
Mata bulatnya menyapu sekitar, kemudian beralih menatap layar ponselnya. Sesekali jari tangannya menggeser layar, melihat detik demi detik yang terlewat. Dari raut wajahnya sudah dapat ditebak kalau dia sedang menunggu seseorang dari kejauhan. Di tengah kesabarannya menunggu, langkah seseorang mendekatinya.
“Maaf, ya, Nak membuat kamu jadi nunggu lama. tadi Ayah bertemu teman Ayah sebelum sampai taman."
Hanifa yang wajah kusutnya kini berbinar cerah.
“Iya, Yah. Enggak apa-apa kok," jawab Hanifa tersenyum.
Dokter Arif mengangguk dan memegang pundak putrinya. "Ya sudah, sekarang kamu ke sana, gih. Kasian dia sendirian."
“Tapi, kalau Devan nggak mau ketemu Hanifa bagaimana, Yah?"
“Kamu percaya sama Ayah, ya." Dokter Arif meyakinkan.
Hanifa menarik napasnya dalam, kemudian mengeluarkannya pelan. Ia pun langsung beranjak ke tempat Devan. Dari jarak beberapa meter, matanya sudah melihat sosok yang lama ingin dia jumpa. Sosok itu kini sedang fokus menatap objek yang ada di depannya. Perlahan tapi pasti, kaki Hanifa sudah berada tepat di belakang sosok itu.
Hanifa tersenyum saat mendengar beberapa ocehan dan kekesalan dari mulutnya. "Kalau lagi sakit itu, marah-marahnya dikurangi," tegurnya.
Sontak laki-laki itu menoleh ke arahnya. Matanya membulat sempurna. Tanpa Hanifa duga, perlahan kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan tipis.
“Assalamualaikum, Devan."
Devan yang masih menatap Hanifa menggerakkan bibirnya menjawab salam dari Hanifa. Entah sadar atau tidak, ini pertama kalinya dia menjawab salam dari Hanifa.
Apa gue halu lagi? Tadi gue ngerasa Hanifa masuk ruangan dan bicara sama gue. Dan ini, sekarang dia ada di depan gue. Tanya Devan pada dirinya sendiri.
"Gimana kabar kamu, Van?" tanya Hanifa yang membuatnya tersadar dari hayalannya.
“L-lo ngapain di sini?"
Hanifa memilih duduk beberapa meter dari samping Devan. "Aku ke sini nemenin Ayah."
“Jadi lo udah tahu ya keberadaan gue?" ujar Devan tersenyum kecil. "Gimana kuliahnya?"
“Alhamdulillah, tinggal tunggu pengumumannya."
Devan mengangguk dengan mata yang tetap menghadap depan. Hanifa meliriknya sekilas. Kemudian melihat ke objek yang sama dengannya. Hingga suasana menjadi hening sesaat.
Hanifa tidak tahu harus bicara apa, begitupun dengan Devan. Dalam hati kecilnya, Devan berharap Hanifa memang hanya menemani ayahnya ke sini, tidak ada urusan lain termasuk mengetahui tentang rencana operasinya.
“Kamu masih lama di rumah sakit ini, Van?" Suara Hanifa kembali memecahkan keheningan.
Devan mengendikkan bahunya. “Gue nggak tahu. Tapi bentar lagi gue pulang kok. Kenapa?"
“Nggak ada."
“Lo kangen, ya, sama gue?" candanya.
Mendengar ucapannya, alis Hanifa terangkat sebelah. “Apaan, sih. Ya nggaklah."
Devan tertawa. "Tapi nggak papa, sih, kalau lo kangen sama gue. Memang gue itu orangnya suka ngangenin."
“Ge-er banget sih kamu," balas Hanifa cepat, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya. “Daripada ge-er nggak jelas, mendingan kamu makan roti ini. Biar cepat sembuh.”
Devan menoleh, kemudian mengambil bungkusan roti yang ada di tangan Hanifa. "Ini, roti yang pernah Lo kasih ke gue itu, kan?"
Hanifa mengangguk mengiyakan. "Iya, tapi kalau kamu nggak mau juga nggak papa kok."
