revolusi pernah memanaskan bumi Prancis 1789 lamanya, mengartikan juga Inggris sudah naikan hutang sebanyak 885 juta euro. Itu 1815 setengah abad kemudian. Sekarang Inggris sudah lebih banyak hutang lagi, 445 miliar!”
“Sudah pasti kau selalu punya uang.” komentar Maria.
“Kami hanya terus bekerja, tidak pernah meminta-minta, bukan mereka sendiri menginginkan kemenangan? Nah itulah hasilnya. Kami tidak pernah memaksakan!”
“Cukup Puspita, semua di sini sudaramu, lagi pula siapa meributkan Inggris? Mereka toh tetap punya sikap dan tanggung jawab.”
“Baik Manda, kebaikanmu saja aku terima, terserah perempuan Manado ini ada tidaknya.”
Maria sedikit tersengat dengan Puspita. Puspita pun tidak nyaman dengan Maria.
“Mungkin sekarang diskusi penutup. Kau Puspita, jika masih tarung dengan Maria, sebaiknya kalian hengkang.” Arnita mengancam dalam mata tajam dan keras.
“Melissa!” Amanda tersenyum memandang sudarinya. Melissa tersipu-sipu ditempatnya.
“Kau bagaimana?”
“Aku? Mudah saja, penyerangan dilakukan Inggris sejauh mengikuti siaran-siaran, mereka sebenar-benarnya hanya pertahankan kekuasaan, begini Sri Ratu, setahuku negeri itu tidak pernah merusuhi Belanda. Bahkan, bahkan bisa saja Oranje Nassaouve sendiri punya dukungan belakang layar, mereka menyerang Inggris duluan, tetapi kaum itu-itu juga punya sikap apegeiren, mereka suka menganggap lemah golongan-golongan lain. Mustahil Inggris menaklukan Spanyol atau Amerika, kecuali sebuahnya menyerang kewibawaan pembesar setempat, Inggris dan benderanya.”
“Kau membela gubernur?” Puspita jengkel diam-diam.
“Memang kau punya hak melarangku?”
“Kalian bekerja dengan kami. Itu berarti kau tidak menyetujui anggaran dan ketentuan keluarga dunia.” Puspita geram.
“Kau hanya numpang bintang, mentang-mentang Dvorak kau bisa menindas kami? Aku tahu kau berdarah sama dengan mereka. Bukankah kau ingin aku menghormati? Bukankah kau mau aku menganggapmu, sudaraku? Bahkan mencintaimu?”
__ADS_1
“Tidak sulit mengampuni, maafkan saja Puspita.” Amanda melerai pertikaian Melissa dan Puspita.
“Karena Ratuku bukan karena kau, aku mau memaafkanmu.”
Melissa sungkan-sungkan merangkul pinggang Puspita.
“Bagaimana kau Maria?”
“Seperti barusan, peperangan hanya habisi kas makin tak kenal manusianya, mereka punya rakyat, mereka harus diperhatikan, kau punya lantas tidak mau membantu sesamamu? Itu lebih hina dari apa pun. Benar-benar bangkai.”
“Arnita?”
“Aku tidak banyak menyimpulkan, tetapi semua sudah menelan kurban, kita pun bisa saja ke sana, tetapi melihat keadaan sekarang jauh lebih baik mengikuti ketentuan. Memang Inggris negeri luarbiasa, mereka sering kena serang, bahkan jauh sebelum Afrika dan Sailan berdiri, negeri itu hancur akibat kepemimpinan yang salah. Inggris maksudku. Cobalah ingat-ingat lagi, hanya beberapa raja dan ratu negeri itu yang benar-benar mulia, seterusnya persis Tsar Nicholas yang dihabisi satu keluarga dengan kaum Bolshevik. Tsar masih sedarah dengan Ratu Viktoria kan?”
“Memang benar, Tsar tidak punya kekuatan untuk jadi pimpinan, kekuasaannya hanya meneruskan horden politiek ayahnya, jadilah hanya penambahan beban Jerman dan penduduknya, mereka juga habis setengah populasi hadapi Jepang 1904.”
“Kalian serasi sekali.” Maria tersinggung memandang Amanda dan Arnita.
“Diteruskan atau sudah?” Amanda menggoda Maria dengan menyikut pinggang perempuan itu.
“Aku rasa sudah sangat cukup, mungkin nanti kususun pembukuan pertemuan, sebelum itu absen dulu jangan pulang.” Arnita berdiri meminta sidik jempol dengan tinta China.
“Memang baru sekarang keterangan panjang sudah terbuka. Baik, senang bertemu kalian, Nita bimbing sebelahku.”
Mereka menyanyikan kebangsaan kemudian hindar keluar kamar sositet. Maria menyenggol bahu Puspita. Puspita menggigit gemas bibirnya melihat jam tangannya.
“Sekarang pukul satu siang.”
“Aku sangat membenci Amanda sekali.”
“Mengapa begitu?”
“Harusnya aku ratunya. Bukan dia. Bukan siapa pun.”
“Akan tiba waktunya, wabah benar-benar habisi manusianya.” Shelly jatuhkan kepalanya ke pundak Cecil.
__ADS_1
Bis masih terus berjalan. Begitu pun pembersihan masih akan terus berjalan.
Bersambung ....