Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Cerita Tentang Bunda Khadijah


__ADS_3

Cuaca siang itu sangat menyengat. Dengan panas yang tak bersahabat itu, para anggota yang tengah latihan saat itu harus mencari tempat teduh untuk latihan. Tapi panas matahari itu rupanya tak berlaku untuk laki-laki yang tengah membuat beberapa simpul.


“Van, istirahat dululah. Panas banget ni cuacanya," kata seseorang mencoba mengingatkan.


Yang dipanggil menoleh sebentar, kemudian tersenyum dan melanjutkan kegiatannya. “Bentar lagi, Jun."


Arjun hanya mengacungkan jempolnya kemudian pergi membeli minuman. Setelah kepergian sohibnya tadi, tiba-tiba kepalanya terasa berat. Mungkin karena panas matahari yang menancap tepat di atasnya.


“Syukurlah sudah selesai," ucapnya tersenyum sembari memegang kepalanya yang terasa berdenyut semakin keras. Segera dia meninggalkan tandu yang sudah selesai dibuatnya.


Semakin mendekati ruang kelas, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Dia terjatuh ke lanti dan menyandarkan tubuhnya di tembok.


“Aaaarrgghh!" Dia memegang kepalanya cukup kuat.


“Devan!" panggil seseorang tengah berlari ke arahnya dengan wajah sangat khawatir. Siapa lagi kalau bukan Hanifa. Dia memperhatikan gerak gerik Devan sejak di lapangan sampai berjalan ke ruang kelas.


“Kamu kenapa?' tanya Hanifa cemas.


“Kepala gue sakit," jawab Devan masih memegang kepalanya sambil memejamkan mata.


“Sebentar, ya," pinta Hanifa mencari sesuatu di dalam tasnya. Setelah itu memberikan beberapa butir obat kepada Devan.


“Ini, minum."


Devan segera meminumnya. Setelah itu, ia menarik napasnya lega. Rasa sakit di kepalanya perlahan mulai berkurang.


“Kamu nggak minum obat ya tadi?" tanya Hanifa setelah melihat Devan tidak sesakit tadi.


Devan menggeleng. "Gue nggak sempet pulang."


Hanifa menghela nafasnya panjang. “Setidaknya kamu membawanya, Van. Dan tadi, kenapa nggak dengerin Arjun? Pekerjaanmu itu kan bisa diselesaikan nanti."


“Gue nggak suka nunda apapun. Paham?!”


“Iya, oke. Aku paham. Tapi sekarang, kamu jangan latihan lagi. Cuacanya sangat panas. Lagian bentar lagi latihannya akan selesai." Hanifa langsung berdiri. “Sekarang kamu duduk di sini, dan jangan kemana-mana!" perintahnya.


Sebelum gadis itu beranjak, Devan mengulurkan tangannya. Hal itu membuat Hanifa menaikkan alisnya bingung.


“Gue nggak bisa berdiri," kata Devan memberikan penjelasan.


Tanpa menanggapi ucapan Devan, Hanifa malah pergi.

__ADS_1


"Dasar siput. Nggak punya perasaan. Orang sakit bukannya ditolong malah pergi," omel Devan ber-suudzon.


Belum semenit pergi, Hanifa sudah kembali ke tempat Devan. Kini dia bersama Arjun. Hal itu membuat Devan bingung.


“Jun, bisa bantuin Devan ke depan kelas nggak? Kakinya lemas, makanya nggak bisa berdiri sendiri," kata Hanifa tersenyum.


Arjun mengangguk. "Yok, Van!" katanya segera merangkul tubuh Devan dan membawanya ke depan kelas, sesuai perintah Hanifa. Sedangkan gadis itu mengekori dari belakang.


"Keras kepala banget ni anak. Tadi udah disuruh istirahat dulu, malah nggak mau," gerutu Arjun.


Arjun adalah satu-satunya teman dekat Devan. Karena pertemanan mereka yang lumayan lama,  Arjun mengetahui semua sisi kehidupan Devan, terutama tentang penyakit yang sedang dideritanya.


"Nanti lo pulangnya ama gue. Sekarang, jangan balik ke lapangan. Gue mau beresin peralatan dulu," ujar Arjun setelah memastikan temannya istirahat.


Devan menggeleng. "Nggak usah, Jun. Gue bawa mobil sendiri."


"Ya udah deh, kalau pulang hati-hati . Kabari kalau ada apa-apa," kata Arjun, setelah itu dia pamit hendak ke kantin untuk membeli sesuatu.


Kini tinggallah Hanifa dan Devan di bangku panjang itu. Hanifa sempat melirik laki-laki di sampingnya, kemudian segera menatap objek lain. Hal itu juga dilakukan oleh Devan. Suasananya senyap sampai salah satu dari mereka buka suara.


“Gimana kepala kamu? Masih sakit nggak?" Hanifa mencoba mengetahui kondisi Devan.


Devan menggeleng. “Udah baikan," jawabnya. Setelah itu melirik jam tangannya dan berdiri hendak pergi. "Gue mau balik. Lo ikut nggak?"


