
Di kota-kota besar wabah rabies masih menjadi-jadi. Orang-orang semakin jarang keluar rumah. Hewan-hewan piaraan mereka kandang dan kurung. Tidak kurang satu atau lima belas mati karenanya. Kuburan-kuburan hewan semakin luas dan besar. Kadang-kadang dalam satu kota lima rumah makan sudah tidak beroperasi. Kadang-kadang hampir satu kota hentikan aktivitet bebareng. Bebareng juga inpor mau pun ekspor semakin sendat. Karunia kampung-kampung diangkut dan dibawa dari lorong-lorong desa semakin mengecil. Tidak ada kasta pemakan daging, kasta sekarang tinggal kepundan dan gendon pemakan bangkai, bangkai anjing dan kucing gelimpangan di mana-mana. Begitu persis wabah kolera, pes, kuku hitam dan kematian hitam, swarte dood 1350an.
Kebakaran tidak tanggung-tanggung semakin marak terjadi. Sebuahnya pemukiman dengan cuaca tidak menentu, sebuahnya kebakaran akibat hangusnya roti di toko selatan, kebakaran kali ini lebih besar dari sudah-sudah. Api menyambar-nyambar memakan dari satu kota lain ke kota lain menyerupai London di tahun 1666. Pemadam kebakaran sampai lima puluh datang namun api tidak kunjung padam. Semua orang menyelamatkan sanak bininya dari kebakaran.
Barang-barang mereka tinggalkan begitu saja. Damkar hampir kehabisan air. Kebakaran baru padam setelah lima hari ke depan. Penyebab api mengganas tidak lain saluran listrik di mana satu kota banyak kawat-kawat tilpun sampai radio, sedangkan orang lain tidak yakin, mereka percaya ledakan sudah terjadi.
Sementara itu Maria berusaha menemukan Shelly. Shelly hilang tiba-tiba dan muncul tiba-tiba. Maria tidak temukan perempuan ganas dan rakus itu. Perempuan tinggi dan suka mengurusi orang lain itu duduk, tidak dia tahu seekor kucing sedang berdiri menatapnya. Kucing itu meraung di mana Suszie jongkok mengelus-ngelus kepala hewan itu. Shelly mengakui sangat senang begitu. Tetapi ia punya kepentingan sendiri. Shelly menggigit telunjuk Suszie. Suszie menjerit dan menangis. Maria menemukan putri angkat Amanda dan Marry. Perempuan itu mengobatinya.
Shelly sudah berdiri di atas altar besar menyerupai katedral. Perempuan itu meraih mahkota ke dalam kaca akuarium dengan bingkai emas murni. Tidak dia tahu Emma sudah berdiri mengacukan pestol. “Letakan mahkota itu!” suaranya menggema. Mukanya yang hampir gemuk dan makmur itu. Semakin membuang nafas besar dan berat.
Shelly meletakan mahkota. “Amanda tidak akan kembali.” katanya tertawa besar.
“Apa maksudmu!”
“Lihat?” Shelly mengeluarkan arloji rantai. “Jika aku putar jam besi ini, Amanda bisa saja kembali, tetapi aku tidak mau. Jadi? Aku hancurkan saja.” Shelly meremas sampai keping Numa Stone ke dalam tangan panasnya.
Emma membeliak menganga. Mengangkat pestol tinggi-tinggi. “Kami tidak punya urusan denganmu. Sekarang pergi!”
“Mungkin kau harus mati sekarang!” Shelly menggerung menjadi kucing purba. Mengaum melompat hampir mencabik-cabik Emma. Anehnya, anehnya sesuatu cahaya menyambarnya, seketika Shelly terlempar kalis entah ke mana dan Emma tersadar di atas meja kantor. Seseorang muncul menaruh mahkota kembali ke dalam akuarium kaca.
Shelly tahu-tahu jatuh ke dalam gurun pasir. Perempuan itu bergolek ke sana ke mari kemudian sadar.
Shelly beringsut berdiri mengamati sekitarnya. Kedua sepatunya menendang pasir setebal gunung es. Perempuan itu mencengkam wajahnya. Shelly berteriak keras-keras. Suaranya seakan hilang ke dalam ketiadaan. Shelly berjalan sendirian selama hampir matari terbenam. Jam tangannya mati. Tidak berdetik sama sekali. Mulutnya kering. Matanya sebak menahan dehidrasi. Perempuan itu pun terbaring entah di mana. Angin gurun semakin hebat menerpanya. Semakin keras meniupnya. Shelly sadar-sadar sudah dikelilingi lima perempuan dengan pakaian gombroh dan punya tengkuluk, turban melingkupi kepalanya. “Siapa kalian?”
Mereka saling menatap kebingungan. Melempar mata satu sama lain. Melempar kebingungan satu sama lain. Mereka saling bermain mata. Seorang perempuan gunakan bahasa isyarat.
“Sudah tiga hari aku tidak sadar? Siapa kalian?”
