Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Flashback: Puspita & Yakub Rothschild


__ADS_3

Mudahnya saja jika batu akan benar-benar mendekati bumi, batu itu sudah hancur duluan kena cium satelit umpan kami. Olehnya juga semua di sini harus jangan tegang dan tetap percaya, Cern sudah semaksimal mungkin lindungi semesta, meski bumi saja tujuan kami, tidak mustahil planit saling terbelah-belah dalam keadaan dan ruang berbeda, setidaknya jika bumi asli sudah menua itu terbelah, kami sudah lompatkan gerak kuantum dan partikel relativitas. Dan itulah sistem heterokosmo baru. Cern effect. Kami tidak bisa katakan paralel itu ada, tetapi dunia sudah sendirinya tahu, semua hal mungkin tidak ditempatnya lagi, satunya hilang atau sama sekali ganti warna atau kami sebut bunglon uji coba. Bunglon ini semesta baru yang menyesuaikan golongan dan warnanya, warna sebangsa dan kebiasaannya, warna manusianya bahkan prodak sudah banyak dikenal manusianya. Semesta uji coba yang punya sifat-sifat universil. Dan filantropi sendirinya sifat purba yang kami jadikan obyek. Komite jelaskan lagi.


Bagaimana dampaknya? Satu partikel bahaya sudah kami gunakan untuk lawan bakteri dengan bakteri hingga netral sepenuhnya. Sampai sana belum ada jawaban.


Puspita yang belakangan meragukan pengajaran. Ia akhirnya beranikan diri: Suasana kelas umumnya perempuan itu banyak menyinggung skisma sampai numerologi. Paling menarik sebuahnya: kalian tahu? Surga dalam falsafah Jawa dikatakan sesuatu yang hidup dan dapat diraba mata, misalnya pesisir dengan perempuan cantiknya dan lelaki merasa diuntungkan karenanya. Dari sana Puspita pertama kali mengajarkan kenyataan dan kenyataan itu mudah diterima, mereka-mereka diajarkan menyadari sesudah mati manusia tidak tahu jiwanya ke mana. Dan atavis dengan sovinis serta antah-berantahnya, tertanggalkan dalam satu kali sepak tarung dirinya dengan keyakinan-keyakinan semu tanpa titik landas jelas. Kita tanamkan saja logika, yang hidup berarti hidup dan yang mati berarti mati. Sejak mana itu pengaruhnya menjalari bumi asrama putri setan. Banyak pengagum percaya, Puspita Dvorak, Jewis murni itu hendak mengecilkan Phantom sekecil-kecilnya, bahwa pengajaran spirituil agaknya sudah tidak punya syarat-syarat pasti memasuki jaman modern. Peradaban sekarang harus jangan tinggal belulang, peradaban sekarang harus lebih dekatkan manusia pada sekeliling, yang hidup dan tinggal hidup.


Perkembangan luarbiasa itu menyeret bermacam-macam moncong untuk naik menyambar-nyambar, Maria sebuahnya, perempuan itu benar-benar kaget sudari Cecil yang tidak tahu menahu dengan cepat meletakan perubahan besar melawan ajaran-ajaran purba dan tak kenal manusianya. Aku tidak yakin si Puspita Vorak itu mampu berubah secepat ini, perempuan itu kau sendiri tahu, tidak punya inisiatif jelas dan pentingkan isi perutnya.


Sekali lagi kaum Servant hadapi gelumbang baru, kebangkitan kaum terpelajar yang menuntut restitusi baru dan Nieuw Volksraad. Tidak bukan Arnita kepusingan hadapi badai terpelajar yang mengganasi organisasi, kekuatan mereka hanya besarnya pengaruh dan dukungan, aku sendiri kurang mengerti, kenapa Puspita pandai masak dulunya, sekarang mampu timbulkan pengaruh luarbiasa, memang sangat ringan dan mudah dipahami, tetapi pengaruhnya tidak mudah dilawan dan Puspita mengakui dirinya, Atheis.


