Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Si Keras Kepala


__ADS_3

"Assalamualaikum, Nak Jihan. Apa Devan ada di rumah?" tanya dokter Arif dari telpon.


“Ahh iya. Tolong jangan biarkan dia keluar rumah hari ini, ya. Om akan ke sana, sebentar lagi sampai," sambung dokter Arif lagi.


Setelah menutup telpon, dokter Arif melajukan mobilnya. Setengah jam kemudian mereka sampai tempat tujuan. Dua penjaga segera membuka gerbang ketika melihat mobil dokter Arif.


Baru turun dari mobil, Jihan sudah menunggu di depan pintu. "Om Arif," sambut Jihan di depan pintu. "Alhamdulillah Om sudah sampai."


"Apa gejalanya kambuh lagi?" tanya dokter Arif sedikit cemas.


Jihan segera menggeleng. “Tidak Om. Hanya saja Devan tadi akan keluar, tapi saya paksa agar bisa menunggu sebentar."


Dokter Arif menghela napas lega. “Alhamdulillah Devan tidak apa-apa. Sekarang dimana dia?"


“Ada di dalam, Om. Mari masuk!"


Mereka pun masuk. Tak terkecuali Hanifa. Rupanya Devan sudah menunggu di ruang tamu dengan ponsel di tangannya. Devan cukup terkejut saat matanya tertuju pada Hanifa.


Melihat perubahan wajah Devan saat melihatnya, Hanifa menunduk. Ia tak berani menatap wajah Devan.


“Bagaimana kedaanmu, Nak Devan?"


Devan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. “Saya baik, Dok."


Dokter Arif tersenyum mendengarnya. Ia pun beranjak ke tempat Devan untuk memeriksa kondisi dan suhu tubuhnya.


“Alhamdulillah sudah tidak separah kemarin. Setelah ini, kamu harus lebih peduli sama kesehatanmu," ucap dokter Arif memberi saran.


"Hm," jawab Devan singkat.


“Oh, ya, Devan. Kenalkan ini Hanifa, anak om. Hanifa yang akan menggantikan tugas om untuk sementara waktu. Karena akhir-akhir ini, jadwal om semakin padat. Makanya, Hanifa akan membantu saya untuk mengurus keperluan kamu selama rawat jalan ini," jelas dokter Arif. Hal itu berhasil menerbitkan kerutan di kening laki-laki itu.


“Kamu jangan khawatir. Om akan datang setiap Minggu untuk mengecek kondisi kamu beserta perkembangan kesehatanmu selama dalam pengawasan Hanifa. Meskipun om tidak bisa selalu datang untuk merawat kamu, tapi om harap kamu tetap menjaga kesehatan dan minum obat dengan teratur. Dan om yakin, anak om Hanifa bisa menjalankan tugas om dengan baik."


"Tapi, Dok, saya udah nggak papa. Saya rasa tidak membutuhkan dokter atau perawat lagi, apalagi kayak cewek ini." Devan mengecilkan volume suara di akhir kalimat.


Hanifa merasa sedikit tersinggung mendengar ucapan Devan barusan. Tapi dia tidak boleh lemah. Ini semua dia lakukan untuk ayahnya dan masa depannya. Hanya itu.


“Devan, om tahu kamu tidak akan mau dan setuju dengan hal ini. Tapi jika kamu tidak mau sembuh demi om, setidaknya lakukanlah demi papamu," tutur dokter Arif mencoba meyakinkan Devan.


Ayah begitu sayang kepada Devan. Mungkin karena ayah adalah sahabat dekat papanya Devan. Ya Allah, bukalah hati Devan agar setuju dengan semua ini. Demi kesembuhan dia. Ucap Hanifa dalam hatinya.


Setelah berpikir lama, akhirnya Devan mengalah. Jika bukan karena rasa hormatnya kepada dokter Arif yang sudah ia anggap papa sendiri, mungkin dia akan memilih lebih baik tidak sembuh daripada harus dirawat oleh Hanifa.


Memang selama ini Devan sangat jarang bahkan hampir tak pernah berinteraksi dengan orang lain termasuk perempuan, kecuali dengan keluarganya atau teman sekelasnya.


“Alhamdulillah kalau Nak Devan sudah setuju. Jadi, mulai besok Hanifa akan menggantikan tugas ayah di sini. Nanti ayah yang antar ke sini, ya."

__ADS_1


“Nggak usah, Yah. Ifa kan bisa naik taxi atau ojek online," tolak Hanifa halus.


Mendengar keinginan putrinya, Dokter Arif tersenyum. “Ya sudah, terserah Ifa saja," ucapnya sembari mengemas barang-barangnya.


“Kalau begitu, kami pamit dulu, ya, Nak Jihan, Devan," ucapnya lagi setelah urusan mereka selesai.


“Kok cepat banget Om? Bi Mar baru mau buatin teh."


"Maaf tidak bisa lama-lama, Nak Jihan. Soalnya Om masih ada tugas di rumah sakit. Om ke sini juga mau kasih tahu Devan soal ini, supaya besok tidak kaget dengan kedatangan Hanifa." Dokter Arif memberikan penjelasan.


