Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Sebuah Pertanyaan


__ADS_3

"Yang benar saja?! Minggu depan mulai les, dan dua minggu lagi ujian praktik. Setelah itu ujian akhir sekolah, dan ..." Ayyan memegang kepalanya yang terasa berdenyut setelah kembali dari mading sekolah.


“Ujian Nasional?" Hanifa menyambung ucapan sahabatnya.


“Iya, Fa. Rasanya waktu ini muternya cepet banget. Hwaaa ..."


Hanifa hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya yang sudah seperti anak kecil. “Emangnya kenapa Ayy? Lebih cepat lebih baik. Lagian jadwal itu sudah ditempel dua minggu yang lalu. Katanya mau cepet-cepet lulus terus masuk kampus," tutur Hanifa mengingat ucapan Ayyan tempo hari.


Ayyan masih merengek. "Tapi nggak secepet ini juga, Fa."


"Sudah, Ayy. Nggak malu apa diliatin sama siswa lain?"


Seketika Ayyan terdiam. Ia baru menyadari kalau mereka masih berada di kantin sekolah. Bayangan jadwal ujian tadi membuatnya menjadi kurang waras.


“Aku mau pergi dulu ya, bentar," pamit Hanifa merapikan bukunya dan hendak bergegas pergi.


Ayyan menggarukkan kepalanya bingung. “Mau kemana?"


Hanifa masih sibuk dengan bukunya.


“Aku ada urusan bentar. Dah!" ucapnya melambaikan tangan.


Ayyan berdecak dengan tingkah sahabatnya yang akhir-akhir ini sering sibuk. Entah ada urusan apa, Ayyan tidak tahu.


Sebenernya siapa yang mau dia temui? tanya Ayyan dalam hatinya.


***


Hanifa melangkahkan kakinya ke tempat yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi. Dengan tas plastik di salah satu tangannya, matanya menyapu tiap sudut di sekolah itu, siapa tahu dia menemukan batang hidung si rambut pirang. Siapa lagi kalau bukan Devan.


Pilihan terakhir kakinya adalah lapangan basket. Benar saja, sosok itu tengah sibuk memutar-mutar bola kemudian memasukkannya ke dalam ring. Namun karena belum terlalu siap, lompatannya sedikit miring. Alhasil, bola itu tidak masuk ring dan memantul ke arah Hanifa.


“Aaaa!" Hanifa berteriak. Untungnya bola basket itu tidak mengenai wajahnya.


“Eh, Lo nggak papa, kan?" Devan berlari mendekati Hanifa.


Hanifa membuka matanya, lalu mengusap dada berulang kali. Kejadian itu benar-benar membuat jantungnya terasa ingin lepas dari tempatnya.


“A-aku nggak papa kok."


Devan menghela napas lega. "Syukurlah.”


“Ngapain lo ke sini? tumben amat," tanya Devan mengambil bola basket di dekat Hanifa berdiri, kemudian duduk.


“Aku ke sini mau kasih ini." Hanifa memberikan tas plastik itu kepada Devan.


Devan yang baru selesai meneguk air minumnya, beralih menatap Hanifa. “Apaan tuh?"


Mendengar respon Devan, Hanifa tersenyum. “Ini aku mau kasih kamu makanan."

__ADS_1


Devan mengerutkan dahinya. "Makanan apaan?"


Hanifa mendengus. "Ya buat dimakan lah, Van. Masa buat dimasukin ke ring basket?"


Melihat wajah Hanifa yang sedikit kesal, Devan tertawa kecil. “Ada-ada saja sih lo. Maksud gue, itu makanan ada kacangnya nggak? Gue alergi soalnya."


Hanifa mengangguk paham. Rupanya dia salah tafsir tadi. "Ini makanan nggak ada kacangnya 100% Van. Insya Allah aman," jawabnya mengacungkan jempol.


Devan menggelengkan kepala dan tertawa kecil melihat tingkah Hanifa yang sudah seperti penjual handal. 


