
Hanifa POV
"Baiklah, sampai di sini dulu penjelasan materi dari saya. Materi berikutnya akan disampaikan oleh Dokter Bayu. Selamat siang dan terima kasih."
Semua mahasiswa baru yang ada di depanku mengangguk. Alhamdulillah kegiatan ospek di hari ketiga berjalan lancar. Setelah materi dari dokter Bayu, lima menit lagi waktunya isoma. Berhubung tugasku sudah selesai, aku melangkahkan kaki menuju gerbang.
Sebelum itu, aku mengecek ponsel dan melihat sudah ada sepuluh notifikasi panggilan tak terjawab di sana. Aku menghela nafas panjang.
Aku yakin sekali kalau pemilik nomor ini akan mengomel sepanjang jalan karena tak ada satu pun telponnya yang terjawab.
Cling!
Sebuah pesan masuk, setelah melihat pengirimnya aku tersenyum. "Baru beberapa menit dipikirin, eh udah muncul aja," ujarku seraya membaca pesan itu.
...Mas Suami ❤️...
Kalau acaranya udah selesai, tunggu
di depan Musholla.
Oke, aku rasa tak perlu membalasnya. Lebih baik aku segera menemuinya sebelum level badmood nya bertambah. Setelah satu menit melewati lorong rumah sakit, akhirnya sampai juga aku di tempat tujuan.
Katanya suruh tunggu depan Musholla, tapi orangnya dimana? mataku mencoba mencari subjek di sekitar tempat ibadah itu, tapi yang dicari malah belum menunjukkan batang hidungnya.
"Sepertinya dia belum keluar, lebih baik aku sholat saja dulu," ucapku memutuskan masuk dan segera mengambil air wudhu.
Empat rakaat sholat Ashar, selesai sudah, tapi yang dicari belum juga kelihatan. Begitu akan meletakkan mukena yang kupakai di tempatnya, mataku tak sengaja menangkap sosok yang tengah khusuk dengan sholatnya.
"Kamu memang nggak pernah berubah."
"Siapa, Dok?" Suara seseorang dari belakang tiba-tiba mengagetkanku.
"Astagfirullah, Mbak Nana. Bikin kaget saja."
Wanita yang masih menggunakan pakaian perawat itu hanya tertawa kecil. "Maafkan saya Dokter Hanifa," ujarnya.
"Mbak udah sholat?" tanyaku dan langsung mendapat anggukan darinya.
"Dokter Hanifa memang terbaik deh kalau ngasih motivasi. Tadi itu keren sekali Dok. Dua jempol buat Dokter," pujinya mengulas senyum seraya menunjukkan kedua jempolnya.
"Aku hanya berbagi pengalaman saja, Mbak."
"Pokoknya pengalaman Dokter Hanifa memang terbaik."
Aku menggeleng pelan. Salah satu seniorku ini memang sering berlebihan ketika menilai sesuatu. "Mbak Nana udah mau pulang?"
Wanita itu menggeleng. "Nanti, Fa. Jam lima-an," jawabnya. "Kamu udah selesai kah ngisi acaranya?"
"Alhamdulillah udah, Mbak. Ini mau pulang."
"Eh, Hanifa. Mbak penasaran deh sama katamu tadi. Kenapa kamu bisa yakin sekali kalau setiap penyakit yang kita derita bisa disembuhkan? Sekalipun itu penyakit mematikan."
Mendengar hal itu, aku tersenyum. "Aku yakin dengan kebesaran Allah, Mbak. Aku percaya semua itu karena aku pernah mengalaminya."
"Kamu ada riwayat kanker?"
__ADS_1
"Bukan aku, Mbak," jawabku seraya berjalan ke pintu keluar. "Dulu, aku punya temen. Dia pengidap tumor stadium 3. Bahkan waktu itu, aku sempat berpikir kalau dia tidak bisa selamat ketika operasi. Tapi Allah menunjukkan yang sebaliknya padaku. Temanku yang stadium tiga itu sembuh, Mbak."
