Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Pertemuan penting


__ADS_3

Norah mendudukan diri di angkutan kopaja, kepalanya memandang sekitarnya, tidak dia sangka, seseorang menjatuhkan majalah dari tas gantungnya. Norah mengambil suratkabar diam-diam, membuka-bukanya dengan cepat, semakin cepat-semakin cepat-semakin cepat, ketemu, diterangkan biduan baru sedang mengganasi hati dan merenggut kepukauan semua penikmat tembang. Norah mengernyitkan kening. Betulkah itu dia?


Paulette sudah lama hilang itu. Sekarang berpose memejamkan mata, membuka mata dengan gemulai dan garang, meniru-niru Olivia Newton John. Norah hampir melupakan, perempuan garang itu sudah hilang sedari lama, mungkin dia pernah mengotak-atik ruang waktu juga? Norah masih memikirkan. Benar tidaknya. Ia kembalikan majalah itu. Seseorang bertas buncit itu duduk ke sampingnya. Norah mula-mula tidak hiraukan. Tetapi baunya sudah tidak asing. Matanya dipaksakan memaling. Sadar tidak sadar, hatinya bergemuruh riuh ramai persis pasar malam, perempuan itu. “Elissa?”


Perempuan itu menuding telunjuk ke hidungnya. Menyuruh Norah diam. Mereka turun kendaraan. Meneruskan berjalan bebarengan ke toko-toko hiasan dan arloji. Mereka akhirnya mengambil tempat di samping toko buku Toga Mas, keduanya masih terus bicara, kau benar-benar sedarah keluarga Dvorak?


“Kau sudah lebih dulu tahu.”


“Sehatkah? Kau seperti tidak pernah berhenti kerja.”


“Hanya hendak memikirkan semua putriku.”


“Siapa putrimu?”


“Ia yang sekarang memakan kalian dari dalam.”


“Siapa katakan! Aku polisi!” Norah menggeram menunduk.


“Norah, kau juga bagian kami, sudahlah, aku sadar kau pun kesal pada mereka-mereka itu.”


“Kau? Mustahil.” Norah gemetar memegang gelas.


“Bantulah Amanda, putriku sudah keluar batas, memang kami butuhkan keadilan, pembantaian itu biar sang waktu menentukan.”


“Tetapi Holocoust sudah lama terjadi!”


“Itu menurutmu. Adakah kami salah meminta keadilan?”


Elissa masuk ke dalam toko majalah. Norah mengejarnya, berulang-ulang mengedari seluruh lemari-lemari, kamar demi kamar, semua hampa sunyi sepi. Seperti hatinya. Sekarang justru ketiban curahan demi curahan Amanda menggilas habis otak dan isinya. Norah berdiri memandang sepotong cermin tua, cermin pengawas pertokoan, arloji tangan miliknya denting satu pukul lima menit. “Amanda, perempuan diplomat itu tidak pernah mengakui kita.” katanya mendudukan diri ke tengah ruangan pembaca perpustakaan.


Norah menyalakan tembakau. Seseorang keluar dari belakang, Shelly menyeringai, dasar dungu!


***


Amanda yang menerima himbauan. Merasa harus pasang andal-andal baru. Dan yang muncul justru: konperensi dadakan. Atas bersangkutan saja. Itulah pikirnya. Semua dilakukan benar-benar belakang layar. Beginilah hari-hari mendebarkan itu.


“Shelly saja sampai begini merepotkan.” Maria keberatan. Tetapi toh ikut juga.

__ADS_1


“Memang, apa bisa kita buka?” Marry seharusnya tidak ada. Sudah duduk ke tengah hadirin.


“Mengajarimu bercinta pertamakalinya.” Melissa membisiki kuping Marry.


“Tidak mungkin. Tidak mungkin. Aku sudah tidak hijau lagi.”


“Marry, kembali ke kamarmu.” Amanda sudah menyiapkan delapan puluh dokumen.


Masing-masing setebal empat ratus halaman. Sisanya lima ratus. Sisanya lagi enam ratus.


