Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Tidak Masuk Sekolah


__ADS_3

“Mama mau kemana? Papa kan lagi sakit, Ma." Jihan memegang kuat lengan wanita yang kini sudah membawa dua koper besar di tangannya. Kedua matanya pun  sudah berair.


Wanita itu menatap Jihan lama. Mama harus pergi. "Mama tidak bisa lagi tinggal sama papa," balas wanita itu membuat air mata Jihan meluruh.


“Kenapa, Ma? Apa karena laki-laki itu?" Tangan Jihan menunjuk laki-laki yang berdiri di depan pintunya.


"Maafin Mama Jihan," kata wanita itu mengusap mata Jihan yang basah.


“Mama jahat! Mama nggak sayang lagi sama papa! Mama nggak sayang lagi sama Jihan dan Devan!" sentak Jihan dengan terisak.


Mendengar suara ribut di ruang tengah, seorang anak laki-laki datang dengan sebuah bola di tangannya.


“Mama mau kemana?" tanya anak laki-laki itu.


Lagi-lagi wanita itu menjawab hal yang sama. “Mama harus pergi."


Anak laki-laki itu melepas bolanya. "Mama mau kemana? Mama nggak boleh pergi! Devan mau ikut Mama!" pintanya yang juga memeluk tubuh mamanya dengan linangan air mata. Jihan yang melihat hal itu segera menggendong adiknya dan membawanya ke kamar.


“Maafin Mama sayang. Maafin Mama," ucap wanita itu berulang kali  dan pergi membawa dua kopernya.


“MAMAAA! teriak anak laki-laki di jendela kamarnya.


Air bening perlahan turun membasahi wajah putihnya. Jihan mengelus album di tangannya. Kenangan buruk itu kembali mengusik hatinya.


Kini, kesedihan akan kepergian wanita yang sangat dia sayangi kembali terbayang dalam pikirannya.


“Andai Mama tidak pergi, mungkin kebahagiaan itu masih ada sekarang. Mungkin kehidupan kami tidak akan seperti ini." Jihan mengelus foto keluarganya lembut sembari mengusap sisa air di matanya.


“Sekarang Devan butuh mama. Devan sakit, Ma. Mama dimana?" lirih Jihan. Air matanya semakin deras keluar. Di sela tangisnya, dia mendengar mobil masuk ke halaman rumah.


“Mereka sudah pulang." Jihan menutup album kenangan itu dan segera mengusap sisa air di matanya. Kemudian melangkahkan kakinya ke pintu depan.


Setelah memasukkan mobilnya ke bagasi, Devan langsung masuk kamar tanpa memperhatikan mata kakaknya yang sembab. Bi Mar yang berhasil melihat wajah Jihan langsung menghentikan langkah.


“Non Jihan menangis?" tanya Bi Mar.


Jihan segera menggeleng. "Nggak, Bi. Tadi cuma kelilipan aja kok," jawabnya berbohong. "Oh iya, Bibi beli apa?"


“Ini, Bibi beli keperluan dapur sama beberapa bahan untuk membuat minuman herbal Non," jawab Bi Mar.


Bi Mar yang mengerti kesedihan dari mata Jihan memilih diam. Sebenarnya dia tahu apa yang membuatnya menangis, tapi dia tak ingin membuat hati Jihan semakin sedih.


“Minuman herbal? Buat siapa Bi?"


“Nak Devan yang ingin dibuatkan, Non."


Jihan mengangguk paham. Setelah itu mereka masuk. Jihan membantu Bi Mar memasak makan siang dan membuat minuman herbal untuk Devan. Begitu semuanya siap, mereka langsung sholat Dzuhur.


***


Di jam yang sama, Hanifa yang baru selesai melaksanakan sholat dan mengaji sedang mempersiapkan sesuatu di kamarnya. Dengan mukena yang masih melekat di tubuh, tangannya sibuk membungkus kado, dan membentuknya sekian rupa.


“Alhamdulillah sudah selesai. Tinggal kasih ke orangnya besok," ujarnya tersenyum. Ya, dia akan memberikan hadiah untuk Devan karena sudah berhasil menyelesaikan tantangan darinya.


***


“Assalamualaikum, Cantik. Sudah siap les pertama hari ini?" Suara Ayyan yang memanggil dari belakang.


Hanifa yang sibuk membaca pun menoleh. "Siap dong."


Ayyan menaruh tasnya, kemudian menatap sahabatnya itu. "Fa, menurutmu ruangan buat ujian kita nanti akan diacak nggak, ya?"