Amanda justru tidak permasalahkan. Asalkan dia mengikuti ketentuan dan syarat-syarat memasukinya. Aku tidak keberatan. Penting ia tahu gunakan pengaruhnya, lebih bahaya orang tidak tahu batas pengaruhnya, itu lain lagi.


Tak bukan dari uang dan uang, Arnita sudah tahu itu, dan ia masa bodoh saja, aku tidak ada kepentingan mengusik. Ratu memang punya kehendak sendirinya, sendirinya juga bikin perintah. Aku kawulanya, tidak punya tangan penentang atau pemutus.


Sementara itu Puspita semakin penting. Dan pemikirannya sudah candu lebih kuat sekali pun Birma tidak ada artinya. Semakin penting lagi, orasinya tidak terputus, justru inilah titik mula hidupnya. Diagungkan usahanya sendiri. Diagungkan juga atas manusianya. Sementara itu ketentuan keluarga dunia baru juga dimulai:


Gong pertemuan telah ditabuh. Itu berarti peradaban baru sudah harus dihidupkan dan dijalankan.


“Baik. Dengan senang dan gembira. Di sini semua kami sudah datang. Selamat datang, Bildelburg, wakil Chiaga butik, J.P Morgan Compagnie, Dickseil, Hargiss Paris, MM Warburg Jerman dan Belanda. Dan undangan pertama kali, perusahaan bawah naungan kami, Phantom, kami persembahkan harini.”


“Seperti semua pertemuan, kita tidak bisa lama-lama, keluarga punya banyak urusan, hanya Tuan Yakub sudah di sini.”


Tuan Yakub membungkuk sopan dan duduk kembali.


“Seperti sudah kami singgung, kami berikan modal berarti ada jaminan, dan itu harus. Tidak boleh tidak. Jadi, semua seperti zero invesment, modal kosong tetapi tetap menguntungkan, bagaimana? Berikan investasi tetapi kami tidak beratkan dana. Hanya hasil harus lebih bagus. Seperti juga Chiaga merk terkemuka busana, seperti namanya Chiaga, sudah pelopor merk dagang sukses dan besar, dan kami sudah inves sedikit saja, kurang lebih empat puluh persen, sementara makanan sudah sejak Colonel Sanders, kami bebaskan bunga tetapi kewajiban upah harus setara. Sebab, munculnya inves besar sudah kemungkinan pasar dikuasai, jangan berpikir bodoh dulu, kami punya tangan tapi bukan hendak telan seisi bumi. Banyak pemodal lain. Sebangsa kami. Tetapi hasilnya lebih buruk lagi, mereka ingin bunga besar dengan lima belas juta dollar setiap tahun, kami tidak begitu, jika bisnis berhasil inves akan kami tambah tetapi gunakan prosedur. Yaitu, usaha sendiri dibolehkan untuk keuntungan kami, mereka punya bisnis tidak boleh ikut campur.”


“Sekarang Tuan Yakub sendiri jelaskan.”


“Kita sekarang berada di dunia yang semakin banyak manusia lapar, bukan manusia umumnya, mereka tidak puas seringkali begitu. Dan protokol aku bicarakan, modal konsisten itu antaranya, membangun peradaban ke dalam sistem khusus, negara-negara berseteru sudah upah besar untuk kami. Kami sudah harus sesuaikan pembangunan militer dan finansial. Militer untuk pembersihan. Anggaran daripada itu, finansial tidak lain kemungkinan upah dan untung dari senjata dan akibatnya. Kita hanya boleh, sekali lagi hanya boleh, mendesak negara dengan keadaan sudah punya penentang dan penikam banyak. Kita tidak bisa gunakan mesiu dan bumi hangus tanpa kekuatan rakyat, rakyat sudah senjata kita, kita gunakan itu untuk kuasai separuh populasi harini. Ketentuan ini sudah umumnya jaman Howight. Dan masih berguna, asalkan keadaan mendukung, dan keadaan mendukung itu berasal dari mereka yang kena tindas. Kita berikan modal mereka yang gila hormat untuk semakin kuat pengaruhnya, kemudian pecah berhamburan ke tangan kita. Kita sudah kuasai Eropa, tetapi setengahnya, tidak seluruhnya, menguasai juga berarti harus lebih tanggung jawab, mereka tidak kenal kelemahan kita, justru pimpinan besar dan pantang hadapi ujian itulah rumah kita. Kita bisa tempati dan mengambilnya. Sepenuhnya. Kita gunakan keadaan membakar dengan lebih biarkan lagi rakyat punya kekuatan untuk melawan. Karena dukungan mereka sudah kita kuasai ke dalam asas kebebasan, HAM dan kegunaannya.”