“Ebers, papyrus ebers.”
Shelly tidak mengerti. Nampaknya ia sudah diselamatkan orang-orang aneh itu. Mungkinkah sekarang dia di Mesir? Shelly tidak berubah panik justru menyeringai. “Justru di sinilah aku harus berada.”
Kelima perempuan itu menari-nari menyambut Shelly dengan tabuhan kendang dan mencak-mencak. Shelly digandeng menuju ke perumahan dengan dinding pasir dan samar-samar piramida menyala dikejauhan.
***
Shelly diam-diam memanjat kuil yang berada di sekitar piramida. Matanya menyipit sayup-sayup jauh ke depan. Satu tangannya merogoh saku celananya. Sebongkah vulcanium dikeluarkannya. Perempuan itu memandang ke langit, tiga sampai empat bintang menyala binar-binar di utara sampai timur. Shelly mengetrap permata ke pusat sabuknya. Memutar sisi-sisi spinor. Garis siku baku sabuk menggeletar. Shelly menghisap kekuatan piramida sebanyak mungkin hingga sekumpulan mega mendung mendatangi piramida. Seseorang tahu-tahu menangkapnya. Mereka terlempar guling-guling ke permukaan cadas kuningan. Shelly meronta-ronta matanya menangkap awan hitam sudah sirna. Langit kembali membiru membara penuh panas. “Siapa suruh kau naik ke sana!” pemuda dengan jas dan lornyet tipis halus menegurnya dalam Inggris.
“Siapa kau?” Shelly membaung dengan matabesarnya.
“Ernhard Benedictus.”
“Ernhard? Anak pejabat?”
“Bukan, kebetulan aku polisi politik,”
“Kau pasti tahu aku di mana sekarang.”
“Ya, kau di Karakum, kampung ini punya banyak kuil pemujaan.”
“Kau bukan orang sini.” kata Shelly.
“Memang bukan, mari kita ke penampungan.”
Mereka berkeliling melihat penampungan laki perempuan. Banyak anak kecil telanjang, berdaki dan bersepatu kasut kambing sudah merengkah-rengkah. Mereka mendudukan diri di depan tenda. Ernhard memasak air panas ke dalam panci teko. “Siapa menyuruhmu ke sini?”
“Aku tersesat di tengah badai gurun.” Shelly berbohong.
“Wajahmu bukan Timur Tengah. Biar aku tebak, kau Yahudi.”
“Memang? Kenapa kalau Yahudi? Kau mau membunuhku?”
Ernhard tertawa sesaat. “Tentu tidak. Kami bekerja untuk mereka. Mereka mengurus perang dan biayanya. Sekarang banyak orang suka perang.”
“Apa sebenarnya terjadi? Mungkin perang ketiga sudah ada? Atau sekarang terjadi?”
“Perang ketiga? Maksudmu perang Afrika Selatan? Ya, Boer melarikan diri dari Inggris setelah Inggris temukan tambang emas Transvaal.”
“Jadi? Aku ada di mana?”
“Sekarang Desember 1876.”
“Apa kau tahu Ratu Viktoria?”
“Tentu aku tahu. Ratu akan mengadakan pesta di Sailan.”
“Apa kau punya ijin mengawalnya?”
“Sementara ini tidak. Barangkali nanti.”
Ernhard mengamati pakaian Shelly yang aneh. “Kau kenapa pakai baju lelaki?”
“Bukan lelaki, memang begini bajuku.”
“Aku akan berlayar ke semenanjung London. Kau mau tetap di sini?”
“Kalau boleh aku mau ikut.”
“Aku punya banyak pakaian sepupuku. Kau bisa pakai jika mau.”
Shelly menyetujuinya.
Kapal uap benar-benar mancal dari dermaga. Shelly yang berada di ruangan luas dan besar merasa dadanya gembung, seisi dunia yang asing dan polos seperti menyentuh kepuasaan tersendiri baginya. Sendirinya dia tidak pernah tahu: keadaan sekarang jauh lebih baik meski korupsi dan nepotis, kolusi dan rust en orde sedang ganas-ganasnya.
Shelly mencangkumi tepian kabin menonton lima belas keluarga penumpang sedang cakap-cakap. Dirinya tidak pernah menyangka akan menginap untuk dua belas hari dua belas jam di kapal tua dan pasti semua mereka sudah mati di jamannya. Ernhard kembali padanya. Shelly disuruh untuk mandi. Perempuan itu ditata kedua jongos perempuan India bagian selatan. Shelly memandang wajahnya di cermin. Mukanya lonjong dengan bibir penuh. Kupingnya ditindik dengan anting-anting kombinasi zamrud dan medalion murni. Selesainya dari sana Shelly ke mejamakan. Ernhard terpukau mendapati Shelly sudah sangat berbeda. “Siapa namamu?”
“O? Sampai lupa. Aku Shelly.” katanya mengulurkan tangan.
“Shelly saja?” Ernhard mengangkat sebelah alisnya.
