
Setelah melihat sosok Devan sekilas, Hanifa segera beranjak untuk melakukan tugasnya. Meskipun sedikit khawatir dengan keadaan laki-laki itu, namun ia tak berani menegur Devan agar tidak bekerja terlalu keras.
Ia sedikit lega saat Devan istirahat di tepi lapangan.
Setelah hatinya tenang, barulah Hanifa membantu Amel dan Nita yang saat itu tengah memasang sebagian tirai yang lain.
“Ifa, Mel. Aku ke toilet dulu ya, bentar," ucap Nita dan berlalu pergi.
Amel tertawa melihat ekspresi wajah Nita yang terlihat sedang menahan sesuatu.
“Dasar Nita. Tahu nggak, Fa? Ini sudah ketiga kalinya dia ke toilet," cerita Amel sambil menegakkan tiga jarinya.
“Iya, kah?" tanya Hanifa masih belum percaya.
“Iya. Itu karena tadi dia makan tahu bi Num pakai sambal yang terlalu banyak. Makanya dia jadi sakit perut."
“Kasihan Nita. Semoga perutnya segera membaik."
Amel mengangguk dan mengaminkan apa yang dikatakan Hanifa.
Setelah memasang tirai hampir di seluruh area, Amel meminta izin untuk pergi ambil air minum. Ia merasa tenggorokannya terasa kering. Sontak Hanifa mengangguk, bahkan ia meminta agar pekerjaan ini diselesaikan olehnya. Karena tadi dia sedikit terlambat, dan pekerjaan ini sudah hampir selesai.
Saat tirai hanya tinggal satu yang belum dipasang, Hanifa mendengar seseorang berteriak ke arahnya. Hanifa mencoba menerka, namun ia berpikir mungkin orang itu berteriak bukan ke padanya, tapi ke orang lain sehingga ia kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Sesaat setelah itu, Hanifa merasa ada yang tidak beres. Ia mendongakkan wajahnya ke atas. Hanifa kaget bukan main saat satu tiang besi akan jatuh menimpanya. Hanifa ingin menghindar, namun sudah terlambat.
“Aaaaaa!"
Brakkk!
Tiang besi itu jatuh, tapi tak mengenai kepala atau pun tubuhnya. Hanifa mencoba membuka matanya, melihat apa yang terjadi. Ia sangat terkejut melihat wajah Devan dari jarak yang sangat dekat. Beralih dari wajah itu, kini ia matanya terfokus pada tangan Devan yang mencoba melindunginya.
Setelah terasa aman, Devan langsung bangun. Ia menatap Hanifa sebentar kemudian pergi. Semua yang melihat kejadian itu segera berlari ke arah Hanifa. Tak terkecuali Ayyan yang sedari tadi sibuk membuat rangkaian bunga untuk hiasan.
“Hanifa!" Ayyan berlari ke arah sahabatnya dengan wajah khawatir.
“Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang luka nggak?" Rentetan pertanyaan itu spontan keluar dari mulut kecilnya.
Hanifa menggeleng untuk menghilangkan semua kekhwatiran tersebut. "Aku nggak apa-apa kok, Ayy. Alhamdulillah Allah sudah nyelametin aku tadi."
Ayyan menghela napas lega. Kini Wafi tengah berlari juga dengan membawa sebotol air. "Kamu nggak apa-apa? Ini, minum dulu."
Hanifa mengambil air di tangan Wafi dan meneguknya. "Terima kasih, Kak," ucapnya dan mendapat anggukan dari Wafi.
“Ya sudah. Sekarang kita break dulu, kita lanjutkan setelah sholat Ashar. Dan saya minta anggota yang bertugas memasang tiang untuk bertanggung jawab atas kejadian ini," perintah sang ketua.
Semua anggota yang masih di area itu mengangguk paham.
“Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Aku mau ke ruangan dulu. Ayyan, tolong jaga Hanifa ya," pinta Wafi.
