Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Ujian Pernikahan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Beberapa menit lagi, Devan akan dibawa ke ruang operasi. Semua yang ada di ruangan itu masih diam melihat sosok yang tengah melakukan sesuatu di atas brankarnya. Tak ada yang dibicarakan. Bahkan Hanifa, sejak sholat Maghrib tadi dia masih diam di dekat umminya.


Sementara Devan, ia tengah melaksanakan sholat Isya dengan pakaian operasi yang baru saja dipakainya. Jihan dan dokter Arif masih belum datang. Hanifa terus saja menatap Devan yang masih khusuk dengan sholatnya. Baru mengucapkan salam terakhir, pintu sudah terbuka oleh dokter Arif menyusul beberapa perawat di belakangnya.


“Nak Devan, sudah siap?"


Pemilik nama yang baru saja menyelesaikan sholatnya menghela napas panjang, kemudian tersenyum. Menandakan kalau dirinya sudah siap. Tanpa menunggu jawaban berupa suara, semua perawat yang tadi masuk segera mendorong ranjang Devan untuk keluar.


“Tunggu, Dok," cegah Devan ketika mereka baru saja sampai depan pintu.


“Ada apa?"


Devan menoleh ke arah Hanifa yang baru berdiri. “Saya mau bicara sebentar sama istri saya," pintanya.


“Ada apa, Van? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Hanifa yang sudah berdiri di samping Devan.


Laki-laki itu menggeleng. “Aku cuma butuh kamu di dekat aku, Fa," jawabnya tersenyum dengan posisi tangan yang menggenggam erat tangan Hanifa.


“Kamu pasti bisa," kata Hanifa menyemangati.


Devan mengangguk mendengar ucapan Hanifa barusan. “Sudah, Dok. Kita bisa jalan sekarang."


Dokter Arif mengiyakan. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ruang operasi yang jaraknya sekitar beberapa meter dari ruangan tempat Devan dirawat.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Devan sudah tiba di depan pintu operasi. Di sana, ia sudah disambut oleh beberapa dokter yang lain.


“Saudara Devan, sudah siap?" tanya seorang dokter paruh baya yang baru saja keluar dan menyambut Devan.


“Apa saya boleh minta sesuatu, Dok?"


“Tentu."


“Saya ingin, istri saya diizinkan masuk ke dalam."


Permintaan Devan tersebut berhasil membuat gadis yang berdiri di sampingnya terkejut. “Devan, kamu jangan ngomong yang aneh-aneh, ya. Aku janji bakal nungguin kamu di sini."


“Bagaimana, Dok? Boleh, kan?" tanya Devan pada dokter di depannya.


Dokter tersebut berpikir sebentar, kemudian tersenyum. “Jika itu yang dinginkan saudara Devan, maka kami mengizinkan. Silahkan saudari Hanifa memakai baju yang sudah dipersiapkan."


Hanifa tidak segera beranjak. Matanya melihat ayah dan umminya. Setelah mendapat anggukan dari keduanya, barulah kakinya bisa melangkah.


Semua anggota keluarga selain Hanifa dan dokter Arif menunggu di luar. Jihan baru datang sesaat setelah Devan masuk ke dalam.


“Fa," panggil Devan.


“Iya, Van."


Devan tersenyum dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Hanifa. Seakan tak ingin melepasnya sedetik pun.

__ADS_1


“Kamu jangan mikir yang macem-macem, ya. Aku bakal nemenin kamu di sini. sekarang kamu nggak sendirian lagi. Aku yakin, Allah pasti nyembuhin kamu. Kamu yang kuat."


Mata Hanifa menatap lekat ke arah Devan, seakan ingin memberikan semangat lewat tatapan matanya.


Devan mengangguk. “Terima kasih."


“Bisa kita mulai operasinya?"


Dokter tadi bertanya kepada beberapa petugas medis lain di ruangan itu dan langsung mendapat anggukan kompak dari mereka. Setelah dokter senior tadi memberikan komando dan melakukan pembagian tugas, dokter yang lainnya pergi mengambil alat yang kiranya belum tersedia di sana.


Melihat beberapa peralatan di depan matanya, tangan Hanifa gemetaran. Getarannya sampai dirasakan oleh Devan. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertamanya ia melihat proses operasi secara langsung.


“Hanifa?"


"Hah, iya?"