“Terserah Lo. Gue nggak pernah minta lo kerja di rumah gue." Devan membuang muka dan bersiap melangkahkan kakinya.


“Devan," panggil Hanifa.


Devan menggerakkan wajahnya sedikit ke samping. "Apa?"


"Kamu marah?"


"Nggak."


Baru satu langkah menggerakkan kaki, suara Hanifa kembali terdengar.


"Devan." panggil Hanifa lagi.


"CK! Apaan?!”


“Thanks, ya, bukunya."

__ADS_1


“Hm," jawabnya singkat.


“Dan motivasinya." Hanifa melanjutkan ucapannya.


Mata Devan menyipit. “Motivasi apa?”


“Meskipun kamu tak secantik Fatimah, tak secerdas Aisyah dan tak sehebat Khadijah. Tapi kamu masih mempunyai kesempatan bisa menjadi sebaik-baik wanita," ucap Hanifa mengulang kata-kata yang ia baca di buku yang diberikan Devan kepadanya. “Itu tulisan tangan kamu, kan?"


Devan tersenyum, tanpa dilihat Hanifa. Setelah itu ia pergi. Entah sampai kapan ia akan istiqomah dengan sikap dingin dan wajah kakunya itu. Meskipun demikian, Hanifa bersyukur.


Hanifa tahu Devan sebenarnya orang yang baik. Tapi kebaikannya perlu ditafsir terlebih dahulu, agar bisa dipahami oleh orang lain.


“Waktunya pulang, Hanifa melirik jam yang menempel di tangannya. Setelah melangkahkan kaki keluar.


Apa aku bisa memiliki bidadari itu Tuhan? gumam seseorang. Mata teduhnya masih menatap sosok yang baru saja mengabaikan panggilannya.


***


“Assalamualaikum," ucap Hanifa setelah melepas sepatunya.


Tak terdengar jawaban. Mungkin ummi masih di masjid dan adik-adiknya sedang bermain di taman belakang.


Setelah masuk kamar, Hanifa melepas tasnya. Kemudian bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaian. Saat kembali dari kamar mandi. ia melirik jam dinding pink di kamarnya, azan sholat Ashar tinggal lima belas menit lagi. Sembari menunggu azan, Hanifa mengeluarkan buku yang diberikan oleh Devan kemarin. Buku Wanita Teladan.


Hanifa tersenyum tatkala membaca sebuah judul, 'Khadijah Binti Khuwalid: Istri setia, selalu siap sedia.'


Kekagumannya terhadap sosok bunda Khadijah semakin besar saat ia membaca halaman berikutnya. Ditulis dalam buku tersebut, tatkala suatu hari terjadi peristiwa besar yang dialami Rasulullah SAW., saat sedang menyendiri di Gua Hira, merenungi kebesaran pencipta-Nya dan meninggalkan hiruk pikuk kejahilian kaumnya, datanglah malaikat Jibril menurunkan wahyu-Nya yang pertama.


Saat itu Rasulullah diperintahkan untuk membaca, tapi beliau selalu menjawab  Aku tidak bisa membaca! sehingga turunlah surat Al-Alaq ayat 1-5 yang merupakan ayat yang pertama kali di terima oleh Raslullah. SAW.


Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah kembali ke rumahnya dengan keadaan gemetar. Ketakutannya masih belum hilang dengan apa yang baru saja ia alami. Beliau segera menemui istrinya, Khadijah seraya berkata: "Selimuti aku ... selimuti aku ..." Sontak Khadijah langsung menyelimutinya.


Setelah itu, ketakutan Rasulullah mereda. Rasulullah SAW, mulai menceritakan apa yang dialaminya pada istrinya. Hanifa semakin dibuat haru dengan ucapan lembut bunda Khadijah saat itu.


Bunda Khadijah menenangkan dan menghibur suaminya dengan berkata : ”Tenanglah suamiku. Demi Allah, Dia tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau adalah orang yang suka menyambung silaturrahmi, berkata jujur dan membantu orang lemah serta suka menolong pada jalan kebaikan.


Demikianlah Khadijah merupakan suri tauladan, penolong utama Raslullah. SAW., dia membela Rasulullah dengan jiwa dan hartanya. Dia pula yang pertama kali beriman dan membenarkan dakwah Rasulullah SAW., dan ikut merasakan berat dan pedihnya tantangan dakwah menegakkan Islam pada masa itu.


Sejak membaca buku itu, senyum Hanifa tak pernah memudar. Ia berharap bisa meneladani wanita hebat sepanjang zaman seperti bunda Khadijah. Berjuang dengan segenap jiwanya untuk membela suaminya.


“Aku janji, akan berjuang untuk suamiku nanti. Seperti perjuangan bunda Khadijah kepada Rasulullah. Tapi, siapakah yang akan aku perjuangkan nanti?" Hanifa bertanya pada dirinya sendiri dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.

__ADS_1


***


__ADS_2