“Sebuahnya kita tarik lebih banyak amukan lewat penulis, seniman dan manusia besar lain, mereka biar saja menentang restitusi resmi, jelasnya aturan resmi itulah kebebasan mereka, tetapi mereka memilih menentangnya. Dan lebih percaya semboyan kita, kebebasan dan kebebasan, tanpa batas. Kita tidak perlu gunakan orang kita sendiri untuk satu negara dengan kebutuhan besarnya. Kita gunakan orang luar untuk meletakan ranjau-ranjau waktu, yang lebih kuat. Termasuk surat kabar akan kami koreksi kaum kami. Kami sudah atasan semua lapisan media. Kita kirimkan ketertiban versi kita, terbitkan dan gunakan ke instansi hanya berkepentingan, dan penentang tetap harus disingkirkan. Kita lebarkan liberalisasi dan perkembangan yang tidak harus menuntut sempurna. Tetapi penting hasilnya. Kita juga bisa gunakan satu manusia intelektuil, hanya mereka paham bekerja dan hasilnya untuk kebebasan semua umat, mereka keliru saja artikan kebebasan itu, yang benar kebebasan sesama umat kita. Tidak yang lain.”


“Baginda sudah jelaskan, kita buka tanya jawab, mungkin Chiaga atau Bildelburg?”


Dan perwakilan membisu. Kecuali protokol masih terus jalan dengan:


“Kami sependapat. Kebebasan justru titik kehancuran dunia. Semakin kenal liberal sampai syarat-syaratnya. Semakin binasa bangsa itu termakan huru-hara dari dalam.” Bildel dahulukan jawaban.

__ADS_1


“Mungkin jika asas tanpa batas semakin luas dan besar, manusia semakin kesulitan mengatur hidupnya bahkan kapital, ketamakan, imperialis sampai horden politiek, sendirinya sudah kekuasaan murah dan mampu diperdagankan. Selebihnya kekuatan besar tidak pernah terlahir kecuali ketamakan dan kapital daripadanya. Ketamakan satu titik temu manusia dan ketinggian hidupnya. Kapital satu titik kemusnahan untuk tidak relakan modal dikuasai manusia diluar tamak dan nafsu-nafsunya.”


“Ya, silakan ajukan pertanyaan.”


Arnita memberanikan angkat tangan dan mulut. “Baginda, jika kebebasan seperti telah dimaksud, adakah tidak keliru? Bukankah, kita sudah sepakat semacam seniman punya otoritas sendiri. Maksudku mereka punya hak dan perkembangan sendiri.”


“Baik. Miss Arnita? Memang kebebasan kita maksud tidak lain dukungan untuk mereka. Tetapi dengan cara-cara kita dan ketentuan kita.”


“Bagaimana semisal kita tidak perlu libatkan seniman? Mereka punya pengaruh tetapi tidak terlalu penting.”


Semua memandang keheranan perempuan itu. Termasuk Amanda.


“Tidak bisa. Asalnya semua mereka punya bisnis dan visa sudah kita sendiri berikan anggaran dan devisa lebih besar. Mustahil tidak ada jaminan ke sana.”


Dan pertanyaan tetap diteruskan. Maka hasilnya tidak lain penting-penting saja.


