
"Kita mau kemana, Van?" tanya Hanifa saat mobil yang mereka tumpangi belum juga berhenti. Sudah satu jam perjalanan, tapi mereka belum juga sampai tempat tujuan.
“Kita mau ke Bogor."
Mata Hanifa membulat sempurna. "Bogor?"
"Iya. Kita mau ke rumah Oma."
Hanifa hanya ber-oh panjang. Mengingat dia belum terlalu mengenal keluarga Devan lebih jauh. Yang Hanifa tau, Devan hanya tinggal dengan kak Jihan. Sedangkan ibunya yang asli Jerman sudah lama tidak ke Indonesia. Hanifa tidak tau kalau keluarga Deva nada yang masih tinggal di sini.
"Kamu yang sabar, ya. Bentar lagi sampai kok," ucap Devan yang kini sudah menyandarkan kepalanya di pundak Hanifa.
"Kamu masih pusing, ya?"
"Sedikit."
"Kalau masih pusing, kenapa nggak pulang ke rumah aja, Van? Kan kita bisa ke rumah Oma kalau keadaan kamu udah benar-benar sehat."
"Aku udah nggak apa-apa. Lagian aku kangen sama Oma, udah lama nggak main ke sana."
Hanifa hanya bisa menghela nafasnya panjang. Memang sulit untuk mencegah keinginan dari laki-laki di sampingnya itu.
Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, akhirnya mobil mereka terparkir di sebuah halaman rumah yang lumayan mewah, tapi nampak sederhana. Selanjutnya, mereka bersiap untuk turun.
Di dekat pintu, sudah berdiri seorang wanita yang umurnya kira-kira baru masuk 50-an sedang menyiram bunga di sekitar rumah. Devan yang baru turun segera berjalan mendekati wanita yang mungkin belum menyadari kedatangan mereka.
"Assalamualaikum, Oma," sapa Devan diikuti Hanifa di belakang.
Mendengar suara seseorang mengucapkan salam, wanita itu segera berbalik. Senyumnya merekah melihat sosok yang tengah berdiri di depannya.
"Wa'alaikum salam. Masya Allah ... Cucu Oma," balasnya dan langsung memeluk Devan.
"Oma apa kabar? Maaf, ya, Devan nggak pernah main ke sini lagi."
Wanita itu melepas pelukannya, kedua tangannya ditangkupkan ke wajah Devan. "Oma baik-baik aja sayang. Kamu sehat kan di sana? Ini kepala kamu kenapa diperban?" tanya sang oma. Raut kekhawatiran terlihat dari wajahnya yang sudah mengerut.
"Devan nggak papa kok, Oma. Ini cuma luka kecil."
"Kamu manjat pohon lagi, ya? Ini kepalanya pasti bekas jatuh dari pohon, iya kan?"
Devan tertawa kecil mengingat dirinya yang selalu kena omel karena hobi sekali manjat pohon waktu kecil. "Oma bisa aja. Devan udah gede, Ma. Udah nggak manjat pohon lagi," jawabnya kemudian memeluk malaikat kedua dalam hidupnya itu.
"Devan kangen sekali sama Oma."
"Oma juga sayang, syukurlah cucu Oma baik-baik saja. Jihan tidak ikut?”
"Malam nanti dia ke sini Ma, masih urus kerjaan di kantor."
__ADS_1
"Eh, ini siapa Van?" tanya wanita yang bernama Fatmawati itu tatkala melihat keberadaan Hanifa.
"Assalamualaikum, Oma," sapa Hanifa juga, kemudian mencium punggung tangan Fatma.
"Wa'alaikum salam, cantik," jawabnya tersenyum.
"Oma kenalin, ini Hanifa."
Dari raut wajah cucunya, Fatma sudah bisa menebak siapa wanita yang bersama cucunya itu. "Kamu istri cucu saya kan?"
"Hah?" Hanifa sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari wanita di depannya itu.
"Tidak usah terkejut sama pertanyaan Oma, sayang. Oma tau itu karena cucu Oma yang satu ini tidak mungkin membawa sembarang perempuan tanpa ada ikatan. Cucu Oma ini sangat anti sama perempuan, dengan kedatangan kamu di sini sudah cukup membuat Oma paham, kalau kamu adalah perempuan pilihan hatinya. Benar kan, Van?”
Devan menepuk jidatnya mendengar ucapan neneknya barusan. "Oma, kenapa buka kartu di depan, Ifa? Kan Devan malu," bisiknya.
