Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Kabar yang Tak Menyenangkan


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Devan dengan mata yang tak hentinya melihat dokter paruh baya di depannya. Perasaannya campur aduk melihat raut wajah itu.


Pria paruh baya itu memijit pelipisnya, sembari melihat wajah Devan. “Apa kamu tahu kalau kamu mengidap penyakit ini?" tanya laki-laki berkepala enam itu.


Devan mengangguk. Dia mengetahuinya sejak papanya diagnosis penyakit yang serupa.


“Orang tua kamu juga tahu?" Dokter itu bertanya lagi.


Kali ini Devan menggeleng dengan wajah menunduk. Tidak ada yang tahu tentang penyakitnya selain kakak, Dokter Arif, Bi Mar dan gadis berhijab itu. Devan pun tahu penyakitnya ini saat usianya menginjak usia 13 tahun. Waktu itu papanya sudah meninggal karena mengidap penyakit yang sama dengannya, dan mamanya sudah kembali ke Swedia.


Melihat gelengan kepala Devan, dokter paruh baya itu menghela nafas berat. “Apa sebelumnya pernah ada riwayat operasi di kepala?"


Devan segera mengangguk. "Waktu itu saya mengalami kecelakaan, Dok."


"Terakhir operasi kapan?"


“Tiga tahun lalu, Dok." Devan mengingat saat kepalanya mengalami pendaharan hebat karena kecelakaan itu. Tepat saat ia akan mengambil pengumuman hasil  kelulusannya.


“Setelah itu, apa kamu menjalani pengobatan seperti kemoterapi atau lainnya?"


“Tidak, Dok. Saya hanya meminum obat herbal. Karena saya yakin penyakit saya bisa disembuhkan dengan obat itu," jawab Devan jujur. Karena waktu itu dokter tempatnya dioperasi mengatakan bahwa tumornya bisa disembuhkan karena masih stadium awal.


“Apa akhir-akhir ini, kamu sering mengalami sakit kepala yang akut, kesulitan berjalan, seluruh tubuh terasa kelelahan, sering mual dan kesemutan?"


Devan lagi-lagi mengangguk. Dia tidak bisa menyembunyikan apa yang dialaminya dua minggu terakhir ini kepada dokter.


“Begini Nak Devan, berdasarkan hasil pemeriksaan CT Scan terakhir, kemudian kami bandingkan dengan hasil yang sekarang. Terlihat di bawah mikroskop, pertumbuhan sel tumor yang ada di kepala kamu sudah terlihat berbeda atau abnormal dari sel sehat pada umumnya, jadi-"


“Bisakah Dokter memberikan kesimpulannya saja?" Devan memotong penjelasan dokter di depannya dengan suara sedikit meninggi. “Maaf Dok," ucapnya lagi dengan wajah menunduk.


Sebelum benar-benar memberikan jawaban yang lebih jelas, dokter paruh baya itu mengambil napas dalam kemudian mengeluarkannya. Laki-laki itu terasa sangat berat mengatakan hal itu pada remaja di depannya, terlihat dari raut wajahnya yang tak tega. Tapi bagaimanapun, ia harus memberitahunya.


“Tumor kamu, sudah mencapai stadium 3 Nak Devan." Suara dokter paruh baya diakhiri hembusan nafas berat.


Mendengar hal itu, dunia Devan seakan runtuh saat itu juga. Tangannya mengepal kuat. Tapi jauh hari dia sudah mempersiapkan diri bertemu dengan keadaan ini. dia masih menunduk, mencoba mencerna takdir yang baru saja menghampirinya. Bagaimanapun, dia harus menjamu takdir yang baru saja bertamu dalam hidupnya.


"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."


Potongan ayat 153 dari surah kedua Al-quran itu terus diulangnya. Sedikit demi sedikit hatinya menjadi lebih tenang.