“Apa tidak bisa dihasilkan seniman? Mereka punya pengaruh. Itulah gunanya mereka. Setiap tahun bahkan hari tidak terhitung. Orang ingin lebih hebat bahkan lebih kuat. Seniman contohnya, mereka tidak kenal waktu, seniman pekerja keras. Dan hanya manusia peternak tidak mampu hasilkan apa pun kecuali semata kepuasan. Seniman punya kekuatan untuk menguasai. Jadi kami melihatnya sebagai manuver kendali. Kendali universal. Mengapa? Mereka lebih mengerti keadaan. Mereka lebih merakyat dan mengerti benar pengaruhnya. Hampir semua seniman tahu selera dan kemauan manusianya. Memang mereka hanya menghibur. Tetapi pengaruhnya tidak semua mampu dan punya.”


“Silakan, Amanda, Amanda mau tanyakan sesuatu.”


“Kami sebulan lamanya bicara revolusi. Adakah Baginda tahu? Bagaimana asas revolusi hidup dan mampu diterima manusianya. Terimakasih.”


“Mungkin sebuahnya revolusi Prancis? Bagaimana Yang Mulia?” Amanda masih masuk sesi.


“O, lain bentuk dan isi, tetapi menyenangkan untuk dijawab, sejatinya Mirabeu tidak bisa kendalikan ambisinya. Bukan kaum kami hasut dan memaksanya. Dia dibenci golongan Louis XVI akibat kesalahannya sendiri, kata sebuah risalah, katanya Moshe Mondelhen mengancamnya, itu tidak benar, yang benar Mirabeu inginkan revolusi segera terjadi. Ia sendiri menyumpah dirinya, kami tidak ada niat memaksa, Moshe mengakui Sabda Pandhita Ratunya, hanya akibat tindakan dan kelalaian dirinya, hutang telah membunuhnya. Bukan kaum nurani gunakan akal sehat untuk merusaknya, melainkan dia sendiri sudah pilih hidup dan jalannya. Mirabeu lebih busuk lagi, ia sertakan Duke Durlian, mungkin sentuhan kaum nurani, mungkin akibat kesangsian keduanya, mereka benar-benar minta lindungan untuk revolusioner Prancis. Memang benar revolusi itu awal mula demokrasi menurut hukum-hukum modern yang sekarang kita kenal pemilihan umum, demokrasi bebas memang sudah dimulai sejak itu, asas lebih kuat dan bisa diimbangi rakyat sendiri. Mungkin juga revolusi Rosseau suatu hidup baru umat manusia. Mereka tidak kenal nilai-nilai kemanusiaan, mereka termakan ambisinya sendiri, itulah kenapa kami singkirkan monarki untuk kepentingan modal dan pengaruhnya. Bukan kesalahan raja, raja kalah gerakan saja, kebanyakan raja-raja segala jaman hampir-hampir tidak kenal rakyatnya, dan manusiakan mereka—sebagaimana mestinya.”


“Aku baru tahu. Ada lagi?”


“Sediakan minum, aku tidak minta lebih.” Dan dengan begitu istirahat baru dimulai. Pembicaraan masih terjadi. “Revolusi, ketajaman dan keganasan perkembangan yang bahaya, revolusi tidak banyak diajarkan di sekolah, hanya ada kekerasan dan penindasan. Mereka yang kuat bisa jatuh hanya akibat api permusuhan. Seperti revolusi Prancis, kebetulan rumahku di London, banyak bukti-bukti sampai manuskrip, tidak begitu banyak orang tahu atau dengar atau lihat. Nyatanya, gagasan revolusi dimulai sejak mana Lady Queensburgh, permashuri Lord Queensburgh, memang tidak banyak tentangnya, tetapi ini begitu menarik. Sebuahnya tentang wacana kami, kami hendak hapuskan Semitik, bahwa ajaran itulah penghalang modal untuk besar dan meluas. Sebuahnya pembukuan Benjamin Gold Smidt, Abraham Gold Smidt, Moshe Montifor. Ketiganya penulis kemungkinan-kemungkinan, semisal revolusi benar-benar terjadi, maka bukan mustahil keuntungan Prancis bisa lebih besar daripada Inggris sendiri. Menariknya, kami pernah pekerjakan David Erend Lander, burjuasi Berlin Jerman, mengutus karibnya Henzegerber untuk teruskan rancangan revolusi. Bagaimana revolusi bekerja? Kami sendiri tentukan dengan ukuran kekuasaan. Jika kekuasaan suatu negeri tidak mampu bicara kepada rakyatnya, di sana kami kendalikan sendiri, bagaimana kekuasaan mampu bicara kepada pimpinannya. Revolusi Prancis itulah hasilnya.”


