Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Menepati Janji


__ADS_3

Lantunan merdu dari surah Al-quran masih terdengar dalam ruangan putih itu. Setelah dirasa cukup, ia pun mengajak sosok yang terbaring itu berbicara dengan beberapa kalimat dengan harapan, laki-laki yang tengah tertidur lelap itu sedikit membuka kelopak matanya dan menyapanya dengan ucapan selamat pagi. Tapi itu semua hanyalah angan semu dari seorang Hanifa.


Hari ini adalah ketiga belas harinya Devan masih terlelap dalam komanya. Laki-laki itu seperti begitu nyama dalam tidurnya. Tidur yang Hanifa tidak tau seindah apa mimpinya di sana hingga membuat laki-laki di depannya itu tak mau membuka mata sampai saat ini.


Meski demikian, Hanifa tak hentinya menemani di setiap waktu. Sesekali mengusap wajah sang suami dengan air hangat agar tetap bersih. Bahkan, tak jarang Hanifa menceritakan beberapa kisah sahabat nabi kepada Devan. Kadang juga dengan beberapa kisah hidupnya.


Walau hanya alat-alat medis yang melekat di beberapa bagian tubuh Devan yang mendengar ceritanya, tapi Hanifa yakin perlahan suara Hanifa bisa terdengar oleh laki-laki itu. Dan Hanifa berharap, Devan akan segera bangun dan melihatnya.


Perban yang masih melilit indah di kepalanya baru saja diganti dengan yang baru. Ruangan itu masih sunyi. Dokter Arif belum datang, begitupun dengan Jihan. Mata Hanifa terasa berat. Untuk menghilangkan rasa kantuk di matanya, Hanifa ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, setelah itu kembali ke tempat semula.


“Van, seindah apapun mimpi kamu di sana, aku harap kamu membuka mata kamu. Sebentar aja. Aku-" Hanifa menunduk, menggantung kalimatnya. Kemudian mengambil tangan Devan yang bebas dari infus.


“Aku rindu saat kamu marahin aku, Van."


Hanifa tersenyum pahit. Tak ingin berharap lebih lagi, dia memilih menjatuhkan kepalanya di atas tangan Devan. Rasa kantuk yang sudah merambat di matanya, berhasil membuatnya tertidur.


Saat matanya sudah terlelap, satu persatu jari yang dipegangnya bergerak, meski dengan gerakan yang sangat lemah. Perlahan, pemilik bulu mata lentik itu membuka matanya. Iris biru itu bergerak, menyapu seluruh ruangan itu. Gerakannya terhenti saat melihat seorang wanita tengah terpejam di samping ranjangnya.


Tangan yang masih lemah itu terangkat ke atas, berhenti tepat diatas kepala Hanifa. Kemudian mengelus kepala yang tertutup hijab itu beberapa kali.


Hanifa yang merasa ada sesuatu yang bergerak di atas kepalanya pun bangun. Dengan penglihatan yang masih buram, matanya melihat laki-laki di depannya tengah tersenyum. Hanifa mengucek matanya, memastikan apakah ini mimpi atau bukan.


"Ya Allah, kenapa hal ini harus terjadi di mimpi hamba?" gumamnya dalam hati. Matanya masih menatap laki-laki di depannya itu. Hatinya sangat berharap, dalam kenyataan semua ini akan terjadi.


“Han ... nif ... aa," panggil laki-laki itu dengan suara pelan dan lemah.


Mendengar panggilan itu, Hanifa segera mencubit dirinya. "Aw!" pekiknya. Dan akhirnya Hanifa tersadar, semua ini bukan mimpi.


“Devan? Kamu?"


Yang dipanggil hanya mengulas senyum. Untuk memastikan semua ini bukan mimpi, tangan Hanifa perlahan menyentuh pipi Devan.


“Kamu sudah bangun, Van?"


Devan tidak menjawab dengan suara, melainkan pergerakan tangannya yang memegang tangan Hanifa. Seketika itu juga air matanya tumpah. Kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.