“Bukan, Shelly Smevendimen Dvorak.”
“Betulkah? Kau keluarga bankir itu?” lelaki itu setengah tidak percaya.
“Mungkin hanya mirip saja.”
“Lupakan. Mari kita makan dulu.”
Mereka selesai bersantap menu.
Shelly mengobrol di ruangan gymnasium kapal. “Benar. Kau persis sekali dengan ketiga putri Baron Dvorak.”
“Hanya kebetulan mungkin?”
“Kau tahu Elijah? Hannah Smevendimen? Gerardina Dvorak?”
“Hanya pernah dengar. Mereka pasti sombong-sombong.”
“Katamu tidak ada salahnya. Semua orang di sini hanya mau bicara dengan sesama orang putih. Mereka tidak menyukai Afrika apalagi membelanya. Mereka tidak menyukai Arab, India kecuali budaknya.”
“Kau mau perang?”
“Tentu tidak, tugasku mengamankan situasi politik, mengawasi dan mengirimkan surat ke Volksraad dan aparatur hukum untuk kerjasama.”
__ADS_1
“Berarti tugasmu pengawas atau intel.”
“Begitulah. Mukamu begitu cantik. Aku belum pernah melihat perempuan sepertimu.”
“Ada darah Lybia dan Belanda dalam diriku.”
“Bukankah kau Jewis?”
“Memang tapi bukan seluruhnya.”
“Siapa orangtuamu Shelly?”
“Aku tidak tahu. Lagi pula aku sudah punya karir dan hidup sendiri.”
“Matamu membuatku tidak bisa lupa. Kau punya kharisma lebih besar dari orang-orang sini.”
“Bawalah aku menghadap Sri Ratu Viktoria.”
“Tentu aku tidak berani. Ratu Viktoria tidak pernah ramah ke semua orang. Tidak ada berani dengannya.”
“Setahuku, setahuku Madras sedang kelaparan sekarang, dari mana asal anggaran pesta besar itu?”
“Pesta besar? Setahuku hanya pesta biasa.”
“Kapan kita sampai ke dermaga?”
“Dua belas hari lagi.”
“Terlalu jauh,”
“Memang, kau mau tahu keadaan Afrika sana?”
“Mereka sudah membentuk ZAR?”
“Kurasa belum. Lagi pula apa itu ZAR?”
Shelly tidak menjawab. Perempuan itu cenderung diam. Ernhard tidak pernah menutupi dirinya. Bahwa lelaki itu mungkin menaruh perasaan padanya. Yang benar saja, kalau aku menerima pinangannya, aku sudah putuskan keturunanku dan keturunannya di hari depan. Batin Shelly tidak tenang. Tetapi hatinya pun mulai tertarik untuk mengajak Ernhard lebih jauh dengannya. Mungkin jika Shelly kawin anaknya bisa tujuh atau lima sekali melahirkan. Karena dia kucing bukan manusia.
Dua belas hari dua belas jam lamanya mereka lewati. Ernhard tetap menjaga dirinya. Lelaki itu tidak tertarik mencoba-coba Shelly, Shelly berpikir Ernhard akan menidurinya tetapi tidak. Shelly pun tidak memancing-mancing, ia tidak siap jika harus mengasuh bayi, apalagi jika punya jabang bayi seperti Suszie dan Marry, ia sudah pasti mati berdiri.
Pemandangan dermaga riang sendirinya. Matari menyambutnya. Orang-orang lalu lalang dengan pakaian gaun besar dan cembung, meriah dan warna-warni, pikirannya tidak pernah mengira baju-baju itu berwarna. Pikirannya dominasi putih dan hitam seperti banyak foto pernah dilihatnya. Nyatanya tidak. Ada pakaian anak-anak gadis dan lelaki. Perempuan-perempuan kenakan sepatu cabaret dan pakaian lengan panjang. Ernhard menarik tangan Shelly ke pelabuhan timur, mereka habiskan makanan dengan sesekali lelaki itu mencuri mata dengannya.
Shelly tahu Ernhard sudah tidak bisa menahan berahinya. Perempuan itu menyedot minuman dengan matanya yang menggairahkan. Kontan saja motel menjadi pelampiasan keduanya. Shelly selesai bercinta kembali. Ernhard buru-buru untuk pergi kembali. Shelly tidak menyangka ia bercinta dengan lelaki yang harusnya sudah mati. “Kau kecewa aku sudah tidak perawan?”
“Tentu tidak. Seperti katamu Ratu akan mengadakan pesta besar.”
“Kau mau ke sana?”
“Mungkin besok. Kau ikut saja. Maukah kau dengar kataku?”
“Apa? Bilang saja.”
“Aku jatuh hati denganmu Shelly. Maukah kau menikah denganku? Aku tidak punya orang tua lagi. Kau satu-satunya perempuan dalam hidupku.”
“Berikan aku waktu sampai besok.” Shelly beranjak mengenakan korset dan mandi.
