Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Sebuah Rasa


__ADS_3

"Shadaqallahulaziim…"


Devan menutup mushaf kecilnya saat melihat seseorang masuk. Sudah kesekian harinya sejak terbangun dari masa kritisnya, sedikit demi sedikit keadaannya membaik.


Senyumnya mengembang saat melihat sosok yang berjalan ke arahnya, namun perlahan hilang saat melihat raut kesedihan di wajah itu. Meskipun bukan peramal, setidaknya Devan tau apa yang tengah dirasakan orang lain lewat matanya.


“Baru balik? Darimana?"


Yang ditanya hanya tersenyum. “Iya, habis dari masjid tadi," jawab Hanifa mendudukkan dirinya di samping Devan.


“Udah ketemu siapa?" tanya Devan tiba-tiba, hal itu membuat Hanifa diam.


“Fa?"


“Hah? Iya?"


“Kamu ngelamun, ya?"


“Nggak kok."


“Terus kenapa kaget tadi? Habis ketemu siapa, hmm?”


“Kalau aku bilang, ntar kamu marah.


Mendengar hal itu membuat Devan tersenyum lagi. “Kalau orang baru sembuh itu belum bisa marah, Fa," jawabnya santai.


“Terakhir aku nanya, kamu ketemu siapa tadi? Orang penting?"


“Nggak begitu penting kok."


“Ya makanya siapa, Hanifa?"


“Tadi, aku ketemu kak Wafi."


Mendengar nama itu, Devan tak merespon dan memilih diam. Hal itu membuat Hanifa merasa bersalah.


“Tu kan diem. Nyesel aku kasih tau," kesal Hanifa.


“Kamu ngambek?" tanya Devan.


“Nggak."


“Seharusnya yang marah itu aku, kok jadi kamu yang ngambek?"


“Tapi kan tadi bilangnya nggak bakal marah."


Devan melipat kedua tangannya, kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding. “Tadinya sih nggak ada niat marah, tapi ngedenger istriku ketemu sama mantan tunangannya, rasanya ..." Devan tidak melanjutkan ucapannya.


“Kenapa?"


“Gini deh. Misalnya nih ya kamu liat aku ketemu sama mantan pacar aku, terus ngajak balikan rasanya gimana?"

__ADS_1


“Tidak menyenangkan."


“Nah itu tau."


“Iya, maaf," ucap Hanifa menunduk. "Kamu cemburu, Van?"


Devan menaikkan alisnya. "Entahlah," jawabnya singkat.


“Mmm, kamu mau jalan-jalan nggak?" tawar Hanifa mencoba menyegarkan suasana.


“Kemana?"


Mendengar hal itu, Hanifa tersenyum. Alhamdulillah, Devan sudah tidak marah lagi. Hanifa bersyukur dalam hatinya. Tak ingin mood Devan hilang lagi, Hanifa segera mengambil kursi roda dan membantu Devan duduk diatasnya.


Selain tidak boleh terlalu banyak gerak, Hanifa juga paham kalau kaki Devan saat ini masih belum kuat untuk berjalan, tidak lain karena masa komanya yang terbilang lama.


“Udah lama nggak hirup udara segar kayak gini," kata Devan saat mereka hampir sampai dekat taman.


“Makanya aku ngajak kamu ke sini, Van. Biar kamu terasa lebih segar."


“Pinter banget nyogok orang," ujar Devan tersenyum.


"Aku nggak niat nyogok, Van, tapi aku mau nebus kesalahan aku yang tadi."


Selama beberapa saat keduanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Udara saat itu memang sangat segar. Saking segarnya, rambut Devan yang sedikit terurai ke depan dibuat bergerak.


“Btw, si Wafi ngomong apa sama kamu?"


“Tadi dia cuma nanyain kabar doang kok."


Devan terlihat mengangguk. “Yakin cuman itu doang?"


Hanifa mengangguk. Kalau tidak mengingat kondisi Devan yang belum pulih dan saran dokter agar dia tak banyak pikiran, mungkin Hanifa sudah mengatakan semuanya.


“Kuliahnya gimana?" tanya Devan lagi. Kini matanya tertuju pada wanita di sampingnya.


“Aku, masuk tahun depan."


“Kenapa? Apa itu karena aku?"


