Hammersmith Servant

Hammersmith Servant
Pesta besar


__ADS_3

Marry benar-benar mengadakan acara besar-besaran. Perempuan itu mengundang tiga puluh ribu tamu di pelataran gedung Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen. Pagelaran fasion itu dinamakan Malam-Malam Pemilihan Putri Kecantikan. Bukan main antusias media-media untuk meliputnya. Bukan main peserta-peserta sudah diajukan untuk semakin cantik dan menawan.


Panggung dihias dekorasi sederhana dengan bolam-bolam kanan kiri. Musik-musik ibukota juga diundang hadir, hiburan komedi dan lenong, hiburan operet dan santap makanan tradisional. Marry menyiapkan sejak dua hari hilangnya Paulette, sedari pagi banyak persiapan dan busana terus menerus, dicocokan ke model-model pilihan untuk catwalk. Mereka-mereka dibariskan ke sudut-sudut panggung, dinilai bebet bobotnya, jumlah makanan dan bentuk tubuh hingga jam tidur, kami atur semuanya. Penuturan asisten Marry. Selanjutnya ukuran kaus kaki, kasut dan ikat pinggang juga penting, mereka kesulitan dalam menata-nata rambut, modelnya berbeda-beda. Ada brunette, lembayang, jambul. Lima belas partisipan sudah mendaftarkan diri untuk menjadi peraga busana.


Aku beranikan diri akibat semua perempuan. Tidak ada lelaki. Itu katanya.


Kesaksian itu tentu jadi babak penentuan, adakah mereka menang atau hanya sebatas patung? Mari kita cari tahu. Marry sendiri menggambar lima puluh gaun dan pakaian feminim. Ada cabaret, hiasan rambut dan sirkam, kami punya crinoline juga. Mereka kesulitan untuk yang belakang ini. Katanya.


Satu hari itu kontestan sudah berdiri untuk siap dibedak, disisir dan ditata rambutnya. Bayangkan saja, kami habiskan lima jepitan rambut untuk roll kepala mereka. Dan itu memang benar. Ada lima perempuan berambut ikal di mana belum pernah ke salon. Justru pengalaman pertama ini, kami punya tujuan merawat diri semakin baik dan terampil, kami diajarkan biola, memasak dan balet. Betulkah itu?


Kenyataannya memang begitu. Mereka yang masuk asrama dua hari memang diberikan tempat untuk latihan bakat masing-masing. Kami sendiri tidak merasa kesulitan. Marry sangat baik dan tidak menuntut berlebihan. Kami merasa nyaman bekerjasama dengannya. Putri-putri kecantikan itu ada yang berlatih kuda, polo bahkan ski air di Purmerend Eiland. Untuk urusan pakaian mereka kami arahkan ke bentuk maksimal untuk usia mereka. Antaranya delapan belas hanya boleh terusan sedengkul, dan gaun hanya boleh sedengkul. Dua puluhan sudah kami latih gerakan gemulai, pandangan difokuskan dan kedua mata hanya boleh menengok kanan kiri setelah mondar-mandir dua kali. Penuturan coach Chintami.


Chintami mengungkapkan. Mereka ada yang serius dan tidak, yang serius biasanya tidak adanya dukungan, makanya dia berusaha bangun sendiri hidupnya. Perempuan pengasuh sanggar model itu, menerangkan bahwa, kalian boleh gunakan kesempatan sebaik mungkin, perempuan tidak akan berakhir di dapur. Kalian beruntung bisa mengikuti kesempatan besar ini. Seterusnya dia mengajarkan yoga untuk ketenangan, mengajak mengobrol dan menurutnya sesi mengobrol sangat penting, dari sini kita bisa tahu, keadaan dan fisik dan mental mereka. Jadi tidak ada saling menutupi. Kata Chintami.


Marry percayakan Chintami untuk menjadi mentor. Perempuan itu diketahui sudah lulus Berlin lima belas tahun lamanya, usianya ketika itu dua puluh tahun, bisnis diambilnya adalah investasi, dan kemampuannya justru mendukung kesenian. Perancang busana sebuahnya. Diumurnya tiga puluh tahun sekarang, Chintami bermaksud ingin mendidik perempuan-perempuan terkebelakang, agar sama maju dan sukses sepertinya.


