
Langkah kakinya sedikit dipercepat. Semilir angin sedikit membelai ujung jilbabnya. Untuk kesekian kali dia menarik nafas kemudian mengeluarkannya pelan. Hatinya sedikit lega ketika dia berhasil menceritakan apa yang terjadi pada sahabatnya, terutama tentang lamaran pertama itu.
"Kamu nggak usah merasa bersalah, Fa, ini sudah takdir. Mungkin Devan adalah laki-laki yang terbaik buat kamu. Yang penting sekarang, kamu fokus sama hubungan kalian. Oke."
Hanifa merasa tenang kembali setelah mengingat nasehat sahabatnya. Dia bersyukur Allah kirimkan orang-orang baik di sekitarnya. Sebentar lagi dia akan sampai ruang rawat inap, tempat Devan di rawat.
Segera mungkin tangannya mengusap wajahnya, menghilangkan segala ekspresi yang akan membuat Devan curiga dan merasa bersalah lagi.
Baru tinggal lima langkah lagi, kaki Hanifa terhenti. Seseorang tengah menunggu di depan pintu masuk. Melihat hal itu, Hanifa segera menghampirinya.
"Kak Jihan?"
Wanita yang tadinya fokus dengan handphone nya pun tersadar, kemudian tersenyum. "Kenapa duduk di luar kak? Kenapa nggak langsung masuk?" tanya Hanifa.
"Aku sengaja nunggu di luar, Fa, takut Devan terganggu. Mungkin dia sedang istirahat."
"Tapi, kan, kak Jihan bisa nunggu di dalem."
Jihan hanya menggeleng dan tersenyum. "Nggak usah, Fa. Bentar lagi aku balik ke kantor kok."
Hanifa memilih duduk di sampingnya. "Kak Jihan mau bicara sesuatu ya sama Devan?"
"Tadinya iya Fa, tapi kalau dipikir-pikir kayaknya nggak usah. Toh juga aku yakin, Devan nggak ingin mendengar apapun dari aku," kata Jihan pesimis.
"Kak Jihan, sekarang Devan sudah berubah. Aku yakin, dia pasti mau mendengarkan apa yang ingin kak Jihan katakan. Aku harap, hubungan kak Jihan dan Devan bisa hangat lagi seperti dulu." Hanifa mencoba membujuk Jihan.
"Perubahannya hanya untuk kamu Fa, bukan aku."
Hanifa memegang tangan kakak iparnya lembut, mencoba meyakinkan hatinya kalau semuanya tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Bagaimanapun, Kak Jihan satu-satunya keluarga yang Devan punya. Sedangkan aku adalah orang baru di kehidupan kalian. Serumit apapun masalah kalian, ikatan darah pasti bisa menyelesaikan keadaan, Kak."
"Kenapa kamu seyakin itu, Fa?"
"Belum mencoba belum tau hasilnya, Kak," ucap Hanifa tersenyum. "Mari masuk, Kak. Aku akan bantu kak Jihan menyelesaikan semua ini. Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja."
"Bismillah," gumam Jihan sebelum mengikuti Hanifa masuk.
"Assalamualaikum," ucap Hanifa di bibir pintu.
__ADS_1
"Waalaikumussalam. Baru pulang?" tanya Devan.
Hanifa mengangguk. "Van, ada yang mau ketemu sama kamu."
Devan meletakkan mushaf yang sedari tadi dipegangnya. "Siapa?"
Belum satu detik, seorang perempuan masuk. Devan yang melihatnya diam, kemudian tersenyum samar. “Devan. Gimana kabar kamu?"
"Seperti yang terlihat. Aku baik."
Melihat kebekuan sikap Devan, Hanifa segera menyuruh Jihan untuk duduk. "Devan, kak Jihan ke sini mau ngomong sesuatu sama kamu. Kamu mau mendengarnya, kan?"
"Hm," jawabnya singkat.
Hanifa tersenyum ke arah Jihan, memberi kode kalau semua permasalahan yang terjadi diantara mereka akan segera selesai. Untuk mengembalikan ikatan yang sempat longgar, Hanifa mencari cara agar semuanya berjalan dengan damai. Hanifa yang sudah tau masalah itu hanya bisa berdoa, semoga hubungan kakak beradik ini segera membaik.
“Devan, maafin aku kalau kedatanganku mengganggu kamu. Kakak ke sini mau menepati janji yang telah kakak buat." Jihan menarik nafasnya sebentar.
