
Semua saling berpelukan. Amanda terharu. Puspita menegaskan, rumusan akan semakin banyak jika propaganda dimulai petang ini;
Cecil memimpin barisan petani, mereka belum pernah Emma gaji, kalian datang saja ke pesta, habis itu kabarkan kami. Kami akan mendobrak gerbang Phantomon Tower, ingat harus datang; jangan tidak, nasib kalian ditentukan.
Shelly menyerukan sekelompok terpelajar untuk umumkan boikot, mereka yang sudah jelas terpaksa mengikuti Emma, akhirnya tidak pernah berangkat. Kamar studi kosong. Sementara seksi pengawas tidak tahu apa sedang terjadi.
Amanda berdiri di lapangan, perempuan bongsor itu, kenakan zirah pelindung, ukurannya sebesar kostum besi Henry VIII.
Sementara Arnita mengatur diadakannya pengepungan, lumpuhkan semua militer dengan curi senjata, besok presiden pesta, kalian harus bikin rusak dan hancur semua artileri, mitrailleur dan proyektil. Semua menyanggupi, semua bergerak menyebar. Amanda naik ke punggung kuda. Arnita menyilang tangan; membentuk salib. Mereka berkuda menembus hutan-hutan besar Phantom. Jalan damai tidak bisa mereka ambil, Julianna tidak bersalah, mereka tidak akan mengorbankan golongan tanpa suatu tanggung jawab pasti, artinya bukan pelaku rezim.
Puspita sibuk mengalihkan Emma, perempuan itu sedang menyiapkan pesta peresmian jabatan, kekuasaannya akan absolut setelah ini. Semua masih bisa padam, kata Puspita. Perempuan itu tuliskan selebaran Onze Rust en Orde Moedderpoel, penangkapan belum terjadi. Puspita dapatkan kabar, polisi politik akan naik kereta kuda menutup kantornya. Puspita lompat hindar menghilang, semua karyawan melarikan diri, menggabungkan diri ke dalam golongan revolusi.
Pesta yang dimashurkan besar itu terjadi. Emma sudah naik kereta kuda, turun melambaikan tangan, perempuan itu menikmati genderang dan trumpet tinggi, bendera kerajaan akan diturunkan, digantikan lambang kekuasaan baru;
Pemain-pemain orkes membubung trumpet-trumpet militer. Begitu sedap bunyinya bagi manusia-manusia haus kekuasaan. Emma mengangkat sembah hormat. Phantom sudah menukik digantikan Star Eternity atau Bientang Tjerah dari Timur. Emma pun menyampaikan suaranya;
“Kami segenap pimpinan, lima tahun sudah kekuasaanku, bukan saja aku, tetapi semuanya boleh rasakan hari-hari besar sekarang milik kalian. Dengan Star Eternity kedaulatan Phantom sudah harus musnah, kami akan bangun monarki semakin jaya, makmur dan arif. Kalian sendiri tahu: Amanda sudah banyak merugikan saham lima tahun lewat. Sekarang kalian jangan tutup muka, buka wajah kalian, kekuasaan baru telah lahir, kami melahirkan kembali gagasan lebih berbukti, jaminan kemanusiaan dan jaminan kesetaraan. Sekarang, naikan.”
Panglima Aboth menerima perintah, bendera Phantom sudah tengger sepuluh tahun, sekarang temurun tersintuh serenta dengan tanah. Emma tidak menyangka gerakan-gerakan kotornya akan berhasil. Perempuan itu tidak tanggung-tanggung, berdiri merobek Phantom semakin keping, semua putri senior bahkan kuncup membuang muka, beberapa mengumpat diam-diam, beberapa jengkel.
Emma senyum semakin tinggi, perempuan itu naik ke singasana. Panglima sematkan bintang ke dadanya. Seorang pastur menyumpah Emma dengan pedang; bahwa ia akan siap dengan pimpinannya, bertanggung jawab di atas kakinya sendiri, bertanggung jawab dengan hati dan nuraninya. Emma mengangkat sembah.
Sebanyak undangan konservatif duduk-duduk, sebanyak kunyahan-kunyahan kue, yang ***** ke kerongkongan, sebanyak senda gurau hadirin, sebanyak orang dansa-dansi. Emma justru begitu sunyi sepi. Harusnya Phantom masih berdiri, tetapi dia tidak tahan sifat-sifat pembuas. Emma pernah dua kali dibuang Amanda. Sekarang biarkan kekuasaan bicara, sekarang biarkan dia meneguk brendi demi brendi, berpesta pora di atas kelaparan rakyatnya. Mungkin begini kenikmatan terakhir Tsar Nicholas II. Toh tidak ada bedanya semua pimpinan dunia menemukan kenikmatan-kenikmatan atas pemerasan.