“Sebentar, ya. Aku panggil dokter dulu." Hanifa segera berlari keluar.


Beberapa detik kemudian dia sudah kembali dengan seorang dokter dan perawat. Saat Devan tengah diperiksa, Hanifa segera menelpon Jihan dan keluarganya.


“Alhamdulillah, kondisinya sudah sedikit membaik. Tapi saat ini pasien tidak boleh terlalu banyak bergerak, karena kondisinya masih sangat lemah. Besok kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap."


Hanifa mengangguk. “Baik, Dok."


Setelah pemeriksaan selesai, dokter itu kemudian menyuntikkan beberapa cairan ke dalam infus Devan yang Hanifa tau itu adalah obat.


“Kalau begitu, kami permisi dulu."


“Iya Dok, terima kasih banyak."


“Sama-sama."


Baru satu menit kepergian dokter itu, Jihan datang. Ekspresinya sama persis dengan Hanifa. “Devan, akhirnya kamu bangun juga. Kakak sangat khawatir sama kamu."


Devan tak berbicara, dia hanya tersenyum. Senyum yang mengartikan ucapan terima kasih dan mengatakan kalau dia baik-baik saja.


***


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Hanifa.

__ADS_1


Dua puluh empat jam setelah sadar, Devan dipindahkan ke ruang rawat inap yang tempatnya berada di ruangan sebelum dioperasi.


Meskipun kondisinya masih lemah, tapi beberapa alat medis yang tadinya menutupi hampir seluruh tubuhnya sudah dilepas. Kini hanya tersisa infus dan alat pernafasan yang masih melekat di tangan dan wajahnya.


“Fa," panggilnya.


“Ya. Kamu butuh sesuatu?" Devan menggeleng. “Lalu?"


“Aku sudah menepati janjiku," ucapnya.


Hanifa tersenyum dan mengangguk. "Iya, aku tau. Sekarang kamu istirahat ya," pintanya dan langsung mendapat anggukan darinya.


Baru akan berbalik dan beranjak dari tempatnya, tangan Devan terlebih dahulu mencegahnya.


“Tolong bacain surah yang sering kamu baca sebelum aku sadar," pinta Devan.


Hanifa mengangguk. Berhubung surah tersebut sudah dihafalnya, jadi dia tidak perlu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Tak butuh waktu lama, Hanifa sudah melantunkan beberapa ayat dari surah Ar-Rahman yang menjadi surah favoritnya.


Lima menit kemudian, surah tersebut sudah selesai Hanifa baca. Senyumnya mengembang melihat Devan yang sudah terlelap. Meskipun matanya sudah tertutup, tapi tangannya masih melekat di tangan Hanifa.


“Assalamualaikum," ucap dokter Arif.


“Waalaikumussalam. Ayah."


Langkah kakinya mendekat ke arah mereka berdua. "Bagaimana keadaannya, Nak?"


“Alhamdulillah sudah membaik, Yah.”


“Syukurlah."


“Ayah kapan datang?"


“Nggak papa Yah.”


Melihat pemandangan di depannya, dokter Arif tersenyum. “Rupanya Devan sangat merindukan kamu sayang. Sampai-sampai dia tidak mau membiarkan kamu pergi kemana pun," candanya.


“Ifa bersyukur Yah, dia sudah bangun. Allah sangat baik, Dia sudah membantu Devan melewati masa kritisnya."


Dokter Arif mengangguk tersenyum. "Oh iya, Ayah baru ingat. Di luar ada yang mau ketemu kamu, Nak."


Hanifa menaikkan alisnya. "Siapa, Yah?"


“Mendingan kamu liat gih."


Hanifa mengangguk. Aku keluar dulu, Yah. Ifa titip Devan, ya."


“Iya, kamu cepetan balik, ya. Nanti Devannya nyariin gimana?"


Gadis itu mengangguk cepat. Setelah melepas tangan Devan, Hanifa segera keluar. Begitu tiba did epan pintu, matanya sibuk mencari sosok yang dikatakan ayahnya.