"Terima kasih Om, sudah mau merawat Devan sampai sejauh ini."


“Itu sudah tugas saya, Nak Jihan. Kalau begitu om pamit, ya. Assalamualaikum."


Devan yang sejak tadi diam akhirnya bicara.  "Hati-hati Dok," ucapnya.


Dokter Arif tersenyum dan mengangguk. Sebelum beranjak pergi bersama ayahnya, Hanifa sempat melihat ke arah Devan. Dan tepat saat itu Devan juga tengah melihatnya dengan wajah yang sulit diterka. Segera hanifa mengalihkan pandangan dan berpamitan juga.


Jihan mengantar mereka sampai pintu depan. Sedangkan Devan langsung pergi ke kamarnya. Saat sedang duduk di balkon kamarnya, diam-diam ia melihat mobil dokter Arif keluar gerbang. Kemudian beralih melihat tangannya yang masih diperban.


Kenapa sih takdir gue ketemu sama tu cewek. Jadi kena luka gini kan? gumam Devan kemudian masuk ke dalam karena cuacanya sangat dingin.


***


Waktu berjalan begitu cepat. Tak ada yang bisa menghentikan, mengundurkan ataupun memajukannya. Dalam hidup, ketika seseorang merasa bahagia, ia ingin menghentikan waktu saat itu juga agar kebahagiaan itu tetap bersamanya.


Dari perpaduan warna itulah, akan menghasilkan sesuatu yang indah. Pada kenyataannya, Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup selalu putih, juga tak pernah menetapkan hidup selalu hitam. Namun memadukan semua warna kehidupan menjadi pelangi yang indah.


Tuhan memberikan bahagia agar manusia bisa bersyukur dengan hatinya. Tuhan memberikan ujian agar manusia bisa belajar pentingnya syukur itu, serta menilai manusia sampai mana ia mengenal Tuhan-Nya.


Jika benar-benar mengenal-Nya, maka ia akan sabar dan sadar akan hakikat dari ujian itu.


Bahwasanya ujian sebenarnya melatih manusia agar menjadi kuat dan dewasa. Jika berhasil melewatinya, maka dia sudah mendapat keuntungan yang besar.


Sayyidina Ali Bin Abi Thalib r.a., pernah berkata  Yakinlah ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani),  yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.


Kata mutiara itulah yang selalu Hanifa pegang dalam menjalani kehidupan ini. Dia selalu yakin kalau perjuangannya selama ini akan ada hasilnya. Allah Maha Melihat, tak ada sesuatu apapun yang luput dari penglihatan-Nya.


Setelah membaca isi buku diary nya, Hanifa beralih melihat kalender di sampingnya. Melingkari tanggal-tanggal penting dengan spidol merahnya, serta memberikan keterangan di bawahnya.


“Senin depan semester, libur satu minggu. Awal Januari les, pertengahan Februari ujian praktik. Dan pertengahan Maret akhir dari ujian, tepatnya Ujian Nasional," gumamnya pada dirinya sendiri.


Cling!


Suara ponsel menghentikan aktivitasnya, pertanda ada pesan masuk. Segera ia meraih ponselnya yang tak jauh dari tempat duduknya. Kemudian membukanya.


...Ayah ♡...

__ADS_1


Assalamualaikum nak.


Sudah tidur?


Ayah mau kasih tahu


kalau obatnya Devan sudah ayah taruh di dalam tas yang ayah kasih kemarin.


^^^Waalaikumussalam.^^^


^^^Belum Yah. ^^^


^^^Nanti Ifa cek lagi ya,^^^


Ya sudah kalau begitu,


Ifa tidurnya jangan terlalu larut ya.


^^^Iya, Yah.^^^


^^^Ayah sudah makan?^^^


Sudah, Nak.


Oh iya, ayah sudah menyuruh sopir


pribadi ayah untuk antar jemput Ifa.


Jadi, Ifa tidak perlu naik taxi atau


angkot, ya.


^^^Terima kasih, Yah.^^^


Sama-sama, Nak.


Sekarang Ifa istirahat ya.


Hanifa menutup ponselnya. Dia bahagia setelah berbincang dengan ayahnya, meski hanya sebentar. Hanifa sangat paham tentang kesibukan ayahnya sebagai seorang dokter bedah. Meskipun hanya berstatus ayah angkat, bagi Hanifa dokter Arif sudah menjadi ayah yang sempurna untuknya.


Begitu juga dengan dokter Arif, meski hanya anak angkat, namun kasih sayang dokter Arif kepada Hanifa melebihi kasih sayang seorang ayah kandung kepada anaknya. Dan itu membuat Hanifa sangat bersyukur.


Setelah itu, Hanifa bergegas memeriksa tas yang diberikan oleh ayahnya sore tadi. Di dalamnya sudah terdapat beberapa lembar obat dengan ukuran yang berbeda.


Kemudian menutupnya kembali dan langsung mempersiapkan buku untuk pelajaran esok. Tak lupa mempersiapkan hatinya untuk berhadapan dengan menusia es seperti Devan besok.


***

__ADS_1


__ADS_2