Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Tak Sengaja Bertamu


__ADS_3

"Kenapa, Nak?" tanya dokter Arif setelah Hanifa terdiam beberapa saat.


Hanifa melihat ke arah ayahnya dengan pandangan tidak biasa.


“Wajahnya tidak jelas, Yah" jawabnya tersenyum dan menyerahkan ponsel tersebut pada ayahnya.


Dokter Arif menepuk jidatnya pelan. Ia lupa menjelaskan bahwa foto itu ia ambil pasca anak yang dimaksud  melakukan operasi dua tahun lalu. Dan saat itu keadannya masih sangat kritis, sehingga tidak memungkinkan menangkap wajahnya dengan jelas karena terhalang beberapa alat medis yang ada menempel di wajahnya.


Hanifa melirik jam tangannya. “Ayah, Ifa harus segera pulang. Soalnya tadi ummi menyuruh Ifa beli bahan kue. Ummi pasti khawatir karena Ifa pulang terlambat."


Dokter Arif mengangguk. Ia pun segera menghabiskan sisa minumannya. "Kalau begitu, biar Ayah yang antar, ya."


Hanifa tersenyum tanda setuju. Setelah melunasi pembayaran, dokter Arif menyusul Hanifa yang sudah masuk mobil dengan membawa dua plastik hitam di tangannya.


“Ini nanti kasih Ummi dan anak-anak ya," ucapnya menyerahkan dua plastik hitam itu kepada Hanifa


Hanifa menerimanya dengan tersenyum. "Terima kasih, Yah."


“Sama-sama, Nak."


“Oh iya, Ayah akan lama tinggal di sini?"


“Sebenarnya ayah pulang pergi dari Bogor ke Bandung, Nak," jelas pria itu dengan pandangan fokus pada jalan di depannya.


“Ayah tidak capek?"


Dokter Arif tersenyum mendengar pertanyaan putrinya. “Itu sudah kewajiban Ayah, Nak."


Hanifa mengangguk pelan. Sebenarnya dia merasa kasihan dengan ayahnya. Jarak antara Bogor-Bandung lumayan cukup jauh. Hanifa bisa membayangkan bagaimana lelahnya sang ayah.


“Kenapa Ayah nggak cari orang buat bantu Ayah di sini? Jadi, Ayah tidak harus selalu bolak balik setiap hari." Hanifa memberikan saran.


Dokter Arif menoleh, kemudian tersenyum.


“Sebenarnya Ayah pernah berniat mencari orang untuk bantu ayah, tapi tidak sempat karena jadwal padat. Dan juga, mencari orang yang mudah dipercaya itu susah, Nak."


“Sebenarnya Ifa mau bantuin Ayah, tapi nanti siapa yang akan membantu ummi membuat kue?"


Dokter Arif sontak menghentikan mobilnya. “Kamu mau bantuin Ayah?" Hanifa langsung mengangguk.


“Masalah ummi, Hanifa nggak usah khawatir. Nanti Ayah yang bicara sama ummi.”


“Beneran, Yah?" tanya Hanifa dengan wajah berbinar.


“Sebentar lagi Ifa kan kelas dua belas. Itu tandanya akan segera lulus. Nanti setelah Ifa lulus sekolah, Ayah akan daftarkan Ifa ke fakultas kedokteran. Cita-citanya mau jadi dokter kan, seperti Ayah?"


Hanifa tersenyum sangat bahagia. "Tapi, Yah. Apa aku bisa diterima?"


“Ayah yakin akan langsung diterima. Karena Ifa akan belajar banyak hal selama membantu Ayah."


“Alhamdulillah, terima kasih banyak Yah," ucapnya penuh rasa haru. Ia sangat bersyukur karena jalan untuk mencapai impiannya selangkah dimudahkan.


“Sama-sama, Sayang. Anak ayah harus sukses. Ya sudah, sekarang kita pulang dan bertemu ummi, ya."


Hanifa tersenyum. Segera dokter Arif melajukan mobilnya kembali.


***


Setelah sampai di panti, Hanifa segera masuk dan memanggil umminya dengan membawa plastik yang diberikan ayahnya.


“Kamu darimana saja, Nak? Kamu nggak apa-apa kan?" tanya ummi Fatimah terlihat cemas.


Hanifa segera menepis kecemasan di wajah umminya dengan senyuman manis. "Hanifa nggak apa-apa, Umm. Tadi bahan kue di warung sudah habis, makanya Ifa pergi beli di supermarket. Dan kebetulan Ifa ketemu sama ayah."


“Maksudmu dokter Arif?" tanya ummi, Hanifa sontak mengangguk. "Terus ayahnya mana? Apa nggak diajak masuk?"


“Ada kok, Umm. Ayah ada di depan, katanya mau ketemu Ummi."


“Ketemu Ummi? Ada apa?"

__ADS_1


“Mendingan, Ummi ke depan dulu gih. Ifa mau taruh bahan-bahan ini dulu," katanya tersenyum dan berlalu.


Sedangkan ummi Fatimah segera beranjak menemui dokter Arif dengan segelas teh hangat di tangannya. Sesampainya di sana, mereka berbincang cukup lama.


