
Sudah pukul 11.00 siang saat semua anggota istirahat dan memutuskan untuk menyudahi latihan hari ini. Sebelum berangkat pulang, Hanifa dan memilih beristirahat di bangku panjang bawah pohon mangga sembari menikmati minuman yang sudah dibelinya.
Saat menikmati minumannya, Hanifa teringat Devan. Terutama rencananya saat akan bertanya pada Devan mengenai kabarnya. Tetapi niatnya batal karena Wafi memanggilnya.
”Woy. Ngelamun aja ni anak. Ntar kesambet jin Ifrit bau tau rasa,” cibir Ayyan yang sejak tadi dikacangi gadis sebelahnya.
"Astagfirullah, Ayyan. Ngagetin aja," gerutu Hanifa langsung menggeser posisi agar temannya itu bisa duduk.
"Lagi mikirin apa, sih, sampai-sampai kehadiran aku kamu nggak sadar?" tanya Ayyan.
Hanifa menarik napasnya panjang dan mengeluarkan pelan. “Ayy, kamu tahu nggak? Kemarin pas di perpustkaan Devan tiba-tiba pingsan."
Ayyan membelalakkan matanya kaget. “Serius, Fa?"
Hanifa mengangguk. “Iya, Ayy. Dan lebih mengherankan, tangannya itu dingin banget padahal badannya panas."
“Terus?"
“Ya, aku berusaha cari bantuan dan alhamdulillah ada kak Wafi yang bawa dia ke UKS."
“Bentar, deh. Tadi yang jadi pemimpin upacara itu bukannya si Devan ya? Kan dia sakit, kok bisa ikut latihan?"
Hanifa menggeleng pelan. Ia juga tidak tahu kenapa cowok itu ikut latihan. “Makanya itu, Ayy. Tadi aku mau coba tanya ke dia keadaannya, tapi keburu dipanggil kak Wafi."
Ayyan terlihat manggut-manggut. Mungkin sudah paham dengan penjelasan Hanifa. “Yah, sayang sekali. Tapi semoga keadaaannya baik-baik saja, ya."
“Aamiin," ucap Hanifa. "Ya sudah Ayy, kita pulang, yuk!"
Mereka berdua akhirnya pulang setelah awan gelap sedikit menghiasi langit Garut saat itu.
Di waktu yang sama, Devan pun memilih pulang saat rintik air mulai mengguyur bumi. Ia melajukan motornya meskipun hujan benar-benar membasahi tubuhnya.
Begitu tiba di rumahnya, Devan disambut dengan kehadiran dokter Arif yang sudah memasang wajah tegas.
“Dokter? Ngapain Dokter ke sini?" tanya Devan tidak memedulikan tatapan dari kakaknya.
“Devan, Om sudah berbaik hati mengizinkan kamu dirawat di rumah dan sekarang? Kamu pergi latihan dan pulang dalam keadaan basah kuyup.”
Devan menghela napasnya berat. Ia tahu jika pria itu pasti akan mengatakan hal seperti ini. Lagi.
“Oke, Dok. Saya berterima kasih karena sudah mengizinkan saya pulang. Tapi saya sudah baik-baik saja kok. Saya nggak mau kalau penyakit ini nguasain hidup saya."
“Iya, Om paham. Tapi kamu harus janji sama Om kalau kamu harus tetap menjaga kesehatan dan istirahat dengan teratur."
Devan mengangguk. Baginya, dokter Arif adalah papa kedua baginya. Dia bisa merasakan kasih sayang seorang papa sejak bertemu dengannya. Maka tak heran Devan lebih memilih mendengar ucapan dokter Arif daripada Jihan, saudaranya sendiri.
“Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu mandi dan ganti pakaian. Setelah itu minum obat dan istirahat," titah dokter Arif.
“Iya, Dok. Permisi," jawabnya dan langsung pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Jihan yang sedari tadi memperhatikan obrolan adiknya dengan dokter Arif pun ikut mengucapkan terima kasih sudah mau datang dan merawat adiknya yang keras kepala itu. Jihan berharap, semoga adiknya bisa pulih seperti sedia kala.
“Dokter mau pulang?"
“Iya, Nak Jihan. Om masih banyak pasien di rumah sakit. Kalau begitu, Om pamit ya."
“Iya, Om. Terima kasih banyak, ya, sudah membantu Devan."
Dokter Arif tersenyum. "Sama-sama, Nak. Sudah menjadi kewajiban saya. Lagian, kalian berdua adalah amanah dari almarhum sahabat Om, Yusuf," tuturnya. "Kalau begitu, Om pamit, ya. Assalamualaikum."
"Hati-hati, Om. Waalaikumussalam."
Setelah kepergian dokter Arif, Jihan segera menyuruh bi Mar untuk membuatkan teh hangat untuk Devan dan mengantarkannya ke kamar Devan.
***
“Hanifa," panggil ummi Fatimah dari dapur.
Mendengar namanya dipanggil, Hanifa yang tadi sibuk menulis segera beranjak. “Ummi panggil Ifa?" katanya setelah sampai dapur.
Ummi fatimah yang sibuk dengan adonan kue di tangannya menoleh. "Bisa tolong beliin ummi gula sama tepung di warung, Nak?"
Hanifa dengan cepat mengangguk. "Bisa, Um. Berapa banyak yang harus dibeli?"
“Semuanya 3 kilo, ya. Uangnya ada di laci depan."
“Ya sudah kalau begitu Ifa pergi dulu ya Umm. Assalamualaikum."