Semakin minum Emma semakin merasakan kekuasaan tak kurang nikmat dari cawan, semua bisa puas minum kenapa dia tidak pernah puas? Rakyat menuntutnya. Kupingnya bukan bagian kekuasaan, kekuasaan sudah milik nafsu-nafsunya, biarkan Amanda hilang sampai kapan pun. Emma terhibur dan meneguk bolsh. Sekeliling persada luas dan besar sekelompok perempuan menatap senyum ke arahnya, seorang perempuan menindas kepinding sampai mati dengan kakinya.
Emma muntahkan brendi miliknya.
Sejauh lima kilometer, sejauh Emma menyipit pasukan berkuda sudah menyerbu, menyerbu habis keamanan. Mereka kenakan kostum besi, Amanda berteriak revolusi sudah tiba, Phantom belum berakhir, Phantom selamanya sampai mati! Amanda menerjang polisi politik, mereka lumpuh dengan panah dan hunjaman tombak-tombak. Arnita turun menebas kepala pasukan Emma. Emma melarikan diri ke dalam istana. Semua seketika berdarah. Sang revolusi membakar habis jiwa-jiwa kehausan, keadilan dan kesetaraan, sampai sana semua merobohkan patung Emma sudah lima tahun tegak di tanah Phantom. Semua anjing miliknya diamuk dan ditebas, bakar dengan pestol dan kerusakan istana.
Shelly sendiri memanjant balkon, merobek-robek Star Eternity, merusak semua perabotan Emma mulai dari guci-guci tembikar, pusaka dan topi vilt hasil curian musium Amandas Centre.
Sementara penembak jitu golongan Emma baris habisi serangan masa, mereka seketika buyar berantakan kena semburan meriam bekas Napoleon, perempuan-perempuan perkasa golongan Sri Ratu sampai ratusan bahkan ribuan meruntuhkan gedong Phantomon, mereka menyerang habis pemikir-pemikir recthspaark, mereka harus kami gantung atau potong. Teriak keras-keras Shelly.
Mereka keturunan Timur Asing sudah membungkuk, kedua tangan ke atas, sementara Arnita menggiring gembong, Emma, perempuan itu dinaikan ke panggung pesta, kain-kain pancawarna habis terbakar api amukan. Emma disuruh Arnita berlutut. Perempuan itu menggigil, perempuan itu menggelesot. Arnita keluarkan karabin. Emma menangis diam-diam, satu tebasan kencang melempar kepala Emma ke tanah, mulutnya menganga, Arnita melompat turun, menaiki balkon dan menyodorkan kepala buntung Emma.
Semua sorak-sorai, sedangkan kelima lelaki, memang benar semua sekertaris Emma lelaki Lebanon, sudah baris kemudian Amanda habisi kelimanya dengan peluru panas.
Emma sudah kehilangan mahkotanya. Phantom kembali tegak di tanahnya. Waddesdon Dee proklamirkan kebebasan.
__ADS_1
Amanda merentangkan surat, membacanya lantang disaksikan umat Phantom, “Dengan runtuhnya Presiden Emma, harini November akhir 1996, aku kembali memimpin Phantom. Sekian lama kalian tidak melihatku. Sekarang bukan si Ratu Adil, kedatanganku akan membangun Phantom dalam waktu tak ditentukan. Semua keputusan ada pada kalian. Harini Phantom sudah lewati badai politik, banyak sudah mereka kurbankan, darah dan nyawa, maka sekarang juga. Jalin hubungan kembali, persaudaraan dan kemanusiaan, kemanusiaan di atas segala-galanya, membantu putri-putri meningkatkan moralitas bekerja; meningkatkan putri-putri semakin layak upah, meningkatkan putri-putri untuk kemakmuran dan kesejahteraan, kesetaraan untuk bekerja di atas segala-galanya, kesetaraan tanpa bandingan darah dan keturunan. Tidak ada penghambat asalkan hasil kerja sama dengan satu moralitas; upah harus sama dengan hasilnya, bekerja untuk keabadian. Lang Leve Phantom! Lang Leve Koningin Phantom!”