“Yang mau ketemu aku siapa, ya?" Hanifa bertanya pada dirinya.


“Aku yang mau ketemu kamu," sahut seseorang dari arah samping.


Hanifa langsung membalikkan tubuhnya.


“Assalamualaikum, Hanifa."


“Waalaikumussalam," jawabnya masih menatap laki-laki yang ada di depannya. “Kak Wafi?"

__ADS_1


Yang dipanggil hanya tersenyum.


“Iya ini aku. Bisa bicara sebentar?"


Hanifa mengangguk. Dia langsung mengikuti Wafi berjalan ke bangku panjang, beberapa meter dari ruangan VIP.


“Apa yang mau kak Wafi bicarakan?"


Wafi diam sebentar, kemudian menunduk. “Aku hanya ingin menemuimu. Sepertinya, aku merindukan kamu, Fa," katanya tersenyum.


“Maafkan aku, Kak. Tapi aku sudah-"


“Iya, aku tau. Kamu sudah menikah, dengan Devan. Laki-laki yang membuatmu tak menjawab lamaranku sampai sekarang."


“Bukan begitu, Kak, tapi-"


“Tapi kamu terpaksa, kan?"


Hanifa menarik nafasnya dalam.


“Tidak pernah ada paksaan dalam pernikahan, Kak. Aku ikhlas dengan semua ini. Mungkin ini takdir yang sudah Allah gariskan. Sebagai manusia dan seorang hamba, kita harus menerima apapun yang sudah digariskan dalam hidup, bagus maupun sebaliknya."


Wafi mengangguk pelan.


“Tapi kita harus ingat, sebagai manusia kita punya kesempatan untuk merubah takdir itu."


“Maksudnya?"


“Apa aku tidak punya kesempatan untuk menjadi bagian dari takdirmu, Fa?"


“Hah?"


***


Angin sore itu terasa sedikit panas. Selain cuacanya yang kurang bersahabat, suasana hatinya juga mengakibatkan AC yang ada diatas kepalanya terasa tidak berfungsi.


Sudah lima menit Hanifa duduk di luar. Setelah melaksanakan sholat Ashar, dia langsung kembali. Tapi saat sampai depan pintu, raganya memilih duduk di luar. Perbincangan dengan laki-laki tadi membuat pikirannya sedikit terusik. Memorinya kembali memutar ucapan-ucapan yang Wafi katakan tadi.


Flashback on ...


“Apa aku tidak punya kesempatan untuk menjadi bagian dari takdirmu Fa?"


Pertanyaan yang keluar dari laki-laki di sampingnya itu sukses membuatnya berfikir. “Maaf, Kak. Aku sudah berjanji pada diriku untuk menghormati siapa yang menjadi suamiku. Bagaimana pun keadaannya. Sebelum Allah yang merubah takdirku menjadi seperti apa, aku akan tetap bertahan dengan posisiku yang sekarang."


“Meskipun suami kamu sendiri tidak mencintaimu? Atau bahkan tidak memperdulikanmu?"


Untuk pertanyaan yang ini, Hanifa diam. Dia tak tau harus menjawab apa. “Baiklah Fa, kalau itu memang keputusan kamu. Semoga pernikahan kalian bahagia, ya."


“Maafkan aku, Kak."


Wafi tersenyum mendengarnya. "Kamu tidak usah minta maaf. Seperti katamu, kita harus menerima apa yang sudah Allah gariskan. Dan seperti kamu, aku tidak akan mengubah perasaanku sebelum Allah mengubahnya. Assalamualaikum."


“Waalaikumussalam," jawabnya memandang punggung yang semakin menghilang. Hanifa menghela nafasnya panjang.


Flashback off


"Aku percaya dengan pilihan-Mu ya Allah. Tapi, bagaimana jika Devan benar tidak memperdulikan aku?" Gumam Hanifa pelan.


***

__ADS_1


__ADS_2