Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Karl Smevendimen


__ADS_3

Cecil tahu benar harus berhati-hati. Semua orang saling mencurigai sekarang. Semua saling tidak percaya satu sama lain. Sejak prakondisi September gagal, runtuh total bahkan pelaku-pelaku digelundung entah ke mana, tinggal nama atau bangkai atau saling tumpuk persis ikan-ikan busuk. Cecil hampir-hampir muntah. Coretan-coretan anti kudeta, coretan-coretan manikbu sampai gambar palu arit dibakar api dan spanduk-spanduk menolak Lenin, Marxisme, Angels, Trotsky, Stalin.


Perempuan itu menyusuri gedung-gedung kosong, langkahnya berhenti di mana muncul rombongan siswa saling baris kemudian hilang ke lapangan departemen rakyat. Mereka tidak tahu saja, kekuasaan sedang mereka lawan, akan merugikan cucu cicit mereka bahkan sampai jamanku. Katanya menggigit setangan. Mengikatnya ke lengannya.


Cecil pura-pura menyamar sebuah dari mereka. Sendirinya perempuan itu mengikuti rombongan, menyanyikan yel-yel, meneriakan freedom as humanity, meski dalam hatinya manusia harus mereka lindungi sekarang tidak lain sang presiden sendiri. Cecil meneruskan penyamaran. Perempuan itu seketika masuk perhatian. Beberapa perhatikan dirinya. Beberapa menatap keheranan. Beberapa menyadari Cecil satu-satunya perempuan putih. “Apa kalian lihat? Aku bukan Belanda! Aku perantauan Mesapotamian. Tidak ada urusan dengan darah dan keturunan. Sekarang kita naik ke podium jika perlu.”


Perempuan itu beranikan diri menuding dan menggebrak telunjuk, menyalakan matanya, menyatakan kerusuhan tidak pernah menangkan kemenangan, kerusuhan hanya empedu kepahitan di jaman lain. Kalian tidak mau membebaskan negeri keluar belenggu revolusi dan pecahan kuman imperialis barat?


Sekarang bukan waktunya coupe de etat, keputusan negeri harini sudah keputusan hari depan nanti, jika kalian menentang komunis, jangan tentang ilmunya, tentang manusianya. Tidak ada peradaban merugikan manusianya. Justru sebaliknya peradaban yang sakit sebenarnya manusia kehilangan ilmunya. Mereka-mereka tidak lagi punya prinsip-prinsip.


Kehidupan sekarang bukan falsafah. Ambilah Buddha sebagai contoh, Buddha yang agung sama tinggi dengan satu pribadi Shiva, satu berarti sama dengan Jina dan Shiva punya kedudukan sama, mereka adalah satu tanpa pertentangan. Begitu pun jaman Prapanca, penyair yang mempersatukan sifat-sifat Shiva dan Buddha. Nagarakartagama: melepaskan kompromi dan mengendapkan yang beku atau penentangan itu sendiri. Kekacauan revolusi tidak lain hilangnya kesatuan atas semua kompromi harini.


Kalian sendiri harus menyatukan bukan memisahkan semakin bertentangan. Ingatkah golongan termula Kristen? Belanda, negeri pernah memakan habis tulang-belulang peradaban kita, Belanda pernah menumpas habisi Bonifacius, sumber keyakinan mereka hingga harini. Mereka keliru abad delapan itu. Mereka suatu gejala jaman, gejala peradaban yang memakan manusianya untuk musnah diawal perkembangan.


Jangan kalian samakan diri dengan golongan-golongan termula, golongan pemangsa, golongan pembunuh dan perampas. Kalian bisa membaca menulis, mengapa bakar buku? Habisi buku sampai hancur musnah. Apa salah buku-buku itu? Apa! Kalian saksi-saksi biadab jaman ini. Kalian saksikan sendiri revolusi sebelas tahun lamanya. Kalian saksikan sendiri politik adu domba. Santa Hitam, September Berdarah, semua kalian buka mata buka kuping, penguasa tidak lain kurban rakyatnya sendiri.


Kalian harusnya lindungi pimpinan bukan hancurkan barang-barang, kalian dibutuhkan sekarang, kembali. Kembali ke sekolahan! Kembali! Bela manusia pantas untuk dimanusiakan. Mind as ability, mind as a control of univers to be power to the people.


Cecil turun panggung disambut sorak-sorakai. Rombongan bubar menyebar satu persatu. Tersisa beberapa anak muda. Mereka mendekati Cecil mengajak kenalan. “Siapa namamu?”


“Santo dan sudariku Eve.”


“Boleh aku tahu kalian tinggal di mana?”


Mereka gembira menuntun Cecil ke sebuah perumahan. Siang itu ramai dengan anak muda terpelajar kumpul di geladeri. Santo menyilakan Cecil duduk di kursi pantil. Eve memperkenalkan sahabat barunya. Orang-orang memuji keberanian Cecil dalam berorasi. Namun beda hal dengan perempuan sedang duduk hadap mesin tik. “Suruh gadis muda itu ke mari!”


Cecil datang didampingi Santo dan Eve. Mereka suruh hilang beberapa saat.


“Kau punya urusan? Kami tidak menerima siswi baru. Kami memang punya inisiatif sendiri.”


“Kau? Letty?”


Letty melepas kacamata hitam miliknya.


Cecil terpana dengan bentuk muka wanita itu. Hatinya berdenyar. Hatinya merasa sintuhan lain. Sentuhan hati seorang sangat dirindukannya. Sentuhan hati seorang ibu.


“Apa urusanmu? Katakan sekarang.”


