Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Lamaran Tak Disengaja


__ADS_3

"Ya sudah aku pulang, ya. Assalamualaikum," ucap gadis itu melambai kemudian perlahan menghilang di lorong rumah sakit.


Netra biru yang sejak tadi memandang bayangan itu menunduk, kemudian beralih melihat objek lain. Kini untuk kali yang kedua dia ada di taman ini, sendirian. Belum lima menit kepergian Hanifa, dokter Arif baru tiba dengan tangan membawa beberapa bungkus makanan.


“Lho, kok sendirian, Nak Devan? Hanifanya mana?"


Devan yang sebelumnya melamun akhirnya tersadar. Kemudian tersenyum kepada laki-laki yang kini ada di dekatnya. “Tadi siput eh maksudnya Hanifa, udah pulang, Dok."


Dokter Arif mengernyitkan keningnya. "Pulang kenapa?"


Devan menaikkan kedua bahunya. Ia juga tidak tahu alasan dibalik kepulangan gadis itu yang tiba-tiba. "Tadi umminya nelpon, terus disuruh pulang. Katanya ada tamu penting."


Dokter Arif mengangguk dan mengambilnya tempat di samping Devan. “Tadi pas Om mau ke sini, ada laki-laki yang sapa Om dan tanya alamat Hanifa," kata laki-laki itu.


“Laki-laki? Siapa Dok?"


“Nah, Om kurang tahu. Soalnya Om belum pernah melihatnya. Tapi dia kayaknya setahun lebih besar dari kamu," jawab Dokter Arif mengingat wajah pemuda tadi.


Kalimat terakhir dokter Arif membuat Devan berpikir. Ingatannya kembali saat dia tak sengaja menabrak Wafi di sebuah cafe sebelum ujian.


Dua Minggu yang lalu ...


"Sorry," ucap Devan akan pergi.


"Devan, tunggu!" cegah Wafi menghentikan langkahnya. “Untuk terakhir kalinya saya tanya, kamu nggak ada hubungan apa-apa kan sama Hanifa?"


“Hasbi Warafqi Firyas yang terhormat, untuk terakhir kalinya juga saya jawab, Anda nggak punya hak untuk tau urusan pribadi saya. Permisi."


“Hanifa calon istri saya, dan akan segera melamarnya," timpalnya yang langsung membungkam ucapannya.


Hanya itu yang Devan dengar. Baginya itu tak penting, oleh karena itu dia segera pergi karena sejak awal dia tidak menyukai laki-laki itu.


“Dok, apa laki-laki itu  tinggi, putih dan ada tahi lalat di ujung hidungnya?"


Dokter Arif mengangguk. “Apa kamu mengenalnya?"


Apa Wafi serius sama ucapannya? Batin Devan tak menghiraukan pertanyaan dokter Arif.


“Dok, Dokter bisa antar saya ke rumah panti nggak?"


Dokter Arif terkejut dengan ucapan Devan barusan. “Mau ngapain? Kamu lagi sakit Devan. Pihak rumah sakit tidak memberimu izin untuk keluar kemana pun."


Devan berdiri, kemudian pergi meninggalkan dokter Arif yang berkali-kali memanggilnya. “Devan! Kamu tidak akan bisa keluar kalau pakaian rumah sakit masih melekat di badan kamu!" teriaknya.


Langkah Devan berhenti, ia berpikir sebentar. “Dokter Arif benar. Gue nggak mungkin keluar dengan pakaian sepeti ini," gumamnya pada dirinya sendiri kemudian pergi ke suatu tempat.


Di kamar mandi, Devan tengah mematut dirinya di depan cermin. “Syukurlah telinga gue denger teriakan dokter Arif tadi. Kan nggak ada yang bakal curigain gue kalau berpakaian kayak gini."


"Look at this. Gue tampan juga pakai ginian." Devan memuji dirinya sendiri, setelah itu beranjak keluar.


Kini langkah kakinya mantap keluar rumah sakit dengan baju hem warna biru dengan kaos putih di bagian dalam, dan celana jeans hitam lengkap dengan topi putih melekat di kepalanya.


Setibanya di gerbang rumah sakit, taksi yang baru saja dipesannya datang. Devan yang masih berstatus pasien langsung masuk dan meninggalkan rumah sakit itu. Tentu diikuti oleh dokter Arif dari belakang.


Tiga puluh menit kemudian, mobil yang membawa Devan berhenti. Dia segera keluar setelah membayar ongkos. Kakinya belum beranjak masuk karena penglihatannya terlihat kabur.


