
"Hanifa? Devan? Kalian ngapain di sini?"
Suara itu membuat Hanifa dan Devan tersentak kaget. Tangan Devan yang masih menempel di wajah hanifa segera dia turunkan.
“Ayyan? Kamu ngapain di sini?" Hanifa melemparkan pertanyaan yang sama pada gadis di depannya.
Sosok yang ditanya tidak menjawab. Matanya malah beralih memandang laki-laki yang berada di sebelah Hanifa. Merasa tak nyaman dengan tatapan Ayyan, Devan mencoba tersenyum dan menyapanya.
“Hai, Ayyan," sapa Devan dengan suara pelan.
"Hai," jawabnya. "Itu kepala kamu diperban kenapa?"
Devan segera memegang kepalanya. "Aaa, ini bekas luka yang diperban," balas Devan tanpa ingin menjelaskan yang sebenarnya.
Ayyan mengangguk paham. "Btw, kalian ngapain di sini? Berduaan lagi."
Hanifa dan Devan saling lihat. Hanifa yang tahu harus berbuat apa langsung bangun. “Ayy, kamu tunggu di sini ya bentar. Aku mau anterin Devan ke kamarnya," kata Hanifa.
Meskipun di kelilingi dengan perasaan curiga, Ayyan tetap menuruti ucapan sahabat yang akhir-akhir ini sulit ia jumpai.
Setelah mendapat persetujuan dari Ayyan, Hanifa segera mengantar Devan untuk istirahat.
“Van, aku mau bicara sama Ayyan dulu, ya." Devan mengangguk dan tersenyum. "Ini aku izin, lho."
"Iyaa, tapi jangan lama-lama. Oke."
Hanifa mengangguk cepat. Setidaknya kali ini dia sudah diberi izin oleh suaminya. Setelah memastikan Devan sudah tidur, Hanifa segera berjalan keluar ke tempat sahabatnya berada.
“Ayy," panggilnya membuat pemilik nama itu menoleh. Setelahnya, Hanifa duduk di sebelah Ayyan.
“Eh, Fa," jawab Ayyan tersenyum.
“Gimana kabar kamu?"
“Alhamdulillah aku sih baik, Fa. Kamu?"
__ADS_1
“Alhamdulillah baik juga. Ada keluarga yang mau dijenguk?"
Ayyan mengangguk pelan. "Pamanku di rawat di sini. Kamu, ngapain di sini?" Ayyan balik bertanya.
“Sebelumnya aku minta maaf sama kamu Ayy. Aku belum memberi tau kamu."
Ayyan mengernyitkan keningnya. "Kasih tau apa?"
“Sebenarnya aku sama Devan uda-"
“Udah nikah?" tebaknya memotong ucapan Hanifa.
“Kamu tau?"
Ayyan tertawa kecil melihat ekspresi di wajah sahabatnya. “Sebenarnya aku gak tau, Fa. Tapi melihat sikap Devan tadi membuat aku jadi tau. Ya, aku huznudzon aja tadi. Nggak mungkin kan si Devan lakuin hal romantis kayak tadi kalau kalian nggak ada ikatan?"
“Ternyata kamu liat, ya," gumamnya pelan. Sebenarnya dia sedikit malu kalau Devan perhatian seperti itu di depan umum.
“Nggak sengaja keliat, Fa," kata Ayyan sedikit tertawa. "Ternyata si Devan bisa romantis juga, ya."
“Maaf ya, Ayy. Aku nggak kasih tau kamu tentang pernikahan itu."
Hanifa menarik nafasnya. Kemudian mulai menceritakan awal terjadinya pernikahan mendadak itu. Perihal Devan yang melamarnya, sampai keinginannya untuk menikahinya malam itu juga, semua Hanifa ceritakan tanpa terlewat satu kalimat pun. Bahkan dengan keadaan Devan yang sempat kritis dan koma hingga beberapa hari.
“Aku ikut bahagia atas pernikahan kalian. Tapi aku sedih kamu laluin semua kesulitan itu sendiri, Fa. Andai aku ada di saat kamu butuh seseorang, pasti kamu bisa lebih tegar. Aku bisa merasakan kesedihan saat itu, Fa. Aku tau rasa takut kehilangan itu. Maafin aku, ya. Tadinya aku mau marah karena kamu nggak pernah ngasih kabar, tapi pas denger semua ini, aku sadar. Maafin aku, Fa," kata Ayyan memeluk sahabatnya.
Hanifa membalas pelukan Ayyan dengan hangat. “Kamu nggak usah minta maaf, Ayy. Kamu nggak salah apa-apa kok. Lagian aku nggak pernah merasa sendirian. Ada Allah yang selalu setia mendengar kesulitan yang aku alami, dan bersedia memberikan kesembuhan untuk Devan. Itu udah lebih dari cukup buat aku," jawabnya.
Ayyan kembali memandang wajah teduh yang selalu ia rindukan. Satu-satunya sahabat yang paling berharga dalam hidupnya.
"Ternyata, sahabat aku ini udah benar-benar dewasa ya sekarang. Jadi pengen segera nyusul deh," candanya.
“Aku dukung kamu sepenuhnya, Ayy. Udah aja calonnya nggak?"
Ayyan tertawa kecil. "Masih nyasar di hati orang lain, Fa."
__ADS_1
“Semoga Allah lekas mempertemukan, ya."
"Aamiin," jawabnya. "Eh, doakan semoga calonnya ganteng, baik dan dingin kayak Devan, ya."
“Harus dingin, ya?"
"Biar dingin, tapi menyejukkan, hehe," ujarnya. "Tapi bukan gitu juga maksudku, Fa. Yang aku tau, cowok dingin itu keren. Dia mengutarakan perasaannya dan sikap romantisnya lewat hal-hal yang tidak terduga. Kayak Devan tadi itu lho."
“Kamu ada-ada saja ya."
“Yang penting doakan saja, okey. Tapi aku yakin sih, Allah kasih orang baik buat dia yang baik pula."
Hanifa teresnyum mendengarnya. "Aamiin."
Keduanya pun tertawa, melepas kerinduan yang sempat menggunung. Kehangatan persahabatan mereka mampu mengalahkan dinginnya udara saat itu. Benar-benar ikatan yang indah.
“Eh, tadi pas aku mau ke sini, aku papasan sama kak Wafi." Mendengar nama itu Hanifa kembali diam.
“Dia mau ketemu siapa ya? Kamu ketemu nggak?"
Hanifa masih diam, tak menjawab.
“Hey! Diem-diem bae. Kenapa?"
Hanifa berfikir sebentar. "Tadi aku ketemu sama dia, Ayy."
“Ooo gitu. Eh, Fa, tau nggak? Aku denger kak Wafi mau pindah studi ke luar negeri."
Hanifa membulatkan matanya. "Kamu serius, Ayy?"
Yang ditanya langsung mengangguk cepat. "Iya, kalau nggak salah dia mau ke LA."
“Mmmh, gitu, ya." Hanifa hanya merespon dengan helaan napas. Kemudian ia menunduk.
“Fa, kamu udah pernah ada hubungan ya sama kak Wafi?"
__ADS_1
“Hah?"
***