“Dan semua terwujud, meski empat puluh tahun lamanya.”


“Ya, kau tidak salah, 1749, revolusi meletus dengan hebatnya, 1789. Sekarang kau tahu bagaimana revolusi bekerja.”


“Kami tempatkan Robespierre, Danton untuk bebaskan tawanan Bastilles agar mana mereka membantu hidupnya revolusi, bisa bayangkan, bagaimana besar dan hebatnya hari itu? Narapidana seharusnya tidak ikut campur. Mereka menggarang mengganasi seluruh Paris, semua masih kami simpan, peristiwa besar sudah disaksikan pemuka-pemuka Saint Yacob sendiri, lebih jauhnya kami menempati biara hanya mana mengatur revolusi tinggal hidup dan berjalan. Kami peralat manusia tanpa batas untuk enyahkan pimpinan yang tidak bisa bicara pada rakyatnya. Mereka-mereka ini orang dengan tekanan hebat dan lunak untuk kebebasan. Maka demi kebebasan mereka siap mati dan tinggal mati dan mati di tangan modal. Itulah revolusi Prancis sebenar-benarnya.”


“Kami tidak pernah temui itu di sekolah.” kata Arnita membantah.

__ADS_1


“Memang tidak ada yang percaya, dan memang kebohongan sebenarnya kebenaran yang ditutupi, jangan kuatir, Manda butuh lebih banyak pengertian, aku tidak butuh, kami sudah sering bahkan gunakan gagasan hampir sama dengan Prancis. Di mana kekuasaan sudah tidak mampu bicara, kami hidup ke sana, sebuahnya pemerintahan teror, pemerintahan yang mengancam sipil selama penutupan abad 16. Setiap hari ada saja yang mati, mereka kami tunjuk untuk runtuh dan binasanya, Prancis, mereka pendukung raja dan ratu dihabisi sampai ribuan terus-menerus mati akibat pembantaian. Robespierre dan Danton juga jadi kurban. Itulah pilihan mereka. Mereka inginkan revolusi dan revolusi benar-benar bicara dengan caranya sendiri. Yaitu, membunuh keduanya. Kembali ke Inggris, Walter Scott menganalisa, bahwa banyak orang tidak punya kekuatan restitusi mampu binasakan monarki. Semuanya asing belaka. Kami gunakan Manuelle untuk jadi Jaksa Agung, kebetulan ia sendiri majhul, dialah manusia harus dicari dan ditangkap ketika itu. Manuelle menyeret 7000 orang tidak berdosa untuk dikambing hitamkan, semua sudah dimulai Sep 1792.”


“Beda jika itu terjadi kembali.” Amanda berkomentar.


“Dalam perang kedua yang hebat kami gunakan asas sama, jatuhkan manusia tidak semestinya tumbang, Dumvell contohnya, lelaki itu terlalu jauh kenal kami. Kami gelundung ke penjara, suaranya tetap hidup dan bukunya From Admiral To Young Marine, muncul sebagai perkembangan baru darinya. Kami tidak biarkan begitu saja. Kawannya Ramsey menuliskan penentangan dalam karangan, A War Without Name, bohong saja jika kami musnahkan bukunya, kami hanya simpan untuk diketahui semata golongan tetapi tidak diumumkan. Memang isinya membahayakan. Kami menariknya dari peredaran akibat perang, memang sudah harus dihentikan.”