"Tumben banget Lo kasih gue makanan? Lo nggak ada niat jahat kan sama gue?"


“Kamu suudzon mulu deh. Aku ikhlas kok ngasihnya. Yaaa, anggap saja sebagai rasa terima kasih aku karena kamu sudah kasih aku buku yang sangat berharga," jawab Hanifa dengan senyum.


Devan manggut-manggut seraya meraih tas plastik itu. Setelah membukanya, terdapat ia potong roti bakar dengan selai coklat yang terlihat sangat lezat kemudian siap melahap makanan yang ada di dalam kotak bening itu.


Sebelum makanan itu masuk ke mulut Devan, Hanifa mencegahnya. "Baca bismillah dulu, Devan," tegurnya.


Laki-laki itu terkekeh. "Oh iya, lupa gue," ucapnya membaca basmalah kemudian melahapnya.


Hanifa tersenyum melihat Devan seceria itu hari ini. Apalagi melihat wajah yang dihiasi dengan senyumnya. Entah sudah berapa kali ia tersenyum hari ini. Rupanya Hanifa harus segera membuat hadiah untuknya.


“Oh ya. Siput, gue mau tanya sama lo." Devan melirik Hanifa sesaat setelah menggigit beberapa potong roti ke mulutnya.


Hanifa menoleh. "Tanya apa?"


“Kalau ada yang nembak Lo buat jadi pacarnya, Lo mau nggak?"


Dia terdiam sebentar, mengumpulkan beberapa kata untuk menjawab pertanyaan Devan. “Mm ... Kalau aku sih nggak mau terima," jawab Hanifa akhirnya.


Devan manggut-manggut. "Alasannya?"


“Ya karena aku nggak mau pacaran."


Devan mengernyitkan dahinya. "Kalau Lo nggak pacaran, bagaimana lo mau dapet jodoh?"


Mendengar hal itu, Hanifa tertawa kecil. “Jodoh tidak harus didapat lewat pacaran, Van. Buktinya, bunda Khadijah menikah dengan Rasulullah tanpa pacaran kan. Jadi, kenapa harus pacaran dulu baru menikah? Sayyidina Ali mencintai Fatimah sudah lama, tapi dia memendamnya. Dan akhirnya, Allah menjodohkan mereka kan. Jadi, nggak harus lewat proses pacaran dulu.”


Devan membenarkan jawaban Hanifa tadi. Dia sedikit kagum dengan kepribadiannya. "Oke. Berarti kalau ada yang lamar lo, bakal terima dong?"


Hanifa menggeleng. "Nggak.”


Devan membulatkan matanya heran. “Lah kok? Tadi katanya Lo nggak mau pacaran. Sekarang ada yang mau lamar, Lo nggak mau terima. Gimana sih?" gerutunya sambil menggigit lagi potongan roti di tangannya.


Hanifa tertawa kecil melihat Devan kesal. "Masalahnya, aku belum selesai sekolah, Van. Lagian belum ada orang yang ngelamar, gimana mau nerima?"


“Iya juga sih."


“Kamu tanya kayak begitu, tumben banget Van."

__ADS_1


"Hah?" Devan menaikkan kedua alisnya. "Gue mau tahu aja. Lo jangan kira gue kepo ya sama hidup Lo. Gue cuma tanya doang."


Hanifa melirik Devan yang tengah sibuk memakan makanannya.


Devan, Devan, tinggi banget sih gengsinya. Pantesan nggak ada teman. Batinnya.


“Gue bukannya nggak punya teman apalagi pacar. Banyak kok yang mau sama gue. Lo nggak tahu ya, di luar sana, cewek-cewek pada ngantri buat dapetin gue. Tapi gue nggak mau buang waktu buat hal yang gak penting." Devan tiba-tiba menjawab apa yang baru saja Hanifa pikirkan.