Dokter Arif menjelaskan banyak hal, terutama tentang keinginan Hanifa yang ingin membantu dirinya. Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya, dokter Arif akhirnya merasa lega karena ummi Fatimah mengizinkan Hanifa membantunya.


“Bagaimanapun, Hanifa sudah menjadi anak Bapak. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk melarang Hanifa."


“Sekali lagi terima kasih. Saya akan menjamin segala keperluan Ibu, Hanifa dan anak-anak panti. Anggap saja sebagai amal jariyah. Kalau begitu, saya pamit dulu Bu. Besok saya ke sini untuk menjemput Ifa," kata dokter Arif.


Ummi Fatimah mengangguk tersenyum. "Hati-hati, Pak Arif."


“Iya, Bu. Assalamualaikum."


“Waalaikum salam."


Hanifa baru keluar kamar setelah mobil dokter Arif baru saja pergi. "Ayah sudah pulang, Um?"


“Iya, katanya besok dia mau ke sini lagi jemput kamu, Nak."


Hanifa sedikit heran dengan ucapan umminya barusan. Apa ayah sudah memberi tahu ummi? Batinnya.


“Nak, tadi ayahmu sudah meminta izin sama Ummi untuk membantunya. Dan ummi sangat setuju. Lagian dokter Arif kan sudah menjadi ayah kamu, jadi sudah sepantasnya kamu bisa membantunya."


Hanifa terdiam. Di satu sisi ia bahagia karena bisa melekatkan hubungannya dengan ayah angkatnya. Tapi di sisi lain ia merasa bersalah dan bersedih karena tidak bisa lagi membantu umminya berjualan.


“Kok mukanya begitu sih?"


“Ummi, kalau Ifa jadi bantu ayah, pekerjaan di panti bagaimana?"


Ummi Fatimah menghela napas panjang. Tangannya yang mulai menua itu spontan membelai lembut kepala Hanifa yang tertutup hijab.


“Sayang, kamu jangan sedih gara-gara mikirin urusan panti ya. Di sini kan masih ada Wulan, Mira, yang bisa bantuin Ummi. Kalau ayah, kan, nggak ada yang bantuin, Nak. Kasihan kan. Hanifa sudah besar. Ini waktunya Ifa berbakti sama ayah, ya."


Hanifa mengangguk dan tersenyum. Umminya benar, selama ini ayah Ariflah yang banyak membantu ekonomi keluarga panti, terlebih biaya pendidikannya. Dan inilah saatnya ia bisa sedikit membantu ayahnya.


“Ya sudah, sekarang kita masuk yuk. Sudah mau azan."


***


"Berhubung acaranya akan dilaksanakan lusa, maka waktu kita untuk latihan tinggal sore ini saja. Karena besok sore seluruh anggota, baik Pramuka, PMI maupun OSIS akan mempersiapkan sarana dan prasarana untuk acara. Jadi, saya harap kehadiran kalian semua sore ini." Wafi menjelaskan seluruh kegiatan pada siswa yang berada di ruangan itu.


Seluruh anggota organisasi ekstrakulikuler yang berkumpul di aula mengangguk mendengar penjelasan manta ketua OSIS sekaligus ketua organisasi PMI yang masih aktif itu.


Sejak dulu, Hasbi Warafqi Firyas sudah mengemban amanah menjadi ketua bahkan hampir di seluruh organisasi. Tidak lain karena dia merupakan salah satu siswa berprestasi nan cerdas.


Bahkan saat ini, dia tengah menerima tawaran beasiswa dari berbagai universitas ternama. Kalau melihat dari prestasinya, ia sangat mungkin untuk diterima di universitas luar negeri tanpa tes sekalipun. Tapi ia memilih UI sebagai tempatnya menimba ilmu hingga lulus strata satu.


Dengan segala kelebihannya, maka tak jarang ada siswi maupun mahasiswi yang sering mencari perhatian dengannya.


Selesai rapat, semua siswa segera beranjak masuk ke kelas masing-masing karena jam istirahat sudah hampir selesai. Namun di kelas XI IPA 2, para siswa dengan santainya masih bermain karena guru yang bersangkutan belum hadir.


“Oiya, nanti kalau aku tidak datang latihan izinin aku ya," pinta Hanifa yang sedang sibuk dengan beberapa catatan di mejanya.


Ayyan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya melirik. "Kamu mau kemana Fa? Ini kan hari terakhir latihan, masa kamu nggak datang si?"


“Aku juga masih belum tahu, Ayy. Soalnya aku mau pergi sama ayah."


“Pergi kemana?"


“Nanti aku kasih tahu, ya. Yang penting izinin saja dulu. Oke?"


"Iya iya," jawabnya sedikit kesal.


“Eh Fa, kamu tahu nggak? Si Devan itu pingsan lagi lepas kumpul tadi," cerita Ayyan.


Hanifa yang sedari tadi sibuk mencatat, tiba-tiba melepas pulpennya dan menatap sahabatnya itu.