Ernhard mencium baju Shelly yang menurutnya harum.
Besoknya mereka sudah menaiki andong. Keduanya berangkat ke kantor administratur. Selesai mengurus surat tinggal atau paspor bernegara Shelly. Ernhard menunggu-nunggu pasangan setianya keluar. Shelly baru membelanjakan kebutuhan mereka. Sudahnya Shelly membantu menyiapkan makanan dan menata kasur dan mencium calon suaminya.
Esoknya lagi mereka kembali berlayar ke daratan Sailan. Shelly memandang takjub pulau itu. Pulau itu menyerupai Sunda Kepala. Bedanya banyak pohon-pohon kering dan keadaan hijau dengan petani-petani Deccan. Gedung-gedung umumnya tidak jauh lebih besar daripada. Jalan-jalan sebesar lapangan. Sebagian terbesar batu cadas kuningan dengan lempengan semen besar. Berantas rakit-rakit mengangkut bahan bangunan dari rawa-rawa. Penunggang-penunggang kuda dari segala bangsa dan penjuru. Budak-budak Malabar bagian Selatan baris membantu penggergajian kayu, penebangan hutan dan pengangkut gandum ke tongkang, jukung, pinisi, getek, perahu.
“Aku ada keperluan menemui Sir. Richard Temple.”
Perempuan itu dituntun kelima babu perempuan India. Shelly memasuki gerbang istana di mana para penginap tidak lain danyang-danyang Sri Ratu Viktoria. Shelly melihat-lihat seluruh bangunan. Tidak lebih baik karena semua dominasi kayu dan dinding bukan beton melainkan kayu mahoni. Sementara di pojokan-pojokan berdiri perempuan angkuh. Wajahnya sombong. Shelly duduk tidak pedulikan. Perempuan bergaun beludru dengan ikat pinggang lasting itu datang menegur.
“Pelacur baru?”
“Jaga bicaramu.”
“Kau tidak tahu? Ernhard suka meniduri perempuan di sini. Bersiap saja jika kau ditinggalkan laki-laki itu.”
“Siapa namamu?”
“Cih! Sikapmu tenang sekali *****. Aku Donna Mayer. Donna Swanson Mayer.”
“Biasanya kau suka tidur dengan berapa pria?”
“Dari mana kau tahu? Ah, tidak penting, toh kau *****.” Donna pergi menggeram menatap Shelly.
Shelly tertawa diam-diam.
Dikejauhan Ernhard sedang bicara dengan mantan gubernur Inggris. Shelly diam-diam menguping. Perempuan itu pura-pura membuka-buka koran. Menutup koran dan membuang ke atas meja. Keluar mengendap-endap mengikuti mereka.
Shelly tidak menyangka seluruh tanah India sesubur ini. Dia menyapukan matanya ke semua pohon-pohon besar dan banyak pemukiman gubuk-gubuk berdiri. Sungai-sungai tidak kumuh seperti India di jamannya. Shelly tahu-tahu menabrak perempuan. Perempuan putih itu terkejut. Ia buru-buru pergi entah ke mana. Shelly penasaran dengan wanita itu. Diam-diam dirinya mengikuti ke dalam ruangan yang banyak pekerja wanita dan pekerja lepas. Shelly menyembunyikan diri ke belakang kain besar. Perempuan barusan menyampirkan lap dan menyenggol waskom tanah liat sampai pecah. Ia dimarahi habis-habisan Donna. Shelly memunculkan dirinya membantu gadis itu. “Siapa namamu?”
“Sheena!” katanya hindar entah ke mana.
Shelly yang merasa bosan dengan perkumpulan meja permahsuri kerajaan. Memutuskan pergi. Pesta masih satu hari diadakan. Masih satu hari lagi. Shelly sengaja mendatangi Sheena. Perempuan itu sedang berdiri sendirian memandang bayangan wajahnya di sungai. “Sendirian saja?”
“Maafkan aku. Aku hanya pelayan biasa.”
“Tidak ada buruknya pelayan. Mari duduk denganku.”
Mereka dampingan duduk di selasar sepi pinggir istana. “Kau mau tahu? Apa bisa mengubah nasib bangsamu?”
Sheena menggeleng.
“Pernah belajar di sekolah?”
“Tidak pernah. Orangtuaku suka memasak saja.”
“Kau percaya revolusi Prancis?”
“Pernah dengar, hanya belum pernah merasakan sendiri.”
“Aku tahu penderitaan kalian. Kalian hanya babu tanpa upah, benar kan? Kalian bersihkan senggot, menjerang air, mencuci pasu. Kalian tidak menginginkan itu.”
“Itu memang benar. Kami tidak bisa apa pun.”
“Sebenarnya mudah saja. Siapkan kertas dan tulis sesuatu di dalamnya. Siapkan akalmu dan tulis sesuatu di kertas.”
“Hanya begitu saja?”
