
“Semua kalian kumpulkan harini. Aku sendiri sudah lebih dulu tahu. Silakan tanyakan saja. Kau hormatiku maka aku hormatimu juga.”
“Kenal Herzl?” Maria tumben menanyakan.
“Tentu, kenapa Nyonya?”
Maria sedikit pitam.
“Mereka merespon sangat cepat, satu-satunya tidak ada selain politik dan uang, kau sebutkan itu hanya belum sebanding dengan kami, maafkan jika menyakitkan. Theodore Herzl hanya pemancing saja, memang pengaruhnya bukan main. Tetapi semata pelancaran politik. Ya, keraguan-raguan umum saja, menurutnya semua kaum pilihan harus bersatu dengan satu tujuan sama, satu pemikiran sama yang mempertemukan kekuatan kaum pilihan untuk terus berkembang.”
“Sedengarku, Herzl, merumuskan pentingnya pemerintahan baru, pemerintahan semata memang hanya dan untuk kaum pilihan, maksud siangnya pembentukan negara seperti halnya Oranje Vrijsaat atau Transvaal.” sekarang Arnita.
“Tetapi perbandingannya jauh Arnita.” protes Amanda. “Buktinya? Ratu Inggris berhasil punahkan kekuasaan kaum Boer. Kesatuan mereka buyar pecah di atas bumi Afrika Selatan.”
“Kau benar.” Puspita duduk tenang. “Bahwa jatuhnya Transvaal 1902 itu, tepatnya delapan puluh sembilan tahun lamanya, negeri yang sekarang berkuasa besar atas pengaruhnya, Inggris dan Elizabeth, semakin ketiban hutang, mereka melancarkan perang berarti siap untuk hutang selanjutnya. Hanya saja, hanya saja Sri Ratu Viktoria lebih mementingkan kekuasaan dari hanya menebus hutang-hutangnya.”
“Terlalu memang, sangat terlalu.” komentar Maria.
“Mereka menemukan tambang emas di Transvaal, petani-petani Boer melarikan diri melewati sungai Vaal, maka jatuhnya negeri itu berarti tambahan kekuasaan untuk Ratu Viktoria, bagaimana kalian menyikapi itu?” tanya balik Puspita.
“Diskusi menyenangkan, menyenangkan.” kata Amanda. “Demikian jika kaum pilihan itu berikan inves, semakin jelas mereka punya pendapatan besar juga jaman biadab itu, maafkan jika menyakitkan.”
Puspita menganga menutup bibir. “Diskusi menyenangkan.” katanya meringis menyeringai.
“Tidak kalian tahu?” Arnita sekarang. “Banyak peristiwa-peristiwa rahasia belum dunia tahu, nah, sekarang siapa penyumbang listrik terbesar dibumi?”
“Siapa?” Maria melipat kedua tangan ke atas meja.
“Tesla dan Edison, sst! Katanya, mereka pernah juga ketemu satu ruangan, kamar bola, pertemuan diam-diam dengan keluarga dunia.”
“Kalau itu sudah aku lebih dulu dengar.” Amanda mendengar Puspita membisikinya.
Amanda mengangguk-angguk mengerti.
“Sedikit keluar tetapi tidak masalah.” kata Arnita sang juru protokol.
“Manda, kau hubungi saja sudariku, ia mungkin punya jawaban lebih banyak dari semua mereka.”
“Puspita benar.” Maria menutup topi vilt ke bawah tindihan tangannya. “Akhiri saja pertemuan ini.”
“Jangan begitu dulu, nah, mumpung Ratu masih menyukai diskusi, sekarang kita teruskan lompatan lagi.” Arnita kembali.
“Semua kau katakan memang bisa dibenarkan. Tetapi meragukan setelah bukunya sudah kubaca sampai habis, Der Judenstaat,” kata Puspita.
“Apa saja dalam buku itu?” tanya Amanda.
__ADS_1
“Meragukan tetapi cukup layak untuk dibaca, kami sendiri pernah menukarnya dengan Voetsporen, ah, jangan nanti keluar lagi.” Puspita menggenit memandang Amanda.
“Biarkan, mumpung kesempatan, banyak belum manusia tahu,”.
“Tetapi keingintahuan jauh beresiko daripada yang sama sekali bodoh atas segala-galanya.” Maria merundung sikap sudarinya.
Amanda menjembik bibirnya.
“Manusia sendirinya memilih bodoh. Bukan salah pengetahuan.” Puspita membenarkan.
“Kebetulan aku Belanda, bersyukur saja mereka yang tidak tahu menahu dunia dan seisinya, sudah kau katakan tadi kan? Manusia punya prakarsa memilih. Mengartikan juga mereka punya asas masing-masing.”
“Bukan berarti tolol juga Maria.” Arnita menyikuti sikut tangan perempuan peranakan itu.