Ayyan dan Hanifa mengangguk. Entah kenapa, Hanifa sedikit heran dengan perkataan terakhir Wafi barusan. Namun dia tak ingin ambil pusing. Kini ia tengah sibuk mencari keberadaan seseorang diantara kerumunan siswa yang ada di sana.
“Ayy, aku pergi dulu ya sebentar. Aku harus cari seseorang," kata Hanifa.
Saat akan beranjak, langkah gadis itu terhenti. “Kamu mau kemana, Fa? Mau cari siapa?"
Hanifa menoleh sebentar. "Nanti aku cerita, ya. Dah Ayy," katanya lagi dan pergi.
“Eh, Fa! Hanifa! panggil Ayyan lagi. Namun ia mengalah menghentikan sahabatnya karena bayangan Hanifa sudah menghilang.
__ADS_1
Setelah berkeliling hampir di setiap sudut sekolah, Hanifa tak kunjung menemukan seseorang yang ia cari-cari sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan Devan. Hanifa masih berjalan saat matanya menangkap sosok laki-laki tengah duduk di lapangan basket.
“Devan. "
Hanifa berjalan ke arahnya. Setelah sampai di dekatnya, ia menyodorkan minuman ke padanya.
“Ini. Minum."
Menyadari ada seseorang di dekatnya, ia mendongakkan wajahnya. Tepat setelah mata mereka bertemu. Hanifa mendudukkan diri dengan jarak yang cukup jauh dengan Devan.
Devan mengambil minuman itu, kemudian meneguknya. “Ngapain lo ke sini?" tanyanya dengan nada ketus.
Hanifa menghela napasnya. Ia sudah tahu cara berhadapan dengan manusia es seperti Devan.
“Aku, mau bilang terima kasih. Karena kamu udah nyelametin aku tadi."
“Udah. Itu doang kan, nggak ada yang lain?" tanya Devan tanpa melihat ke lawan bicaranya.
Mendengar hal itu, Hanifa diam. Dia sendiri juga bingung kenapa kakinya membawanya ke tempat ini.
“Ya udah, kalau gitu sekarang gue mau lo pergi," ujarnya dingin.
Hanifa tersenyum dan menuruti keinginannya. Namun saat akan melangkah, ia berhenti karena tidak sengaja melihat sesuatu di tangan Devan.
“Itu, tangan kamu kenapa?"
“Nggak papa," jawabnya singkat.
Hanifa tahu kalau tangan Devan terluka saat menolongnya tadi. Makanya, sebelum menemui Devan ia sengaja mengambil kotak P3K untuk mengobati luka tersebut. Sontak Hanifa kembali duduk dan mengulurkan tangannya.
“Mau apa sih lo?!"
“Nggak perlu!" tolaknya cepat.
Hanifa menghela nafas panjang. Sikap laki-laki itu ternyata sangat sulit dicairkan. "Devan, aku nggak mau nanti aku nggak jadi masuk Surga gara-gara punya hutang sama manusia. Apalagi hutang budi. Jadi please, tolong kasih aku kesempatan untuk balas budi sama kamu."
"Alesan."
“Aku serius. Sini tangan kamu," pinta Hanifa untuk kesekian kalinya.
Devan akhirnya mengalah. Rupanya alasan Hanifa untuk bisa mengobati luka di tangan Devan berhasil. Detik setelahnya, dia mengulurkan tangannya. Dengan segera Hanifa mengoles betadine di tangan Devan yang terluka, kemudian membalutnya dengan kasa.
Saat sedang sibuk mengolesi betadine dan membalutnya dengan sedikit perban, rupanya Devan diam-diam memperhatikan Hanifa. Namun sebelum yang diperhatikan sadar, segera Devan membuang muka dan melihat ke arah lain.
"Sudah, kata Hanifa sembari menutup kotak P3K.
Sebelum pergi, Hanifa sempat melihat wajah Devan. Ia lega karena tidak menemukan kelelahan di wajahnya kali ini. Sebelum ketahuan memperhatikan Devan, Hanifa segera pergi.
***
Jam menunjukkan pukul 17.00, waktunya untuk pulang. Beruntung semua persiapan sudah siap dan sempurna, jadi semua anggota bisa pulang sebelum terlalu sore.