“Kau? Betul tidak kenal Elissa?”


“Ada apa kau cari wanita itu?” Letty masih sibuk mengetik lincah di mejanya.


“Dengarkan.” Cecil memberanikan diri duduk hadap meja. “Kami punya urusan. Perempuan itu sudariku, aku sudah setuju dia ibuku, dan aku yakin sangat yakin, perempuan itu benar-benar mencintaiku.”


“Aku tidak bisa di ganggu. Mungkin sebulan kita bisa ketemu lagi.” Letty berdiri mengangkut dokumen-dokumen lak bersih.


“Apa kau sudah punya suami dan anak?”


Letty berhenti mendengar pertanyaan itu. “Jika aku jawab ya, apa kau mau pergi?”


Cecil menunduk memainkan jemarinya. Mukanya basah. Mukanya meneteskan peluh. “Aku tahu kau sulit percaya ini. Aku tahu mustahil kau percaya. Aku anakmu. Cecilia Smevendimen Dvorak.”


Letty menggelegar dadanya mendengar itu. Perempuan itu berusaha tenang. Letty memegang pundak Cecil. “Lihat aku, lihat manis?”


Cecil mengangkat mukanya. Matanya sebak kena umpan kebalauan.


“Aku doakan semoga kau bisa ketemu ibumu.”


Letty beranjak mengangkat tas sekolahnya.


Cecil berteriak diambang pintu. “Aku anakmu. Aku tahu kau Elissah, Elissah Dvorak. Kau membohongi anakmu sendiri! Kau ibu tidak bertanggung jawab!”


Semua sontak saling melempar mata keheranan. Letty tidak jadi pergi. Perempuan itu datangi Cecil. Letty mengusap pipinya akibat menangis. “Tidak ada ibu membenci anaknya. Kau akan tahu kenapa ibumu tidak bisa kembali.”


Letty melarikan diri kemudian berhenti bawah plank stop bis. Kenakan kacamata hitam miliknya. Letty kembali lompat naik ke kopaja.


Cecil meraung-raung dengan Santo dan Eve mencegah keras perempuan itu.


“Sebaiknya, kau tinggal bersama kami.”


Eve berikan alamat kampung mereka. “Di sana kami tinggal.”


“Sunter Agung Jakarta?”


Keduanya mengangguk hirap ketika Cecil ketemu Amanda.


“Memang sulit yakinkan orang masa lalu. Meski orang itu ibumu sekali pun.”


“Setidaknya dia tidak sombong padaku!” Cecil meneruskan tangisan.


“Bukan begitu, bukan begitu.” Amanda mendekap sudarinya. “Barangkali, Letty bukan sebenarnya nama, siapa sangka? Elissa sudah tahu kau anaknya. Mungkin nanti dia akan mencium dan menimangmu. Kau lahir dua tahun lagi. Itu berarti ibumu tidak mengenalmu.”


“Kau selalu baik padaku. Aku sudah jahat padamu. Maafkan aku.”


“Besok kita datangi alamat itu. Kau tidak boleh menangis. Marry akan terhibur melihatmu begini.”


Tidak mereka tahu. Datang undangan untuk ke Bogor. Amanda bukan main kagetnya. Ia membeliak melihat stampel Risjwijk. Itu tandanya sesuatu penting bisa kita gali. Kata Cecil menyambut pelukan terharu sudarinya.


Mereka mula-mula siapkan sepatu cabaret. Kaus kaki lentur dengan seragam lena dan lornyet. Kacamata hitam. Tidak ketinggalkan kartu ktp palsu. Amanda menyetop bis. Cecil putuskan sebelum kunjungan ke istana Bogor. Perempuan itu berencana untuk ke rumah Eve. Mereka memakan banyak waktu bukan sedikit. Keadaan Jakarta begitu berbeda. Banyak pohon-pohon lebat masih kelilingi gedung. Banyak pedagang tidak takut kena gusur. Banyak pencukur rambut bawah beringin. Becak, andong, bendi dan bajaj berseliweran.

__ADS_1


Cecil terpukau habis pemandangan Jakarta semasa presiden revolusi. Amanda menikmati jaman-jaman kolonial dulu. Perempuan itu bersiul dan mengisi TTS. Membaca suratkabar tidak dibredel. Beberapa kali bicara panjang lebar dengan Cecil. Mereka jadi pusat perhatian akibat bajunya paling beda. Keduanya kenakan sweater rajutan Marseille. Baju dengan modis khas Wlady-Woodstok. Semua mereka mengira Amanda dan Cecil bangsawan Eropa.


Keduanya sampai ke pekarangan Eve.


Kebetulan hari itu minggu satu hari sebelum undangan Bogor. Eve menyambut begitu baik keduanya. Mereka bicara banyak. Perempuan peranakan Talaud itu berikan pukis dan nastar. Cecil menceritakan ibunya orang sangat baik. Mustahil jika dia lupakan putrinya begitu. Eve bersimpati besar mendengar itu. Amanda menyatakan, mereka akan datang ke Bogor Senin nanti.


Eve menceritakan bukan mustahil ibunya akan ke sana. Ibu Cecil maksudnya. Cecil berkilau-kilau matanya mendengar itu. Amanda senang membantu sudarinya. Kalian menginap saja satu malam di sini, kata Eve. Eve permisi untuk kembali mengajar di taman kanak-kanak. Cecil baru tahu perempuan itu seorang guru. Apa hubungan ibunya dengan Eve? Santo siapa?