Chintami katakan Marry sosok supel yang suka bercanda, aku mengagumi sikap pemurahnya, mungkin kami sepakat membuka butik karena saking dekatnya.


Mereka serasi!


Sekarang malam final untuk pementasan lima belas model dadakan. Akankah mereka mampu persembahkan kehebatan? Meski cuma dua hari persiapan.


Pembawa acara tidak lain Rey, yang mana sekarang berprofesi komedian, lelaki itu menepuk tangan, keluar Marry mewakili lima belas anak asuhnya. “Nyonya Marry, akan menunjukan kelima model hasil didikannya. Kita sambut luarbiasa penampilannya!”

__ADS_1


Satu persatu peraga busana mulai tampil. Mereka melenggok kanan kiri. Menampakan senyuman. Menampakan gerak gerik kaki. Menampakan gemerlapan bulumata sampai gigi seputih mutiara. Satu persatu model pakaian dari lena, katun, lasting, blacu dan beledu mulai dipamerkan, dan terakhir sutra. Pakaian paling formal sampai jaman tengah dihadirkan serupa lukisan-lukisan Abad 20 dan 19. Tidak ketinggalan batik Parang Kusumo, Lawean, tenunan Balaraja, cowak pada jarik, gombak untuk leher, anyaman topi Tangerang sampai-sampai batik Pekalongan. Dominasi perak, medalion dan cincin, sabut permata menghiasi telunjuk sampai sabuk perempuan, mereka menekuk satu tangan ke pinggang, kembali maju mundur disaksikan ratusan penonton. Sisanya menonton layar tancap di lapangan. Maria sendiri hadir dengan baju jas putih dengan dalaman kaus ketat. Amanda mengenakan seragam. Sarah datang memakai jas merah anggur.


Sementara Melissa memangku Suszie yang ingin tampil ke panggung. Beberapa kali balita itu merengek mengalahkan Jeanette yang suka senyum namun anteng.


Penampilan kesepuluh model sudah selesai. Tinggal satu penampilan belum dilaksanakan. Semua berkumpul untuk istirahat. Amanda membiarkan Marry berembug dengan Chintami dan rekan-rekan bisnis. Melissa tahu-tahu mendatanginya, ia mengajak Amanda untuk ke kamar rias. Mereka berdua memasuki skene. Amanda diberitakan bahwa Paulette sudah kembali.


“Syukurlah. Kau siarkan segera.”


Melissa tiba-tiba menyeringai. Amanda terpukau mendapati Melissa senyum.


“Kau tidak pernah senyum. Kenapa tidak pernah senyum? Wajahmu manis sekali.”


Melissa menjauhi Amanda kemudian merobek-robek mukanya sendiri. Amanda terperangah di mana Melissa tidak lain Cecil.


“Perempuan itu aku biarkan sibuk dengan Adeline.”


Jauh di ruangan kantor Melissa bertengkar dengan Adeline akibat semua data-data keluarga dunia hilang seluruhnya.


“Dengarkan, Amanda, kau harus ikut aku!”


“Tidak bisa Cil! Tidak!”


“Aku tahu kau sangat mencintai Marry, Marry sudah seperti anakmu sendiri, mamaku adalah juga mamamu Amanda, aku sangat merindukan mamaku!”

__ADS_1


“Sudah, sudah, aku tahu kau pelaku kematian penyiar itu.”


“Dari mana kau tahu?”


“Sekarang di mana Shelly? Aku bisa berikan enfin.”


“Kurasa tidak, Manda, Shelly sudah tidak mau memaafkanmu.”


“Kau kenapa masih mau baik padaku?”


Cecil tertawa sesaat. Memeluk Amanda.


“Wajahmu persis ibuku, Elissah Smevendimen Dvorak ...” Cecil meniup puja mantra ke kuping Amanda. Amanda ketiduran di dalam bopongan Cecil.


Puspita membuka skene dan terkejut. “Kau jangan bikin keributan tolol!”


“Sementara saja! Ibu bisa kita selamatkan kak! Kau tidak mau mencium ibumu? Ibumu! Elissah!”


“Biarkan ibumu dan ibuku damai, holocoust bukan urusan kita Cil.”


Cecil tidak terima. Perempuan itu membakar sekujur punggungnya. Sayap kelelawar miliknya membesar dan terbang menjauh. Puspita memukul meja keras-keras.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2