Setelah memastikan dirinya baik, barulah kakinya perlahan memasuki gerbang kecil sebagai pintu utama masuk rumah panti itu. Matanya menyapu halaman sekitar. Sudah aad sebuah mobil hitam di dekat pintu.

__ADS_1


“Masuk apa nggak ya?" Devan bertanya pada dirinya sendiri.


Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya dari belakang. "Kak Devan?"


“Eh, Salma. Assalamualaikum."


“Waalaikum salam, Kak," jawabnya dengan senyum khasnya. Sangat manis.


“Kak Devan ngapain ke sini? Kakak mau ketemu kak Ifa, ya?"


Devan mengangguk, kemudian tersenyum kecil. Detik itu dia memegang kepalanya sebelah, karena terasa sangat sakit. Salma yang melihatnya merasa khawatir.


“Kak Devan kenapa? Kak Devan sakit ya?"


Devan yang terus memegang kepalanya kuat tak mampu menjawab pertanyaan dari Salma. Saat wajahnya terangkat, penglihatannya kabur dan semuanya menjadi gelap.


Saat membuka matanya, dia sudah melihat Jihan dan dokter Arif di kamarnya.


"Gue, ada dimana?"


Jihan yang baru ingin memarahi adiknya, segera ditenangkan oleh dokter Arif. “Apa yang kamu rasakan Devan?" tanya pria itu.


"Saya nggak ngerasain apa-apa, Dok."


“Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu, ya," pinta Jihan dan langsung mendapat anggukan dari adiknya.


Setelah memastikan Devan benar-benar istirahat, dokter Arif meninggalkan Jihan yang masih sibuk merapikan tempat tidur dan pakaian Devan yang baru saja dibawanya, dan menghampiri putrinya yang sejak tadi menunggu di luar.


“Ayah, gimana keadaan Devan?" tanya Hanifa cemas.


Dokter Arif yang melihat raut cemas di wajah putrinya mengangguk paham. Kemudian menyuruh putrinya duduk kembali.


“Tenang, Nak Devan baik-baik saja. Sekarang dia sedang istirahat."


Hanifa menghela nafasnya lega. "Syukurlah kalau begitu. Nanti Ifa boleh liat dia ngga, Yah?"


“Tentu saja, Nak. Tapi biarkan dia istirahat dulu, ya. Dia harus istirahat total sebelum dioperasi." Dokter Arif menghela napasnya.


“Seharusnya Ayah melarang dia untuk pergi tadi. Entah apa yang membuatnya pergi tergesa-gesa seperti itu?" gumamnya lagi.


Hanifa terdiam. Kini dia baru ingat kalau lusa Devan harus dioperasi. Hal yang membuatnya semakin sedih adalah bagaimana kalau operasinya gagal? Bagaimana kalau dia pergi saat dioperasi? Ah, sangkaan-sangkaan buruk itu kembali memenuhi kepalanya.


“Sekarang kita makan, ya. Kita cari tempat makan di sekitar sini," kata dokter Arif dan berhasil membuat Hanifa keluar dari imajinasi buruknya.


Setelah makan siang di sebuah restoran dekat rumah sakit, Hanifa dan dokter Arif memilih untuk melaksanakan sholat Ashar di masjid yang sudah tersedia di rumah sakit itu. Berhubung azan baru saja berkumandang. Seusai melaksanakan sholat, Hanifa meminta izin kepada ayahnya untuk melihat Devan sebentar.


Beberapa kali Hanifa mengambil nafasnya dalam, kemudian mengeluarkannya. Begitu tiba di depan pintu tempat Devan dirawat, Hanifa diam sebentar. Perlahan tangannya memutar knop pintu dan membukanya. Dilihatnya mata Devan yang tengah terlelap.


“Assalamualaikum, Van. Maaf ya aku baru ke sini, tapi aku nggak lama kok. Bentar lagi aku sama ayah mau pulang. Kamu jaga kesehatan ya," ucap Hanifa setengah berbisik agar tidak membangunkan laki-laki itu.


Saat Hanifa tengah melihat ke seluruh ruangan, mata Devan terbuka sebelah. Tapi segera ia tutup agar Hanifa tidak mengetahuinya. Baru akan beranjak pergi, Devan menghentikan langkah Hanifa.


“Jadi Lo nggak ngerasa bersalah nih? Main pergi gitu aja," celetuk Devan tiba-tiba dengan posisi yang sudah duduk.