Malamnya mereka makan-makan keluarga. Santo belikan sate lima puluh tusuk. Eve memasak nasi goreng. Cecil membantu-bantu menyiapkan arang dan penggorengan. Amanda menidurkan diri di kamar. Amanda membaca-baca novel roman sampai humanis karya Brecht, Sarte, Camus sampai Melati van Java, Barellino, Hendriksen De Bass dan Don Ramon. Perempuan itu bangun untuk menyantap makanan.


Mereka memanjatkan doa Kudus. Keempatnya memakan nasih sendiri-sendiri. Kepuasan mereka terbayarkan dengan gelimang kecap, gelimang tawa satu sama lain, gelimang canda dan gelimang haruan saling mengisi satu sama lain, beginilah keluarga, beginilah kenikmatan luarbiasa mustahil manusia modern idamkan.


Hari-hari itu kebahagiaan dan kemuliaan mendebar-debarkan hatinya. Semuanya serba luarbiasa baginya. Luarbiasa karena dia yakin ibunya akan menerimanya. Cecil berulangkali menatap potret ibunya. Elissa punya perawakan menawan. Dan pasti itu guru muda sekaligus aktivis Letty. Amanda menata-nata rambutnya. Mengenakan kaus panjang. Sweater lebih tepatnya. Cecil mengikuti contohnya. Amanda menggeram. Cecil berjanji akan menolong kelangsungan Phantom.


Eve menyambut mereka penuh takjub.


Aku minta maaf tidak bisa dampingi kalian. Semoga ibumu bisa menerimamu. Cecil mendekap perempuan berhati mulia itu. Sesuatu dirasanya aneh. Cecil menatap matabesar Eve tidak asing baginya. Mulutnya tidak pernah gincu. Mengingatkan pada sosok. Ah; tidak mungkin. Ia yakin ibunya tidak berkulit sawo matang. Ia yakin ibunya Yahudi kulit putih sepertinya. Santo sudah lebih dulu berangkat. Cecil mengikat pinggang dengan sabuk feminim. Amanda mencium kening bayi dua tahun katanya keponakan Eve. Mukanya terus tersenyum. Namanya Debby Orah.


Cecil tidak lupa sudarinya Puspita pernah gonta-ganti nama hampir tiga kali. Tetapi ia memilih tidak pedulikan.


Mereka meluncur di atas andong. Sesampainya ke lapangan Risjwijk. Keramaian sudah sepenuhnya ambyuk memenuhi lapangan. Beberapa mobil lalu lalang. Beberapa tamu istana sudah duduk di tempat masing-masing. Presiden sudah menyambut undangan. Termasuk Cecil. Cecil terperangah. Badannya menggigil. Mulutnya kaku tidak mampu bicara. “Jadi? Sudari Cecilia Liza? Lekker, lekker. Tak kira kamu perempuan pribumi. Rupane londo!” bisiknya membubung tawa ramah. Cecil membungkuk. Mendudukan diri ke barisan hadirin.


Semua hadirin banyak tidak dikenalnya. Kecuali segelintir, kecuali Indriati, Cindy Adams, Henk Ngantung, Ali Sadikin, Subandrio, Achadi, Chaerul Saleh dan banyak tidak dikenalnya.


Satu persatu sudah maju untuk bicarakan masalah harini. Presiden sendiri kenakan kacamata minus. Membacakan pidato sementara. Matanya berulangkali gelisah. Gusar menahan airmata tidak seharusnya. Dalam mendatang, mungkin akan ada peraturan berubah, maka dari itu aku sendiri menyetujui apa pun bakal dewan ajukan nantinya. Cecil sudah mengerti bakal ke mana. Amanda justru sibuk mengobrol dengan Indriati.


Habis semua maju ke depan. Sekarang Cecil gilirannya. Presiden menunjuk Cecil berdiri ke sampingnya. Sekarang, kita berikan tepukan untuk Miss. Cecilia Liza. Cecil bicara secukupnya saja. Apalagi gurubesar seumur hidupnya duduk menatapnya. Lututnya lemas namun terus bicara. Sebuahnya begini:


Banyak tidak mengenal buku. Buku sumber peradaban. Tidak seharusnya ilmu dimusnahkan. Ada banyak perpustakan hancur bulan itu. Ada banyak perpustakan dirampok dicuri.


Betulkah buku sudah kambing hitam?


Mereka tidak pernah membaca mungkin jauh lebih baik. Mereka yang membaca akan jauh semakin baik. Dunia butuhkan satu manusia saja. Satu manusia untuk mengubah negeri sudah compang-camping ini. Tidak salah siapa pun. Semua hanya akibat keadaan. Keadaan yang menekan untuk rusuh, ribut, kacau dan hancur rakyatnya. Bukan salah pimpinan. Tidak ada harini jauh lebih baik daripada esok. Semua manusia butuhkan roda peradaban untuk berputar dan memajukan dunia ke dalam satu kesatuan baru. Memang perubahan dibutuhkan. Perubahan tidak membutuhkan adu domba, rust en orde dan politik purba sudah harus tinggal nyanyian kemarin.


Besok dan lusa hanyalah nafas kemanusiaan. Seperti juga nafas rumahtangga, dialah penghidup dan pengimbang keluarga, seperti negeri ini juga, jika semuanya kaya melimpah, apalagi semua kita tahu belaka alamraya terindah di dunia. Jadikanlah semua untuk sama rata sama senasib. Tidak ada mantan guru atau mantan raja. Semua mereka pantas dimanusiakan.