“Jangan Baginda lupa, Chamberlain, mantan perdana mentri Inggris, sendirinya tidak berdosa. Ia tidak rela negerinya dikurbankan hanya demi pemilik modal. Inggris dibantai kalian hanya demi modal. Banyak suara sumbang tentangnya, propaganda palsu yang membuat dia tidak diakui negerinya. Bahkan sejarah menulis Chamberlain sebagai utusan Hitler. Itu tidak benar. Chamberlain berusaha patahkan perang, usahanya kalian patahkan. Manakah bukan manusia di sini? Sementara Churchill sebagai kekuatan pemusnah Nazisme. Dialah perusak sebenarnya. Itu baru benar. Sejarah tidak ada yang terbuka dan memang semuanya habis kena tabir dan api.”


“Nona terbakar sendirian. Silakan ajukan ketidak-sukaan. Tetapi tanpa kami kalian tidak pernah maju dan dunia hanya milik penindas, tidak ada penindas dapatkan tempat, kami pun tidak pernah berikan solusi jika keadaan negeri belum porak-poranda akibat rajanya.”


“Tidak usah begitu, toh kau bekerja untuk kami.” Amanda dibalas tepukan tangan hadirin.


“Memang dunia bukan rumahnya manusia jujur. Selamanya dunia hanya membantu manusia untuk semakin rakus dan rakus. Kita hanya bisa bandingkan keadaan dulu dan sekarang. Sebagaimana konferensi Malta, empat delapan tahun lamanya, Churchill, Roselvelt sampai Stalin, mereka menyetujui bahwa Zionis Palestina sendirinya mereka akui. Tidak banyak kami sampaikan. Truman jelas sudah gantikan Roselvelt, kami dapat kepercayaan hanya akibat punya modal. Stalin lakukan perintah kami hanya mana radikalisasi komunis mampu dihapuskan. Kami sengaja menekannya untuk lakukan coup de etat, bukan cuma menekan lebih jelas untuk kepentingan golongan.”


“Dan Versailles? Tidak lain alat kalian?”


“Memang benar. Tanpa itu perang Inggris tidak pernah terjadi dengan Rusia. Dan Perang Kedua mustahil ada.” Yakub tidak menyukai Arnita. Ia hanya membalas sebagai formalitas.


“Bagaimana Perang bisa sehebat itu?” Amanda kembali.


“Langkah mula perang, Amanda, kami hilangkan kepribadian reformis dari parlemen Eropa, mengapa? Mereka tidak pernah menguntungkan. Dan yang jelas tidak bisa kami pengaruhi. Mereka punya tujuan sendiri. Kami juga punya tujuan sendiri. Jika reformis tidak digilas, kami kesulitan dalam anggaran perang, karena perang tidak butuh perubahan drastis, politik, sosial, agama. Ketiga hal tidak kami gunakan selama perang terjadi, mereka perbaiki ketiga nilai itu untuk hambat pedang dan darah, maka jika keadaan negeri kacau politik, sosial dan agamanya, perang akan terus terjadi. Reformis tak lain pencegah ketiga nilai itu hancur. Kami tidak setuju kebijakan pendapat, kami melarang pendapat bukan berarti non demokratis, tetapi keadaan dengan banyak opini bebas ke dunia luar, penekanan suatu ekonomi atau konflik dapat berikan afiliasi khusus. Khususnya golongan reformis tadi, mereka punya hubungan satu sama lain untuk berkembang ke dunia kesetaraan, bukan versi kami, mungkin sekarang Kennedy atau Lincoln. Keduanya antipati besar terhadap kami. Misalnya? Kita urutkan saja, matinya Raja Austria 1899, penumpasan Omirito Raja Italia 1900, mereka golongan reformis, golongan yang memilih maslahat dan yakin terhadap perkembangan dirinya. William McKinley, orang Amerika itu, kami menumpasnya. Kami tidak butuhkan itu. Kami sepakat kerjakan Roselvelt I, Theodore Roselvelt. Pembunuhan Prince Sergey, paman Tsar Nicholas II, 1905. Pembunuhan Raja Portugal dan Mahkotanya 1908. Semua kami habisi sampai mana Sarajevo, Austria Yogoslavia 1914. Mereka tidak harus disingkirkan, hanya perlawanan yang harus kami menangkan, mereka reformis yang mengenal manusianya, perang satu babak baru untuk perbaikan dan manusianya.”


“Kemelut luarbiasa.” Amanda mengangguk takjub.