Semua berteriak terharu mengangkat tangan, saling berpelukan dan menangis haru. Arnita mendekap Amanda. Shelly mengusap jambul Puspita. Puspita kemalu-maluan. Cecil merokok membubung asap keluar mulut, membagikan keduanya, mereka merokok bebarengan.
Amanda berombongan masuk ke istana Waddesdon Dee, Arnita mengiringi di dampingi Cecil, Shelly dan Puspita. Pembaruan kembali diadakan, dekorasi dan bentuk kamar tidur, ruangan dan persada. Amanda sendiri menyambut gembira sokongan pihak lain: Selamat Sri Ratu sudah kembali. Kami akan berikan kesempatan, Sri Ratu akan kami jadikan kepercayaan. Amanda menolak tawaran itu. Amanda hanya menerima keluarga dunia, ia tidak pernah percaya Rockefeller.
Perempuan itu tidak pernah menyangka Phantom akan kembali ke tangannya. Semua yang ia bangun sepuluh tahun akan menemui hasil memuaskan. Amanda tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Phantom mengalami peristiwa-peristiwa besar;
Kematian seratus demonstran di hari Julianna proklamasi golongan Timur, seribu demonstran mati hampir setiap harinya, sebulan akhir benar-benar berdarah.
Serangan Julianna ke wilayah-wilayah Emma yang gagal, Emma sendiri berusaha redistribusi, tetapi gagal akibat banyaknya masa radikal. Mengherankan, Amanda justru muncul sudah lima tahun, perempuan itu begitu dikagumi semua umat Phantom. Emma yang berhati baja, sekarang dikenang dalam monumen semenjak dua tahun sudah kematiannya, di tangan sang revolusi, monumen itu baru berdiri Desember 1998.
Menjelang milenium rombongan pendukung Emma, yang selamat akibat amnesti Sri Ratu dihari revolusi, termasuk Adeline, Yosi berkumpul, menebarkan bebungaan sepanjang komplek hunian Emma. Karangan bunga besar dengan tulisan besar indah-indah, damailah Ibu Suri Pers kebangaan kami, pameo itu sering dikenang setiap kelahiran koran Phantom, di mana pertama kali mereka menyumbat Santi di koran-koran ibukota sebelas tahun lamanya.
Phantom mereda. Justru negeri ini semakin gejolak, kerusuhan 98 semakin menjalar ke mana-mana, kedudukan presiden sejak mana 1967 sudah harus dihentikan, dan diganti gagasan baru, tepat seperti konperen keluarga dunia tujuh tahun lamanya, reformasi.
Kemelut Timor Timur menemui puncaknya, perdamaian akan diusulkan secepat mungkin, dan Amanda sudah menandatangan surat-surat agenda kembali, bahwa kebebasan mereka idam-idamkan sepuluh tahun akan terlaksana. Tetapi adakah pemerintahan reformasi jauh lebih baik? Atau semakin banyak kejatuhan pimpinan? Tidak seorang pun tahu.
Marry pulang dengan Suszie yang sekarang sudah perawan, Jeanette yang beranjak dewasa, mereka kembali menempati Phantom. Amanda sendiri membiarkan Marry menemani seharian penuh. Cecil ketemu Elissah, ibunya tetap berumur tiga puluhan. Sementara Puspita sudah kawin dan menetap di Kattenburg, menyusul itu Shelly melahirkan anaknya, anaknya dari benih suaminya yang pertama, nyatanya tidak jauh beda dengan Sarah, saking sering bercinta anaknya semakin banyak. Shelly mengasuh kelimanya dengan penuh kasih sayang.
Norah sendiri menemui Amanda untuk bicarakan masalah-masalah Shelly. Amanda sudah mengakhiri kriminalisasi perempuan itu. Norah merasa lega akibat beban kerjanya plong. Sementara Maria, Sarah, Gladys, Melissa kembali untuk melamar kerja. Amanda mengampuni dengan catatan, harus pulihkan fasilitas mousoleum miliknya, kerjalah untuk jangan cepat tua. Cern bertindak sebentar lagi. Mereka gembira-gembira saja bekerja. Sashie membantu Surti membesarkan kuda-kuda milik Marry. Meisya justru pengganti pimpinan suratkabar Pembrita Fajar, yang mana redaktur sudah mampus diamuk Nov Berdarah.
Benar saja, hampir satu populasi tidak mampu tilpun dan nonton tv, asteroid sudah habisi satelit, manusianya selamat tetapi mereka kehilangan jaringan komunikasi. Kami akan segera perbaiki, Cern mengirimkan tilgram.