Kok Devan bisa tahu apa yang aku pikirin. Apa dia bisa membaca pikiran? Tanya Hanifa dalam hatinya.


Melihat ekspresi heran di wajah Hanifa, Devan tertawa kecil. “Nggak usah begitu juga kali mukanya. Gue bilang kayak begitu karena udah banyak yang tanya kayak begitu sama gue. Makanya gue kasih tau Lo, biar Lo nggak suudzon sama gue."


Perasaan aku nggak pernah suudzon sama ni orang, memang laki-laki aneh. Batin Hanifa dan langsung tersadar dengan sesuatu, ia pun segera merogoh saku roknya.


Kemudian mengeluarkan beberapa lembar obat dan diberikan kepada Devan. Melihat lembaran itu, ekspresi Devan seketika berubah.


“Nggak nafsu lagi gue." Devan mengembalikan sepotong roti di tangannya.


“Jangan begitu dong, Van. Nggak baik tahu. Makanannya harus dihabisin ya, setelah itu minum obat ini. Kita harus menghargai usaha orang lain." Hanifa berusaha menghibur Devan agar tidak bosan meminum obatnya.


“Dan satu lagi." Hanifa berbalik dan menatap Devan dengan tersenyum. “Prinsip kamu sangat baik Van. Aku yakin, Allah telah menyiapkan teman terbaik dalam hidup kamu.”


“Iya. Iya. Bawel." Devan mengambil lembaran obat setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Hanifa.


Hanifa kembali tersenyum. “Oke. Kalau begitu, aku masuk kelas dulu ya. Ingat ya, harus dihabisin dan diminum obatnya," titahnya kemudian beranjak pergi.


"Ya sudah sono pergi. Hus! Hus!" usir Devan diakhiri gelengan pelan dan tawa kecilnya. “Dasar siput bawel."


***


Hari ini pelajaran sekolah selesai lebih awal. Oleh karena itu, Hanifa dan beberapa siswa lainnya bisa pulang lebih cepat. Hanifa berjalan sendiri ke gerbang sekolah. Ayyan ada jadwal komisaris, makanya dia tidak bisa pulang bersama Hanifa.


Saat sedang menunggu angkot, suara yang sangat familiar menggema di telinganya. Hanifa menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


Senyumnya mengembang melihat wajah sejuk di balik kaca mobil yang terbuka. Segera dia melangkahkan kakinya ke mobil yang menepi tak jauh dari tempat ia berdiri.


“Sudah pulang, Nak?" tanya dokter Arif tersenyum hangat ke arah putrinya. Ia pun segera menyuruhnya masuk.


Sebelum menjawab, Hanifa masuk mobil. Setelah itu tangannya meraih punggung tangan ayahnya kemudian menciumnya. “Alhamdulillah sudah, Yah."


“Hari ini Ayah antar pulang, ya, sekalian mau ajak Hanifa makan siang. Ifa nggak ada kegiatan, kan?"


Hanifa segera menggeleng dan tersenyum. “Alhamdulillah nggak ada, Yah. Tapi mungkin Ifa mau ke rumah Devan sebentar."


“Kalau begitu, sekalian kita ajak Devan makan siang bareng. Ayah juga mau lihat kondisinya dan perkembangan tumor di kepalanya."


Mendengar kalimat terakhir ayahnya, Hanifa sedih. Baru saja dia melihat Devan bisa tersenyum, seakan tumor itu tidak ada dalam kehidupannya. Tapi sekarang? Penyakit itu seakan selalu menjadi tabir penghalang bagi  kebahagiaan Devan.


“Ayah, apa ada kemungkinan Devan bisa disembuhkan?” Hanifa tiba-tiba bertanya dengan nada khawatir kepada ayahnya.

__ADS_1


Melihat wajah putrinya, dokter Arif tersenyum. “Kita serahkan semuanya pada Allah nak. Dialah yang berhak menentukan hidup seseorang."


****


__ADS_2