
Sepeninggal acara-acara besar itu Marry yang sedang berkeperluan. Tidak semerta-merta menutup pintu istana Waddesdon Dee. Perempuan itu langsung memasuki kantor-kantor untuk meletakan surat-surat penting belaka. Amanda sedang diluar. Marry terus berjalan sendiri. Kedua matanya menggigil menahan dingin. Ia berharap Meisya tidak membuntutinya. Beberapa kali kepalanya melihat ke belakang. Beberapa kali kepalanya melihat ke sekitarnya. Tidak ada suatu pun. Hanya kamar-kamar kosong yang terbuka. Kertas-kertas berserakan dalam mulut-mulut pintu.
Sebuah jendela menganga dengan masuknya suara-suara binatang malam. Marry meneruskan kakinya, tombol listrik langsung dinyalakan. Keadaan benderang membuatnya mudah memasukan dokumen-dokumen ke dalam lemari.
Selesainya ketinggal sebuah belum dia kembalikan. Ruangan itu diketahui kantor administratur Shelly. Perempuan yang menurutnya sama kasar dan galak seperti Meisya. Marry bergidik tetapi ia teruskan ke sana. Memasuki pintu dadanya naik turun. Mukanya mengucur keringat. Buru-buru menggeletakan dokumen ke atas meja. Marry mendengar seseorang memburu nafasnya. Marry berusaha mencari tombol listrik. Tidak dinyana seseorang sudah berdiri di sampingnya. “Di situ saja?”
Marry terjompak naik darahnya. Wajahnya kepucatan seperti mayit. “Shelly?”
Shelly tersenyum tenang dengan berdiri. Badan itu membungkuk menyalakan tombol lampu. “Ke mana Amanda?”
“Aku diberikan amanat saja.”
“Tetapi aku tidak membutuhkanmu.”
“Salahkah aku ke mari?” Marry memutar tubuh hendak hindar.
Shelly memunggunginya. Memanggilnya. “Aku punya hadiah menyenangkan. Kemarilah, jangan dulu keluar.”
__ADS_1
Marry ragu-ragu tetapi jiwa uang, uang, uang semakin menggebu-gebu. Ia memaling cepat-cepat, “Mana? Manah!”
Shelly memutar balik badannya, wajahnya menggeram, mulutnya menggeletar dengan gigi-gigi runcing dan matanya menyala kuning seperti kucing neraka. Suaranya besar dan mengerikan. “Aku membutuhkan Amanda! Bukan kau keparat, tolol, busuk, biadab! Pergi! Jangan pernah datangiku! Pergi!”
Marry ketakutan dengan kaki gemetar kemudian melarikan diri.
Shelly mematikan tombol listrik, menggeram dengan mata dinyalakan persis kucing buas.
Marry membuka pintu keras-keras. Meisya sedang duduk di kursi goyang membuka-buka majalah terkejut bukan main. “Ketuk dulu!”
Marry mengurung diri di pojokan perabotan mahal. Meisya kebingungan. Ia melayang menghadap Marry. “Ada sesuatu? Kau kenapa?”
Meisya jadi kepusingan. Ia menghubungi Amanda. Amanda pulang dengan Melissa. Perempuan itu langsung pergi.
“Kau kenapa manis?”
Marry memeluk Amanda. Perempuan itu menangis semakin keras dan keras seperti neraka.
__ADS_1
Meisya terusik. Ia memilih pergi hilang.
“Jangan menyusahkan begini. Kau sudaraku. Aku harus bertanggung jawab denganmu.”
Marry berhenti menangis. Ia mengadukan sesuatu yang terjadi padanya.
Amanda sukar mempercayai. Mustahil Shelly begitu. “Tidak sayang, Shelly tidak mungkin begitu.”
“Kau tidak percaya?” Marry meneruskan tangisannya.
“Baik, baik aku percaya.”
Marry menangis diam-diam, betulkah Shelly membentak Marry dengan wajah mengerikan seperti binatang purba?
Marry meliburkan diri satu minggu. Ia masih tidak mengerti, kenapa Shelly sangat membencinya, bahkan Amanda justru selalu disukainya.
Amanda memutuskan mendatangi Shelly. Shelly ramah seperti sudah-sudah. Mereka bicara sejam dua puluh menit. Shelly mengaku tidak punya mata semacam itu, mungkin Marry hanya mengada-ngada karena membencinya. Amanda yang mempercayakan Shelly. Putuskan kembali ke bangunan mannor. Sementara Shelly mengacak-acak rambut kebingungan. “Harusnya aku tidak menyakiti perempuan tolol itu.”
__ADS_1
Marry menidurkan diri di atas ranjang miliknya. Amanda datang mengatakan Shelly mengaku bersalah dan sudah memaafkan Marry. Marry senang mendengar itu. Meski Amanda berbohong ....
Bersambung ....