
Langit tampak mendung sore ini. Kemungkinan malam nanti akan dingin karena bekas hujan yang kini perlahan turun membasahi bumi. Berawal dari tetesan kecil, perlahan berubah menjadi butiran besar. Beruntung, hujan kala itu hanya berlangsung beberapa menit.
Hanifa melihat jam tangannya berkali-kali. Sudah setengah jam lebih ia duduk di tempat ini. Bukan dirinya yang suka menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat seperti yang ia lakukan sekarang.
Beberapa kali matanya menatap tajam pada sosok yang tengah sibuk sendiri di tengah lapangan. Sedangkan dia sudah seperti robot yang sedang menunggu tuannya tidur.
Dasar aneh. Baru kali ini aku lihat ada orang yang main basket sendiri, gerutu Hanifa menggelengkan kepalanya.
Hanifa merasa sangat suntuk berada di tempat itu. Beberapa kali dia berdoa agar Devan segera menyelesaikan permainannya dan mengasihi dirinya agar membolehkannya untuk pulang.
Menit ke lima, rupanya doanya terkabul. Belum berselang lama ia berdoa, Devan sudah meninggalkan lapangan basket sembari mengelap keringat di jidatnya. Melihat Devan sudah akan pergi, senyum di wajah Hanifa seketika mengembang.
“Apa sudah waktunya pulang?" tanya Hanifa dengan wajah ceria.
“Itu sih terserah lo kalau mau nginep di sini," jawabnya dan berlalu pergi.
Hanifa mendengus kesal. Ia coba menahan dirinya agar tidak marah dengan membaca istigfar berulang kali. Setelah hatinya lumayan tenang, dia segera berlari menyusul Devan agar tidak meninggalkannya sendirian di tempat itu.
“Devan! Tungguin!" teriak Hanifa mempercepat laju larinya.
Jarak tempat parkir dan lapangan basket lumayan jauh, sedangkan kaki Hanifa masih terasa sakit karena berlari siang tadi.
“Aduh."
Hanifa terjatuh. Kakinya terasa semakin sakit. Dia mencoba meredakan rasa sakit itu dengan mengurut kakinya pelan.
Setelah rasa sakitnya sedikit menghilang, Hanifa mencoba bangun dan berjalan pelan menuju mobil Devan. Namun baru beberapa langkah, rasa sakitnya menyerang lagi.
Manusia es seperti Devan memang mustahil akan peduli kepada perempuan, apalagi seperti Hanifa. Makanya, dia sama sekali tidak menghiraukan teriakan Hanifa. Bahkan Hanifa sudah yakin kalau Devan sudah meninggalkannya.
Saat sedang mengelus kakinya yang sakit, sebuah mobil hitam menepi ke arahnya. Hanifa mengangkat kepalanya. Seketika matanya terkejut menangkap sosok Devan yang keluar dari mobil, kemudian membuka pintu mobil lainnya.
“Masuk!"
Hanifa masih diam. Dia masih tidak percaya, apakah orang yang berdiri di depannya itu adalah Devan, atau orang lain.
Devan mendengus. "Lo mau pulang, apa gue tinggal?"
Hanifa segera bangun, meskipun kakinya masih terasa sangat sakit. Dia harus pulang. Dengan menahan rasa sakit, Hanifa menarik kakinya masuk ke mobil.
“Dasar siput," omel Devan menutup pintu mobil.
Mendengar ucapan Devan, Hanifa hanya diam. Setelah melajukan mobilnya, Hanifa menyuruh Devan mengantarnya pulang ke panti. Setelah itu diam dan memilih melihat keluar kaca mobil daripada harus melihat wajah kaku itu.
Setibanya di rumah, Hanifa segera mandi dan sholat Ashar. Setelah itu, ia mengambil minyak urut di ruang tengah kemudian mengurut kakinya yang sakit. Ummi Fatimah yang kebetulan baru pulang dari rumah tetangga memilih menghampiri Hanifa.
“Kakinya kenapa?" tanya Ummi Fatimah.
Hanifa yang sadar dengan kedatangan umminya menengok, lalu tersenyum. “Nggak kenapa-kenapa kok Umm, cuma keseleo dikit."
“Kok bisa keseleo sih, Nak?"
__ADS_1
“Tadi sempat lari Umm, tapi Ifa larinya nggak hati-hati makanya jadi keseleo."
Ummi Fatimah mengelus lembut kepala putrinya itu. “Lain kali, hati-hati, ya."
“Iya, Umm."
“Masih sakit nggak?"
“Alhamdulillah sudah mendingan."
“Ya sudah kalau begitu ummi ke kamar dulu, ya."
Hanifa segera mengangguk. Setelah umminya pergi, ia menghela napas panjang. Ya Allah maafin Ifa, bisiknya kemudian beranjak ke kamarnya.
***
“Kamu darimana saja?" tanya Jihan di depan pintu.
Devan yang baru selesai memarkir mobilnya langsung masuk tanpa menghiraukan ucapan kakaknya tadi.
“Devan. Kakak lagi tanya sama kamu."
Langkah kakinya yang baru akan menaiki tangga berhenti, kemudian membalikkan badannya. “Dari lapangan basket," jawabnya dan pergi.
“Bisa nggak kamu jangan main basket dulu? Kondisi kamu lagi kurang baik Devan," peringat Jihan.
“Nggak bisa," ucapnya tetap melangkah dan masuk kamar.