Sekali lagi Cecil mendapat sambutan baik. Presiden berdiri menyalami Cecil. Mengalungkan bebungaan. Wartawan memotret mereka. Amanda menyalami sudarinya. Indriati menyatakan bangga. Sekaligus mengajak mereka untuk acara makan prasmanan. Presiden sendiri mulai banyak meladeni undangan. Cindy sudah angkat badan bicara ke sana. Sepulang dari sana Cecil mengaku tidak bisa bicara. Tidak seperti dalam bayangannya, presiden orang ramah namun akibat gigilnya, Cecil tidak punya keberanian menyambut keramahannya. Amanda sendiri menyanjung pimpinan itu. Ia sudah tahu akan banyak orang menekan. Katanya membisik.


Cecil turun dari andong. Eve sudah menyambut sumringah mereka. Cecilia katanya sudah banyak dikenal ibukota bahkan suaranya masuk siaran udara. Amanda gembira dengan itu. Eve akan pulang lebih awal. Cecil murung akibat ibunya tidak muncul. Ibunya seperti sengaja hindar darinya. Eve merasa kasihan. Perempuan itu mendamaikan Cecil dengan main piano akustik. Cecil terhibur. Amanda menyanyikan lagu-lagu Santa Maria, La Traviata dan Rigoletto Verdi.


Hari-hari besar dalam hidupnya justru ibunya hilang? Cecil tidak habis pikir ibunya akan begitu jahat padanya. Hari-hari besar harusnya ibunya menyambangi hidupnya. Justru manusia paling dicintainya, justru manusia didambakan malah tidak mengakuinya.


Siapa aku? Siapa ibuku sebenarnya? Cecil menitik airmata pipinya.


Eve sayup-sayup mengelap pipinya.


***


Norah mengernyitkan dahi. Bentulkah semahal itu bisnis kaum nurani? Batinnya sukar percaya.


Hanszhen sendiri pernah kerjasama dengan J.P Morgan untuk proyek kapal Olympic, sampai mana mereka seteru akibat Morgan hanya butuhkan kepentingan semata dirinya, mereka putus kontak dan kontrak Maret 1912. Beberapa hari Titanic karam ke dasar antartika. Hanszhen lebih banyak punya kepentingan olahraga, senam dan kebugaran laki perempuan, sumbangan miliknya sudah hancur dengan kapal tidak lain gym milik Titanic. Meski mungkin dia tahu: kapal itu bukan sebenarnya. Jika benar-benar sungguhan mustahil akan karam jadi bangkai. Morgan paling bertanggung jawab atas semua itu. Katanya suatu kali bicara sesama rekan.


Norah merasa semakin tertantang untuk mengenal lebih jauh keluarga Dvorak. Keluarga itu mustahil ditemukan di mousoleum atau Tropen, mereka sudah hilangkan kaki leluhurnya, jejak langkahnya sengaja dipunahkan. Tidak banyak mengenal mereka. Sampai mana peninggalan Hanszhen sudah kembali di lelang berupa lukisan-lukisan mahal, pakaian sutra jaman tengah sampai gaun pernah dipakai keturunan Ratu Viktoria. Hanszhen sudah dimakamkan 1 Juli 1940 di St. Lousiana belakang perumahan abad 20. Sekarang tempat itu sudah ditinggalkan untuk dimusiumkan.


Putranya Henry Dvorak mewarisi bank ayahnya, putranya begitu rajin dengan menjalin tinta-tinta kerjasama ke korporasi-korporasi Asia sampai Eropa. Mula-mulanya ia kesulitan menjamah negeri-negeri lain apalagi perang baru selesai. Asapnya masih nyanyian indah baginya. Ya, baginya keadilan sejatinya hanyalah uang, uang, uang dan uang, tanpa itu manusia mustahil punya rumah untuk gundiknya. Norah sedikit sangsi membacanya. Tetapi diteruskan juga:


Henry terkenal dengan bisnis cengkeh miliknya, lelaki itu mengimpor minyak sawit sampai minyak khusus untuk bikin rokok kandungan Zanzibar. Usahanya hampir tidak ada yang sia-sia. Usahanya hampir tidak ada tercecar begitu saja di tengah-tengah huru hara negeri lain. Sebuahnya perang Vietnam; Amerika diketahui pernah sekongkol dengan bankir untuk padamkan kerusuhan di Asia. Henry terlibat! Terlibat diumur hampir lima puluh tahun lebih. Lelaki itu penyuka perempuan, bahkan sering membawa simpanan ke dalam mannor untuk ditidurinya. Sangat berlainan dengan sikap ayahnya. Hanszhen justru patuh tidak picing terhadap satu makhluk manis pun atau manusia berkuasa menyebutnya surga, wanita. Wanita dalam pandangan Henry suatu karunia cuma-cuma, mudah dia dapatkan dan mudah dia campakan.


Sementara omanya Shelly. Perempuan pertama-tama dikawini Henry. Sudah lama diceraikannya akibat tidak pernah setuju Henry bisnis kotor. Henry bisa dikatakan usahawan yang senang mengambil kesempatan dalam kesempitan negeri lain. Ia pernah punya kontak dengan keluarga dunia; bahwa bahan-bahan pangan Afrika memang mereka hambat untuk bikin Amerika ketiban banyak ganti rugi, banyaknya orang sengsara di Afrika, semakin banyak uang mereka dapatkan. Amerika sendiri punya hubungan diplomasi kuat ke negara-negara Asia dan Afrika. Mereka gunakan kesempatan itu untuk menyempitkan demokrasi dengan amal mengada-ngada 1985 nantinya. Semua memang masih simpang siur, Norah tidak percaya begitu saja, tidak ada nota bohong atas peristiwa-peristiwa itu. Apalagi pimpinan Prancis punya maksud nasionalisasi bank-bank negara mereka, Dvorak kena dan kaki tangan mereka, mahkota kepala mereka pun kena. Frankfurt Jerman.


