Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Pekerjaan Baru


__ADS_3

"Ya Allah, aku terlambat. Seharusnya tadi aku nggak nemenin Ayyan makan," gerutunya sambil berjalan cepat.


Ia beberapa kali melirik jam tangannya, sudah pukul tiga lewat sepuluh menit. Seharusnya sekarang dia sudah sampai di rumahnya Devan, bukannya malah baru mau berangkat. Entah jam berapa dia akan sampai di sana nanti.


Hanifa menyapu seluruh sudut jalan di depannya, mencoba mencari taxi ataupun angkot yang lewat. Sayangnya, harapan tidak sejalan dengan kenyataan. Ia lantas menyesali perbuatannya yang mengatakan tidak perlu diantar oleh sopir pribadi ayahnya hari ini dengan alasan ia akan pulang cepat.


Namun tadi, Ayyan menyita waktunya beberapa menit. "Di sini enggak ada yang salah, Fa," ucapnya tidak ingin menyalahkan siapapun


Beberapa menit berpikir dan belum mendapat jawaban, akhirnya ia memutuskan untuk berlari cepat menuju rumah Devan. Hanifa khawatir kalau Devan telat meminum obatnya, kondisinya akan drop lagi.


Jarak rumah Devan dengan sekolah memang tak terlalu jauh. Hanya butuh waktu sepupu menit untuk sampai sekolah dengan sepeda motor. Namun dengan langkah kaki, entah Hanifa akan butuh waktu berapa jam.


Tepat setengah perjalanan, Amel yang kebetulan lewat dan melihat Hanifa tengah berlari menghentikan motornya. Rupanya ia ingin menawarkan agar Hanifa ikut dengannya. Setelah menjelaskan tujuannya, Amel mengangguk dan mengatakan kalau rumahnya tak jauh dari rumah Devan.


Hanifa merasa sangat terbantu. Segera ia naik ke motor Amel untuk mempersingkat keterlambatannya. Sepuluh menit kemudian, ia sudah berada di depan gerbang rumah Devan. Para penjaga membukakan gerbang untuknya.


Sebelum masuk, Hanifa mencoba mengatur napasnya yang ngos-ngosan karena berlari tadi. “Assalamualaikum," ucapnya di depan pintu.


“Waalaikum salam," jawab bi Mar, pembantu di rumah besar itu.


Setelah membukakan pintu, wanita paruh baya itu tersenyum. "Non Hanifa, dokter barunya Aden?"


Hanifa tersenyum dan menggeleng cepat. "Saya belum menjadi dokter, Bi. Saya hanya membantu ayah untuk mengawasi Devan."


“Ah, iya. Mari masuk, Non." Asisten rumah tangga itu mempersilahkan.


“Devan ada di kamarnya, Bi?' tanya Hanifa. Ia tak ingin masuk sembarangan, apalagi ke kamar laki-laki yang bukan mahramnya.


“Tadi Bibi lihat Aden pergi ke taman belakang, Non. Coba Non Hanifa cari ke taman belakang," saran bi Mar.


Hanifa mengangguk. “Iya, Bi. Terima kasih."


Bi Mar tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Non."


Baru akan beranjak ke taman, Hanifa menahan kakinya karena teringat sesuatu. "Oh iya, Bi. Kak Jihannya dimana?"


“Non Jihan dari tadi pagi keluar, Non, pergi ke kantor. Sampai sekarang belum pulang. Biasanya pulang sore."


“Oh, begitu."


“Ya sudah, Non. Bibi mau ke dapur dulu, ya."


Hanifa langsung tersenyum dan mempersilahkan wanita itu untuk kembali pada rutinitasnya. Sedangkan ia harus pergi menemui pemilik rumah ini di taman.


Saat baru sampai pintu belakang, mata Hanifa dimanjakan dengan keindahan yang ada di sana. Taman itu lumayan luas, lengkap dengan beragam bunga warna warni. Di tengahnya terdapat kolam kecil dengan air mancur kecil. Sungguh indah.

__ADS_1


Setelah puas melihat keindahan taman tersebut, kini Hanifa sibuk mencari keberadaan Devan. Matanya berhasil menangkap sosok itu tengah membaca buku di atas bangku panjang putih di bawah pohon rindang.


Sebelum benar-benar melangkah, Hanifa menghirup nafas dalam dan mengucap bismillah. Entah kenapa ia merasa sangat gugup.


"Assalamualaikum," sapa Hanifa.


“Udah jam berapa, nih?!" balas Devan tanpa melihat sosok yang baru datang.


Hanifa sudah menduga hal ini akan terjadi. Maka, ia pun segera mencari alasan yang paling bisa diterima oleh laki-laki itu.


“Maaf. Tadi aku nggak nemuin taxi ke sini, makanya ak-"


“Alesan! Lo kan ikut organisasi, kan? Setiap organisasi mengajarkan kedisiplinan. Dan sikap lo kali ini sama sekali tidak mencerminkan hal itu." Belum sempat mengakhiri kalimatnya, Devan sudah memotong.