“Seterusnya,” Puspita membacakan giliran untuknya. “Kemunculan itu sudah kesaksian akhirnya. The Protokols of the Elders Zion. The Protokols of the Meetings of Learned Elders Zion. Kedua-duanya hanya pedoman atau unsur-unsur hukum mereka bikin dan tentukan sendiri. Tetapi bisa nanti diteruskan?”
“Tentu bisa,” jawab Amanda.
“Amanda tenang sekali persis Baginda Yakub,” Arnita melirik diam-diam minta perhatian.
Amanda melengos jengkel.
“Menurut keabsahan sumber, kami sendirinya melakukan konperensi, untuk rundukan dunia dengan undang-undang sudah disahkan pimpinan besar kaum pilihan, habiskan bangsa-bangsa lain dengan kehancuran politiknya, manusianya dengan hancurkan hukum-hukum kebiasaan mereka, dan itu tidak bisa kami buktikan benar tidaknya, benar tidaknya justru bangsa besar kebanyakan mintakan kebebasan, maka kami berikan kemauan mereka, bukan begitu mereka hancurkan sendirinya negeri itu? Bukan salah kami. Menarik juga, komentar publik bisa benar atau sama sekali keliru, kami benar mengatur pers dan politik, mungkin ekonomi juga, tetapi sumbernya satu saja; tergantung keadaan negeri dan pimpinan negeri itu sendiri. Bagaimana maunya?” Puspita mengutip tajuk pertemuan keluarga dunia.
“Ya,” Arnita menanggapi. “Bukan salah kaum itu juga, yang benar seperti katamu, kerusakan bangsa akibat pimpinan itu sendiri, ia gagal menuntun bangsanya, bukan kesalahan rakyatnya, kaum lemah hanya kurban manusia-manusia besar dan rakus luar sana.”
“Memang kewajiban bekerja saja. Tidak ada yang penting. Sudah jangan tatap aku.”
Puspita tertawa diam-diam menatap kertas-kertas acara.
“Siapa selanjutnya?” Puspita mencoreng urutannya sudah selesai.
“Aku!” Maria menyambar dokumen dengan buru-buru.
“Tenang Maria. Gajimu tidak dimakan bangkai.” hibur Arnita.
“Bisakah kau diam?” Maria menggigit pena menggores dengan telunjuk ke kertas acara.
“Sudah bisa mulai?”
“Tentu silakan.” Amanda menyilakan.
“Aku mengambil penting saja, karena diskusi dengan tanggapan, maka sendirinya harus bisa berikan keuntungan, nah, langsung saja: kaum pilihan terbesar sama seperti peranakan, mereka sendirinya dihubungkan satu pribadi dan satu watak, maka jelas demikian sama hubungan dengan le juif eratnt, kaum pengelana sejak Jahiliyah, begitu banyak pecahan darah mereka yang mewarnai hubungan manusia sekarang. Sebuahnya Syatharien, Lyarien dan semua itu semasa kekaisaran Abbasiah. Dalam pada itu kaum pilihan pernah menaklukan juga daerah-daerah kekuasaannya, Kananiah, merampok, merampas penduduk di sana. Mereka membangun hunian-hunian sendiri, menggunakan bahasa manusia mendekati Pancatantra itu kalau di sini, sebuahnya Syiriak, Akadian dan Phinisian.”
“Di mana-mana jaman penindasan, memang haruskan siapa paling kuat untuk terus hidup, persoalannya, bagaimana kau menanggapi jika semua sudah tidak punya pengaruh untuk sekarang?” Puspita meragukan.
__ADS_1
“Terserah. Kalau begitu aku pulang saja.”
“Jangan Maria!” Amanda menggarang sesaat.
“Ada pepatah Prancis yang sangat mendominasi kehidupan segala jaman.” Puspita menghitung lewat jarinya.
“Kesetaraan, kebebasan, persaudaraan. Ketiga kandungan revolusioner purba, yang isinya terus diperbarui, pernah kalian tahu? Sebuah konperen kaum pilihan pernah berlangsung seratus tahun lamanya, mereka menyerukan semboyan Joan Jaques Rosseau sudah ketinggalan seratus abad dengan mereka, mula-mulanya aku meragukan, setelah mendengar sendiri lebihnya percaya: Kita tidak lain manusia pertama-tama menyatakan kebebasan kepada bumi manusia, liberte, liberal, liberalis, liberasi, kebersamaan, egalite, dan fraternite, persaudaraan, kata risalah itu, katanya mereka bangsa-bangsa besar melupakan kami, bodohnya mengulang-ulang semua kami punya gagasan. Itu katanya. Bahkan, bahkan, bahkan sikap keberlebihan mereka terhadap semboyan kosong itu, sadar tidak sadar sudah mengajarkan nilai-nilai sebenarnya untuk hapus kesetaraan, kebebasan dan persaudaraan di atas.”
“Kesimpulan?” Arnita.