Melihat tingkah adiknya, Jihan hanya bisa mengelus dada. Entah sampai kapan dia akan peduli pada kesehatannya. Jihan hanya berharap suatu saat nanti akan ada teman yang bisa membantunya menyadari Devan.
Sehabis sholat, ia menyibukkan dengan buku yang belum habis dibaca sembari menunggu waktu azan sholat Maghrib. Dengan sarung yang masih melekat di badannya, ia turun untuk mengambil air dan beberapa camilan di dapur, setelah itu kembali ke kamar. Saat akan membuka knop pintu, Devan baru ingat sesuatu.
"Bibi!" panggilnya mencari keberadaan bi Mar.
"Iya, Aden," jawab wanita itu di bawah tangga.
“Tolong ambilkan obat di atas meja, ya, Bi!"
“Meja yang mana, Den?"
“Di dekat bangku taman, Bi. Nanti antar ke kamar, ya."
Bi Mar mengangguk, kemudian beranjak ke taman belakang dan mengambil obat yang dimaksud. Setelah itu mengantarkannya ke kamar Devan lengkap dengan makan malam dan air minum.
Devan memang tak biasa makan bersama dengan Jihan di ruang makan, ia lebih nyaman makan di dalam kamar sendirian.
Setelah selesai menunaikan sholat Isya dan sholat sunnah hajat, Devan melepas peralatan sholat dan meletakkan di tempatnya. Kemudian bergegas untuk tidur.
Devan biasa tidur sehabis Isya kalau tidak ada tugas dan keperluan lainnya. Sebelum tidur, matanya melirik nampan tempat makan malam tadi.
Matanya menatap obat yang masih diam di tempatnya. Kemudian tangannya refleks mengambil obat itu, tapi tidak untuk meminumnya.
__ADS_1
“Kapan sih lo bakal pergi dari hidup gue? Gue bosen tahu nggak sama lo," gerutu Devan pada obat yang ada di tangannya. Kadang-kadang, sikap Devan rada aneh. Mungkin karena sudah terlalu lama ia berteman dengan obat-obatan itu.
Baru akan menaruh obat itu ke tempat asalnya, Devan teringat pada wajah Hanifa yang menyuruhnya untuk minum obat itu tepat waktu dan konsisten.
"Kalau bukan karena tu cewek, gue ogah minum obat ini," omelnya seraya memasukkan obat itu ke mulutnya.
Tanpa menyadari ucapannya tadi, Devan segera mematikan lampu kamar dan tidur. Ia harus bangun pukul empat pagi nanti.
***
Setelah sarapan dan minum obat, Devan bergegas ke mobilnya. Hari ini dia memilih menggunakan mobil ke sekolah. Sepuluh menit kemudian dia sudah sampai.
Jam segini sekolah masih terbilang sepi, karena biasanya para siswa akan datang 30 menit sebelum bel masuk berbunyi, kecuali bagi anggota OSIS yang bertugas menjaga kebersihan sekolah akan datang lebih pagi dari siswa lainnya.
Setelah menyapu seluruh sudut sekolah, matanya menangkap sosok Hanifa yang tengah menyapu di dekat lapangan utama. Tak sulit untuk menemukan siswa seperti Hanifa, karena dia adalah satu-satunya siswi yang jilbabnya paling besar di antara beberap siswi yang berhijab di sekolah ini. Ia pun langsung berjalan ke tempat gadis itu.
“Ikut gue!" Suara Devan dari belakang.
Hanifa yang kaget dengan kehadiran Devan yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya, refleks Hanifa melepas sapu yang sedari tadi ia pegang.
“Astagfirullah, Devan. Bisa nggak, sih, ucap salam dulu? Kalau jantungan bagaimana? Kamu mau tanggung jawab?" omel Hanifa mengelus dadanya.
“Gue nggak peduli."
Hanifa geram sendiri. Ia kembali mengambil sapu yang terlepas dari tangannya tadi.
“Lo budeg, ya?"
“Apa, sih?"
“Ikut gue. Ada yang mau gue omongin sama lo."
“Kemana? Ngomong nya di sini saja nggak bisa apa?" jawab Hanifa tanpa melihat lawan bicaranya. Rupanya dia ingin membalas sikap Devan yang cuek padanya kemarin.
“Nggak bisa!" ucap Devan menarik lengan baju Hanifa.
Melihat sikap Devan yang sedikit kasar padanya, Hanifa menjadi kesal. Ia mencoba melepas tangan Devan yang menarik lengan bajunya.
“Devan, lepasin nggak?" pinta Hanifa.
“Nggak!"
“Iya, iya. Aku ikut. Tapi ngak usah tarik-tarik kayak gini. Aku bisa jalan sendiri."
Mendengar ucapan Hanifa, Devan melepaskan tangannya. Kemudian berjalan dan diikuti Hanifa dari belakang.
“Mau ngomong dimana, sih?" tanya Hanifa lagi.
Tanpa menjawab, Devan menghentikan langkahnya. Kini mereka berada di sebuah lorong dekat taman sekolah. Setelah memastikan suasana sekitar aman, Devan lantas memajukan badannya menghadap Hanifa dengan kedua mata menatap lekat ke arah gadis itu.
“Mau ngomong apa?"
__ADS_1
“ASTAGA! Kalian berdua ngapain di sini?!" pekik seorang siswa yang membuat Devan dan Hanifa terkejut.
***