“Kita benar-benar buka Studie Club.” Maria menggerutu. Memainkan penggaris ke atas pundak Marry.


“Itu dia datang.” Amanda menyilakan Puspita masuk. Puspita mengambil tempat samping Marry. Marry menanyakan sepatu kegemaran perempuan Jewis murni itu.


“Tidak sebuah bagus. Tetapi sebuah mungkin bagus. Aku mengagumi hasiltanganmu, Marry. Busanamu bagus-bagus. Bentuk kaki untuk celana, pieszak untuk kolong, dan banyak tidak aku katakan.”


“Marry, kembali ke kamarmu, sayang.” Amanda mengulangi suaranya yang benar-benar keratu-ratuan.


Marry mengalah kemudian menutup pintu besar. Ruangan luas dengan patung Cupido Venus itu menampung lima orang, mereka mengitari meja panjang melingkar, mereka membuka pertemuan dengan saling bicara sendiri-sendiri. Amanda menunduk membisiki Arnita. Arnita mengerti. Tidak lama perempuan ramping itu membacakan maklumat.


Arnita meneruskan kedua kalinya. “Diteruskannya pertemuan, hanya dan untuk habisi tabir perempuan sedang naik marak namanya, perempuan sedang tinggi pengaruhnya, perempuan sedang kobar pengaruhnya ....”


“Aku boleh ke belakang?” Puspita meminta izin.


Amanda memberikan meski sepuluh menit.


“Perempuan itu, perempuan itu yang menabur penyakit, seperti banyak dongengan juga, kejahatan jaman lain sama saja, sendirinya di mana-mana sudah jadi keganasan jaman. Keganasan hari akhir. Itu kata pujangga. Ah, tetapi benar tidaknya, perempuan punya tangan itu, kekuatannya bukan main-main, sekarang kita dihadapkan isu penting, perjanjian semula tidak guna. Dibukanya pertemuan, kalian bukansaja belajar, lebih lagi belum pernah kami buka semua sekarang, sedari awal dimulainya studi tidak lain; memang epos-epos kejahatan perempuan itu, mengapa sudah dirunutkan, mudahnya penemuan dia sendiri ciptakan, merusaknya untuk umat manusia.”


Puspita kembali duduk ke samping Amanda. “Aku sudah kembali.”


“Dibukanya studi diharapkan semua kalian benar-benar paham keseriusan kami. Di sini tidak ada namanya main-main. Semua punya resiko. Semua punya titik temu bahkan titik tolak. Semua kami tidak pernah main-main. Kalian datang berarti sudah bertaruh dengan resiko. Kami membuka studie memang belajar, hanya belajar—lebih jauhnya wabah masih terus terjadi, maka jalan tengah tidak ada selain menangkap pelaku, pemicunya pengaruh penting manusia itu, baik, sekarang buka kolom-kolom sudah aku garisi merah padam.”


Maria memulainya lebih dulu. Mengangkat tangan. “Dengan ijin, siapakah etnis besar selain Jawa?”


“Mereka bukan etnis, tetapi minoritas,” bantah Arnita gatal. Gatal! Tetapi memilih teruskan. “Maksudmu, Jewis? Nah, keterangan itu aku sendiri bisa benar atau salah, semoga tidak keliru, mula-mulanya kaum katanya pewaris karunia Tuhan, tentu kepandaian maksudnya, kaum itu dulu sekali sudah sering diuji, mereka pernah direnggut jadi budak-budak raja Mesir. Sangat menarik bukan? Kaum penyembah berhala daripada ajaran-ajaran sudah benar atas Tuhannya. Selalu diimbangi ajaran-ajaran nabinya. Jelasnya semua sudah tidak benar diikuti. Tidak mengakui Kekristenan seseorang. Menyatakan Allah berputra. Membenci liberalisasi agama. Membenci keyakinan Ibrahim. Memiliki keyakinan rasialis dan apologetik. Tidak takut-takut berterus terang meski keliru.”