“Kita tidak akan biarkan nasionalisasi itu bunuh korporasi cepat atau lambat, sebisa mungkin kita harus gerak cepat. Cepat atau lambat mereka kuasai keuangan, kita bisa lihat keadaan dunia sekarang; banyak propaganda liberalis bahkan lebih gila dari dulu. Perang kesatu tidak ada apa-apanya dibanding harini. Harini generasi paling bertanggung jawab bukan orangtua, melainkan anak muda, kita bisa gunakan cerutu untuk menyentuh nafas mereka untuk kobar dan hangus. Gunakan propaganda kondominasi, mereka akan kehilangan banyak keluarganya, kehamilan bisa dihambat namun harga diri tidak, bikin mereka sibuk dengan lelucon **** dan keamanan ****. Kita pakai cara-cara sudah lama ditebus dengan jaminan, hambat bahan-bahan Afrika untuk tidak pernah cukup dan berakhir kelaparan, sudahnya Amerika turun tangan kita tarik dan genggam tangan mereka untuk kembalikan modal.”


Gagasan itu membangkitkan pemilik modal untuk lebih ganas dari sudah-sudah. Termasuk Henry sendiri. Norah menyatukan kertas-kertas sudah lapuk itu, mungkin seseorang berusaha hancurkan isi perjanjian.


Henry tidak ada bedanya dengan Baron Smevendimen, mereka punya sikap hampir menyamai; kekuasaan keduanya tak kenal ampun. Manifesto keduanya setajam mata pedang tak kenal ampun. Manusia-manusia mereka terkam kerusuhan dan keributan sampai suatu negeri menemui titik pecahnya. Sang revolusi dan darahnya, penebusan keduanya untuk kenikmatan bumi dan seisinya. Shelly justru tidak kenal kakeknya, ia barangkali telantar ke dalam orphan, sampai orang datang mengasuhnya. Shelly masih murni Yahudi. Perempuan itu tidak tahu saja. Kakeknya belum wafat. Ia pun barangkali tidak tahu itu. Mereka sendiri punya banyak saham ke makanan cepat saji, fasilitas penerbangan dan penerbitan koran dan majalah, bahkan prodak kecantikan, pakaian sampai soda minuman.


Shelly pernah menggabungkan diri ke dalam kelompok kasti, hanya akibat satu-satunya perempuan, Shelly sering seteru bahkan gigi taring miliknya putus kena pukul saking kerasnya, barangkali sifat-sifatnya semakin buas tak kenal ampun karena itu. Apalagi perempuan itu mengenal kekuasaan, mengartikan semuanya bisa dengan mudah dia kendalikan dan kukuhi; pembalasan mutlak dengan kekuasaan dan syarat-syaratnya.


Norah tidak tahu makhluk biadab macam apa mereka itu. Ia meremang bukan akibat dirinya pernah keji, tetapi manusia biasa saja, manusia dengan kepandaian marketing, satu hari duduk dan pulang pergi kantornya, bisa menjatuhkan darah di mana-mana meski cuma setetes pena. Jaminan! Jaminan brilian penjahat modern tidak lain pemilik modal. Penjahat bukan penguasa, sekali lagi bukan, penjahat ialah pemilik investasi dan dolf bompjes.


Hasil tarikan tinta sendirinya menyatakan; keluarga Dvorak punya banyak simpanan uang, mereka hanya gunakan seperempat dari satu kasus yang bersi marajalela di suatu negeri tertekan, maka letusan dan darah, kerusuhan dan korban, mereka sudah gerakan telunjuk-telunjuk untuk pecahkan untung terus menerus. Tidak putus-putus hal itu terus berulang.


Baron diduga punya salinan rahasia, penembakan Sarajevo sampai paling lama tumpasnya Omirito, longsornya McKinley di parlemen Amerika. Tidak lain buah kerjakeras selama ini.


Seterusnya Hanry mendesak Truman untuk menyetujui Israel. Seterusnya perang kedua mereka paling bekerja keras untuk pecahkan Eropa semakin buyar berantakan.


Norah tidak habis keheranan. Bagaimana bisa keluarga itu seperti tidak kenyang-kenyang sekian turunan? Mereka punya saham di mana-mana. Tidak itu sudah cukup? Nyatanya memang tidak. Dengan hanya bulanan hasil-hasil korporasi makanan dan pakaian butik tidak puaskan mereka. Bahkan jika dijumlah tidak sampai lima persen. Henry sendiri mustahil melunasi chetau miliknya jika tidak kotor tangannya. Sepuluh tahun saja perusahaan kerjasama mereka bisa olehkan lima ratus juta dollar sepanjang 70an kemarin. Norah penasaran dengan rapor keuangan. Matanya menembusi nilai-nilai sudah hampir punah dengan ketikan buruk. Jumlahnya tidak terkirakan, 70, 5 triliun. Itu hitungan seratus tahun lamanya sejak perang Afrika Boer hingga harini. Itu berarti keluarga Dvorak tidak pernah kekurangan seumur hidupnya. Mereka hanya termakan kerakusan dan kekuasaan. Umumnya pesakitan pembesar jika sudah diamang-amangi seisi dunia. Mereka tinggal mencaploknya.


Norah penasaran keadaan keluarga itu sekarang, tidak jelas siapa keturunan Elijah, Gerardina dan Hannah, pastinya mereka telah beranak pinak belasan bahkan puluhan keturunan. Yang pasti Henry sepenyusuan Hannah. Moyangnya tidak kalah rakusnya. Sekarang saja Henry punya sepuluh anak. Kelima perempuan dan ketiga lelaki. Keduanya perempuan lagi. Lagi-lagi perempuan; batin Norah.


