
Brak!
"HANIFA!"
Devan segera berlari ke arah Hanifa. Tas plastik yang tadi dipegangnya terlepas seketika. Rasa panik, takut dan khawatir sudah memenuhi dadanya. Devan bersyukur karena Allah masih menyelamatkan istrinya.
"Fa, kamu nggak papa, kan?" tanya Devan membantu Hanifa berdiri.
"Mbak tidak apa-apa?" tanya pemilik mobil itu.
Melihat laki-laki itu, emosi Devan tiba-tiba naik. "Eh, lo punya mata gak sih?!"
"Ma-maafkan saya, Mas. Saya tidak sengaja," ucap laki-laki itu takut.
Tangan Devan mengepal dan siap meninju laki-laki di depannya. Namun hal itu segera dicegah oleh Hanifa.
"Devan udah, aku nggak papa kok," lerai Hanifa mencoba menenangkan.
"Tapi Fa-"
"Saya tidak apa-apa, Pak. Lain kali, hati-hati ya, Pak. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," ujar Hanifa kepada laki-laki yang hampir menabraknya barusan.
"I-iya Mbak. Sekali lagi saya minta maaf."
Hanifa tersenyum. Setelah itu, pemilik mobil itu pergi. Mata elang Devan belum juga hilang meskipun Hanifa mengatakan kalau dia baik-baik saja.
"Van, udah. Jangan marah lagi dong. Aku kan nggak apa-apa, tapi sepedanya-
Ucapan Hanifa terpotong saat Devan tiba-tiba memeluknya. Hanifa tau kalau Devan khawatir.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa, Van," kata Hanifa kesekian kali.
Devan masih diam untuk beberapa saat.
"Dasar ceroboh!" gerutunya pelan. “Bisanya buat orang khawatir."
"Maaf."
Mendengar hal itu, Devan semakin mengeratkan pelukannya. Seperti mengatakan kalau dia tidak ingin terjadi apa-apa pada perempuan di depannya itu. Angin yang bertiup pelan membuat keduanya kembali tenang. Kini mata keduanya terkunci pada satu garis lurus.
"Maaf, ya. Udah buat kamu khawatir," kata Hanifa.
Devan tersenyum. Jikalau terjadi sesuatu pada Hanifa, dia bisa memastikan akal sehatnya benar-benar akan hilang saat itu juga. Sungguh, Devan tidak ingin kehilangan apapun yang sudah menjadi miliknya saat ini.
"Maaf juga, Fa. Dulu aku pernah nabrak kamu. Persis seperti kejadian hari ini.”
"Ini yang membuatku lebih memilih kamu dari Papa."
Hanifa bingung mendengar ucapan Devan tadi. "Maksudnya?"
"Kamu tau? Saat aku koma, Allah mempertemukan aku dengan Papa. Allah memperlihatkan suatu tempat yang sangat indah kepadaku, tempat yang tak pernah aku lihat di dunia ini. Kamu pasti tau, sebesar apa rasa rinduku pada Papa."
Hanifa mengangguk pelan menyimak apa yang sedang diceritakan kepadanya. "Saking rindunya, aku sampai lupa kalau papa sudah pergi. Waktu itu juga, papa mengulurkan tangannya kepadaku. Beliau meminta aku untuk ikut bersamanya. Tapi, baru akan melangkah, tangan kamu malah menghalangiku. Kalau saja kamu tidak memegang tanganku waktu itu, mungkin sekarang aku sudah pergi sama papa."
"Aku selalu bersyukur karena Allah sudah membawa kamu kembali ke sini, Van. Aku nggak tau harus bagaimana liat kamu tidur terlelap seperti itu. Aku lebih suka kamu bangun dan marahin aku atas sesuatu yang tidak pernah aku lakukan. Dari pada aku harus liat kamu diam tanpa membuka mata kamu sedikitpun," ujar Hanifa
Devan menarik nafasnya panjang, kemudian membiarkan kedua tangannya menangkup wajah Hanifa.
“Apapun alasannya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi." hening sebentar.
__ADS_1
"Hanifa, dengan nama Allah, mulai detik ini aku berjanji akan menjaga kamu, istriku. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu,” ungkap Devan menarik Hanifa ke pelukannya.
"Terima kasih," balas Hanifa tersenyum.
Prasangka yang mengatakan kalau pernikahannya akan seumur jagung pun sirna saat itu juga. Hanifa sangat yakin, kalau Allah akan menjaga hubungannya dengan Devan. Hatinya semakin yakin kalau teman yang kemarin adalah laki-laki dengan stadium akhir akan menjadi jodoh dunia akhiratnya.
"Bantu aku menjadi imam yang baik untuk kamu, Fa."
Mendengar hal itu, Hanifa langsung mengangguk. "Kamu mau kan, ikut aku mencari keridhoan-Nya?" tanya Devan.
"Aku ikut kemana pun kamu pergi, Van. Bawa aku menuju cinta-Nya."
“Biidznillah. Kita pergi sama-sama, ya."
Lagi-lagi Hanifa mengangguk mengiyakan semua yang dikatakan laki-laki yang kini menjadi suaminya itu. Senja sore itu menjadi saksi ungkapan cinta Devan pada Hanifa. Meskipun secara tak langsung Devan mengatakannya, tapi Hanifa bahagia.
Satu hal yang dia sadari, bahwa mencintai tak harus dengan ungkapan aku mencintaimu. Komitmen untuk saling menjaga sudah bisa mewakilinya. Karena hakekat cinta sejati adalah menjaga.
Menjaga cinta itu sendiri sesuai dengan keadaan yang sudah dicontohkan sang Pecinta sejati yakni Rasulullah SAW. Pun juga, menjaga agar cinta tetap pada posisi dan kedudukannya, agar cinta dan mereka yang mencintai tak berpaling dari Dia yang Maha Pemberi Cinta.
Cinta yang benar akan mengajarkanmu kebaikan, memberimu pemahaman bahwa tidak ada cinta yang paling agung selain cinta kepada Allah. Dan cinta yang salah akan mengajarkanmu kekeliruan.
Maka dari itu, pilihlah dia yang bisa membawamu kepada cinta yang sebenarnya. Dia yang mencintaimu bersama ketaatan dan ketaqwaan. Dengan begitu, mereka yang saling mencintai dalam ketaqwaan akan mendapat imbalan yang berharga dari Dia Yang Maha Pemberi Cinta.
Dari Abu Hurairoh, ra., mengatakan bahwa Rasulullah SAW, bersabda: "Pada hari kiamat kelak, Allah SWT. Berfirman, Mana orang-orang yang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Kunaungi mereka, dimana tidak ada nanugan selain naungan-Ku. (HR. Muslim)"
"Dan selamanya, aku ingin bersamamu dalam takdir, Hanifa," ujar Devan sangat tulus.
***
__ADS_1