
"Alhamdulillah ... akhirnya ni ujian kelar juga," ungkap Ayyan bersemangat sembari menggeliatkan tubuhnya saat keluar dari ruang ujian.
“Alhamdulillah," balas Hanifa tersenyum. Mereka kini sudah bersiap untuk ke kantin.
“Eh Fa, itu ada apa ya rame-rame? Apa nilainya sudah keluar, ya?" tanya Ayyan tatkala netranya tak sengaja melihat orang berkerumun di koridor sana.
“Mana mungkin sih, Ayy? Kita, kan, baru selesai. Masa nilainya sudah keluar?"
“Lah, terus itu orang lagi pada ngapain?"
Hanifa ikut melihat ke arah fokus sahabatnya. Mata mereka menyipit saat melihat kerumunan di depan ruangan itu. Karena rasa penasaran, Ayyan dan Hanifa pun melangkahkan kakinya mendekat dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
“Mel, ini ada apa ya? Kok pada ngumpul di sini?" tanya Ayyan pada salah seorang siswi.
Yang dipanggil Amel menoleh. "Tadi ada siswa yang pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit," jawabnya.
“Siapa Mel?" Kini giliran Hanifa yang bertanya.
"Itu, si Devan."
Deg!
Mendengar nama itu, jantung Hanifa tiba-tiba terasa seakan berhenti. Entah kenapa dia merasakan hal itu setiap kali mendengar kabar tentang Devan. Tanpa berkata apapun, Hanifa segera berlari meninggalkan siswa yang masih berkerumun itu. Termasuk sahabatnya.
Melihat Hanifa yang tiba-tiba pergi, Ayyan langsung mengejarnya. “Fa, mau kemana?"
"Mau ke rumah sakit," kata Hanifa tanpa menoleh.
Ayyan mempercepat langkahnya. "Fa, tunggu! Aku ikut."
“Cepetan!"
Setelah keluar gerbang, mereka langsung menaiki angkot yang kebetulan lewat di sana. Setengah jak kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah sakit terdekat dengan sekolahnya.
“Fa, kamu yakin ini rumah sakitnya?" tanya Ayyan menarik tangan Hanifa sebelum masuk pintu utama.
“Kita coba cari dulu, Ayy. Soalnya Devan pernah dibawa ke sini waktu itu."
Ayyan mengangguk dan berjalan masuk bersama Hanifa. Begitu sampai di dalam, mereka mencoba bertanya kepada petugas rumah sakit.
“Permisi Suster," panggil Hanifa.
"Iya, Dek. Ada yang bisa saya bantu?" balas pegawai itu dengan suara lembut.
“Saya mau bertanya, apa ada pasien yang bernama Devan Ibrahim? Dia baru saja di bawa ke sini."
“Sebentar, ya. Saya cek dulu," jawabnya kemudian memeriksa buku daftar pasien yang dirawat di rumah sakit itu. “Pasien atas nama Devanno Ibrahim baru saja dipindahkan, Dek."
Hanifa dan Ayyan saling lihat. "Dipindahkan?" tanya keduanya bersamaan.
Wanita cantik itu mengangguk. "Iya, Dek. Baru saja."
__ADS_1
“Jadi, maksud suster pasien sudah tidak dirawat di rumah sakit ini?" tanya Ayyan. Suster itu pun mengangguk lagi.
“Kalau boleh tahu, pasien dipindahkan kemana ya, Sus?" tanya Hanifa.
“Maaf, Dek. Kalau itu saya kurang tahu."
Hanifa mengambil napas panjang. "Baik, Sus. Kalau begitu, kami pamit. Terima kasih."
Suster itu tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Dek."
Setelah dari tempat administrasi, Ayyan mengajak sahabatnya untuk duduk di bangku yang ada di sana. Dengan raut wajah khawatir, Hanifa mendudukkan badannya di kursi rumah sakit dengan helaan napas panjang.
“Kamu sabar, ya, Fa." Ayyan memegang pundak Hanifa, berharap kesedihan yang mungkin dirasakan sahabatnya akan berkurang.
“Kamu dimana, Van? Kenapa aku nggak bisa nemuin kamu?" gumamnya.
Ayyan menatap wajah Hanifa lama. Dia masih belum mengerti kenapa sahabatnya itu sangat mengkhawatirkan laki-laki itu.
“Fa, kalau boleh tahu, si Devan sakit apa sih sebenarnya?"
Wajah Hanifa masih menunduk dalam. Sungguh, ia tidak tega membicarakan penyakit Devan pada siapapun. “Devan mengidap tumor otak stadium 2, Ayy," jawabnya dengan suara yang sangat kecil.
“Astaga," ujar Ayyan menutup kedua mulutnya terkejut. Kini dia paham kenapa Hanifa selalu punya urusan dengan laki-laki itu.