Siapakah mereka harini?


Norah kumpulkan hasil-hasil empiris sebulan lamanya. Ia diam-diam pelajari Wangsa Dvorak tanpa seorang tahu, tanpa seorang tahu pun Norah kesulitan akibat suratkabar tidak pernah beritakan mereka. Diketahui ketiga lelaki itu sekarang punya korporasi mandiri, London, Brisbanne, Charleston, South Carolina, Detroit dan s'Hertogenbosh, semuanya bergerak dibidang unilever, kampanye lingkungan, edukasi dan penyumbang space transmission. Kecuali satu perempuan memilih tekstil, keduanya kembangkan fosil menjadi minyak, kelimanya menyebar entah di mana. Sisanya sekarang menjabat mentri Inggris, sisanya lagi menguangkan jurnalistik dan adpertensi terkemuka prodak makanan dan olahraga.


Norah sukar melacaknya. Pastinya akibat nama-nama mereka sulit diingat: Edgar Ophuijzen Dvorak, Herbert Nathaniel Dvorak, Jonathan Smevendimen Dvorak, Gina Haubertus Nathaniel Dvorak, Sishy Hofmann Smevendimen, Hannah De La Causseaux Smevendimen, Liszhbeth Causseaux Smevendimen, Meyszha Hartmann Smevendimen, Tsarverich Szmann Dvorak, Lilian Glaudine Causseaux Dvorak dstr .... dstr ....


Mustahil mengejanya sampai benar-benar hafal. Norah tidak mampu menembus lebih jauh dan dalam. Hampir semuanya tidak tersentuh suratkabar. Meski rata-rata semangat tinggi untuk bisnis dan uang. Mungkin papanya sudah membatasi dinding ketenaran dan lindungi kejahatan dengan kemanusiaan mereka.


Aneh, Shelly justru tidak ada. Ke mana cecunguk itu? Cecil pun tidak ada. Norah masih terus mencengkam pena. Telunjuknya mengejar putaran dunia yang keluarga itu mainkan. Norah hentikan pencariannya. Perempuan itu menganga dengan omset semua anak Henry, mereka bisa dapatkan relasi dengan begitu mudah, semua peroleh sepuluh milyar lima belas tahun sekali. Jika belasan tahun harta mereka berhasil menumpuk, bukan mustahil seratus triliun bisa mereka genggam 2000 nanti.

__ADS_1


Di manakah Henry menyimpan uang raksasa itu? Entah Norah dapatkan sumber dari mana. Sebanyak investor percaya Swiss aman menyimpan harta benda mereka. Keluarga itu juga menyimpan dollar mereka di sana. Mereka hanya satu persen mencomot kekayaan tidak ada habisnya itu. Hitungan itu belum sebanding dengan nilai sebenarnya.


Norah tinggalkan Dvorak family. Keluarga benar-benar kabur dari dunia tetapi mereka benar-benar hancurkan ekonomi sampai babak belur. Dokumen selanjutnya, peran-peran keluarga itu untuk badan amal, mereka golongan-golongan penipu, semata amal hanya penutup kebusukan modal dan isinya. Norah mengetahui Cecil termasuk sebuahnya. Sebuah bukti menunjukan Cecil punya kekuatan untuk kembali ke keluarga besarnya. Ia sendiri tidak menginginkan itu. Keluarga Dvorak bukan keluarga bahagia. Mereka terlalu perfeksionis. Melihat kenyataan dari uang dan tindakan dari uang, uang dan uang. Keluarga itu tidak punya kasih sayang, mereka menikah hanya untuk teruskan bisnis. Itu katanya suatu kali dalam surat-surat pribadi. Norah kembali penasaran siapa golongan termula Dvorak, perempuan itu mau tak mau periksa sipil.


Sejak pelayaran Colombus temukan benua Amerika, keluarga itu sudah bermigrasi ke Spanyol, mula-mulanya membuka toko roti, seterusnya penuhi hajatan, kenduri, panen ladang dan penuhi undangan raja ratu. Bukan dikerjakan tangan perempuan, justru lelaki.


Mayer Karl Reijnst Dvorak. Lelaki itu sering dipanggil ke istana untuk basa-basi, pernah ditawari untuk jadi koki handal khusus roti, mentega, selai namun ditolak. Suatu hari Karl punya ide-ide untuk membesarkan roti tokonya, ia mendatangi raja-raja, mula-mulanya hanya memasak di gerau atau undangan. Ia mendapatkan kesempatan baru, seumur hidupnya baru kenal investasi, maka tabungan hasil makanan kue manis miliknya, ia letakan ke sebuah perusahaan sahabatnya.


Karl ketika itu dipercaya sebagai kasir, pengurus adpertensi layanan masyarakat, penulis iklan makanan dan dengan usahanya ia sukses dalam lima belas tahun ke depan. Kedai rotinya dibuka dengan lambang payung emas, lambang harga diri tinggi dari Timur, dagangan rotinya sukses besar dengan kenaikan jabatan uang miliknya akibat satu hal kecil. Ia manusia paling bisa diandalkan. Tidak mengenal waktu untuk terus bekerja. Istrinya Eve Rossanna Kowski merasa bangga punya suami sepertinya. Mereka tidak berhenti di sana. Makanan roti milik Dvorak mendarat di benua mana pun. Bahkan Malabar, Sri Lanka, London, Guatemala, Amerika Latin dan Prancis. Di Prancis inilah investasinya semakin besar dibursa iklan, walhasil perusahaan miliknya jadi industri besar dan ia sendiri wafat sebelum benar-benar merasakan kenikmatan semua investasinya.