"Kenapa malu, Van? Dia kan istri kamu. Ya wajar lah kalau dia tau tentang suaminya."
Hanifa yang mendengar itu tersenyum. "Ifa sudah tau kok, Ma."
"Tuh kan, istrimu saja sudah tau." Ujarnya tersenyum menatap wajah cucunya. "Selamat datang di keluarga kami ya, sayang. Semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan untuk kalian."
"Aamiin. Terima kasih, Oma."
Fatma pun mengelus wajah Hanifa lembut, kemudian tersenyum penuh kasih sayang. "Cantik, ya, Van, sholehah lagi. Nggak salah Oma ngajarin kamu cari istri sholehah."
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya mereka bertiga pun masuk. Lima menit merapikan kamar yang dulu menjadi tempat favoritnya, Devan berinisiatif untuk mengajak Hanifa keluar.
"Oma, Devan mau keluar sebentar, ya. Mau liat-liat kebun teh."
Fatma yang baru datang dari dapur langsung menyetujuinya. "Iya, tapi pulangnya jangan terlalu sore. Kasihan Hanifa, pasti capek."
"Siap, Oma. Kalau gitu, Devan berangkat, ya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Baru sampai depan gerbang, Hanifa menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Sebenarnya kita mau kemana, Van? Apa nggak sebaiknya kamu istirahat? Kita kan baru sampai."
"Kamu capek, ya?"
Hanifa menggeleng. "Bukan aku yang capek Devan, tapi kamu."
"Aku nggak capek kok. Udah sekarang kamu ikut aja, ya."
__ADS_1
"Pakai apa?"
"Tuh." Devan menunjuk sebuah sepeda yang terparkir di dekat gerbang. "Ayo, ah! Keburu malam nih."
Akhirnya Hanifa mengalah lagi, dan memilih mengikuti Devan ke depan gerbang. Namun sampai beberapa detik kemudian, Devan tidak merasakan pergerakan apapun di belakangnya.
"Kok belum naik?" tanya Devan saat dia sudah siap berangkat dengan sepedanya.
"Kamu yakin pakai sepeda?"
"Yakin seratus persen. Aku jamin kamu nggak bakalan jatuh kok. Kamu percaya kan sama, aku?" Hanifa mengangguk. "Ayo makanya naik!"
Hanifa menurut. Sebelum mengayuh sepedanya, Devan meraih tangan Hanifa dan meletakkannya di depan perutnya. "Pegangan, ya, biar kamu nggak takut."
Beberapa detik kemudian, Devan sudah mengayuh sepedanya, menyusuri setiap jalan yang dipenuhi oleh perkebunan teh milik keluarganya. Cuaca sore itu sangat menyejukkan.
Sesejuk hati dua sejoli yang sedang memasuki tahap saling memahami dan melengkapi satu sama lain. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Hanifa sering kali bertengkar dengan nalurinya. Menyangka kalau pernikahannya dengan Devan tak akan bertahan lama.
Walaupun begitu, Hanifa sudah berjanji pada dirinya untuk tetap mempertahankan apa yang menjadi takdirnya saat ini. Dia yakin dengan keputusan yang sudah dia pilih.
"Fa?" suara Devan membuyarkan pikiran anehnya.
"Eh, iya?"
“Turun gih," pintanya.
"Kamu ngelamun, ya?" tanya Devan menarik pelan hidung Hanifa.
"Nggak, kok."
“Ya udah, kamu tunggu di sini bentar ya, aku mau beli sesuatu di sana." Devan menunjuk ke salah satu toko di pinggir jalan.
"Iya," jawabnya mengangguk.
"Titip sepedanya, ya," kata Devan lagi.
Sebelum pergi, tangannya usil memegang kepala Hanifa sampai jilbabnya sedikit berantakan.
"Ih, Devan. Jilbabku," kesal Hanifa pada laki-laki yang sudah beranjak pergi dengan tertawa kecil.
Lima menit menunggu, tangan Devan melambai ke arahnya. Memberi kode kalau Hanifa harus ke sana. Dengan menenteng sepedanya, Hanifa melihat sekitar sebelum berjalan. Jalan sore itu tak terlalu ramai, jadi Hanifa bisa dengan mudah menyebrang.
Di tengah jalan yang sepi, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan. Sayangnya Hanifa tidak menyadari hal itu, sehingga mobil tersebut menabrak sepedanya.
Brakk!
"HANIFA!"
__ADS_1
***