Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Kritis


__ADS_3

Hanifa mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin ketinggalan informasi apapun tentang Devan.


"Ayah, ada apa? Operasinya lancar, kan? Keadaan Devan bagaimana? Dia baik-baik saja, kan, Yah?"


Deretan pertanyaan itu spontan keluar dari mulutnya. Sosok yang ditanya masih diam. Melihat kediaman sang ayah, Hanifa langsung memegang tangan dokter Arif.


“Ayah. Ayah kok diem aja sih?"


"Operasinya lancar, Nak," jawab dokter Arif akhirnya.


“Terus keadaan Devan gimana, Yah? Dia baik-baik aja kan?"


“Devan ..." Dokter Arif seperti tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


“Devan kenapa, Yah?" Hanifa mengguncang tubuh ayahnya pelan. Air mata sudah membendung di pelupuk matanya. "Ayah, kenapa diem?"


Melihat Hanifa yang belum bisa mengendalikan emosinya, ummi Fatimah yang sejak tadi duduk pun berdiri.


“Sayang, kamu tenang dulu, ya," kata Ummi Fatimah mencoba menenangkan putrinya.


“Ayah, Devan baik-baik aja, kan?" tanya Hanifa lagi.


Tak tega dengan putrinya, akhirnya dokter Arif memberi tau Hanifa meski dengan hati yang sangat berat.


“Devan koma, Nak. Terjadi pendarahan di bagian  otaknya, dan stuck golongan darah untuk Devan sudah habis. Sekarang, dia tengah menjalani masa kritisnya. Maafkan Ayah, Nak.”


Deg!


Mendengar semua penjelasan ayahnya, air mata yang sejak tadi berkumpul di sudut matanya seketika tumpah. Semua sendinya terasa lemas. Dadanya terasa sesak.


“Kamu yang sabar, ya, sayang. Semua ini adalah ujian. Allah ingin Hanifa lebih dekat sama Dia, Allah sayang sama Hanifa dan juga Devan." Ummi Fatimah memeluk putrinya yang kini sudah terisak.


“Ummi ..."


“Sayang, setiap manusia diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula ujiannya. Ifa jangan marah sama Allah. Allah Maha Baik nak, Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Anggap saja, ini adalah ujian pertama untuk rumah tangga Hanifa."

__ADS_1


Gadis itu mendengar nasehat umminya dengan air mata yang masih saja mengalir.


“Ini ada apa, ya? Kenapa kalian menangis?" tanya Jihan yang baru datang, langsung heran dengan situasi di depannya. “Apa operasinya sudah selesai, Om?"


Dokter Arif mengangguk.


“Syukurlah. Terus adik saya dimana, Om?"


“Devan sudah dipindahkan ke ruang ICU. Kondisinya kritis."


“Apa?" tanya Jihan tak percaya.


“Maafkan Om, Jihan."


Berbeda dengan Hanifa, Jihan lebih kuat darinya. Dia sudah mewanti-wanti semua ini akan terjadi. Sejak mengetahui penyakit sang adik, Jihan sudah ikhlas dan pasrah atas apa yang akan terjadi ke depannya. Seperti sekarang ini. Tapi Jihan bersyukur, setidaknya Allah masih berbaik hati memberikan dia kesempatan untuk menebus segala kesalahannya.


"Devan masih bisa diselamatkan, meski kemungkinan terbesarnya akan lebih parah. Jihan masih terus menguatkan hatinya kalau sang adik akan pulih dan ceria seperti dulu."


“Terima kasih sudah memberikan yang terbaik untuk adik saya, Om."


“Om tidak usah minta maaf. Semua bukan salah Om. Ini sudah takdir," kata Jihan mencoba tersenyum. Kini langkahnya mendekat ke arah adik iparnya. “Ifa, kamu yang kuat, ya. Kita semua merasakan kesedihan yang sama."


Hanifa melepas pelukan umminya. Kini tatapannya terfokus pada wanita di depannya.