“Ini sangat sederhana sekali, kecuali kau buduk tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti itu lebih busuk lagi, mudahnya semangat revolusi yang menyengat negeri-negeri besar itu, mereka yang dibutakan hukum-hukum Eropa sudah kurban atas kesadaran-kesadaran intelektual, hanya demi kebebasan, kesetaraan, persaudaraan. Memang perlu ada dikurbankan. Tetapi bukan itu tujuannya. Membesarnya kebebasan dimuka bumi bukan semakin membesarkan manusia untuk mengenal kebebasan, kesetaraan, persaudaraan. Justru semakin menghabisi manusianya untuk berebut saling binasakan satu sama lain.”
“Sekarang aku mengerti.”
“Jangan emosi Pita.” Amanda menasehati.
“Maafkan Arnita, sudah lama aku berada di bawah kalian, jadi sikapku semakin keras sebagai halnya kalian.”
“Tidak masalah.” Arnita sedikit meriyut hadapi Puspita mudah marah-marah persis Marie.
“Nah, nah, Mel kau diam saja?” Amanda menyinggung canda dengan sudarinya.
“Memang bukan giliranku kan?”
“Sekarang giliranmu.” kata Arnita meletakan kertas dokumen dilak merah padam.
“Aku menangani keadaan belum lama saja, seperti sudah kalian tahu Uni Sovyet sudah tumbang sekarang, tahukah kalian? Bahwa kenyataan dulunya, sebagian terbesar komite sentral partai komunis, tidak lain kaum itu-itu juga, dan perlu kau atau aku sendiri catat, negara pertama mengakui Israel sudah berdiri jadi bangsa, masih itu-itu juga Sovyet, bahkan keterangan jauhnya negara itu bersedia melindungi Israel dengan balabantuan militernya. Meski dasawarsa sekarang Rusia menentang Israel juga, tetapi angin kemenangan seterusnya berkuasa atas kaum pilihan. Rusia selalu mempertentang soal-soal bangsa pilihan itu, mereka berjibaku bawah pantat raja, itu ibaratnya, mengaku menentang toh hasilnya lebih miring ke dukungan. Semua dilakukan atas dan hanya keseimbangan kekuasaan, mereka hisap juga susu-susu serigala itu.”
“Aku suka penjelasanmu.” Puspita menambahkan. “Seorang Jewis bisa saja berseragam kapitalis, contohnya usahawan, bankir, rentenir, pabrik-pabrik pangan dan makanan, bahkan komunis mereka tentang hebat pun bisa kena santap! O, bisa juga mengelabui dengan cara-cara bertahan hidup seperti Yugoslavia sampai Amerika. Yang dasarnya kepentingan mereka tetap atas Talmud dan kelangsungan rohani Talmud hidup karena satu pribadi kaum pilihan.”
“Masih ada lagi?” Amanda persilakan.
“Tentu ada adikku.” Maria membuka kertas miliknya. “Satu lagi mungkin ini penting. Jadi aku katakan saja, aku mengutip Benjamin Franklin, pimpinan AS 1789 silam, katanya dalam risalah surat-surat pribadi, sangat pribadi sifatnya, memang tidak disebutkan jelas siapa dimaksud Benjamin, akan tetapi sepenuh benar pasti kaum itu-itu juga. Nah, sejak mula-mula lebih jelasnya 1800 tahun lamanya, orang-orang itu katanya mengeluhkan nasib mereka alami, perbudakan, diusir bahkan ditindas dan ditarik kuda sampai putus. Kalian harus mendengar, semisal kebudayaan sekarang berikan tanah Palestina, mereka bersikeras mencari alasan-alasan untuk tidak kembali ke sana. Mengapa? Kaum itu tidak bisa menghisap darah sesamanya. Maka mereka berikan hutang hanya untuk menyerap dan menghabisi manusia lain sampai keping. Mereka vampir yang tidak bisa hidup dengan vampir lain. Kaum pilihan kesulitan hidup dengan sebangsa sendiri. Mereka harus hidup dengan Nasrani atau bukan golongan mereka sendiri. Diakhir semua itu kalian harus mengusir mereka atas Amerika, kalau tidak keturunan kalian memanggil-manggil sampai ke perut kuburan kalian. Pandangan kaum pilihan tidak pernah searah dengan kebebasan Eropa, mereka memandang sendiri dunianya, kalian hanya menunggu habis di tangan mereka, selamanya pikiran mereka sukar berubah seperti macan tutul tidak bisa menyesuaikan hidup dengan singa. Mereka berusaha keras punahkan institusi kita. Mereka hanya bisa dihabisi dengan kekuatan institusi. Melahirkan diri diluar kekuatan kaum pilihan.”
“Kau sengaja memojokan?” Puspita keberatan.
“Sebaiknya makan-makan dulu.” Amanda menyarankan. “Masih ada dua jam lagi.” katanya melihat arloji gantung saku putihnya.
“Bukan tidak sengaja Pita. Memang aku hanya membela suaraku di sini.”
“Kau tertekan akibat kesalahanmu sendiri.”
“Aku tidak peduli.”
“Katakan sekali lagi!” Puspita berdiri menekan pundak Maria.
__ADS_1
Maria pergi keluar dengan Arnita.
Bersambung ....