__ADS_1


“Nggak tahu, Ayy. Mungkin random, soalnya tahun kemarin kan begitu," jawab Hanifa tenang.


Lima menit setelah percakapan mereka, guru yang bersangkutan pun masuk. Mulai mengajar pelajaran kewarganegaraan hingga tiga puluh menit berikutnya.


“Fa, mau ke kantin nggak?" tanya Ayyan memasukkan bukunya setelah pelajaran jam itu selesai.


Hanifa berpikir sebentar. "Kamu duluan saja, ya. Aku ada urusan sebentar."


Ayyan mengangguk tanpa curiga sedikitpun pada sahabatnya. “Oke, aku tunggu di kantin, ya," lanjutnya dan beranjak pergi.


Sedangkan Hanifa yang masih memasukkan bukunya mengangguk. Kemudian bergegas dengan tas plastik cantik di tangan kanannya. Dengan senyum mengembang di wajah cantiknya, dia melangkahkan kakinya ke tempat biasa dia melihat si laki-laki keras kepala.


Begitu sampai tempat tujuan, matanya menyapu semua sudut lapangan, tapi tidak berhasil melihat sosok Devan di sana. "Biasanya jam seperti ini, dia kan sudah di sini. Tapi kok, tumben nggak nongol?" Hanifa bertanya pada dirinya sendiri.


Meskipun tak melihat Devan, Hanifa memilih menunggunya sebentar.


Mungkin Devan pergi ke tempat lain dulu. Batinnya.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Hanifa memilih mencari Devan ke kelasnya. Baru mendekati pintu kelas XII IPA 1, kakinya terhenti dengan suara seseorang yang memanggilnya.


“Hanifa. Mau cari siapa?" tanya laki-laki di depannya.


“Eh, Arjun. Mmm, Devannya ada nggak?"


Arjun yang sudah menduganya pun tersenyum. “Devan nggak masuk, Fa."


“Nggak masuk? Kenapa?"


"Aku kurang tahu," jawab Arjun jujur.


“Oh, begitu. Makasih, ya, Jun."


Arjun mengangguk dan tersenyum. "Iya, Fa. Sama-sama.”


***


Apa penyakitnya kambuh lagi? Apa dia lupa minum obat? Apa dia tidak makan? Rentetan pertanyaan itu berputar di kepalanya. Membuatnya semakin khawatir. Hanifa harus ke rumahnya pulang les nanti. Kemudian melangkahkan kakinya ke kelas.


“Woi. Lamunin apa sih? Itu orang nulisnya sudah satu halaman, kok kamu baru dapat setengah, Fa?"


Hanifa yang sadar lamunannya, segera beristighfar.


"Kamu nggak papa, kan?" tanya Ayyan lagi.


Hanifa segera menggeleng. "Aku baik kok, Ayy," jawabnya kemudian melengkapi catatannya yang tertinggal.


Setelah les selesai, Hanifa segera bergegas ke luar. Menunggu angkot untuk membawanya ke rumah Devan. Akhirnya, angkot yang ditunggu pun tiba. Lima menit kemudian Hanifa sudah sampai di gerbang rumahnya Devan. Para penjaga di gerbang itu segera membuka gerbang untuk Hanifa.


“Assalamualaikum," ucap Hanifa seraya mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka.


"Waalaikum salam. Eh, Non Ifa, mari masuk, Non," kata bi Mar mempersilahkan.


Setelah dipersilahkan masuk, kaki Hanifa berhenti di depan tangga. “Devan ada di rumah Bi?"


Yang ditanya pun mengangguk.


“Ada, Non, di kamarnya. Kemarin malam tiba-tiba tubuh nak Devan panas dan kepalanya sangat sakit katanya non. Makanya hari ini dia tidak masuk sekolah."


Setelah menjelaskan keadaan Devan, Hanifa mencoba memasuki kamar Devan dengan ditemani bi Mar. Hanifa tidak ingin hanya berdua di dalam satu kamar dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Bi Mar dan Hanifa masuk setelah dibolehkan oleh si empunya kamar.


Hanifa memperhatikan sebentar. Wajah Devan terlihat sangat pucat. Merasa ada yang sedang memperhatikan, mata Devan yang sedari tadi tertutup rapat kini perlahan mulai terbuka.

__ADS_1


Iris birunya kini melihat wanita yang berdiri di depannya. Semula Devan mengira ini semua adalah mimpi, tapi melihat senyum Hanifa dia sadar kalau dia sedang tidak bermimpi.


