Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Pendapat Bi Mar Tentang Devan


__ADS_3

Hijab silver panjangnya sesekali tertiup angin pagi yang sedikit dingin. Membelai lembut di wajah putihnya yang sedikit tirus tapi terisi. Senyum ramahnya sudah setia menyapa setiap penjual yang memang sering di jumpainya di tempat ini.


Pagi Ahad ini Hanifa ditemani Salma akan berbelanja beberapa keperluan untuk acara tasyakuran besok. Kini tas yang dibawanya untuk berbelanja sudah setengah penuh dengan berbagai macam sayuran dan buah-buahan.


Meskipun masih terbilang cukup pagi, tapi pembeli di pasar loak ini sudah cukup ramai. Apalagi di hari libur, bisa-bisa para penjual akan menjajakan barang dagangannya lepas sholat subuh. Pasar loak tersebut akan tetap ramai sampai menjelang Dzuhur, bahkan bisa sampai menjelang azan Maghrib.


Setelah semuanya terasa cukup, Hanifa dan Salma memilih jala-jalan di sekitar sayuran. Mencari kira-kira bahan apa yang belum lengkap untuk pembuatan sup. Saat sedang asyik melihat-lihat, suara seseorang menghentikan aktivitasnya.


Saat menoleh, matanya melihat wanita paruh baya dengan keranjang di tangannya yang masih kosong. Rupanya dia baru sampai.


“Bi Mar? Mau beli apa, Bi?" sapa Hanifa diikuti senyum di wajahnya.


Yang disapa tersenyum balik. "Bibi mau beli buah-buahan, Non," jawabnya.


“Bibi ke sini sama siapa?"


"Sama si Aden."


Mendengar nama itu, mata Hanifa menyipit. “Devan ada di sini Bi?"


“Iya non, Ifa. Tapi si Adennya nunggu di depan. Dia malas masuk katanya."


“Oh, ternyata dia bisa ke pasar juga rupanya." Hanifa bergumam.


Salma yang mendengar kakaknya bergumam melirik ke arahnya. “Kak Ifa ngomong apa?"


Hanifa segera menggeleng. "Ah, itu, tidak ada kok, Dek," ujarnya menyangkal.


“Non Ifa beli apa sepagi ini?" Wanita itu berbalik bertanya.


Hanifa tersenyum seraya menunjukkan beberapa barang yang dibelinya. “Ifa boleh bantu cari bahannya, Bi?" tawarnya.


“Alhamdulillah. Dengan senang hati non. Terimakasih, ya.”


"Sama-sama, Bi."


Mereka bertiga berkeliling mengitari setiap sudut pasar. Mencari bahan-bahan yang dimaksud. Melihat banyaknya buah, sayur dan sedikit rempah-rempah  yang dibeli Bi Mar, membuat Hanifa sedikit penasaran.


“Ada acara di rumah ya, Bi?" tanya Hanifa memegang beberapa potong kunyit, dan memasukkannya ke dalam keranjang wanita itu.


“Bibi mau buatkan Aden minuman herbal, Non," kata Bi Mar tetap sibuk memilih beberapa potong jahe.


Hanifa menghentikan tangannya yang akan mengambil buah jambu. “Devan suka minum yang herbal-herbal, ya Bi?"


Bi Mar menggeleng. "Nggak, Non. Tumben-tumbenan si Aden mau dibuatkan minuman herbal. Biasanya dia hanya mau dibuatkan jus," ceritanya.


Hanifa mengangguk. Sebenarnya ada hal yang dia tanyakan lagi pada bi Mar, tapi dia sungkan dan memilih menemani bi Mar membayar barang yang dibelinya. Setelah itu, mereka beranjak pulang. Baru beberapa langkah, suara seseorang memanggil Hanifa lagi.


“Kak Wafi?" tanya Hanifa pada laki-laki di depannya. “Mau beli apa, Kak?"


Yang ditanya tersenyum. "Aku ke sini mau nemenin mama belanja," balasnya. “Kamu sendiri beli apa?" Wafi balik bertanya.

__ADS_1


Hanifa menunjukkan barang yang dibelinya dan langsung mendapat anggukan dari Wafi.


“Mari, Non Ifa. Bibi sudah selesai beli barangnya." Suara bi Mar mencegat ucapan Wafi yang akan menanyakan sesuatu pada Hanifa.