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di warung tempat biasa Hanifa membeli bahan-bahan kue. Namun sayangnya, bahan yang Hanifa perlukan di warung sudah habis. Jadi terpaksa ia berjalan kaki sedikit lebih jauh ke supermarket dekat jalan raya.
Setelah semua bahan lengkap, Hanifa segera beranjak pulang. Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
“Hanifa," suara bariton yang sangat dia rindukan tiba-tiba ada di depannya
“Ayah?" panggil Hanifa tersenyum. Spontan, ia segera mencium punggung tangan laki-laki yang sangat berharga dalam hidupnya.
“Ayah sedang apa di sini?"
“Nanti Ayah cerita, ya. Sekarang Ayah mau Hanifa temani Ayah makan siang. Bisa?"
Hanifa segera mengangguk. Sejak pertama kali bertemu dokter Arif
waktu kecil, Hanifa benar-benar merasakan sosok ayah darinya. Namun Hanifa kadang-kadang masih memanggil dokter Arif dengan panggilan om meskipun dokter Arif sudah menyuruhnya memanggil dengan panggilan ayah.
Tapi itu semua tak masalah bagi dokter Arif. Apapun nama panggilannya, ia tetap menyayangi Hanifa seperti anak kandungnya.
Bahkan saking sayangnya, dokter Arif sudah berhasil mengadopsi Hanifa sejak umurnya belum genap 5 tahun di salah satu rumah sakit tempatnya magang dulu. Tapi karena belum siap meninggalkan umminya, Hanifa memilih tinggal di panti sampai ia lulus SMA.
Setelah melajukan mobil beberapa menit, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah restoran mewah yang sudah cukup terkenal di kota itu, dan pernah menjadi impian Hanifa untuk membawa umminya makan di sana namun belum tersampaikan.
__ADS_1
Dokter Arif memarkirkan mobilnya. Kemudian menyuruh Hanifa masuk. Setelah memesan beberapa makanan, barulah dokter Arif membuka percakapan.
“Bagaimana keadaan ummi, Nak?"
“Alhamdulillah, Ummi baik, Yah."
“Alhamdulillah."
“Oh iya, Ayah kapan ke Bandung? Ada tugas di sini?" tanya Hanifa sambil memandangi wajah ayahnya dengan tersenyum. Sudah lumayan lama dia tidak melihat wajah teduh itu.
Dokter Arif mengangguk seraya menyeruput cappucino nya, dan bersiap untuk bercerita. “Iya, sayang. Sebenarnya Ayah akan pindah tugas ke Bandung, tapi karena ada beberapa hal yang belum Ayah selesaikan di sana, makanya Ayah belum bisa tinggal di Bandung. Dan juga Ayah punya pasien, dia anak dari sahabat baiknya ayah. Om Yusuf, anaknya mengidap tumor otak.”
Hanifa terkejut mendengarnya. Ia prihatin dengan anak yang diceritakan oleh ayahnya.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Terus sekarang keadaannya bagaimana Yah?"
“Tumornya baru studium 2. Tapi dia tidak mau dirawat di rumah sakit dan memilih untuk rawat jalan. Untuk sekarang, Ayah hanya memberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya.”
Hanifa menghela napas berat. Turut merasakan apa yang dirasakan sosok itu. "Kasihan sekali."
“Iya nak. Apalagi orang tuanya sudah tidak tinggal lagi bersamanya. Mamanya asli Swedia dan menikah dengan Yusuf saat dia sedang mengejar gelar doktornya di sana.”
“Maksud Ayah?"
“Iya. Papanya sudah meninggal 10 tahun lalu. Setelah itu, ibunya memilih kembali ke Swedia dan tidak ada kabar sampai sekarang."
Hanifa dapat merasakan perasaan anak yang di maksud ayahnya.
“Tapi dia anak yang hebat. Dia tidak pernah lupa sholat berjamah. Selama Ayah merawatnya, dia selalu meminta izin untuk bisa ikut jamaah." Dokter Arif menceritakan sosok itu dengan wajah kagum.
“Apa dia bisa disembuhkan, Yah?"
Dokter Arif tersenyum. "Allah tidak pernah menurunkan suatu penyakit tanpa ada obatnya, dan selama manusia itu mau berusaha pasti akan sembuh, separah apapun penyakit itu.
Ayah yakin dia pasti sembuh. Karena dia anak yang kuat. Meskipun keras kepala, tapi dia tidak pernah ingin merepotkan orang lain," pujinya lagi.
Hanifa menghela nafas lega. "Alhamdulillah kalau begitu," ucapnya.
“Dia anak kecil atau sudah menikah Yah?" tanya Hanifa lagi. Rupanya, dia sangat penasaran dengan sosok yang diceritakan ayahnya.
“Dia seusia dengan kamu, Nak. Oh, ya mungkin Ayah punya fotonya. Kamu mau lihat?"
Hanifa mengangguk bersemangat. Segera dokter Arif merogoh saku celananya. Mencari ponsel kemudian mencari beberapa foto dalam galeri ponselnya. Setelah menemukan foto yang dicari, dia menyerahkan foto yang di maksud ke Hanifa.
Hanifa menerima ponsel itu. Matanya menyipit, mencoba meneka orang yang berada dalam foto itu. Kedua alis tebalnya langsung bersatu.
“Ini ...."
Hanifa masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun sebelum membuat hatinya semakin bersedih, ia menyerahkan ponsel itu pada ayahnya.
__ADS_1
***