Pertengahan tahun baru 1999, seperti sudah dijadwalkan, bumi sendiri akan mengalami pembaruan besar-besaran, Cern sudah menuliskan morse, melalui komputer yang terhubung multiplekster dengan cabang-cabang katoda dan kombusi, kita sambut jaman baru, kata pimpinan puncak Cern.
Heterokosmo sudah kita terapkan, katanya kerahkan kelima komite khusus, semua mengacungkan jempol, satu sinar benderang meletup keluar payung satelit, satu kota besar sampai kecil melingkupi satu populasi menyalakan lampu. Sekarang semua akan semakin giat bekerja, kata Shenna mengedipkan mata.
***
Desember 1996 stasiun Gambir begitu banyak orang lalu-lalang. Muncul sepasang kasut perempuan, perempuan itu menaiki keretapi jurusan terakhir. Seseorang duduk membaca koran, seseorang lain sibuk menggaruk kutu, seseorang berkumis sebesar tinju sibuk memangku anjingnya.
“Berapa jauh lagi?” tanya seseorang.
Santi melepaskan kacamata minus. Memperhatikan orang itu. Orang itu lelaki berumur sepertinya, lelaki itu kenakan kaus hitam dengan celana chumbray, berkalung batu gantung, batu zamrud itu melingkar dengan kombinasi permata dan kombinasi angka-angka. “Kenalkan aku Stevan.”
“Seperti pernah dengar,” Santi berkecap-kecap sementara.
“Aku baru kembali dari Gobi, mungkin butuh waktu lama kami meneliti sarkofagus, oh ya, aku doktor numerologi, kosmologi dan kau?”
__ADS_1
“Pengarang biasa.”
“Luarbiasa.” Doktor Stevan membuka tangan. Di dalamnya arloji gantung, “dalam hitungan relativitas tidak terhitung dimensi, betapa banyak peristiwa sudah terjadi luar sana, betapa banyak orang melahirkan, betapa banyak orang bercinta, betapa banyak politisi selingkuhi rakyatnya. Betapa banyak tidak kau tahu.”
“Lalu? Kau tahu dari mana?”
“Merkurius, planit itu diduga punya dorongan lain. Merkurius punya orbit sendiri, seakan ada gravitasi lain hidup antara matari dan Venus, semua sudah umum sejak Abad 19, seseorang mengira Merkurius punya sentuhan gravitasi planit lain. Percaya Vulcan?”
“Apa itu?”
“Vulcan sendiri tidak pernah ditemukan. Vulcan simpang siur saja. Mereka berusaha merekayasa keberadaannya, mungkin bisa ada atau sama sekali dongeng bintang, matari bergerak pengaruhi Merkurius akibat punya daya lebih besar. Itu simulasi gravitasi. Memang tidak mampu dibuktikan, tetapi banyak dari mereka percaya, semakin besar gravitasi matari semakin jauh planit merasakan perubahan saturasi orbit.”
Keretapi berhenti. Santi turun. Doktor Stevan tidak menyertai. Lelaki itu melanjutkan membaca koran. Sesekali tersenyum, senyum keanehan.
Santi mulai memasuki stasiun Sawah Besar. Perempuan itu menyorong kaki semakin jauh. Semakin jauh; tidak disangka berdiri seseorang begitu dikenalnya, seseorang itu tidak lain manusia begitu dicintainya.
Santi tanpa pikir memeluk dan menciumnya. “Aku akan menerimamu. Meski kau hantu.”
“Maksudmu?” perempuan bongsor itu keheranan.
“Kau harusnya sudah mati sejak pesawat itu habisimu.”
“Pesawat? Aku tidak tahu apa itu pesawat. Ayah mengijinkan naik kapal. Mungkin kau mau naik kapal denganku. Murah tiketnya, dua belas dollar saja.”
“Tiket macam apa itu?”
Amanda menyodorkan kupon.
“Maret 1912?” Santi memandang sekitarnya. Semuanya berubah bukan seperti Jakarta, melainkan pemukiman-pemukiman kumuh pribumi, sekitarnya petani lalu lalang dan londo totok turun keretapi jurusan terakhir.
“Bagaimana?” Amanda tersenyum.
Santi tersenyum dan mengusap airmatanya.
Mereka pergi entah ke mana. Sayup-sayup Doktor Stevan membaca naskah Santi, perempuan itu begitu mencintai adiknya, katanya letakan naskah dan mengedipkan mata.
Tamat
Ditulis sejak 13 Juni, tamat 29 Juli 23
__ADS_1