Melihat bi Mar yang sudah ada di dekatnya, Hanifa mengangguk. “Ya sudah, Kak. Aku pamit, ya. Assalamualaikum."


Wafi tersenyum dan mengangguk.


“Waalaikumussalam."


Setelah itu ketiga wanita tersebut berjalan ke pintu masuk pasar. Dari jarak yang lumayan dekat, Hanifa bisa melihat tubuh Devan yang sedang berdiri di depan mobil hitamnya. Rambut ikalnya tidak terlihat karena topi putih menutup sebagian wajahnya. Mata Hanifa menyipit, sibuk memperhatikan Devan yang berjalan ke tempat penjual kue basah.


Meskipun sedikit samar, mata Hanifa cukup tajam untuk melihat wajah penjual kue itu yang sudah sangat tua. Umurnya mungkin sudah menginjak 70 tahun. Terlihat dari keriput yang menghiasi wajahnya, dan kondisi badan yang sedikit membungkuk.


Dengan pakaian seadanya, kakek itu menjajakan dagangannya yang tak seberapa di tepi jalan. Hati Hanifa menjadi tersentuh melihat Devan memberikan beberapa lembar uang warna biru kepada kakek itu dan memborong semua dagangannya. Meski sempat menolak, kakek itu akhirnya menerima uang yang diberikan Devan.


Dengan langkah yang semakin dekat, senyum di wajah Hanifa mengembang saat Devan membagikan kue yang baru dibelinya kepada beberapa anak-anak yang bermain di sekitar pasar. Bi Mar yang melihat hal itu pun tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinganya.


“Non Ifa tau tidak? Meskipun banyak orang mengira si Aden itu laki-laki yang dingin, menyebalkan, dan mungkin terlihat angkuh, tapi jauh di dalam hatinya selalu ada peduli di hatinya. Dia paling tidak suka melihat wanita menangis, dan dia paling tidak tega kalau melihat orang lain kesusahan." Hanifa menoleh ke arah bi Mar.


“Sebenarnya, Nak Devan adalah anak yang sangat baik. Tapi semua kebaikannya itu tak pernah ia tampakkan. Bagi bibi, si aden adalah malaikat yang berwujud manusia. Selama merawatnya, nak Devan tidak pernah menuntut apapun dari kakaknya. Dia selalu ingin hidup mandiri. Sampai menderita penyakit parah itu pun, dia tidak ingin merepotkan siapapun." Bi Mar masih melanjutkan ceritanya.


Bi Mar menghela napasnya berat.


“Maaf, ya. Bibi bilang begini ke non Ifa. Bibi cuma ingin non Ifa tahu, kalau nak Devan tidak seburuk yang terlihat. Bibi juga berharap, Non Ifa bisa menjadi teman untuk nak Devan. Sejak kehilangan orang tuanya, dia selalu menyendiri. Harinya selalu terlihat suram. Tapi sejak non Ifa masuk dalam hidup si aden, bibi bisa melihat cahaya di matanya. Bibi berharap, semoga Allah memberikan kesembuhan untuk dia." Suara bi Mar tercekat karena tidak bisa menahan tangisnya.


“Bibi berharap, semoga nak Devan bisa sembuh," ucapnya lagi di sela tangisnya.


"Bi, bibi tenang saja ya. Ifa akan berusaha supaya Devan bisa disembuhkan. Kita berdoa pada Allah, semoga penyakit Devan bisa segera hilang. Kita serahkan semuanya pada Allah ya Bi. Hanya Allah yang bisa menyembuhkan."


Setelah mendengar ucapan Hanifa, bi Mar menghentikan tangisnya. Benar apa yang diucapkan oleh Hanifa tadi. Manusia hanya makhluk ciptaan, Allah lah yang mempunyai kuasa atas segala sesuatu.


Tidak ada sesuatu apapun yang berjalan di muka bumi ini tanpa sepengetahuan-Nya. Semuanya sudah diatur. Bahkan selembar daun pun sudah Allah atur dimana dia akan jatuh. Hidup dan mati seseorang sudah ditentukan. Manusia hanya bisa berusaha, selebihnya Allah lah yang menentukan.


“Ya sudah, Bi. Kita ke sana, yuk. Kasihan Devan kepanasan, pasti setelah ini dia akan menggerutu sampai beberapa jam," canda Hanifa dan mendapat anggukan langsung dari wanita yang masih mengusap bekas air matanya.