“Biar aku beritakan sesuatu padamu. Hidup kalian tidak akan selamanya jadi budak. Kalian akan bisa sekolah dan besar seperti Sri Ratu Viktoria.”
“Apa bisa kami tahu?”
“Kalian bekerja untuk mereka berarti mereka tergantung kepada kalian. Kalau kalian tidak bekerja untuk mereka. Mereka akan merugi.”
“Kami tidak akan makan jika begitu.”
“Aku akan pinjamkan modalku. Kalian bisa pergi dari Sailan ke Inggris.”
__ADS_1
Sheena menerima kerjasama Shelly.
Shelly mengajarkan boycott dan kekalahan Inggris, kekalahan Prancis, kekalahan raksasa-raksasa Eropa selama berabad-abad. Mereka hanya gunakan mental lemahmu, mereka hanya menindas dengan politik, mereka takut kalian bangkit dan lebih pandai dari mereka. Kata Shelly. Kalian hanya harus sering membaca dan menulis. Gunakan grip atau sabak jika tidak ada tinta China, katanya mengajarkan kelima pembantu diam-diam. Revolusi sekarang hanya mampu bicara dengan letusan dan letusan, mereka melawan dengan peluru berarti kalian balas peluru. Kelemahan mereka tidak ada yang lebih baik daripada kalian. Kalian harus utamakan didikan dan ketekunan. Rust en orde, hanya keteraturan semata pimpinan itu kehendaki, monarki tergantung sepenuhnya ke rakyatnya, monarki tidak punya kuasa mutlak mengatur rakyatnya. Ingat-ingat kapten boycott, kapten yang siap menghunus keris dan andal-andal batalyon miliknya.
Revolusi sekarang juga! Besok atau sekarang kalian atau aku pun bisa. Kata Sheena menyambung kata-kata Shelly. Shelly pun mengajarkan strategi dan sistem politik Inggris, bahwa negara mereka sudah kebanyakan hutang, mereka akan kehilangan modal, mereka tidak pernah pikirkan Madras. Tahulah aku kenapa penumpasan banyak terjadi dengan negeri-negeri enklave, negeri merdeka dan mungkin, Afrika tidak akan bertahan lama.
Besok kita patahkan pesta terbesar sepanjang umat manusia itu. Kata Shelly. Perempuan-perempuan babu, jongos, hermandad, selir, kaputrian dan kuli-kuli pada lompat hindar mengabarkan ke seluruh lapisan India bahwa para budak akan dibebaskan.
Kabar pesta terbesar dengan enam puluh ribu tamu langsung terjadi. Shelly kebetulan undangan yang berada di dalam. Perempuan itu menyaksikan iring-iringan kereta mahal dan diukir dengan mahir. Gajah-gajah besar dengan dekorasi manusia-manusia di atasnya. Delhi Durbar! Trumpet dan genderang dipukul dengan naiknya bendera. Bendera Inggris berkibar luarbiasa di langit. Ratu memasuki lapangan. Rupa-rupanya Rusia, Jerman dan bahkan Belanda, Sarajevo, mereka lebih dulu masuk dengan rombongan lebih ramai dan semarak. Undangan besar itu semata kedatangan semua bangsawan dan rakyat yang menonton di lapangan. Shelly tidak menemukan Ratu Viktoria.
Perempuan itu melempar mata gusar sambil sesekali mengipas-kipas mukanya dengan kipas bulu merak.
Nyatanya Sri Ratu sendiri paling terakhir. Sambutan tak kalah semenak. Berombongan orang dan kuda-kuda sudah menyambutnya. Ratu keluar dengan dituntun ajudan lelaki India. Pelayan itu menuntun sampai bertemu dengan pangeran, putri sulung dan putri pertamanya. Sri Ratu Viktoria duduk ke singasana, saling mengobrol dengan hadirin, raja-raja negeri lain saling berbisik di mana Shelly sudah duduk di pojokan tidak jauh dengan Ratu Viktoria. Protokol membuka pembicaraan umum.
“Baik, sudara-sudara, kalian sudah datang, kalian boleh makan atau sementara baginda ratu akan bicara lebih dulu.”
“Wahai kedatangan kalian yang terhormat dan yang aku hormati. Kalian sudi kiranya jika aku membuka acara ini. Semata kepentingan untuk mengenalkan Inggris ke India. Kita akan meningkatkan kehidupan mereka semakin baik. Kita akan hapuskan perbudakan. Kita akan meningkatkan irigasi dan pertanian. Seterusnya aku akan resmi memimpin India dalam waktu tidak ditentukan.”
“Yang Mulia!” satu orang berdiri bertanya.
“Silakan tanyakan.” Protokol lelaki dengan monokel emas persilakan.
“Bagaimana kelaparan sekarang? Mereka sudah tidak makan hampir satu tahun ini.”
“Benar Yang Mulia. Mereka hanya menanam gandum untuk sarapan para budak itu.”
