Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Seutas Bahagia di atas Duka


__ADS_3

Setelah kepulangan ayahnya, Hanifa memilih istirahat karena jam sudah menunjukkan pukul dua belas lebih setengah. Hanifa membaringkan tubuhnya di sofa panjang dekat jendela. Karena kelelahan, baru beberapa menit matanya sudah terpejam.


Sedangkan Devan yang baru saja terbangun, kini tengah menatap mata Hanifa yang sudah tertutup rapat. Entah apa yang membuatnya terbangun dan beranjak ke arah Hanifa. Tangan kanannya yang terbebas dari selang infus dengan hati-hati menutup tubuh Hanifa dengan selimut miliknya.


“Sorry, Fa. Gara-gara gue, lo harus ikut menderita," gumam Devan.


“Seharusnya gue sadar kalau lo adalah teman yang dikirim Tuhan buat gue. Untung Allah segera nyadarin gue, bahkan Dia sudah berbaik hati jodohin lo sama gue." Laki-laki itu menjeda kalimatnya sejenak.


"Lo yang sabar ya Fa, setelah operasi ini kita akan akhiri semuanya. Biar kita bisa menemukan kebahagiaan kita masing-masing. "


Devan berbicara dengan suara sangat pelan. Sebelum kembali ke tempat tidurnya, perlahan tangannya membelai lembut pipi Hanifa.


****


Drrtt ... Drrtt ...


Bunyi getaran di bawah bantal kecil Hanifa membuatnya terbangun. Matanya samar-samar melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Ayyan.


Tumben Ayyan kirim pesan sepagi ini, gumamnya seraya menscroll layar untuk membuka pesan tersebut.


...Ayyan...


Selamat ya buat yang pengumuman


hari ini :)


semoga lulus dan


jadi dokter beneran


Hanifa mengucek matanya agar bisa melihat lebih jelas. Kemudian tersenyum. Ia baru ingat kalau hari pengumuman penerimaan calon mahasisiwa fakultas kedokteran.


Jangan lupa traktirannya ;)


^^^Aamiin.^^^


^^^Makasih ya doanya^^^


Hanifa merasa sangat bahagia saat itu. Tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur. Setelah Allah lancarkan pernikahannya, kini Allah akan memberi kejutan lagi untuknya. Hanifa segera beranjak keluar untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat malam.


Di dalam sujud terakhirnya, ia berdoa untuk kesembuhan Devan. Kemudian memohon pertolongan kepada Allah agar dirinya bisa diterima di fakultas kedokteran sehingga cita-citanya untuk menjadi seorang dokter akan terwujud.


Lima menit bermunajat kepada Tuhan-Nya, kini Hanifa tengah sibuk dengan bacaan Al-Quran di tangannya. Dengan suara pelan, dia mulai membacanya sampai azan Subuh tiba.

__ADS_1


Devan yang terbangun segera mengambil tayamum dan melaksanakan sholat Subuh. Sedangkan Hanifa yang baru keluar dari membeli sarapan langsung disapa hangat oleh sang suami.


“Darimana?"


“Habis dari kantin tadi. Maaf, ya, nggak izin sama kamu."


Devan tersenyum dan mengangguk. setelah itu, Jihan datang dengan Bi Mar membawakan sarapan. Dokter Arif menyusul di belakang mereka.


“Devan, kamu nggak sarapan?"


“Sayang, Devan hari ini puasa. Pasien yang akan operasi harus berpuasa selama 8-12 jam."


Hanifa menghentikan makannya. “Aku ke kamar mandi dulu," ucapnya dan berlalu.


Setibanya di sana, ia menangis. Entah apa yang membuatnya bersedih. Ucapan ayahnya tentang operasi Devan seakan menghilangkan kebahagiaan yang sempat ia rasakan tadi.


“Ya Allah, maafkan aku. Bisa-bisanya aku bahagia saat suamiku tengah menderita melawan penyakitnya."


Tangisannya tak berlangsung lama. Setelah merasa benar-benar tenang, Hanifa menelepon ayahnya dan menyuruhnya untuk ke taman.


“Kamu kenapa tiba-tiba telpon Ayah dan suruh ke sini, Nak? Kan bisa langsung temui Ayah," tanya pria itu.


“Maafin Ifa, Yah. Sebenarnya ada hal yang ingin Ifa katakan, tapi Ifa tidak ingin Devan mendengarnya."


Hanifa menarik napasnya, kemudian mengeluarkannya pelan. “Ayah, hari ini pengumuman penerimaan mahasiswa baru di kampus. Tapi Ifa nggak mungkin pergi karena hari ini Devan juga akan dioperasi."


“Tapi operasinya kan nanti Maghrib, Sayang," ucap dokter Arif mencoba menghilangkan kesedihan yang ada pada putrinya. Hanifa menunduk.