“Berapa lama lagi saya bisa bertahan, Dok? Apa ada kemungkinan saya bisa sembuh?" tanya Devan dengan mata yang sudah mulai memerah.


***


Jalanan siang itu agak macet. Ditambah cuaca panas membuat setiap orang yang berada di dalam mobil bisa merasakan hawa gerahnya.


“Ayah minta maaf ya, Nak. Gara-gara pekerjaan, kita tidak jadi makan siang bersama."


Hanifa memandangi wajah sejuk ayahnya dengan tersenyum. “Ayah nggak usah minta maaf. Ifa nggak papa kok. Pekerjaan adalah tanggung jawab Yah, dan pasien adalah  hidup dokter. Kita kan bisa lain kali makan bersamanya Yah, yang penting pasien Ayah selamat."


Dokter Arif tersenyum mendengar penuturan putrinya yang begitu perhatian terhadap pekerjaannya. Bahkan kadang-kadang putrinya lebih peka tentang pasien daripada dirinya.

__ADS_1


“Ayah bangga sama kamu, Nak. Kamu anak yang baik, Sholeha, cantik lagi. Ayah yakin, kalau Ifa jadi sudah dokter semua pasien rumah sakit pasti akan cepat sembuh."


Hanifa tertawa kecil mendengar pujian ayahnya, dia bukan tipe manusia yang suka pujian.


“Satu-satunya yang bisa menyembuhkan manusia itu cuma Allah Yah, Hanifa cuma jadi perantara," jawabnya ringan.


“Masya Allah, putrinya Ayah memang wanita idaman. Nanti kalau ada yang suka sama Ifa, kasih tahu Ayah ya. biar Ayah yang seleksi buat jadi pendamping putri kesayangan Ayah ini," ucap Dokter Arif diiringi tawa renyah.


Hanifa pun tak dapat menahan tawanya. "Siap Ayahku."


“Sudah ada calonnya tidak?" Dokter Arif masih mencandai putrinya.


“Belum ada, Yah," jawabnya tersenyum. "Ifa kan harus lulus sekolah dulu, habis itu kuliah. Perjalanan Ifa masih panjang, Yah."


Dokter Arif manggut-manggut dan tersenyum. “Tapi kalau ada yang datang ke rumah gimana? Soalnya Ayah mencium bau-bau yang tak biasa belakangan ini.” goda sang ayah.


“Ayaaahhh ..." Hanifa menutup wajahnya yang sudah merona dengan kedua tangannya. Hal itu membuat tawa dokter Arif pecah. Suasana siang itu menjadi lebih sejuk dengan ikatan keluarga antara ayah dan putrinya.


Sesampainya di depan rumah, Hanifa turun dari mobil. Sedangkan dokter Arif langsung melajukan mobilnya karena harus segera ke rumah sakit. Seperti biasa, setelah pulang sekolah Hanifa akan membaca ulang pelajaran yang tadi diterimanya. Untungnya tadi dia sempat sholat Zuhur di musholla sekolah, sehingga dia punya waktu yang lumayan untuk belajar.


Tiga puluh menit berlalu saat semua pelajaran berhasil diulanginya. Hanifa melihat jam dinding di kamarnya, masih tersisa dua puluh menit sebelum azan Ashar. Matanya sudah merasakan kantuk, ia memutuskan untuk tidur siang sebentar.


Sebelum benar-benar menutup matanya, jari tangannya meraih ponsel yang terletak di laci dekat tempat tidur. Hanifa membukanya, dan men-search sesuatu yang membuatnya penasaran sejak mengobrol dengan ayahnya.


Jemarinya sibuk men-scroll blog-blog dari sesuatu yang ia cari, kemudian mengklik judul artikel yang menurutnya pas. Mata Hanifa menyipit setelah menemukan judul yang menarik perhatian.


"Mengenali Stadium Kanker Otak, mulai dari awal hingga akhir," ucapnya membaca judul artikel tersebut. Kemudian menscroll layar ponselnya ke bawah.