“Segera mungkin kami akan pecahkan masalah itu. Kelaparan umum saja. Kami habis untuk perbaikan ketertiban dan demi mencegah permusuhan semakin luas di Afrika sana. Kami bersiap bersihkan radikalisme dari orang-orang Boer dan Belanda buangan di sana.”
“Saya yang mulia!” sekarang semua mata tertuju ke Shelly.
“Silakan ajukan sesuatu.”
“Adakah perempuan Inggris di sini, tidak pernah digaji atau mereka babu tanpa, upah?”
“Siapa bilang? Siapa bilang begitu? Mereka kami upah secukup mungkin. Mereka tidak semua bisa hidup aman luar sana. Mereka banyak tidak jujur dan korupsi. Mereka ada yang memakan uang riba dan sejenisnya. Aku sendiri sudah terangkan, bahwa ketentuan kerajaan di mana kekuasaan resmi masih dianut, mereka tetap harus dibayarkan. Mungkin ada yang tidak jujur. Selama kepemimpinanku—aku berusaha keras untuk memberi makan mereka.”
“Baik. Sri Ratu sudah tidak punya waktu. Sekarang kita akan membuka pelantikan. Sang gurubesar kami akan membacakan koronasi dan hadirin dipanggil untuk menyetujui serah terima jabatan.”
Koronasi berjalan umumnya peningkatan jabatan. Acara pesta terjadi dengan teratur dan banyak orang-orang dansa dan mabuk. Pemain musik melantunkan waltz, violin, biola, harpa, trombone, wind wood, flute sampai musik-musik kendang, tabla, tamborin India terdengar semakin riuh rendah. Penari-penari hebat dipentaskan. Perempuan-perempuan dengan pakaian sederhana dan pemakai tunik meliuk-liuk. Ratu Viktoria bicara dengan ajudannya. Shelly yang sendiri dipanggil mendekat. “Aku tahu kau bukan perempuan Inggris. Siapa kau? Jangan main-main.”
“Maafkan Ratu, aku hanya tunangan Ernhard, ia polisi politik di sini.”
“Mungkin ada baiknya kau harus hati-hati. Kami tidak pernah tidak berikan upah. Mereka mungkin sudah pengaruhimu. Kau cukup menarik untuk ukuran perempuan sekarang.”
“Masa Yang Mulia?”
“Benar. Mukamu pun mustahil dimiliki semua kasta Brahmana atau Waisya.”
“Baginda berolok-olok.”
Sri Ratu hanya terpilin-pilin badai tawa mendengar itu.
Kau serigala putih habisi lima juta manusia Madras untuk mati dan suburkan ladangmu, kau Remus, Romulus putih hisap susu-susu Serigala, Serigala. Hisap!
Kekuasaanmu pecah porak-poranda sebentar lagi. Kau serigala putih monarkimu akan hancur akibat pimpinannya sendiri. Shelly berkecamuk sembah dan umpat dalam suasana itu.
Tidak mereka sangka di tengah-tengah itu masyarakat menyerbu masuk. Mereka membobol dinding keamanan. Seketika keamanan berhamburan. Orang-orang Madras yang kelaparan meminta makan dari acara itu. Ratu Viktoria putuskan melempar satu atau dua karung makanan. Shelly melihat itu suatu hal tidak pantas sekali. Bagaimana mungkin manusia-manusia kelaparan diberi makan seperti hewan?
“Bagaimana mereka bisa masuk!”
“Kami sudah mengunci gerbang Ratu.”
Shelly tergelitik mendengar itu. Ratu Viktoria berjalan mengamankan istana.
Sheena muncul membawa budak-budak meruntuhkan satu meja makanan panjang. Dan orang-orang Madras menghabisi semua makanan itu. Semua ningrat-ningrat tinggi pada ketakutan dan menggigil hebat. Shelly menyilakan semua orang untuk masuk ke dalam istana. Suaranya yang lantang bangkitkan tamu-tamu kampung dan dusun dan pedalaman tumpah, pesta sekarang genap enam puluh ribu. Enam puluh ribu pesta semakin porak-poranda. Ernhard mencari-cari calon isterinya. Sri Ratu Viktoria sudah berangkat kembali ke dalam bendi. Sementara itu landau, dokar, andong, delman, bendi, sado dan kereta Viktoria lain sudah dikerumuni masa dan mereka mengamuk membakar habis kereta-kereta undangan.
Shelly tahu-tahu muncul mencekal lengan suaminya. Mereka melarikan diri dari istana. Pelantikan Ratu Viktoria benar-benar kacau dan keadaan tidak pernah diceritakan sejarah sekarang benar-benar berlangsung.
Inggris membayar kerugian besar atas rusaknya fasilitas undangan, mereka ditaksirkan membayar sebesar tiga puluh juta dollar untuk korban dan amnesti pelaku tidak bersalah dan tidak diketahui. Mula-mulanya kelaparan mengganas sekarang padam dengan pencurian karung gandum, mentega Frisland dan roti-roti anggur, makanan India. Orang-orang sudah tidak busung lapar kembali. Inggris menuai kerugian besar-besaran. Mereka tidak sudi membayar. Pelaku sebenarnya tidak pernah diketahui.