Mbak Nana membulatkan matanya ketika mendengar ceritaku tadi. "Subhanallah. Terus temanmu itu sekarang dimana?"
Baru akan menjawab, suara seseorang memanggilku.
"Kamu di sini? Aku kira kamu belum kelar tadi acaranya."
Aku dan Mbak Nana melihat sumber suara. Terlihat laki-laki dengan jas putihnya tengah tersenyum. Rambut depannya terlihat sedikit basah karena air wudhu.
"Oh iya Mbak, Na. Teman yang aku ceritakan tadi ada di sini. Teman stadium tiga yang saat ini sudah menjadi jodohku," bisikku padanya.
"What? Masya Allah. Mbak kira dokter ganteng ini bukan suami kamu lho, Fa. Semoga pernikahan kalian berkah, ya."
"Aamiin," jawabku. "Mas, kenalin ini Mbak Nana. Perawat di ruang Melati."
Yang dikenalkan hanya tersenyum. "Halo," jawabnya singkat. Ya, sangat singkat.
"Pulang sekarang?" tanya laki-laki itu lagi melihatku.
Aku mengangguk. "Mbak, Na. Aku pamit pulang dulu, ya. Assalamualaikum."
"Hati-hati, Dok. Wa'alaikum salam."
Meninggalkan Mbak Nana yang pergi ke ruangannya, kami berjalan ke parkiran. Karena pekerjaan sama-sama sudah selesai, aku dan dia memutuskan untuk pulang.
"Wajahnya kenapa seperti itu?" tanyanya saat memasang seat belt.
Aku menoleh. "Nggak papa."
Aku menarik napas pelan. "Aku cuma heran aja, kenapa tadi sikap kamu dingin sama Mbak Nana? Dia kan seniorku, Mas."
"Aku, kan, memang biasa seperti itu, Fa."
"Sampai kapan?"
Dia mengalihkan pandangannya ke arahku, kemudian tersenyum. "Istriku, aku bersikap seperti itu untuk menjaga diriku dan perasaan kamu."
"Maksudnya?"
Kalau aku bersikap hangat kepada setiap wanita yang ku temui, aku takut mereka akan jatuh cinta.
Aku membulatkan mata tak percaya dengan jawabannya tadi, perasaan aku tidak pernah menspesifikkan kata wanita.
"Mas jangan kepedean, deh."
"Kamu nggak percaya?" Aku langsung menggeleng. "Oke, aku akan buktiin sama kamu biar kamu percaya. Tapi jangan heran ya kalau tiba-tiba ruangan Mas penuh bunga dan makanan."
"Centil banget sih," ucapku tak melihatnya.
Melihat wajahku yang sedikit kesal, dia malah tertawa. "Kan itu mau kamu, sayang. Kamu mau aku nggak dingin sama orang, gitu kan? Tapi aku nggak mau tanggung jawab, ya, sama perasaan mereka yang diam-diam suka sama aku. Kecuali ..."
"Kecuali apa?" Kali ini aku melihatnya, sebentar.
"Kecuali kamu mau dimadu."
__ADS_1
"Jahat," kataku memanyunkan bibir kesal. Entah seperti apa rupa wajahku saat itu hingga membuatnya terkekeh.
"Dede liat kan tingkah ummi kamu. Dia nyuruh Abi buat nggak dingin sama orang lain. Eh, sekarang ummimu yang ngambek. Padahal Abi lakuin itu untuk kebaikannya juga. Nanti kalau udah gede jangan kayak Ummi, ya," ucapnya yang kini mengelus perut yang sudah sedikit membesar.
“Ternyata, mengembalikan mood para bumil itu susah juga ya," keluhnya.
"Siapa suruh sok-sokan mau nikah lagi."
Dia membulatkan matanya. "Yang bilang aku mau nikah lagi siapa sih sayang?"
"Terus tadi itu apa? Madu-madu?!"
"Astaga. Jadi kamu nangkepnya serius?"
