Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Sisi Lain Devan


__ADS_3

Hawa mentari siang itu sedikit sejuk. Tak terlalu panas seperti kemarin. Angin berhembus pelan memberikan kesejukan pada setiap orang yang sedang menghabiskan waktu siang menjelang sorenya di taman indah itu.


Sama halnya dengan wanita berhijab panjang yang kini tengah sibuk berkutat dengan buku dan pulpennya. Sesekali melirik laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan seragam putih abu dan balutan jaket hitam, tengah membeli sesuatu di sebuah kedai kecil di pinggir taman.


Sesekali ia bertukar sapa dengan beberapa anak-anak yang tengah main sepeda di sekitar taman. Terlihat seperti tak ada luka di matanya. Dia bahkan tak terlihat seperti manusia es yang membuat setiap orang kesal ketika berhadapan dengannya.


“Apa dia tak seburuk yang aku pikirkan?" Hanifa bergumam saat tengah memperhatikan Devan yang sedang bercanda dengan anak kecil yang juga membeli sesuatu.


“Siapa?" Suara Devan mengagetkannya.


Hanifa segera menutup bukunya agar laki-laki itu tidak melihat apa yang ia tulis tadi. "Nggak ada,” jawabnya kemudian.


Tanpa bersuara, Devan menyodorkan sebotol minuman kepada Hanifa. Tangan Hanifa segera menerimanya, karena sejak di toko buku tadi ia sangat kehausan.


"Devan," panggil Hanifa.


“Hm."


“Makasih, ya."


Dengan tetap memperhatikan sekitar taman, Devan meneguk minumannya pelan. “Buat apa?"


“Buat buku sama minumannya."


“Gue mah emang baik orangnya," kata Devan memuji dirinya sendiri.


Hanifa mendengus. Dia tidak menyangka kalau Devan orangnya se-PD itu. Kemudian ia melirik jam tangannya, sontak mengeluarkan beberapa lembar obat dari tas abunya.


“Ini."


Devan menoleh. "Apa?"


“Ini waktunya minum obat Devan. Bahkan sudah terlambat tiga menit dari waktunya." Hanifa membukakan beberapa lembar obat dan meletakkannya di samping Devan.


Devan mendengus. Raut wajahnya pun sudah berubah kesal. "Nggak mempan juga gue nyogok lo."


"Kamu bilang apa tadi?"

__ADS_1


"Kagak ada, kepo banget, si," gerutunya mengambil obat yang sudah dibuka oleh Hanifa. Kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya tanpa ada perlawanan apapun. Melihat hal itu, Hanifa tersenyum.


“Apa Lo senyum-senyum? Seneng banget liat orang menderita."


“Aku nggak seneng lihat orang menderita, Van. Aku cuma mau lihat kamu sembuh." Hanifa mencoba mencairrkan bongkahan es yang ada dalam diri Devan secara perlahan.


“Peduli apa lo?"


Hanifa menghela napasnya. “Sebagai seorang teman dan calon dokter, aku peduli sama kamu, pasien aku."


Devan tertawa singkat. “Gue nggak butuh temen. Apalagi manusia kayak lo, siput," bantahnya.


“Kamu bilang kayak gitu, karena kamu tidak punya teman dan tidak mau berteman dengan siapapun. Pada hakikatnya, setiap manusia tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain. Coba saja kamu hilangkan sedikit keegoisan kamu dan berteman dengan orang lain, pasti hidup kamu akan sedikit berwarna."


“Basi tau nggak." Devan mencoba tak mendengar semua yang diucapkan oleh perempuan yang ada di sampingnya dengan memasang earphone-nya, meskipun tidak ada lagu yang diputar.


“Devan. Mungkin kamu merasa sendirian di dunia ini, dan tidak punya siapa-siapa."


Seketika, mata Devan beralih ke Hanifa dengan wajah heran. Sedangkan sosok yang dilihat masih memfokuskan pandangannya ke depan.


“Aku tahu tentang keluargamu dari ayah. Aku sangat paham posisi kamu, karena aku juga pernah mengalaminya. Aku kehilangan orang tua karena sebuah kecelakaan sejak masih balita, saat itu ayah mengambil aku di rumah sakit tempat aku di rawat. Tapi karena saat itu ayah belum menikah, beliau menitipkan aku di panti asuhan. Dan setelah dia menikah, istrinya mengalami keguguran. Dan saat itulah, ayah mengambilku secara resmi. Tapi karena aku belum siap ninggalin ummi, aku memilih tinggal di panti sampai sekarang.”