"Sekarang, kakak akan menjelaskan tentang hal yang sangat ingin kamu tau. Kakak akan memberitahumu yang sebenarnya terjadi dengan-"
"Dengan kepergian Mama," ujar Devan memotong perkataan Jihan. "Aku sudah tau semuanya. Mama pergi karena kekasih barunya, dan meninggalkan Papa yang sedang sakit."
Hanifa dan Jihan saling lihat. "Devan, kamu-"
"Kakak lakuin itu demi kebaikan kamu, Van."
Devan tersenyum, kemudian memegang tangan kakaknya. "Aku tau. Selama ini aku hanya dibutakan dengan emosi dan egoisme semata, tanpa tau alasan sebenarnya di balik semua itu."
"Maafin kakak, ya," ujar Jihan langsung memeluk adiknya. Jihan sangat bahagia, ini untuk kali pertamanya dia memeluk Devan setelah sekian lama. Dan kini, Devan juga memanggilnya dengan panggilan kakak.
"Maafin aku juga, kak Jihan," lirih Devan membelai punggung Jihan.
Hanifa yang melihat pemandangan di depannya tersenyum, tak hentinya dia mengucap syukur dalam hatinya karena kebaikan Allah yang sudah merubah Devan menjadi lebih baik.
Terima kasih ya Allah.
"Masya Allah, ada acara apa ini?" tanya dokter Arif tiba-tiba sudah berada diantara mereka.
"Ayah?" Hanifa langsung menghampiri ayahnya.
__ADS_1
"Maaf,, Ayah baru bisa ke sini."
"Tidak apa, Om," jawab Jihan sumringah.
"Kok masih panggil Om? Sekarang kita sudah menjadi satu keluarga. Anak ayah tidak hanya Hanifa saja, tapi Jihan dan Devan juga. Jadi, mulai sekarang jangan panggil Om lagi, ya? Sekarang ayah adalah Papa kalian juga."
Jihan dan Devan mengangguk bahagia. "Om, eh Dok. Boleh nggak aku peluk Dokter?" ujar Devan.
Tanpa menjawab, dokter Arif langsung memeluk laki-laki yang sudah menjadi suami dari putrinya itu. "Sekarang, Om adalah Ayah kamu. Kapan pun kamu butuh Ayah, Ayah akan selalu ada buat kalian."
"Terima kasih, Ayah," ucapnya. Beberapa menit kemudian, Devan melepas pelukan kasih sayang itu.
"Kalian sangat luar biasa. Ayah sangat bahagia melihat kalian akrab lagi seperti ini. Semoga rahmat dan kasih sayang-Nya selalu bersama kalian."
"Aamiin. Terima kasih doanya, Yah.”
Dokter Arif tersenyum. "Sama-sama, Nak. Oh iya, ada kabar baik lagi yang ingin Ayah sampaikan."
"Kabar baik apa, Yah?" tanya Hanifa sedikit penasaran.
"Tadi pagi Ayah ke ruangan dokter Gibran, dia mengatakan kalau Devan sudah bisa pulang."
Mendengar hal itu membuat senyum Devan mengembang seketika. Entah mengapa, keluar dari rumah sakit lebih menyenangkan daripada libur sekolah, menurutnya.
"Alhamdulillah," kata Jihan ikut senang.
"Tapi, dengan syarat Devan harus rajin datang ke rumah sakit untuk mengontrol kesehatannya. Dokter Gibran juga berpesan, agar lusa Devan datang untuk melakukan CT Scan lagi. Gimana, Nak Devan?"
Devan hanya mengangguk. Selain keadaannya belum pulih total, dia sadar kalau sekarang dia harus lebih peduli dengan kesehatan dan hidupnya. Alasannya sangat jelas, karena sekarang ada orang yang harus dia bahagiakan.
"Ayah, kak Jihan, bisa tinggalkan kami sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Ifa," pinta Devan memandang wanita yang sudah memasang wajah bingung.
Tentu Jihan dan dokter Arif tidak akan menolak. Setelah pamit mau ke kantor, Jihan langsung beranjak pergi. Begitu juga dengan dokter Arif, dia langsung keluar setelah menerima telpon dari seseorang.
"Kamu mau ngomong apa, Van?"
Devan memperbaiki posisi duduknya menjadi sedikit lebih dekat dengan Hanifa. Melihat ekspresi dari wajah Devan, Hanifa merasa dia akan membicarakan sesuatu yang serius.
"Aku mau pergi ke suatu tempat dalam jangka waktu yang lumayan lama, apa kamu mau ikut?"
__ADS_1
"Kemana?"
***