“Ifa tahu, Yah. Tapi tetap saja, hati Ifa nggak tenang kalau ninggalin Devan. Seharusnya disaat seperti ini, Ifa harus menemani Devan. Kalau Allah panggil Devan malam ini juga, Ifa akan merasa sangat menyesal dan Ifa akan menjadi istri paling durhaka di dunia ini, Yah."


Dokter Arif membawa putrinya yang sudah menangis ke dalam pelukannya. “Sayang, kamu nggak boleh berbicara seperti itu. Bagaimana pun, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita harus percaya, kalau Allah pasti menyembuhkan Devan. Kalau seandainya memang Devan akan pergi meninggalkan kita, kita harus ikhlas. Itu tandanya, Allah lebih sayang Devan."


“Tapi Yah, Ifa bahkan belum lakuin apapun untuk suami Ifa. Aku belum jadi istri yang solehah," gumamnya disela tangisnya.


Dokter Arif membelai lembut kepala putrinya yang tertutup hijab. “Ayah yakin, Devan sudah meridhoi Ifa. Ayah percaya, Ifa sudah menjadi sosok istri solehah bagi Devan. Bahkan jauh sebelum kalian menikah."


Kalimat terakhir ayahnya sukses membuatnya berhenti menangis.


“Maksud Ayah?"


“Apa Ifa nggak sadar? Sejak Ifa gantiin tugas Ayah, Devan semakin rajin minum obatnya. Bahkan dari analisis Ayah, kondisi Devan sudah semakin membaik. Pola makannya dia jaga, waktu istirahatnya juga dia optimalkan, dan banyak perubahan positif lain yang Ayah temukan dari dia," jelas Dokter Arif sambil tersenyum.


“Jadi, sekarang Ifa jangan nangis lagi ya. masalah kampus, biar Ayah yang urus. Sekarang kamu balik ke kamar gih. Kasian Devan sendirian di sana."

__ADS_1


“Bukannya tadi ada kak Jihan?"


“Jihan tadi pamit mau ke kantor. Ashar nanti baru pulang."


Hanifa mengangguk seraya mengusap sisa air mata di wajahnya. “Terima kasih, Yah. Ayah sudah banyak bantuin Ifa."


“Sama-sama putrinya Ayah. Nanti Ayah kabari hasilnya, ya, Ifa nggak usah nangis lagi."


Hanifa tersenyum mendengarnya. "Iya, Yah. Ifa janji nggak nangis lagi. Kalau begitu, Ifa masuk ya."


Gadis itu pergi meninggalkan ayahnya menuju ruangan Devan. Ia yakin jika laki-laki itu pasti sudah menunggu dirinya. Sebelum memutar kenop pintu, ia memilih untuk mengusap matanya agar tidak terlihat sisa air di sana.


“Mencret ya?" tanya Devan ketika gadis itu hampir sampai di tempatnya.


“Hah?"


Devan tertawa kecil. “Ke kamar mandinya kok lama banget?"


Hanifa tersenyum. "Maaf, ya," jawabnya kemudian duduk.


“Kamu habis nangis, ya?"


“Nggak kok."


“Terus matanya sembab begitu kenapa?" selidik Devan.


“Aaa, ini. Tadi cuma-"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tangan kiri Devan refleks memegang tangan Hanifa yang membuat wanita itu diam.


“Fa, sejak menikah sama aku, kamu kok jadi sering bohong, sih?" Kini Devan menatap Hanifa dengan pandangan serius. “Lihat kamu sedih kayak gini, buat aku jadi makin ngerasa bersalah."


Hanifa terdiam. Dia mengingat ucapan ayahnya tadi. Memang benar, Devan yang ada di depannya saat ini bukanlah Devan yang dulu. Sekarang Devan sudah banyak berubah, bahkan dia tidak lagi menggunakan kata 'lo-gue'. Devan yang sekarang lebih hangat dari yang dulu.


“Tuh, kan, diem lagi," kata Devan menghela nafas berat. “Padahal di hari terakhir ini, aku berharap bakal menyenangkan. Tapi kayaknya memang harus pergi deng-"


“Maafin aku."


Perkataannya terpotong saat Hanifa tiba-tiba memeluknya. Entah apa yang sedang dirasakan Hanifa saat itu. “Aku mohon jangan bicara seperti itu lagi, Van. Kamu kan sudah janji akan sembuh."


Mendengar ucapan Hanifa, Devan tersenyum. Tangannya yang bebas dari infus mengelus kepala Hanifa. Devan mencoba menenangkan Hanifa yang kini sudah menangis.


“Aku janji Fa. Aku janji," ujar Devan dan berhasil membuat tangis Hanifa mereda.

__ADS_1


***


__ADS_2