“Kita hanya mengulang sampai perang kedua. Sudahnya kami mesti membuka kenyataan baru. Keadaan sekarang tidak bisa disamakan dengan dulu. Manusianya berubah. Mereka mahir membaca keadaan dan keadaan mendukung mereka sekarang. Tidak seperti minggu berdarah, suatu api permusuhan punya pengaruh besar kemudian hari, mereka bawa keluarganya, semua rumahtangga belaka. Kaum terkebelakang. Buruh tani, ternak dan seterusnya. Sejatinya mereka umpan untuk jatuhkan Petersburg, sekarang Leningard. Mereka masuki gerbang ketika itu meletus juga. Hancur badan dan kepalanya. Tsar II tidak di sana, Raja muda itu keluar San Petersburg, kami gerakan satu manusia untuk hancurkan Tsar dari dalam.”


“Stolibin kurban keadaan itu. Usahanya untuk Land Reform tidak kalian inginkan. Tsar berusaha reformasi dengan caranya. Kenapa kaum Manshevik sampai Bolshevik tidak mau?” Arnita berang.


“Kami tidak mau kestabilan tanpa ketentuan. Ketentuan kami tidak lain bikin dunia lebih terbuka tanpa batas. Batas itu kami gunakan untuk mengatur mereka sampai terputus pengaruhnya, seperti land reform, modal untuk kaum tani yang kami sendiri tidak sukai. Bukan tidak, hanya keadaan tidak merestui untuk kemanusiaan. Sekarang kami mesti gunakan asas dan humanis, kedua nilai itu nanti akan kami terapkan.”


“Baginda sekarang tidak bisa terima pendapat. Mohon untuk langsung ke intinya.”


“Baik. Perang Teluk baru padam. Sovyet telah runtuh. Dengan Vietnam war dan kelaparan Afrika. Kita bisa gunakan konsep baru. Versailles, perjanjian pernah mencekik Hitler, kita gunakan ide-ide semacam itu dalam bentuk dan kegunaan baru. Perang ketiga tidak akan lama. Perang meletus sebentar lagi. Banyak reformis sudah lebih awas dan hati-hati. Mereka kuasai kita sebentar lagi. Keadaan benar-benar berubah. Kita tidak hidup di jaman purba. Sekarang hanya satu ketentuan, perang atau kehabisan modal. Konsep itu mudah saja, kita berikan dana pembebasan, anggaran bebas mampu berikan negeri tertekan jadi lurus. Tetapi merugikan pihak berlainan. Pihak belakang ini, kita sokong dan dorong untuk letuskan revolusi kembali, reformasi yang revolusioner. Revormasi. Revolusi dan reformasi. Perbaikan besar dengan tameng dan pedang, mesiu dan timah, kita gunakan garis Versailles. Kita tunggu negeri satu dengan lain saling gontok, kita berikan reformasi dan revolusi menyusul kemudian.”


Mereka bergirang dan lompat hindar ke dalam mobil. Arnita mohon audiensi di meja makan. Baginda Yakub mengijinkan. “Amanda tidak tahu ketentuan harus dia taken. Kami tidak mau Amanda setuju tanpa jaminan. Kalian menekan dengan uang untuk upah tanpa perasaan.”


“Kami punya enfin, Amanda tidak akan ditindak, dia tidak pernah curang atau khianat, kami tidak setuju berikan jaminan. Rumah, pakaian, biaya hidup itulah jaminan. Kami tidak mau Amanda lepas tangan. Dia harus kau dukung atau kau aku putus sekarang juga. Tidak usah kerjasama kembali.”

__ADS_1


Yakub berdiri hindar dari Arnita.


Arnita memberang. Ia tidak beritahukan Amanda. Versailles tidak lain kemungkinan perang besar akan terjadi. Bisa saja? Perang dengan perjanjian sebagai pemutus keonaran dan konflik. Tak lain dari Revormasi. Perbaikan dan pembantaian besar-besaran. Arnita menidurkan kepala ke atas meja. Amanda memeluknya dari belakang ....


__ADS_2