“Kamu serius?" Ayyan mengangguk mantap. “Terus sekarang dia dimana?" tanya Hanifa sedikit cemas. Entah apa yang membuat hatinya selalu care pada laki-laki seperti dia.

__ADS_1


“Kata anak sekelasnya sih, dia sudah diantar pulang."


Mendengar hal itu, semangat Hanifa tiba-tiba menghilang. Kini pikirannya tertuju pada cerita ayahnya tentang anak yang terkena penyakit tumor itu.


“Apa Devan punya penyakit seperti itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Sebelum berprasangka terlalu jauh, guru yang dinanti pun tiba dan berhasil membuat hatinya tak memikirkan Devan lagi.


***


Sudah dua puluh menit Hanifa menunggu di koridor rumah sakit. Matanya sudah sangat puas melihat dokter dan perawat yang lalu lalang di depannya. Dia berharap dalam hatinya, semoga suatu saat nanti dia bisa menjadi bagian dari mereka.


Ifa, ayo kita berangkat nak. suara dokter Arif membuyarkan lamunannya.


“Sudah selesai urusannya, Yah?" tanya Hanifa melihat sosok ayahnya yang hampir sampai di tempatnya menunggu.


Dokter Arif mengangguk. "Iya, Nak. Alhamdulillah sudah selesai, jadi kita bisa segera berangkat ke rumah anak sahabat ayah itu."


“Buru-buru, Yah?" tanya Hanifa sedikit penasaran dengan wajah mengkhawatirkan dari mata ayahnya.


"Iya. Tadi pagi kakak dari anak itu menelpon, bahwa adiknya pingsan lagi di sekolah."


“Ya Allah, apa penyakitnya kambuh lagi?"


“Mungkin begitu, Nak. Sebaiknya kita segera berangkat ya. Ayah khawatir kondisinya semakin memburuk."


Hanifa segera mengangguk dan berjalan mengikuti ayahnya ke parkiran. Untungnya jalanan di kota siang itu tidak terlalu macet. Sehingga mereka bisa sampai tujuan dengan sedikit lebih cepat.


Mobil dokter Arif masuk ke halaman rumah besar yang dijaga ketat oleh dua orang pengawal di gerbang utamanya. Setelah dipersilahkan masuk, dokter Arif segera memarkirkan mobilnya, kemudian berjalan ke pintu, Hanifa mengikuti dari belakang. Matanya sedikit terkesima dengan apa yang dilihatnya. Rumah yang sangat besar dengan taman indah di setiap sudut rumah.


Setelah masuk ke dalam, matanya masih tak henti memandang seisi rumah besar nan megah itu. Mungkin hal ini terlihat luar biasa di mata Hanifa yang terbiasa hidup sederhana.


“Syukurlah Dokter sudah sampai, mari Dok," ucap seorang wanita muda yang tak asing di mata Hanifa.


Melihat wajahnya, Hanifa mencoba mengingat dimana dia pernah melihat wanita ini. Namun sebelum menemukan ingatannya, Hanifa segera disuruh ayahnya untuk masuk ke sebuah kamar di lantai atas.


“Ayah," panggil Hanifa.


Dokter Arif menghentikan langkahnya di tangga pertama. “Ifa tunggu di luar saja, ya,"  pinta Hanifa.


Mendengar putrinya tak ingin ikut masuk, dokter Arif memegang bahu putri kesayangannya. "Kenapa, Nak?"


Hanifa menggeleng. Sebenarnya ia merasa tidak enak masuk ke kamar orang secara sembarangan. Melihat hal itu, wanita yang sedari tadi memperhatikan mendekat ke arah Hanifa dan dokter Arif.


“Siapa, Om?"


“Ini Hanifa, putri saya. Dia yang akan membantu beberapa keperluan Devan kalau saya tidak bisa datang ke sini. Nak Jihan jangan khawatir, Ifa sudah banyak belajar. Jadi saya yakin, dia bisa diandalkan.”


Tunggu! Tadi ayah bilang apa? Keperluan Devan? Batin Hanifa dalam hatinya.


Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangan. "Halo, saya Jihan. Kakaknya Devan." Jihan tersenyum seraya mengulurkan tangan kanannya.


Sebelum menerima uluran tangan Jihan, Hanifa terdiam sebentar. Hatinya masih bertanya tentang Devan yang dimaksud. Apa itu Devan anak kelas IPA 1?


“Hanifa."


Hanifa membalas uluran tangan wanita itu. Dia meyakinkan hatinya bahwa ada banyak nama Devan di dunia ini. dan semoga bukan dia yang Devan yang dimaksud.


“Mari Dok," ucap Jihan mempersilahkan.


“Ayo, Nak."


Hanifa mengangguk. Ayahnya sudah masuk. Namun kakinya terasa kaku, seakan ada yang menariknya agar tidak masuk.


“Ya Allah, ada apa denganku?"


Hanifa melangkahkan kakinya dengan berat. Sampai di dalam kamar itu, matanya membulat memperhatikan seluruh isi kamar itu. Di dalam ruangan dengan interior dan cat putih polos, seseorang terbaring lemah dengan senyum menghias di wajah tirusnya.


Dia? Hanifa terkejut melihatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2