“Kita harus menghargai usaha orang lain, apapun bentuknya. Itu kan lo yang bilang," sahut Devan mencari pembelaan. Sebenarnya dia juga sudah bosan dengan makanan di rumah sakit itu, dan roti dari Hanifa membuatnya terasa lebih baik.
__ADS_1
"Baguslah kalau udah sadar," gumam Hanifa tersenyum.
Devan yang mendengarnya langsung menghentikan makannya. "Lo bilang apa barusan?"
“Nggak ada. Aku bilang, kamu makannya yang lahap supaya cepat sembuh." Hanifa menyangkal.
Devan tertawa mendengarnya. Sore itu menjadi lebih indah dari apa yang dikatakan oleh dokter Arif.
***
“Taruh lagi buburnya, gue udah kenyang." Devan menutup mulutnya rapat agar Hanifa tidak memaksanya untuk makan lagi.
“Van, kamu baru makan tiga sendok. Ini buburnya masih banyak."
“Nggak! Nggak. Mau muntah gue," tolak Devan.
Melihat sikap keukeuh laki-laki itu, Hanifa mengalah. Dia tidak mungkin memaksakan makanan itu masuk lagi ke mulutnya. Ya, hari ini dia ada di rumah sakit tempat Devan dirawat.
Sejak kedatangannya sore itu, ayahnya meminta agar dia sering-sering menjenguknya sebelum operasi. Hanifa menyetujuinya karena Devan juga tidak mencegahnya untuk datang.
“Stop. Gue mau di sini aja," pint Devan saat mereka sudah sampai di dekat taman. Seperti biasa, Hanifa mengajak Devan untuk berkeliling sebentar.
Hanifa yang sedari tadi mendorong kursi roda pun berhenti. Kemudian duduk di bangku panjang. Belum beberapa menit di tempat itu, ponselnya bergetar.
“Dari siapa?" tanya Devan setelah melihat Hanifa mengangkat telpon.
Hanifa memasukkan ponselnya. "Dari ummi."
“Oh, dia bilang apa?"
“Tadi ummi tanya, aku dimana. Terus aku jawab lagi sama ayah. Dan ummi nyuruh aku pulang."
“Aku juga nggak tahu, Van. Katanya ada tamu penting. Maaf, ya, aku nggak bisa lama-lama," kata Hanifa dan langsung mendapat anggukan dari laki-laki di sampingnya itu.
“Nanti jangan lupa makan, ya. Assalamualaikum."
“Hati-hati, waalaikumussalam," jawab Devan memandangi tubuh Hanifa yang menghilang di balik lorong.
Tiga puluh menit sejak keluar dari rumah sakit, Hanifa akhirnya tiba di depan rumahnya. Setelah turun, matanya melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman depan.
"Apa orang penting ini temannya ummi?" gumamnya sambil melangkah masuk. “Assalamualaikum."
Tiga orang yang tengah duduk di ruang tamu sederhana itu mengucap salamnya. Mata Hanifa membulat sempurna saat melihat salah seorang diantara mereka yang duduk di sana adalah orang yang sangat ia kenal.
“Kak Wafi?"
Yang dipanggil pun tersenyum.
“Nak, mau sampai kapan kamu berdiri di sana?" tegur umminya.
Ummi Fatimah pun berdiri dan menuntun putrinya untuk duduk di dekatnya. Hanifa yang masih bingung dengan keadaan ini hanya terdiam sembari sesekali melirik laki-laki yang tengah duduk bersama dua orang lainnya. Mungkin mereka adalah keluarga, sepupu atau temannya.
"Silahkan diminum tehnya, Nak," kata ummi Fatimah mempersilahkan.
“Terima kasih Umm," jawab Wafi tersenyum.
Ummi Fatimah mengangguk. Kini pandangannya beralih pada putrinya.
"Ifa sudah kenal kan sama nak Wafi?" tanya wanita itu.
__ADS_1
Hanifa mengangguk. "Sudah, Umm."
“Ifa masih ingat nggak saat Ummi pernah bilang ada laki-laki yang bantuin Ummi di pasar waktu itu?"