“Kamu yang sabar, ya. Meskipun sekarang kita nggak bisa nemuin dia, tapi kita masih bisa bantu lewat doa Fa. Sekarang kita pulang, ya. Sebentar lagi hujan."
Hanifa akhirnya mengangguk. mereka langsung keluar. Namun, ketika baru berjalan beberapa langkah, panggilan seseorang menghentikan mereka. Ayyan dan Hanifa membalikkan tubuhnya, melihat ke arah sumber suara.
“Ayah, Devan dilarikan ke rumah sakit. Tapi aku nggak tahu sekarang dia dimana."
Melihat kesedihan di wajah sang putri, Dokter Arif lantas mengelus kepala Hanifa yang tertutup hijab. "Ifa pasti bisa nemuin Devan. Tapi sekarang Ayah antar kalian pulang, ya."
Hanifa melepas pelukannya dan menatap mata teduh sang ayah. Setelah itu ia mengangguk. Mereka bertiga beranjak ke parkiran. Setelah mengantar Ayyan, kini mobil dokter Arif menuju rumah panti.
“Sebentar, Nak. Ini ada sesuatu untuk kamu," kata dokter Arif menyerahkan sebuah amplop sebelum putrinya itu keluar dari mobil.
Hanifa menaikkan alisnya bingung. "Dari siapa, Yah?"
“Nanti kamu tahu sendiri kok. Ya sudah sekarang kamu masuk gih. Titip salam buat ummi, ya."
Hanifa mengangguk dan langsung mencium punggung tangan ayahnya.
“Nanti Ayah temani Ifa daftar kuliah, ya. insya Allah lusa Ayah ke sini buat jemput Ifa."
Wajah yang semula murung seketika berbinar. Sejenak dia terlupa pada keadaan Devan. “Iya, Yah. Terima kasih. Ifa masuk dulu, ya. Assalamualaikum."
“Waalaikumussalam." Dokter Arif memandang punggung putrinya, kemudian melajukan mobilnya ke rumah sakit lain.
Setengah jam kemudian, mobilnya terparkir di sebuah rumah sakit tenama di kota itu. Langkah kakinya kini memasuki sebuah ruangan VIP.
“Assalamualaikum."
__ADS_1
Jihan yang sedang menunggu sang adik menoleh. “Waalaikum salam, Om."
“Bagaimana keadaannya?"
Jihan mengeluarkan nafas berat. "Masih sama, Om."
“Bisa Om bicara sama Devan?" pinta dokter Arif.
Jihan menatap wajah sang adik sebentar, kemudian mengangguk dan pergi. Kini, hanya ada dokter Arif dan Devan yang berada di ruangan putih itu.
Mata Devan yang sebelumnya tertutup, perlahan mulai terbuka. Setelah melihat laki-laki di depannya, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan tipis.
“Apa yang kamu rasakan sekarang, Nak?"
“Kepala saya masih sakit, Dok," jawabnya lemas. “Dokter sudah kasih surat itu?"
Yang ditanya pun langsung mengangguk.
“Dokter nggak kasih tahu keberadaan saya kan?" tanya Devan lagi.
“Sesuai dengan keinginan kamu, Nak Devan. Tapi jangan salahkan Om kalau Hanifa tiba-tiba tahu dan mencarimu ke sini." Devan mengangguk. “Ya sudah, sekarang kamu harus banyak istirahat, ya. Operasimu tinggal beberapa hari lagi. Om mau ke rumah sakit dulu."
Devan tersenyum tipis. "Terima kasih udah ke sini, Om."
“Sama-sama, Nak Devan," ucapnya kemudian keluar.
Setelah berpamitan dengan Jihan, dokter Arif melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit karena ada jadwal operasi siang nanti.
Di lain tempat, Hanifa yang baru selesai membantu umminya di dapur kini telah kembali ke kamarnya. Matanya melirik jam dinding. Hanifa memilih untuk istirahat sebelum azan Ashar.
Baru akan menutup matanya, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hanifa segera bngkit dan segera mencari sesuatu di dalam tasnya. Setelah menemukan barang yang dicari, tangannya dengan cekatan membuka sebuah amplop putih.
He siput.
Assalamu alaikum
Selamat ya, sekarang udah gak mikir ujian. Sekarang tinggal mikir tes masuk fakultasnya.
Gue yakin, tanpa Lo belajar juga keterima kok. Hehe ...
Nanti kalau sudah jadi dokter beneran, jangan galak sama pasiennya. Jangan terlalu baik juga, ntar banyak yang cinta. Haha ...
Sebenernya gue males bgt tulis ginian, tapi ya udahlah sekali-kali gpp. Gue mau kasih tahu, Lo gak perlu susah mikirin keadaan gue, gue baik kok.
Sekarang fokus aja dulu sama cita Lo.
SEMANGAT, SIPUT! Jangan lambat kayak nama Lo ya.
Wassalam
“Kamu dimana, Van?" ucap Hanifa mengusap air matanya.
__ADS_1
***