“Iya, aku tahu aku salah. Lain kali hal ini tidak akan terulang lagi," jawab Hanifa.


“Kalau lo ngulang lagi gimana?" tanya Devan. Kali ini matanya tidak menghadap buku, tapi menghadap Hanifa.


Melihat ekspresi tidak suka dari wajah Devan, Hanifa terdiam. Sebelum berbicara, ia menghembuskan napas panjang.


“Kalau hal ini terulang lagi. Aku akan berhenti dari tugas ini," jawab Hanifa setengah yakin.


Devan tersenyum sinis. "Oke. Gue pegang omongan lo," ucapnya lagi kemudian melanjutkan membaca bukunya dan mengabaikan kehadiran Hanifa di sampingnya.


Tak peduli dengan sikap Devan, Hanifa mendudukkan dirinya di samping Devan dan mengeluarkan obat yang diberikan ayahnya kemarin.


“Kalau terlambat emangnya kenapa? Apa gue akan mati?"


“Kematian seseorang hanya Tuhan yang tahu. Manusia hanya perlu berusaha. Dan obat ini adalah salah satu usaha agar kamu cepat sembuh. Dan aku mau, kamu minum obat ini sekarang juga."


“Nanti aja juga bisa, kan? Nggak harus sekarang juga kali."


“Devan, sekarang aku sudah bertanggung jawab atas pekerjaanku sama ayah. Jadi aku punya tanggung jawab terhadap kesehatan kamu. Dan sekarang aku mau kamu minum obat ini," bujuk Hanifa lagi.


Melihat Devan masih acuh tak acuh, Hanifa membuka obat itu satu persatu dan meletakkannya ke tangan Devan.


“Lo maksa banget si!"


“Ini demi kesehatan kamu, Devan."


Devan kesal dengan Hanifa. Meskipun begitu, dia tetap meminum obat yang sudah ada di tangannya.


"PUAS!?" ucapnya setelah meminum obat itu.


Hanifa tersenyum melihatnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah. Terima kasih, ya. Sudah mau bekerja sama. Dan ini, nanti kamu minum setelah makan," ucap Hanifa meletakkan obat itu di atas meja dekat tempat duduk Devan. Setelah itu dia beranjak hendak pergi.


“Eh. Lo mau kemana?" sergah Devan.


“Mau pulanglah. Tugas aku hari ini sudah selesai, dan kamu juga nggak perlu kehadiran seseorang seperti aku di sini kan. Jadi, untuk apa aku tetap di sini?"


Tanpa menjawab, Devan berdiri, membawa bukunya dan melihat Hanifa sebentar. "Ikut gue!" titahnya dan beranjak mendahului Hanifa.


Kedua alis Hanifa menukik bingung. “Ikut kemana?"


Devan tak menanggapi pertanyaan Hanifa barusan. Dia tetap saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


“Devan!" panggil Hanifa. Namun sayangnya, bayangan Devan sudah menghilang.


Hanifa mendengus kesal. Tak ada pilihan lain. Ia kemudian menyusul laki-laki itu. Namun saat sudah di dalam rumah, Hanifa tidak melihat siapapun.


“Apa dia di kamarnya?" pikir Hanifa.


“Sudahlah. Lebih baik aku pulang saja," putusnya dan melangkahkan kakinya keluar.


Setelah menutup pintu, Hanifa terkejut dengan mobil Devan yang sudah ada di depannya. Seketika kaca mobil itu terbuka, Hanifa melihat Devan tengah duduk di belakang kemudi.


“Masuk!" titahnya lagi.


Hanifa menggeleng cepat. Bermaksud untuk menolak. “Mau kemana?" tanyanya.


"Bawel banget sih. Udah cepetan masuk!"


Hanifa tak mau berdebat dengan manusia es itu lagi. Dia sungguh sudah merasa sangat lelah hari ini. Karena itulah, ia memilih untuk menuruti keinginan Devan. Tanpa menunggu lama, Hanifa segera membuka pintu mobil dan duduk di belakang.


“Eh lo ngapain duduk di belakang? Gue bukan sopir pribadi lo. Duduk di depan!"


Hanifa menggeleng. “Kita bukan muhrim," jawabnya.


“Gue nggak bakal apa-apain lo. Udah cepetan pindah!”


Hanifa mengalah lagi. Terpaksa ia duduk di samping Devan. Setelah itu, ia melajukan mobilnya keluar dari rumah besar itu.


“Kita mau kemana?" tanya Hanifa untuk kesekian kalinya. Namun tetap saja tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Di sepanjang jalan, Hanifa bingung sendiri. Sebenarnya Devan mau membawanya kemana?


Setelah tiga puluh menit kemudian, mobil Devan berhenti. Hanifa memicingkan mata melihat tempat di depannya. Bangunan itu tidak asing di pikirannya.


Ngapain Devan berhenti di tempat ini? tanya Hanifa dalam hatinya.


“Turun!"  ucap Devan memerintah.

__ADS_1


"Apa?"


***


__ADS_2