“Jangan nangis lagi. Kamu tau nggak? Devan sangat sedih melihat kamu seperti ini. Dia pasti akan marahin aku kalau liat kamu kayak gini." tangan Jihan menghapus sisa air di mata Hanifa.


“Kenapa Devan akan marahin kak Jihan?"


“Karena Devan sangat menyayangi kamu. Dia pasti akan mengira kalau aku nggak bisa jagain kamu."


Hanifa diam, masih mencermati apa yang diucapkan oleh Jihan.


“Dia tidak ingin melihat orang yang dia sayangi menangis. Sekarang, kita harus kuat dan saling menguatkan. Karena jika kita lemah, Devan akan nyaman dengan masa kritisnya."


"Tapi Kak, gimana caranya?"

__ADS_1


"Aku yakin, Devan pasti bisa sembuh dari komanya. Asalkan kita mau membantunya bangun. Kita harus percaya, Allah pasti membantu kita."


Mendengar hal itu, Hanifa mengusap sisa air matanya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sangat mudah sekali menangis.


"Sekarang, kita lihat Devan yuk!" ajak Jihan.


Hanifa mengangguk. Jihan, Hanifa, Ummi Fatimah dan dokter Arif beranjak ke ruang ICU, tempat Devan dirawat saat ini. Sesampainya mereka di depan pintu, semuanya memasang wajah pilu. Dan lagi, air mata Hanifa kembali mengalir melewati pipi tirusnya.


Karena hanya dua orang yang dibolehkan masuk, maka dokter Arif dan Fatimah menunggu di luar. Setelah memakai pakaian yang disediakan, Hanifa dan Jihan langsung masuk. Didekatinya sang suami yang kini terbaring tak sadarkan diri. Entah sampai kapan akan begini.


"Assalamualaikum, Devan. Kamu gimana keadaannya?"


Suara Hanifa tertahan dengan air matanya. Tangan kanan Jihan sontak membelai punggung Hanifa, mencoba menguatkan hatinya.


"Aku mohon, kamu bangun, ya. Kamu kan udah janji bakal sembuh."


Melihat pemandangan di depannya, pertahanan yang sejak tadi Jihan pegang runtuh. Air bening nan asin itu keluar sempurna dari pelupuk matanya. Jihan dan Hanifa berpelukan, sama-sama saling menguatkan.


Tak ingin berlama larut dalam kesedihan, ummi Fatimah yang melihat putrinya yang baru keluar dengan mata sembab segera menyuruh Hanifa mengambil air wudhu kemudian sholat. Berdoa memohon kesembuhan untuk Devan.


Hanifa langsung menuruti perkataan umminya. Setelah berwudhu dan menunaikan sholat sunnah, Hanifa mengambil mushaf Al-quran dan membaca beberapa surah di dekat Devan. Dia yakin, bacaan dari kitab yang mulia akan membantu Devan terbangun. Hanifa sangat yakin dengan mukjizat yang terdapat dalam kitab suci terakhir itu.


***


Di waktu yang bersamaan, seseorang tengah memaksa matanya untuk terbuka. Perlahan, iris birunya mulai terbuka, menyapu seluruh sudut yang tersaji di depannya.


"Ini tempat apaan?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.


Ingatannya mencoba membongkar kembali memori yang sempat terekam oleh otaknya. Dengan segala jenis bunga bermekaran warna-warni, diliputi dengan pepohonan rindang dan wangi tempat itu yang belum pernah tercium olehnya, akan sulit baginya untuk mengenali tempat itu. Segala sesuatu di tempat itu sama sekali belum pernah matanya lihat.


Dengan rasa penasaran, kakinya mulai melangkah menelusuri tempat itu. Langkahnya terhenti saat melihat seseorang tengah berdiri di depan  pintu yang mengeluarkan cahaya terang, seolah tengah menunggunya.


Matanya semakin menyipit saat dia tau sosok yang tengah berdiri dan tersenyum ke arahnya.


"Papa?"

__ADS_1


***


__ADS_2