Kedua putranya Willem dan Julius meneruskan bisnis ayahnya. Mereka kerjasama sampai benar-benar panen besar. 1530an mereka mendirikan cabang-cabang cepat saji yang sediakan roti dengan lisensi asli dan hukum asli. Seterusnya keturunan mereka justru manfaatkan investasi dengan menjual pabrik roti, menggantinya bank akibat tabungan orangtua mereka tidak kehitung banyaknya.


Memasuki 1600an keluarga itu menjelma menjadi bangsawan berhasil membangun kastil, paviliun kecil, mannor paling akhir dari golongan Julius. Putranya entah keberapa itu, membeli sebidang tanah dengan hutan-hutan luas dan kuda untuk dijadikan pacuan kuda, melihat tidak ada keseriusan Jacob mengambil alih perusahaan. Seterusnya sampai mana 1740an pertama kalinya, pertama kalinya mereka masuk kandang pembuas, mereka menjaring mangsa dengan laba-laba situasi perang dan sumuknya ekonomi. Prancis ketika itu hampir bergolak, orang-orang di sana lebih suka huru hara. Mereka gunakan modal untuk lebih banyak bikin pesta dan pesta daripada kepentingan rakyatnya. Keadaan itu bangkitkan panasnya bumi rakyat. Mereka buas mengamuk akibat cerutu adu domba, 1789, pecah sudah revolusi Rosseau.


Keluarga Dvorak tidak benar-benar kaya, mereka hanya pandai meletakan investasi, mereka kaya akibat soal waktu dan keadaan. Kata sejarawan tidak mau sebutkan namanya.


Menjelang 1800 keluarga itu konon kembali terlibat kong kalikong dengan pembuangan Willem V dari Belanda, mereka sengaja panaskan situasi ekonomi negeri dengan perang dan kecamuk luarbiasa, melalui orang dalam mereka tinggal mengadu-adu satu pedang dengan pedang lainnya untuk saling tarung dan tebusan semua itu uang dan darah. Seterusnya peristiwa tidak diketahui.


Apakah Dvorak resmi membangun lembaga uang di Inggris atau Prancis sana?


Mereka tidak punya tempat resmi. Selalu pindah-pindah tidak menentu. Industri makanan besar mereka pun sudah tidak diketahui pasti di mana. Mungkin tinggal bangunan atau sekarang operasional lain. Tidak satu pun tahu. Tidak seorang pernah melihatnya.


Gerakan mereka benar-benar hisap ke perut bumi. Hanya melalui mulut-mulut keluarga itu bisa dikenal umum. Mereka bukan duta kemanusiaan, mereka duta keuangan, mereka memakan apa pun bisa hasilkan uang bukan kemakmuran. Kata seseorang lagi.


Kesimpulannya keluarga itu lebih dulu ada sebelum keluarga dunia lahir, mereka baru gunakan bank belum lama ini, 1740an, sebelum itu parlemen dan panji-panjinya, jelasnya keluarga bangsawan itu hanya dikenal Inggris di tahun 1609 sampai 1700. Mereka benar-benar membaur lepas setelah dunia semakin terbuka, perdagangan, biro usaha, handwerken, neringen, herbergen. Keluarga itu baru melompat ke muka bumi 1830an.


Kesimpulannya mereka belum dikenal sebelum tahun itu. Mungkin ada benarnya falsafah, The Synagogue Of Satan, wujud manusia jika sudah termakan nafsu-nafsunya. Mereka perebutkan kedudukan tinggi untuk diadu-adu sampai ajalnya. Kenikmatan unggul sampai matinya manusia berkuasa hanya satu, kedudukan dan keuangan, perempuan nomor dua bisa diduakan kapan pun.


Keluarga itu mungkin penghisap di antara penghisap. Mereka bukan satu-satunya. Ada lebih ratusan bahkan ribuan golongan serupa. Sejak William Harry, Zachary Taylor terbunuh dengan poison kedua-dua mati di tahun-tahun hampir sama 1841-1850, kelangsungan pemilik modal menerjang-nerjang James Buchanan, kenyataan pahit lelaki itu tidak bisa mereka habisi 1857. Lolosnya lelaki itu belum meloloskan maut yang menentang kekuatan penerusnya; Abraham Lincoln. Bersamaan badai huru hara lain mengamuk pula, perang sipil Amerika 1861-1866. Tidak lain keluarga itu-itu juga; Frankfurt Jerman. Mereka berusaha ricuhkan bumi Eropa semakin babak belur dengan darah dan pedang, penebusan keuangan yang begitu mahal untuk pemilik modal. Menurut saksi-saksi memang keterlibatan pemilik modal sangat kuat, mereka berkenan habisi siapa penghambat perang, mereka tidak kenal ampun kecuali perang benar-benar pecah. Setidak-tidaknya darah dan noda semakin binasakan benua kebebasan manusia, Amerika.


Norah tidak pernah berpikir tukang adpertensi akan hasilkan kekacauan luarbiasa hanya melalui anak-anaknya kelak. Mereka memang punya uang dan martabat, tetapi mereka tidak punya hati dan nurani, mereka belajar apa pun untuk memangsa dan memakan siapa pun pantas untuk disantap, manusia pemangsa modal berminyak.


Perempuan itu tidak tahu harus berikan lapuran ke mana. Amanda tidak ditempat. Maria mustahil menyukainya. Apalagi Sarah? Perempuan itu pasti mengincar semata uang. Norah mesti menunggu kepulangan Amanda.