Devan yang tengah berjongkok karena sedang berbicara dengan anak kecil, rupanya tak mengetahui kehadiran Hanifa, Salma dan bi Mar.


“Devan," sapa Hanifa.


Yang dipanggil mendongakkan kepalanya. Wajah putihnya terlihat semakin bercahaya di bawah paparan sinar matahari pagi itu. Setelah itu, ia berdiri.


“Ngapain Lo di sini?"


Hanifa tersenyum. "Mau belanjalah. Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Hanifa pura-pura.


“Gue ..." Devan mencoba cari alasan.


Melihat Devan kebingungan mencari alasan, Hanifa dan bi Mar tertawa.


“Gengsi banget sih, mau bilang ke pasar saja susah banget," timpal Hanifa.

__ADS_1


“Bukan begitu siput. Baru juga mau kasih tahu, eh malah Lo yang nyambar duluan," balas Devan menyangkal.


Mata Hanifa sedikit menyipit melihat sesuatu di topi di Devan. “Eh. Bentar Van. Kayaknya, ada sesuatu di topi kamu," tunjuk Hanifa.


Devan yang melihat tangan Hanifa yang menunjuk ke arahnya pun bingung. "Apa?"


“Itu, ada ulat di topi kamu.”


Devan terperanjat. Bukannya berpikir untuk melepas topinya, dia malah memajukan kepalanya ke arah Hanifa. Badan Devan yang lebih tinggi lima senti dari Hanifa membuat kaki wanita itu harus berjinjit untuk menjangkau topi Devan.


“Sudah," ucap Hanifa setelah membuang ulat kecil itu dengan petikan jarinya.


Devan yang mendengar hal itu bernafas lega. Salma yang melihat ketakutan di wajah Devan pun tertawa. “Kakak ini lucu, ya, Kak Ifa. Padahal uletnya keciiil," ucap gadis 9 tahun itu tertawa seraya menyipitkan ibu jari dan telunjuknya.


Hanifa dan bi Mar ikut tertawa kecil.


“Salma, nggak boleh begitu, ya. Sekarang, Salma minta maaf ya sama kakaknya," nasehat Hanifa tersenyum.


Dengan polosnya, tangan Salma yang kecil menarik tangan Devan kemudian menciumnya. “Maafin Salma ya, kakak tampan. Salma janji nggak bakal ketawain kakak lagi."


Devan yang melihat wajah manis Salma tersenyum. “Tidak apa-apa gadis manis. Kakak nggak marah kok," jawab Devan berjongkok, kemudian membelai kepala Salma yang tertutup jilbab.


“Sekarang Salma mau pulang?" tanya Devan dan mendapat anggukan dari gadis cilik di depannya. “Mau nggak Salma diantar pulang sama kakak?"


Salma diam sebentar. "Sebenarnya Salma mau kak, tapi nanti kena ceramah kak Ifa karena Salma ngerepotin orang."


Devan tersenyum. "Salma nggak ngerepotin kakak kok. Gimana? Mau yah?"


Salma melirik ke arah kakaknya. Melihat wajah manis Hanifa, dia segera mengiyakan keinginan tersebut. Setelah mendapat anggukan dari kakak kesayangannya, wajah Salma menjadi berbinar.


“Oke, kalau begitu sekarang kita pulang, ya." Devan membuka pintu mobil. Mempersilahkan Salma dan Hanifa masuk. Setelah semuanya masuk, Devan melajukan mobilnya.


***


"Terima kasih, Kakak baik. Sering-sering main ke sini, ya, Kak," kata Salma dengan senyum manisnya.


"Insya Allah," balas Devan. "Kakak pulang dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Salma dan Hanifa berbarengan. Begitu bayangan mobil Devan hilang dari pandangan, Hanifa segera mengajak adiknya masuk.


“Kak Ifa, kakak tadi baik, ya," puji Salma ketika mereka sampai ruang tamu. “Tapi, kakak yang pertama ketemu sama kak Ifa tadi, kelihatannya dia suka sama kakak."


Hanifa hanya menggeleng menanggapi ucapan adiknya yang masih kelas enam SD itu.


"Tapi kak Ifa lebih cocok sama Kakak tampan tadi. Siapa namanya, Kak?"


"Devan."


"Iya. Semoga Allah menjodohkan Kak Ifa dengan Kak Devan. Aamiin," ucap Salma polos.


Entah apa yang Hanifa pikirkan, apa dia harus mengaminkannya?

__ADS_1


***


__ADS_2