Hanifa segera menggeleng. Merasa bersalah, tangan Hanifa refleks memegang tangan Devan.


“Nggak kok. Aku sengaja gapyear. Saran ayah, biar persiapannya lebih matang," jawabnya meyakinkan. “Dan supaya bisa kuliah bareng kamu juga."


Mendengar hal itu, sudut bibir Devan tertarik membentuk lengkungan indah.


“Oh ya, terkait pertanyaan kamu yang tadi, aku pernah membaca sebuah hadist. Nabi Muhammad SAW pernah bersbada:  Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk Surga, yaitu pecandu khamr, orang yang durhaka kepada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya. (HR. Ahmad2:69)."


"Maksud dari hadist ini tentang makna Ad-dayyuts sebagaimana disebutkan dalam Al-Mujam Al wasith adalah para lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya dan ia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu."


Devan menarik nafas sebentar.

__ADS_1


“Seorang suami yang dimaksud tidak punya rasa cemburu adalah membiarkan keluarganya bermaksiat tanpa mau mengingatkan. Pada zaman sekarang, bentuknya beragam. Contohnya membiarkan istri atau anak perempuan atau anggota perempuan lainnya berhubungan dengan laki-laki yang bukan mahram, baik secara langsung maupun lewat ponsel dan sebagainya. Atau merelakan istri berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram.


Hanifa yang mendengar penjelasan Devan dari tadi masih diam, mencoba meresapi setiap kalimat yang diucapkannya."


“Aku tidak mau menjadi laki-laki dan suami yang tidak tidak diakui oleh Rasulullah sebagai umatnya. Di akhirat nanti, aku tidak ingin pintu Surga yang harusnya aku masuki malah tidak mau terbuka untuk menerimaku. Kamu paham, kan, Hanifa?"


Hanifa mengangguk. Iya, aku paham. Maafin aku ya. Aku janji nggak akan ulangi hal ini lagi.


“Baguslah."


“Ya sudah kalau gitu kita balik, yuk. Kayaknya mau hujan deh," pinta Hanifa dan langsung mendapat anggukan dari lawan bicaranya.


“Kepala kamu masih sakit?" tanya Hanifa.


Devan menggeleng cepat. “Masih, tapi nggak sesakit dulu. Paling pas cuma liat cahaya doang baru kerasa," jawabnya.


“Kata ayah juga gitu, Van. Pasien pasca operasi tumor otak dengan Fluorescence memang sedikit sensitif terhadap cahaya, tapi itu nggak lama kok. Bentar lagi pasti sembuh."


“Kamu yakin?"


“Yakin. Dengan izin Allah pasti sembuh."


Devan mengulas senyumnya. "Bisa banget sih buat orang semangat. Makasih, ya, Fa."


“Makasih buat?"


“Karena udah selalu ada."


Dengan tangan yang masih fokus mendorong kursi roda, kepala Hanifa mengangguk pelan.


“Belum waktunya kamu ucapin hal itu, Van. Aku malah merasa belum melakukan apapun buat kamu."


Perkataan itu membuat Devan meminta Hanifa untuk berhenti berjalan. Hal itu membuat Hanifa merasa heran.


“Ada apa Van? Ada yang salah dengan ucapan aku barusan? tanya Hanifa setelah duduk di bangku rumah sakit dengan posisi berhadapan.


Devan segera menggeleng.


“Terus kenapa berhenti? Kamar kamu kan disana."


Lagi-lagi Devan tak menjawab. Matanya masih memandang Hanifa, seakan ingin mengatakan sesuatu lewat tatapan matanya.


"Devan?" tanya Hanifa sedikit cemas.


Belum menjawab juga, tangan Devan malah naik dan berhenti tepat di pipi kanan Hanifa. Dan lagi, Hanifa merasakan sesuatu di hatinya.


“Apapun itu, I thank Allah for bringing you in my life. I hope youre the last woman in my destiny, my wife.”


Di tengah adegan yang membuat jantung Hanifa bekerja diatas rata-rata, seseorang tengah memperhatikan mereka dengan mata tak percaya. Seorang wanita dengan dua plastik di tangannya diam di tempat saat melihat Hanifa dan Devan. Wanita itu segera menghampirinya setelah memastikan matanya tak salah lihat.


“Kalian sedang apa di sini?"

__ADS_1


***


__ADS_2