Devan membalikkan tubuhnya menghadap Hanifa dengan wajah yang sulit ia tafsirkan maknanya.


“Udah ngocehnya? Telinga gue panas denger lo ceramah dari tadi," ucap Devan memegang telinga sebelah kanannya dan beranjak pergi.


Hanifa memayunkan bibirnya, kesal. Tapi ada rasa bahagia di hatinya, karena tadi dia mendengar kalau telinganya panas mendengar ocehannya. Meskipun menjengkelkan, setidaknya Devan bisa mengambil sedikit pelajaran dan makna hidup dari ceritanya barusan. Dengan demikian, Hanifa berharap semoga Devan bisa lebih memperhatikan kesehatannya.


Dengan masih membuntuti Devan, Hanifa mencoba mensejajarkan langkah dengannya. Kemudian mengikuti Devan sampai ke parkiran dan bergegas pulang.


Di tengah perjalanan, suasana senyap. Tak ada pembicaraan diantara keduanya. Hingga suara Devan memecahkan keheningan.


“Siput. Nomor hp lo mana?"


Hanifa menatap tajam ke lawan bicaranya.


"Apa? Gue salah ngomong lagi?"

__ADS_1


“Ha-ini-fa. Nama aku Hanifa, bukan siput," tegurnya. “Lagian kenapa sih kamu ganti nama aku seenaknya? Ummi korban kambing satu tau buat kasih nama aku."


Hanifa mendengus kesal. Kali ini dia benar-benar kesal.


Devan melirik sekilas. Melihat bibir Hanifa yang maju 2 senti, ditambah wajahnya yang kusut membuat Devan tak bisa menahan tawanya.


“Kusut banget tu muka, belum di setrika ya?" Devan menertawakan wajah Hanifa yang terlihat sudah seperti pakaian lusuh.


Hanifa menatap wajah Devan yang kini tengah menertawainya. Ia tersenyum. Spontan, rasa kesal yang tadi meyelimutinya seketika hilang. Ini adalah kali pertamanya dia melihat seorang Devan tertawa.


Giginya yang putih mungil tersusun rapi di bibirnya yang tipis, sempurna dengan lesung pipi kiri yang membuat wajahnya semakin tampan. Tanpa sadar, Hanifa memuji kesempurnaan yang diberikan Allah padanya.


“Apa lo senyum?" heran Devan. Merasa diperhatikan, Devan segera mengembalikan posisi wajah aslinya yang dingin.


“Ternyata kamu bisa ketawa juga, ya?" gumam Hanifa.


“Gue juga manusia kali. wajarlah kalau gue ketawa. Emang lo, siput. Lambat.”


Hanifa mengangguk pelan mengiyakan ucapan Devan. Meskipun kali ini Devan masih memanggilnya siput, tak apa baginya karena kali ini dia punya rencana yang tiba-tiba muncul dalam otaknya.


“Oh, ya. Kamu kan anak Pramuka, pasti suka dong sama tantangan?" Hanifa mencoba mencairkan idenya.


Devan melihat sekilas. "Kenapa emang?" jawabnya fokus menyetir.


Hanifa tersenyum, akhirnya Devan merespon ucapannya tadi. Itu tandanya, dia merespon rencananya kali ini.


“Aku punya satu tantangan buat kamu. Kalau kamu berhasil, aku akan kasih hadiah buat kamu."


“Gue nggak butuh hadiah dari lo." tolaknya. “Tapi, btw boleh juga. Gue kan orang yang berani, pantang nyerah dan disiplin. Nggak kayak Lo. Its very easy.”


Hanifa mengangguk penuh semangat. Dia tidak ingin mengatakan kalau Devan memang orang yang sombong. Karena memang di organisasi dia terkenal anak yang paling disiplin.


“Oke. Berarti kita deal, ya," ucap Hanifa masih bersemangat.


“Tapi lo harus kasih gue kado yang paling spektakuler di jagad raya ini," tawar Devan dan langsung mendapat anggukan dari Hanifa.


Apapun yang dia katakan tadi, aku nggak peduli. Yang penting dia bisa menyelesaikan tantangan ini. Batin Hanifa kemudian tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2