"Yang dioperasi itu, kan, aku. Kok kamu yang gemeteran?" tanya Devan tersenyum.


“Aku takut, Van. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


“Insya Allah, nggak akan terjadi apa-apa. Aku kan udah janji sama kamu. Aku pasti baik-baik aja. Aku akan sembuh demi kamu."


Devan mencoba meyakinkan Hanifa bahwa semuanya akan membaik. Devan yakin kalau Allah akan berbaik hati memberinya waktu lagi untuk bersama Hanifa.


“Bisa kita mulai saudara Devan?"


“Bismillahirrahmanirrahiim."


***


Setelah diberi obat bius, barulah tangan Devan melepas genggamannya. Kini matanya telah tertutup sempurna. Kemudian, beberapa dokter lainnya memperbaiki posisi kepala Devan pada posisi yang sesuai untuk memastikan pembedahan dilakukan pada bagian otak yang tepat.


Ketika sudah mendapatkan posisi yang tepat, seorang dokter mengambil gunting dan memotong sedikit rambut Devan. Sebelum pembedahan pada bagian tengkorak dilakukan, Hanifa segera meminta izin keluar karena dia sungguh tidak sanggup melihat operasi itu.


“Hanifa? Kamu kenapa?" tanya ummi Fatimah saat Hanifa baru keluar.


Tanpa menjawab, Hanifa langsung memeluk umminya. Dia menumpahkan air matanya dalam pelukan wanita yang sudah membesarkannya itu.


“Sayang, udah, ya. Jangan nangis lagi," tutur sang ummi sambil membelai kepala putrinya. “Sayang, dengerin Ummi, ya. Kita sebagai seorang hamba harus yakin sama Allah. Dia Maha Kuasa atas segalanya. Kita serahin sama Allah, ya, Nak. Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Devan pasti tidak ingin melihat kamu seperti ini."


Hanifa diam, kalimat terakhir umminya berhasil menyadarkannya. Semua yang dikatakan umminya benar. Mengapa dia harus menjadi lemah saat Allah yang Maha Kuat masih bersamanya? Mengapa harus berduka saat Dia yang Maha Kaya masih setia menunggunya. Menunggu hambanya yang memohon dan meminta kepada-Nya. Dan mengapa dia harus pesimis saat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang selalu di dekatnya?


“Ummi, Ifa mau ke masjid dulu, ya. Ifa belum sholat Isya."


"Iya, sayang."


“Nanti kalau ada apa-apa, Ummi kasih tau Ifa, ya."


“Tentu."

__ADS_1


Sembari mengusap sisa air matanya, Hanifa berjalan melewati koridor rumah sakit menuju masjid. Begitu sampai, ia langsung mengambil air wudhu dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.


Dalam sujud terakhirnya, Hanifa berdoa untuk orang tuanya, dirinya dan untuk Devan.


Assalamualaikum warahmatullah


Assalamualaikum warahmatullah


Selesai salam, Hanifa menengadahkan kedua tangannya. “Ya Allah, Ya Rahman. Dengan segala kehinaan yang hamba punya, hamba memohon kepada-Mu. Ampuni hamba, orang tua hamba dan orang-orang yang hamba cintai. Dengan Rahmat dan  kasih sayang-Mu ya Rabbi, hamba memohon.


"Tolong, sembuhkanlah Devan. Hilangkan segala kesakitan yang dideritanya. Lancarkanlah operasinya ya Allah. Selamatkanlah dia. Engkaulah sebaik-baik penyembuh dan pemberi keselamatan. La haula wala quwwata illa billahilaliyiladziim. Aamiin.”


Seusai sholat sunnah, Hanifa segera melipat mukena yang dikenakannya, kemudian meletakkanya ke tempat semula. Baru akan melangkah, tiba-tiba telinganya menangkap sesuatu. Segera ia berbalik. Rupanya ada pengajian singkat di depan tirai pembatas.


Tirai pembatas sengaja direntangkan untuk membatasi jarak antara imam dan makmum ketika sholat. Meskipun terhalang tirai hijau itu, para jamaah yang masih duduk di sana bisa mendengar apa yang disampaikan oleh seorang ustad di depan itu.


Menurut informasi yang dia dapat dari Devan, masjid di rumah sakit ini memang selalu mengadakan kajian Islami bada sholat Isya yang diisi oleh dokter-dokter yang bertugas.