Rasa kantuknya tiba-tiba hilang. Hanifa kembali bangun dan meyandarkan tubuhnya di dinding. Kemudian memfokuskan matanya di depan ponsel.


“Meski sama-sama di sebut kanker, penyakit ini memiliki sifat yang berbeda dengan jenis kanker lainnya. Pasalnya, kanker otak bisa menyebar ke berbagai jaringan di dalam otak, tetapi kanker otak primer sangat jarang dapat menyebar ke luar otak atau menjauh dari sistem saraf pusat, termasuk sum-sum tulang belakang." Hanifa masih fokus membaca.


Rasa penasaran dengan penyakit yang di derita Devan membuatnya ingin lebih mengenal penyakit ini. Di blog lain, ia menemukan faktor-faktor yang menyebabkan tumor otak yaitu salah satunya adalah faktor keturunan.


“Apa orang tuanya Devan ada yang mengidap penyakit tumor?" tanya Hanifa setelah membaca blog dari artikel itu dan memutuskan untuk bertanya pada ayahnya besok.


“Tapi besok kan libur. Apa aku telpon ayah saja, ya?" Baru akan menekan nomor ayahnya, tangan Hanifa terhenti.


“Tapi, pasti sekarang ayah sedang sibuk. Aku telpon besok saja lah, putusnya."


Sejak tadi dia hanya berbicara dengan dirinya sendiri. Lima menit berlalu, jemarinya masih sibuk mencari judul lain sampai dia menemukan artikel yang membuat matanya membulat dan rasa sesak di dadanya. Dia membaca tulisan-tulisan itu perlahan, mencoba meresapi kalimat yang tersaji di dalamnya.


“Ayah bilang, Devan mengidap tumor stadium 2. Tulisan ini bilang, kalau dokter membagi perkembangan penyakit kanker otak atau tumor otak ke dalam empat tingkatan atau stadium, mulai dari stadium 1 hingga stadium 4. Semakin tinggi angkanya, semakin parah pula kondisi yang di miliki. Bila tumor otak didiagnosis lebih awal, yaitu pada stadium 1 atau 2, kemungkinan bisa sembuh lebih besar dibandingkan jika diketahui sudah memasuki tahap akhir atau pada tingkatan kanker 3 atau 4."


Membaca hal itu, Hanifa terdiam.


“Apa tumor Devan masih stadium 2? Katanya dia terakhir periksa 2 tahun yang lalu. Mungkin nggak, ya, tumor bisa berkembang lebih cepat?"


Hanifa masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Di tengah rasa khawatirnya, suara azan menggema di layar ponselnya. Segera kakinya beranjak mengambil wudhu kemudian menunaikan kewajibannya kepada Pencipta-Nya.


***

__ADS_1


Di lain tempat, Devan yang baru tiba di rumah langsung merebahkan tubuhnya di kamar. Matanya fokus menatap langit-langit kamar yang bercat krimer. Tak lama setelah itu ia bergegas membersihkan dirinya, kemudian menunaikan sholat Ashar.


Dalam sujud terakhirnya, dia menyempatkan diri memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan, kemudian memohon agar dia bisa berjalan bersama dengan takdir yang baru saja dikirim Sang Kuasa kepadanya.


Setelah melaksanakan kewajiban seorang hamba kepada sang Khalik, Devan melangkahkan kakinya ke balkon kamar. Ucapan dokter Hasan tadi masih terngiang di telinganya. Percakapannya dengan dokter Hasan masih segar di kepalanya.


“Berapa lama lagi saya bisa bertahan Dok?"


“Dari hasil analisis, waktu kamu tidak banyak. Segera mungkin kami harus melakukan operasi pengangkatan tumor. Untuk melakukan operasi itu, pihak rumah sakit membutuhkan persetujuan dari keluarga kamu nak Devan." Dokter Hasan menarik nafasnya.


“Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui nak Devan. Kami para dokter adalah manusia biasa, analisis kami bisa saja salah. Dan dokter bukanlah Tuhan yang memberikan kehidupan kepada manusia. Jadi, teruslah dekatkan dirimu dengan Allah nak. Dia Maha Pengasih kepada setiap makhluk-Nya. Perbanyaklah berdoa dan berusaha, insya Allah akan ada jalan terbaik."


Nasehat dari dokter Hasan tadi membuat hatinya lebih tenang. Bagaimana pun, dokter hanyalah manusia. Hanya Tuhan-lah andil terbesar dalam setiap sisi hidup manusia. Manusia bisa saja berusaha dan berencana, tapi hanya Tuhanlah yang menentukan.


Angin sore yang terasa sejuk meyapu lembut rambut ikalnya. Memainkan setiap helainya, seolah mengatakan kalau dia akan baik-baik saja. Dengan rasa optimis yang terpatri di hatinya, Devan berinisiatif mencari beberapa obat herbal lewat aplikasi di ponselnya.


Tak butuh waktu lama, setelah menulis judul di laman pencarian sederet artikel menjawab semua keinginannya. Satu persatu artikel itu dibacanya. Seketika itu juga senyum merekah di wajah tirusnya. Sedikit celah kesembuhan seakan ditemukannya.


“Ini kan minuman yang sering dibuat Bibi," gumamnya dal langsung melangkahkan kakinya ke dapur.


"Cari apa Aden?" Bi Mar yang tengah sibuk mencuci piring terkejut dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba.


Sembari melihat bi Mar yang tengah mencuci piring, Devan bermaksud mengutarakan keinginannya.


"Bibi bisa buat jamu nggak?"


“Heleh-heleh, masalah jamu-jamuan, Bibi mah jagonya. Semua jenis jamu Bibi bisa buat. Aden mau minum jamu to?"


“Maksud aku itu, kayak minuman herbal gitu lho, Bi," ralat Devan dan sontak mendapat anggukan dari wanita paruh baya yang sudah seperti keluarga sendiri.


“Bisa bikinin Devan nggak, Bi?" tanya Devan dengan wajah berbinar.


Bi Mar terdiam sebentar. Ia mencari sesuatu di lemari es, kemudian kembali dengan wajah sedikit kecewa. “Bibi minta maaf ya, Aden. Bahan-bahan untuk membuat minuman herbal tidak ada."


“Yaahh, terus bagaimana dong, Bi?"


“Besok Bibi langsung beli bahannya ke pasar. Setelah itu, bibi janji akan membuatkannya untuk Aden."


Mendengar hal itu, Devan mengangguk. "Oke. Besok ke pasar biar Devan yang antar ya, Bi."


Bi Mar langsung menggeleng. "Tidak usah atu Aden. Bibi kan bisa naik angkot."


"Sudah, Bibi tenang aja. Lagian besok kan Devan libur. Devan suntuk di rumah terus Bi."


Setelah berpikir lama, akhirnya Bi Mar mengangguk mengiyakan. Sebenarnya dia tidak ingin merepotkan remaja yang sudah seperti putranya sendiri. Tapi dia juga tidak tega menolak keinginannya.


“Fiks. Kalau begitu, Devan ke kamar dulu Bi. Nanti kalau sudah selesai cuci piringnya, Bibi langsung istirahat," nasehat Devan dan segera beranjak balik ke kamarnya.


Setelah bayangan Devan menghilang, Bi Mar menitikkan air matanya. Dia yang merawat Devan sejak papanya meninggal sangat paham dengan kehidupan Devan saat ini. Di usia semuda itu dia harus menanggung beban yang sangat berat.


“Semoga Allah selalu bersamamu, Nak. Kamu anak yang baik," doa Bi Mar penuh harap.

__ADS_1


***


__ADS_2