Perempuan-perempuan jongos sudah dilempar ke kapal dan pulang ke Inggris seperti kemauan mereka. Tidak seorang pun tahu. Seseorang itu sekarang sudah digereja St.Louis, Shelly resmi menikah dengan Ernhard. Perempuan itu benar-benar mengubah sejarah seperti dikatakan Amanda. Kenyataannya sejarah Inggris berubah sekarang.
Shelly beruntung tidak melahirkan. Perempuan itu melayani suaminya dengan baik. Sesekali dirinya merasa penasaran, benarkah keluarganya sudah ada? Suatu kali kepulangan Ernhard ke kampung sederhana di Scotland. Shelly tidak sengaja melihat kedua perempuan turun andong. Mereka mungkin Hannah atau Elijah. Mereka memasuki sebuah kedai makanan. Shelly menyeberangi jalanan. Perempuan ganas itu melipat payung lasting miliknya. Menekuknya ke bawah tindihan kaki. Mengikuti pemandangan perempuan burdjuis sekitarnya. Mengambil sikap dan cara duduk tegak. Perempuan setinggi seratus tujuh puluh. Satunya seratus tujuh puluh lima. Bertopi lebar dengan gaun lena dan setangan halus dari blacu. “Papa merugikan sepuluh persen dari sahamnya. Kita akan mencari biang keladi Madras.”
“Mengapa justru merasa rugi? Kita maanfatkan situasi pecah India dan Inggris. Kita belah dengan horden politik. Itu mudah bukan?”
“Kau pintar juga. Hanya bagaimana?”
“Kita korespondensi Rothschild, mereka punya relasi lebih luas dari kita.”
Shelly diam-diam mendengarkan. Elijah dan Hannah sesekali melirik perempuan itu. Mereka buru-buru melompat hindar. Shelly menyamar menjadi kucing hitam. Melompat ke atas andong. Dokar meluncur meniup mereka ke kawasan Buckingham. Mereka kembali meluncur ke perumahan Hampshire.
Sebuah bangunan mannor dengan model vila dimasuki mereka. Kucing hitam itu mengeong. Hannah yang duduk keletihan di serambi memutuskan mengasuh kucing itu. Perempuan itu mengagumi kucing. Shelly tersenyum kesenangan. Wajahnya membesar menciumi bulu halus Shelly. Sosok lelaki berbadan besar datang. Lelaki itu memarahi Elijah. Elijah dibenturkan kepalanya ke almari. Hannah sudah biasa menyaksikan itu. Shelly ketakutan. Nyatanya Ratu Inggris masih lebih baik dari mereka. Elijah kembali melawat. Sementara Hannah membebaskan kucingnya. Shelly membesar menjadi manusia kembali.
Perempuan itu menyelinap ke dalam ruangan kantor. Membaca-baca surat korespondensi. Dan banyak dari mereka sudah tahu, semua kebiadaban perang dan penindasan paksa, politik lima ratus tahun lamanya tidak lain moyang mereka sendiri cetuskan dan letuskan. Shelly tidak menyangka Baron Dvorak akan sekejam itu mendidik anaknya. Bahkan sekalinya mereka perempuan. Mereka samasekali tidak dimanjakan. Justru memukulinya sampai puas. Sukses dalam tekanan. Kesuksesan bayar lunas dengan tekanan.
Shelly tahu dirinya golongan Hannah, sementara Cecil mungkin Elijah, namanya yang persis Elissah. Shelly cepat-cepat mengambil surat-surat penting. Menghilang menjadi kucing. Meluncur masuk ke dalam andong Hannah. Hannah terkejut di mana kucing itu sudah mengeong di atas bantal dokarnya.
Mereka pergi untuk kepentingan undangan bisnis. Shelly mengikuti sampai ke dalam sana. Hadirin-hadirin seperti tidak asing baginya. Bahkan sosok orang tidak pernah terpikirkan datang ke sana, Benjamin Disraeli, Koos Del Rey, dan pemuka-pemuka perang Afrika. Mereka mengadakan rapat sementara. Sudahnya pergi dengan pinjaman dana untuk bisa tumbangkan Inggris di bumi Afrika. Seterusnya Hannah menyambut lima orang komite perbankan, mereka menyatakan simpatinya, mereka juga bicarakan bahwa kami berencana untuk membentuk perkumpulan kembali. Seseorang sudah berikan namanya, Bohemian Club, mendengar itu Hannah menanggapi:
“Bagaimana keadaan sekarang? Banyak orang Eropa merasa tidak aman dengan keadaan sekarang.”
“Kami sendiri tahu, mereka berusaha untuk menjernihkan pengaruh buruk, kau sendiri tidak membaca J.C Bluntschli?”