Hanifa segera berbalik. "Devan? Kamu sudah bangun?" tanyanya dan kembali duduk. "Kamu nggak apa-apa kan?"


Devan menatap wanita di depannya dengan ekspresi sangat tenang, seakan tak ada sesuatu yang tengah dideritanya. “Gue nggak papa kok. Tu, Lo bisa liat sendiri kan," jawabnya berlagak sehat.

__ADS_1


“Tadi, kenapa tiba-tiba kamu ada di rumah?"


“Entahlah. Gue juga nggak tahu, kenapa tiba-tiba kaki gue jalan ke rumah Lo."


“Aneh. Tapi kamu beneran nggak papa kan?"


“Iyaaa, bawel," jawabnya tersenyum.


"Fa, gue mau ngomong sesuatu sama Lo."


Hanifa menoleh. "Apa?"


Sebelum berbicara, Devan memperbaiki posisi duduknya. “Dulu kan, gue pernah tanya sama lo tentang orang yang mau ngelamar lo. Tapi lo jawab nggak mau nerima karena masih sekolah. Tapi sekarang apa lo bakal nolak?"


Hanifa terdiam sebentar. Apa Devan tahu tentang lamaran kak Wafi? Batinnya.


“Fa, apa laki-laki nggak sempurna kayak gue pantas jadi pendamping hidup lo?" tanya Devan kembali.


Kali ini Hanifa tersentak. "Maksud kamu apa?"


Devan menarik napasnya sebentar, kemudian mengeluarkannya perlahan. “Gue nggak tahu hidup gue bakal lama atau nggak. Tapi sebelum gue pergi, setidaknya ada seseorang yang pegang tangan gue dan doain gue, ada orang yang berharap untuk kesembuhan gue, ada orang yang akan merayu Tuhan untuk kasih gue kehidupan lagi. "


Hanifa masih diam, mencoba mendengar kalimatnya selanjutnya.


“Gue nggak berharap ada bidadari yang nemenin gue nanti. Meskipun banyak orang yang menginginkannya. Tapi gue hanya berharap, wanita yang nemenin gue nanti itu adalah, lo. Hanifa."


“Kamu nggak lagi buat surat wasiat ke aku kan, Van?"


Devan tertawa kecil melihat wajah Hanifa. "Ternyata lo belum peka juga ya. Gue sedang lamar lo Hanifa, tapi gunain bahasa lain."


“Kamu bercanda, kan?"


"Gue serius," ucapnya. "Lo mau, kan, jadi istri gue?"


"Devan, bisa nggak kamu jangan bercanda dulu. Mendingan sekarang kamu istirahat, ya."


“Kali ini gue serius. Gue janji bakal sembuh demi lo." Devan menarik nafas. "Ayolah. Gue mau pakai bahasa seresmi apa lagi?"


"Devan, pernikahan bukanlah suatu hal yang bisa di bawa main-main." Hanifa memperingatkan.


"Fa, Gue yakin kalau lo belum nerima lamaran Wafi kan?" Hanifa mengangguk pelan. "Syukurlah."


"Oke. Biar lo percaya kalau gue serius, lo dengerin gue." Devan menegakkan punggungnya. Hanifa diam dan siap mendengar apa yang akan dikatakan oleh laki-laki itu.


“Hanifa, dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Dengan Kebesaran dan kasih sayang-Nya, gue, Devan Ibrahim sebagai salah satu bagian dari Ciptaan-Nya mau lamar lo. Lo mau kan nerima lamaran gue?"


Hanifa mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan dari laki-laki di depannya itu. Matanya belum berhenti menatap sosok di depannya. dia tahu selama ini Devan tak pernah bersikap peduli padanya. Tapi dia tahu kalau Devan laki-laki yang baik. Hanifa bisa melihat keseriusan di matanya.


Kalau lamaran Devan aku terima, bagaimana dengan kak Wafi? Hanifa bertanya pada hati kecilnya.


“Aku boleh istikharah dulu?" pinta Hanifa.


Devan tersenyum. Belum sempat mengangguk, dokter Arif sudah masuk dengan wajah yang sulit diartikan. Rupanya dia sudah mendengar semua percakapan itu.


“Ayah?"


Devan membulatkan matanya, terkejut dengan kehadiran dokter Arif bersama tatapan yang sulit dia artikan.

__ADS_1


Dokter Arif? sejak kapan dia ada di sini? apa dia akan marah karena gue barusan ngelamar putrinya? Apa dia nggak setuju sama lamaran ini? pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya.


***


__ADS_2