Pengajian rutin itu sengaja dilakukan untuk memberikan semangat dan motivasi kepada para pasien agar lebih semangat menjalani hidup yang sudah diberikan Tuhan. Serta menerima apapun yang sudah digariskan untuknya.


Dengan demikian, perlahan rasa optimisme dalam diri setiap pasien maupun keluarga semakin meningkat.


Satu jam lebih berdiam di masjid seraya mendengar ceramah, hati Hanifa menjadi lebih tenang. Sembari berjalan hendak ke ruang operasi, Hanifa tak hentinya mengingat apa yang baru saja disampaikan oleh seorang dokter yang ia tau namanya adalah dokter Rahman.


“Dunia diciptakan sebagai tempat pengujian. Mengapa demikian? Karena keimanan, kecintaan dan ketaqwaan seorang hamba bisa diukur  ketika dia mendapat ujian. Dan di dunia inilah, Allah menurunkan segala bentuk ujian kepada manusia. Kalau tidak ada dunia, maka tempat pengujiannya dimana? Di surga? Surga bukan tempat pengujian, surga adalah tempat kenikmatan.


"Surga tidak cocok sebgai tempat penderitaan, tempat kesedihan kan tidak cocok. Karena surga itu, Allah ciptakan khusus sebagai rumahnya kebahagiaan, stasiun akhir bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh."


Hanifa mendengarkan dengan seksama.


“Oleh karena itu diciptakanlah dunia, sebagai tempat manusia mengumpulkan tiket untuk bisa masuk ke stasiun terakhirnya. Tiket itulah yang bisa kita sebut sebagai ujian. Apa karena Allah benci? Tidak. Allah tidak pernah membenci apa yang diciptakan-Nya.


"Kalau seandainya Allah memberikan ujian semata-mata karena dia membenci hamba-Nya, maka dimana sifat Allah yang Maha Rahman, Maha Rahim? Allah maha Penyayang kepada setiap makhluknya.


Maka dari ujian itulah, bukti rasa cinta dan kasih sayang Allah kepada hambanya.


"Lah, kok bisa? Iya. Ketika seorang hamba yang beriman, diberikan sebuah ujian maka pasti dia akan sering menyebut nama-Nya, meskipun dalam bentuk keluhan. Ya Allah, kenapa hidup saya begini, kenapa hidup saya begitu. Tanpa disadari, seorang hamba itu sudah lebih dekat dengan Allah. Ujian bisa dilewati dengan satu kata yaitu sabar.


"Allah itu Maha Sabar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Musa ra, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda: Tak seorang pun yang lebih sabar saat mendengar hal yang menyakitkan, selain Allah SWT. Sungguh, mereka mejadikan bagi-Nya tandingan dan mereka pun menjadikan anak bagi-Nya. Meski demikian, Dia tetap memberi mereka rezeki dan menyantuni mereka (HR. Bukhari dan Muslim).


"Nah, dari hadis tersebut kita bisa belajar. Allah sebagai Pencipta saja bisa sabar, lalu bagaimana dengan kita sebagai ciptaan-Nya. Padahal Abu Said ra. Mengatakan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda  Tiada seorang pun yang dianugerahi suatu pemberian yang lebih utama dan lebih luas dari kesabaran. (HR. Lima Ahli Hadis)."


Hanifa menghela nafas dalam, kemudian mengeluarkannya pelan. Kini hatinya sudah yakin kalau Allah sedang memberikan sesuatu yang berharga untuknya dan Devan, yakni berupa ujian ini.


Hal itu membuatnya teringat pesan seorang guru ngajinya Usamah bin Zaid ra, pernah mengabarkan sabda Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya hanya Allah-lah yang berhak mengambil, dan hanya Dia-lah yang berhak memberi. Segala sesuatu telah digariskan ketentuannya di sisi-Nya, maka bersabarlah dan harapkanlah pahala dari-Nya. (HR. Ibnu Majah).


Kakinya masih berjalan santai melewati lorong menuju tempat Devan dioperasi. Waktunya sempat tersita karena membantu seseorang tadi di masjid. Senyum yang sejak tadi mengembang di wajahnya seketika menghilang tatkala melihat ayahnya keluar dari ruangan operasi dengan ekspresi yang sulit diartikan.


***

__ADS_1


__ADS_2