Hanifa kembali mengangguk.
“Nah yang bantuin Ummi itu adalah nak Wafi. Dia memang laki-laki yang baik."
Mendengar dirinya dipuji, Wafi merasa tidak enak. "Ummi bisa saja. Sesama muslim kan harus saling tolong menolong, Umm."
“Masya Allah, Ummi jadi semakin sreg, deh," kata ummi Fatimah lagi.
Hanifa yang sama sekali tak mengerti arah pembicaraan ummi dan laki-laki di depannya itu merasa jengkel.
“Oh iya, Ummi tadi nelpon ada apa?"
“Ifa, maaf, ya, Ummi telpon dan tiba-tiba menyuruh Ifa pulang. Begini, nak Wafi dan pamannya ingin menyampaikan sesuatu sama kamu."
Hanifa mengernyitkan alisnya. "Menyampaikan apa, Ummi?"
Bukan mendapat jawaban dari umminya, Hanifa malah semakin dibuat bingung dengan mata sang ummi yang mengisyaratkan agar Wafi bicara.
“Begini nak Hanifa, Wafi pernah cerita sama Om kalau dia menyukai seorang wanita dan berniat ingin menjadikannya sebagai pendamping hidupnya. Sebenarnya Wafi sudah lama ingin melamarnya, tapi karena paman belum sempat datang dan terkendala hal lainnya, jadi kami baru hari ini bisa datang," jawab laki-laki yang duduk di samping Wafi.
“Maksud Paman apa, ya?" tanya Hanifa tak paham.
“Nak Wafi mau melamar kamu jadi istrinya, sayang," sahut ummi Fatimah.
Hanifa diam. "Melamar aku? Apa kak Wafi salah alamat? Mungkin ada kekeliruan di sini,"ucap Hanifa.
"Sama sekali tidak ada kekeliruan, Hanifa. Kamu mungkin terkejut dengan semua ini. Tapi percayalah, kedatanganku ke sini tidak main-main." Akhirnya Wafi berbicara. "Sebenarnya, aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Makanya aku yakin untuk memilih kamu."
“Iya, Nak Hanifa. Niat Wafi sudah dia utarakan sama Om beberapa minggu yang lalu. Sebenarnya orang tua Wafi juga ingin ikut datang ke sini, tapi karena ada pekerjaan yang belum selesai, makanya paman yang menemaninya. Bagaimana nak Hanifa?"
Hanifa masih diam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Matanya melihat ke arah Wafi yang saat itu menatapnya juga. Hanifa kemudian langsung menunduk.
“Bagaimana, sayang?" Untuk kesekian kalinya umminya berbicara.
Baru akan bicara, tiba-tiba Salma berlari ke ruang tamu dengan nafas terengah-engah dan boneka beruang yang masih melekat di tangannya.
"K...Kak Ifa... I... Itu... Itu..." ucap Salma terbata-bata dengan nafasnya masih terengah-engah.
Semua yang ada di ruang tamu ikut khawatir melihat ekspresi ketakutan dari wajah Salma. “Ada apa sayang? Kamu kenapa?" tanya ummi Fatimah dan segera beranjak ke arah Salma.
“Salma, tarik nafas dulu, ya," saran Hanifa dan langsung dituruti oleh adik kesayangannya itu.
“Sekarang, Salma katakan. Ada apa?" lanjut Hanifa memegang kedua lengannya.
“Kakak ganteng... Pingsan... Kakak di baik depan pingsan...," kata Salma lagi. Rupanya, ketakutan Salma kembali, sampai dia tidak tahu apa yang baru saja dia ucapkan.
“Maksud kamu siapa sih, Nak? Kakak siapa?" tanya ummi Fatimah penasaran.
“Kak Devan, dia pingsan di depan Umm," jawab Salma akhirnya.
"Hah?"
Mendengar nama itu, Hanifa segera berlari keluar. Diikuti oleh ummi dan para tamunya. Benar saja, semua orang yang baru keluar berhasil dibuat terkejut dengan sosok yang sudah tergeletak tak berdaya di depan gerbang.
***
__ADS_1