“Bagaimana keadaan kamu? Kepalamu masih sakit?" tanya Hanifa kemudian duduk di dekat meja belajar Devan.


Devan mencoba bangun, tapi dicegah oleh Hanifa. “Udah, kamu istirahat saja."


“Lo ngapain di sini?" tanya Devan setelah menyandarkan tubuhnya dengan bantal.


Hanifa tersenyum. "Aku mau jenguk kamu.  Sekalian mau kasih obat ini," ucapnya menyerahkan beberapa lembar obat kepada Devan. “Kamu sudah makan belum?"


“Si Aden puasa, Non." Bi Mar menyahut. Hal itu membuat kening Hanifa mengerut.


"Kamu puasa saat keadaan kamu seperti ini?"


Devan tersenyum tipis. "Cuman sehari kok siput. Lagian gue kan nggak papa. Lihat ni, gue sudah bisa bangun," kata Devan menyangkal sembari berjalan di depan Hanifa. Memperlihatkan kalau dia baik-baik saja meskipun kepalanya terasa ditusuk puluhan jarum.


“Eh, iya, iya. Aku percaya kamu baik-baik aja. Tapi aku mohon  sama kamu Van, setelah ini kamu harus jaga pola makan ya," ucap Hanifa penuh harap.


Devan mengangguk dan tersenyum lagi. "Iya, iya, bawel."


Tidak berselang lama setelah mengatakan hal tersebut, Devan kemudian menyibakkan selimutnya dan berjalan keluar. Hanifa yang melihat tingkah Devan pun heran.


“Kamu mau kemana?"


“Gue mau ke taman. Lo mau ikut gak?"


Hanifa tidak langsung menjawab. Ia malah melihat ke arah bi Mar. Sontak bi Mar menganggukkan kepalanya. Memberi isyarat kalau dia harus mengikutinya. Rupanya bi Mar khawatir Devan kenapa-napa.


Hanifa pun melangkahkan kakinya mengikuti Devan dari belakang.


“Bisa nggak sih kalau sakit itu nggak usah keluyuran dulu? Nggak pusing apa tu kepala," omel Hanifa.


Devan yang mendengar omelan Hanifa hanya tertawa kecil. “Gue suntuk di kamar terus," jawabnya kemudian duduk. Hanifa pun ikut duduk.


“Oh, iya. Kepala kamu masih sakit nggak?" tanya Hanifa lagi.


“Sekarang udah nggak terlalu," balas Devan santai menatap bunga-bunga di depannya.


“Sakit banget, ya?"


Devan tertawa kecil. "Udah, lo tenang aja. Gue gak bakal mati kok sama sakitnya," cicit Devan sekenanya.


Melihat wajah Devan yang layu, air mata Hanifa turun tiba-tiba. Bagaimana mungkin Devan bisa berbohong dengan kondisinya saat ini. Hanifa tahu persis gejala-gejala yang dialami oleh penderita tumor otak, seperti yang ayahnya ceritakan tempo hari.


“Penderita tumor otak apalagi yang sudah memasuki stadium akhir, akan mengalami gejala yang lebih serius dari stadium sebelumnya. Penderita akan merasakan rasa sakit yang hebat di kepala, sering merasa mual dan muntah, hilang keseimbangan bahkan emosi yang berubah-ubah. cerita ayahnya saat perjalanan ke rumah sakit."


Hanifa mengingat ucapan ayahnya beberapa waktu yang lalu. Hal itulah yang membuat air matanya turun tanpa diminta.


“Lo nangis?" tanya Devan melihat jilbab Hanifa yang basah.


Hanifa menggeleng. Segera tangannya mengusap sisa air di matanya. Setelah itu tersenyum. “Nggak. Aku cuma kelilipan kok," kilahnya tak ingin membuat kesedihan untuk Devan lagi.


Devan yang masih bingung akhirnya mengangguk. Sungguh dia tak mengerti apa yang dirasakan wanita yang ada di sampingnya.


“Oh iya, aku mau kasih kamu ini." Hanifa menyerahkan sebuah kotak terbungkus kertas kado cantik.


"Apa ini?" tanya Devan mengambil kotak itu.


“Itu hadiah buat kamu. Aku, kan sudah janji mau kasih kamu hadiah kalau kamu berhasil menyelesaikan tantangan yang aku kasih."


Devan mengangguk tersenyum.

__ADS_1


Dia masih belum percaya kalau dirinya sudah menyelesaikan tantangan yang diberikan Hanifa. Seketika senyumnya mengembang saat membuka isi kotak itu. Sungguh indah.


***


__ADS_2