"Nggak tau."
"Marahan nih ceritanya?"
Aku tidak menjawab. "Nggak baik lho, marah sama suami."
"Aku nggak marah, Mas, tapi kamu aja yang nyebelin."
"Hanifa, dengerin ya, sampai kapanpun aku nggak akan nikah lagi. Meskipun kamu menyuruhku, aku tidak akan mau. Jawabnya terlihat serius. Satu aja udah ribet banget, gimana mau nambah?" gumamnya lagi.
Aku yang mendengarnya langsung menatapnya. "Jadi maksudnya aku ngerepotin? Gitu?"
"Bukan gitu, Sayang. Ya Allah kok jadi salah ngomong sih?" katanya menepuk jidatnya. "Oke, maafin aku ya kalau aku salah ngomong. Aku tarik ucapan aku barusan, kamu sama sekali nggak ngerepotin kok. Maaf, ya."
Melihat wajah memelasnya seperti itu, membuatku ingin sekali tertawa. Suamiku sungguh menggemaskan. Maafkan hambamu ya Allah, aku bukan bermaksud membuatnya merasa bersalah. Setelah ini, aku janji bakal minta maaf. Tapi sebelum itu, izinkan hamba menikmati wajah menggemaskannya ini. Sekali saja ya Allah.
"Istriku, kamu harus tau, ya. Bagaimana pun sikapku kepada orang lain, itu demi kamu. Dan aku menaruh sikap dinginku itu di tempat yang seharusnya. Sikap hangatku cukup ke kamu aja. Enggak boleh orang lain. Jadi, jangan ngambek lagi, ya."
Aku mengangguk pelan. Melihat senyumnya, hatiku menjadi lebih tenang. "Maaf juga soal tadi, ya. Sebenarnya aku nggak marah. Cuma nguji doang," ujarku.
"Apa?"
"Tapi, bisa nggak marahnya nanti dulu. Kan udah minta maaf tadi. Sekarang kita pulang, ya, aku laper."
Aku pikir dia akan marah setelah mengetahui semuanya, tapi perkiraanku salah. Dia tidak marah sama sekali, malah sekarang dia tengah tersenyum, sangat manis.
"Jadi dede bayi udah laper, ya, hm?" ujarnya kembali mengelus perutku. "Oke kita pulang sekarang."
Tangan kanannya mulai menyetir, sedangkan tangan yang satunya tengah memegang tanganku, sangat erat.
Ya, begitulah hidupku sekarang. Dengan Rahmat dan Kebesaran Allah, akhirnya aku dapat menggapai impianku menjadi seorang dokter. Tentang Devan, sejak dinyatakan sembuh dari tumornya, dia melanjutkan sekolahnya ke luar negeri.
Allah sungguh Maha Baik, kebaikan-Nya membuat aku dan Devan bertahan sampai saat ini, berjuang bersama melalui semua ujian dan cobaan. Hingga di sinilah kami sekarang, di tempatkan di rumah sakit yang sama agar kami saling menjaga, meskipun berbeda ruangan. Aku sebagai dokter Spesialis Anak, sedangkan Devan sebagai dokter Spesialis Jantung, dan juga calon ayah dari bayi yang baru masuk trimester pertama ini.
Semua keberhasilan dan kebahagiaan yang kami dapatkan sekarang, tidak luput dari peran Allah dalam hidup kami. Kami bisa bertahan sampai saat ini karena Allah yang menguatkan. Kami bisa berjuang bersama karena Allah yang sudah memberikan Keridhaan.
Semua akhir kisah hidup berawal dari suatu kepahitan dan kesakitan. Kebahagiaan kami saat ini adalah buah dari kesabaran. Yakinlah pada apa yang sudah ditetapkan untukmu, baik buruknya. Allah tau kemampuan hambanya, maka dari itu Dia sudah mengukur sebesar apa ujian yang akan diberikan kepadanya.
Bersabarlah, janji Allah benar adanya.
Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.
__ADS_1
***