“Hanifa, mau pulang?" tanya Wafi.
Hanifa yang sedang memasang helmnya menengok ke samping. "Iya, Kak."
“Mau pulang bareng?" tawar Wafi di balik kaca mobilnya.
Hanifa segera menggeleng. Selain dia sudah akan pulang bersama Ayyan, duduk berdua antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya tidak diperbolehkan. Kecuali dalam hal-hal tertentu.
__ADS_1
"Ayo, Fa." Akhirnya Ayyan menjadi penyelamat dari kecanggungan yang tercipta antara Hanifa dan Wafi. Sekarang, sahabatnya itu sudah sampai tiba dengan motornya.
Sebelum naik, Hanifa melihat sebentar ke arah Wafi. “Aku pulang duluan, Kak. Assalamualaikum."
Wafi tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, dia melajukan mobilnya.
***
Hari H pun tiba. Semua acara berjalan lancar dan sesuai rencana. Setelah acara selesai, setiap anggota organisasi mengambil gambar untuk dokumentasi. Setelah itu, mereka makan bersama.
“Ayy, nanti pulangnya duluan saja, ya. Aku mau pulang sama ayah."
Ayyan yang mulutnya masih penuh dengan camilan hanya mengangguk.
“Oh ya, Fa, kemarin kamu mau kemana sih buru-buru?"
“Ooo, itu. Aku mau cari Devan."
Mendengar nama Devan, Ayyan yang sedang menguyah makan jadi tersedak. “Uhuk ... uhuk ..."
Hanifa segera memberi air minum yang ada di dekatnya. “Hati-hati kalau makan," tegurnya.
“Kamu cari siapa? Devan? Ngapain?”
Hanifa menggeleng kemudian tersenyum kecil. “Ayy, kamu tahu nggak? Yang nolongin aku kemarin itu Devan. Bahkan tangannya luka gara-gara menopang tiang besi yang jatuh itu. Makanya aku cari dia buat bilang makasih."
Ayyan terlihat manggut-manggut. “Terus dia nggak apa-apa kan?"
“Alhamdulillah, dia nggak apa-apa. Cuman tangannya yang luka dikit, tapi sudah diobati kok."
“Syukurlah. Ya sudah Fa, kalau begitu aku pulang duluan ya. Kamu hati-hati pulangnya."
“Iya, kamu juga hati-hati ya."
"Oke. Dah Ifa," pamit Ayyan melambaikan tangan dan pergi.
Hanifa melambaikan tangannya juga. Setelah itu, ia bergegas keluar untuk menunggu ayahnya. Baru keluar gerbang, mobil dokter Arif tiba dan mendekat. Hanifa berjongkok untuk melihat ayahnya.
“Ayah."
Dokter Arif membuka kaca mobilnya dan tersenyum melihat sang putri yang berdiri di sana. “Masuk, Nak."
Hanifa mengangguk dan langsung menurut. Setelah memakai seatbell, dia melihat ke arah ayahnya.
“Kita mau kemana, Yah?"
“Kita mau ke rumah Devan. Ayah mau kenalin kamu sama dia. Kemarin kan dia pingsan, makanya ayah tidak bisa memperkenalkan kalian. Sekaligus Ayah mau jelasin kepada Devan, kalau kamu akan menggantikan pekerjaan Ayah sementara waktu.”
Hanifa memasang wajah khawatir, takut kalau usahanya untuk membantu sang ayah tidak akan berjalan lancar.
“Harus seperti itu ya, Yah?"
Dokter Arif tersenyum dan membelai lembut rambut Hanifa yang tertutup hijab. "Iya, Sayang. Kalau tidak semuanya akan rumit. Devan anaknya sangat keras kepala."
Hanifa mengangguk, setelah itu dia memilih diam. Kira-kira apa yang terjadi jika Devan tahu kalau dirinya yang akan menggantikan ayahnya?
Apa Devan akan menerima keputusan sang ayah?
***
__ADS_1