“Untuk itu sudah. Maka dari itu, kalian harus bisa investasi sejak mula perang belum mendekati.”
“Perang? Bukan itu menguntungkan?”
“Sementara tidak. Perang tidak menguntungkan. Banyak reformis akan mengambil kesempatan ke sana. Itu artinya kita kalah sebentar lagi.”
“Moderne Volkerrecht, itu berarti kedudukan raja atau leenhar sama dengan masyarakat umumnya, jika kita mengambil acuan itu, kita bisa gunakan masyarakat kecil untuk membatalkan reformasi. Kita gunakan hasrat-hasrat mereka untuk menang dan kita masuk melalui kemenangan mereka.”
“Itu baru aku setuju. Nah, silakan kalian datang dilain waktu.”
Hannah menutup kunjungan dengan menulis kembali keuangan dan mencatat kelahiran, kelamin, domisili, pekerjaan diinginkan dan seberapa lama mereka bertahan dengan cuaca, iklim, pancaroba. Hannah juga punya catatan tersendiri di badan afdeling statistik, mereka bekerja kuli-kuli hanya diupah sebenggol sehari. Mereka tidak lebih dari budak. Kata Hannah. Hannah menambahkan batu bara, minyak, petroleum dan gas bumi harus lebih banyak disuplai dan dibesarkan ke distrik-distrik penduduk. Kita usir mereka tidak setuju dengan kebijakan pemerintah. Katanya menulis dalam catatan pribadi. Hannah sesekali menguap dan mencium kucingnya. Shelly gemetaran berada dalam pangkuan Hannah.
Hannah seterusnya menulis pekerjaan berat akan ditambahkan ke kuli-kuli yang berada diluar Eropa seperti Sangir, Maluku, Sunda Kecil, Celebes Tengah, Talaud dan Sumatra Barat, Jawa. Mereka akan dinaikan upahnya untuk para mandor, tandil, wedana, pangreh praja, bendoro, jurukasir, jurutulis dan centeng-centeng.
Hannah seterusnya menulis bahwa dunia-dunia sekarang didiami banyak penguasa kelaparan dan gila hormat, tidak lain dan tidak bukan mereka pelakunya, justru kami sendiri pelakunya, pemilik keuangan dan modal tetap pemain layar belakang. Kami wasit sekarang. Dan dunia ditentukan seberapa bijak pengaruh kami dan seberapa kuat pengaruh uang menjatuhkan negeri-negeri makmur untuk tinggal kutu dan bangkai. Hannah meneruskan ketikannya, bahwa kekerasan di Hindia dan India dan Afrika dan Filipina bukan Eropa penyebabnya, selebihnya kami dorong negeri-negeri besar semacam Inggris, Rusia, Paris dan Jerman, Jepang untuk saling memangsa membinasakan negeri satu sama lain. Pada akhirnya perang jugalah takdir harus mereka hadapi. Tebusan brilian atas perampasan, adu domba, cerutu bawah permukaan semua kami menentukan. Shelly meremang mendengar itu.
Hannah menyelesaikan tulisannya, besok komite-komite akan membicarakan konflik Afrika dan Inggris.
Sepulang dari sana Shelly tidak banyak bicara. Ia tidak pernah berpikir sifat-sifat rakus miliknya tidak lain moyangnya sendiri. Mungkinkah Shelly hentikan tujuan menguasai Phantom? Lagipula Hannah sudah lebih kejam dan tak kenal ampun darinya. Mungkin Shelly memohon Amanda untuk memberinya enfin. Suaminya kembali ke dalam rumah. Shelly menyiapkan handuk hangat, mengeringkan rambut suaminya dan mereka bicara ngalor ngidul sampai kuliah bertele terjadi.
Shelly sendiri tidak tidur, perempuan itu membelakangi suaminya, pikirannya mengawang-awang kepada Hannah dan kelembutannya, Hannah dan kejahatannya, Hannah dan kekejamannya. Berapa usia perempuan itu? Tiga puluh.
Betapa tidak sebelia itu umurnya dia sudah menjatuhkan dunia ke dalam tangannya sekali kedip. Shelly tidak mengerti kenapa neneknya yang tidak pernah dia kenal begitu kejam dan tidak berperikemanusiaan. Entah bagaimana Hannah punya kemiripan dengan Heidy. Sudarinya yang suka menegur dan mengurusi orang lain.
Hannah punya badan subur dan mukanya lebar namun cantik dan putih. Shelly sering membayangkan jika neneknya yang paling purba itu kuasai setengah keuangan dunia, akan jadi apa bumi seratus tahun ke depan?
Shelly tidak habis pikir Hannah akan meluluh lantahkan dunia sekarang dengan horden politik dan kekerasan rodi. Andaikata Cecil mengikutinya. Andaikata Amanda tidak diculiknya. Mungkin Shelly tidak akan bertemu nenek purbanya yang kejam dan rakus seperti dirinya.
Bersambung ....
__ADS_1