Komisaris muda itu serahkan kunci gembok ke pengasuh pustaka terakhir. Norah baru menatap jam tangan, sudah satu dini hari, gumamnya menguap menutup mulut.


Tidak dia tahu seseorang sedang membuntutinya. Norah tidak menengok. Sekilas dalam spion taksi hanya perempuan pemakai kemeja sutra. Wajahnya tidak jelas akibat berdiri di atas jembatan. Norah hampir tersandung, perempuan itu jongkok, betulkan kasut miliknya, selang sendirian suara letusan terdengar.


Norah limbung, badannya panas. Darah hitam merembes keluar pinggang. Norah cepat-cepat memaling. Perempuan penembak lari entah ke mana. Supir teriak kesetanan. Norah berdiri lantang. Perempuan tinggi itu melarikan sepatunya. Supir keheranan, kenapa wanita itu tidak mati?


Norah berlari melewati deretan ruko-ruko tutup. Perempuan itu mencium harum baju perempuan pecinta eu de colougne. Norah menyeringai, sekujur badannya terbakar. Perempuan itu terbang hilang ke langit.


Seseorang buru-buru menarik lepas kunci apartemen. Perempuan itu menegur beberapa pengunjung. Selepasnya ganti pakaian senam lentur dan senam sendirian. Merasa gerah bukan main wanita itu putuskan buka tabir vitrase.


Melihat dirinya menekuk-nekuk kaki, melihat dirinya menarik sikut, pinggang, pernafasan sampai yoga, sesuatu kencang menariknya ke depan balkon. Perempuan itu hampir-hampir di jatuh binasa ke bawah. Gadis itu terlempar kalis ke atas lantai mengkilat kayu. Sepasang sepatu bekas hangus hadap dirinya. Mukanya menggeram. Kedua punggung itu melebarkan sayap kelelawar. “Kumohon jangan hukum aku!”


“Keparat! Aku tidak pernah bunuh manusia. Mungkin baru dua tahun ini. Kerjaku polisi. Kau tahu itu. Sudah pasti tahu. Darahmu harum. Kau siapa? Siapa suruh tembak? Katakan!” Norah menggeletar dengan mata dinyalakan.


“Kau sendiri sudah usik kami satu bulan.”


“Siapa kau?” Norah duduk bersila tenang ke lantai.


“Tidak usah tahu. Kau sudah tahu banyak keluargaku. Kau harus mati!” perempuan itu keluarkan pestol. Menembak Norah berkali-kali. Letusan demi letusan hancurkan gymnasium. Ruangan pecah berantakan dengan Norah hindari peluru. Norah salto luarbiasa hindari mesiu-mesiu panas. Wanita itu kehabisan *****. Membuang senjatanya.


“Biar kutebak.” Norah mendarat ke tengah cermin hancur. “Kau Dvorak!”


“Kalau benar, kenapa kau ganggu kami?”


“Aku kenal semua kalian. Kalian keluarga bedebah. Pengacau dunia. Kalian kurbankan manusia untuk saling mati hanya demi modal?”


“Kami tidak bisa hidup jika tidak begitu.”


“Tidak bisa? Kau keparat. Uangmu saja setengah gaji presiden Amerika, itu belum seberapa papamu, sudarimu, investasi?”


“Bukan mau kami. Mereka berkuasa selalu punya alasan untuk jatuhkan kami.”


“Alasanmu bodoh.” Norah meludah ke lantai.


“Kau tahu? Aku bisa saja bunuh makhluk goblok sepertimu. Kami punya kaki tangan Cern. Mereka bisa panggang pantatmu manusia kalong.”


“Harusnya kalian gunakan karunia Tuhan untuk umat manusia. Bukan hancurkan mereka.”


“Apa bedanya manusia purba dengan mereka tidak kenal bangku sekolah? Mereka sekolah saja banyak korupsi. Mereka sekolah saja merampok mencuri. Mereka sekolah saja judi, *****, selingkuh, nista kotor, pungli. Apalagi?”


“Kau lebih beruntung harus bisa punya sikap humanis dari sikap hewan dan anjing.” Norah bersungut-sungut membalas.


“Justru perang dan darah bisa satukan mereka. Huh, ah tidak sabar berapa lagi kami dapatkan? Satu populasi, dua populasi? Kau akan kutindas jika perang pecah nanti.”


“Kalian benar-benar tidak punya hati. Buat apa sudaramu ke unilever? Buat apa kau bicara manusiawi jika begini rupamu.” Norah menggigit giginya gemas.


“Yang benar manusia hanya bisa dididik pedang dan darah, mereka tidak pernah revolusi, revolusi hanya kami pemulainya, kalian kambing siap saji untuk diadu sampai mati.”


“Aku tahu kau tidak bahagia. Kau sekarang tidak jujur denganku.” Norah diam-diam mendekati perempuan itu.


“Kita hanya harus bisa makan. Kau gunakan uangmu, kami gunakan uang kami. Tidak usah campuri kami.”


“Kau?” Norah menjetik telunjuk. Mengingat-ingat sesuatu. Sesuatu itu tidak dia lupa. “Chintami!”


“Tidak benar, tidak.” Chintami menendang ************ Norah. Norah melengking kesakitan.

__ADS_1


Chintami melompat kabur terobos jendela bawah. Norah menahan tendangan luarbiasa perempuan itu. Sekarang dia tahu, sekarang dia sadar mata-mata itu tidak lain kenalan Marry.


Bersambung ....


__ADS_2