“Ke mana semua arus itu? Maksudku perkembangan maju orang-orang pilihan itu.” masih Maria.

__ADS_1


“Kaum itu sudah tercerai berai sejak dalam kekaisaran Mesir belum punah, lebih siangnya sudahnya Nabi Isa diangkat Tuhan, ketika itu pecahan pertentangan sangat terasa sekali, mereka memusuhi golongan Kristen. Sekarang melompat ke peradaban modern. Kaum pilihan itu sudah pernah pula diusir kekuasaan Jerman, mereka menumpas, menindas, menyiksanya, kaum itu benar-benar terlempar kalis atas dunianya; Rhin dan Bavaria, kejadian nyatanya 1401 sampai dengan persekutuan setan Hitler, penindasan dan penyiksaan masih terus terjadi.”


“Itu memang benar.” Puspita angkat bicara. “Semua semata semitisme, sesuatu yang mengandung kekuasaan, pasti habisi kaum sudah banyak menyumbang kebesaran dunia.”


“Kau sendiri memang mereka bukan?” Maria mengerutkan kening.


“Itu kau tahu. Kami memang sering diadu domba, tetapi kami toh tetap hidup sampai sekarang, kesetaraan Prancis siapa sudah ujudkan? Kami. Sekali lagi bangsa-bangsa lain, Hongaria, Eropa Timur, Austria bahkan Inggris, mereka berusaha keras bunuh kami, tetapi justru sebaliknya; mereka sudah kami kuasai.”


“Kau bangga begitu?” masih Maria.


“Kami bangsa kecil. Sangat sedikit bahkan dibanding India semacamnya. Jawa belum seberapa dibanding satu pribadi Yahudi.”


“Sudah,” sekarang Amanda. “Mengalah saja Maria.”


Maria membuang muka kesal.


“Mereka hebat dalam bertahan, meski kecil kemungkinan, tetapi keyakinan hidup dan kerja keras kaum itu, kaum pilihan, bisa saja kita pelajari lebih jauh, konon konsep pengetahuan lebih luas daripada satu bangsa besar China.” kata Arnita.


“Kami tidak enak mengambil keterangan begini. Bahkan saksi sudah hadir di depan semua kami.” kesaksian Melissa.


“Jadi siapa hendak teruskan?” tanya Deborah alias Puspita.


“Darahmu Jerman, apa saja sudah kalian rasakan, maksudku semisal orangtuamu pernah hidup dan dilahirkan di sana.” Amanda menatap Puspita.


Puspita menerangkan. “Mungkin pemandangan jaman berubah, baiklah, sumbangan revolusi Rosseau kami sendiri memulai, tidak pernah bukan kaum kami lakukan begitu ke banyak peradaban, kecuali kami sudah tumpas di bawah Nazi, tetapi tidak penting kau tahu. Sudah banyak juga, sudah banyak. Sekarang aku benar-benar guru, kedengaran tidak menyenangkan, aku lebih suka mengurus dapur daripada begini.”


“Aku baru dengar kau punya pengaruh dengan kaum itu.” Maria mengangguk menatap Puspita.


“Sudah! Aku hanya katakan saja. Kalau tidak suka boleh ambil harianku.” Puspita tertawa sementara.


“Seterusnya?” Arnita.


“Seterusnya, seterusnya kami sudah merasakan semitisme benar-benar neraka diakhir jaman tengah, kekuasaan penutup abad 19, kami mewajarinya saja, memang sedari dulu-dulu di Kan'an, kami berusaha untuk tidak putus atas Yordania dan Mediterania. Lupakan, sejarah sudah terjadi, sekuat apa pun manusia menghapusnya, ia tidak akan pernah bisa, kecuali musnahnya seisi peradaban dan manusianya, itu aku belum tahu, semoga tidak,”


“Apa saja kau sudah tahu? Rahasia sudah terbuka sekarang. Siang sudah sangat dekat.” Amanda mengetuk-getuk pinsil ke dagunya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2