
Malam ini terasa sedikit dingin. Angin berhembus cukup kencang sampai ke dalam rumah. Hawanya langsung terasa menusuk ketika menyentuh kulit Hanifa yang masih berlapis mukena.
Azan Isya baru saja berkumandang. Setelah selesai sholat, ia memilih duduk di ruang tamu menemani adik-adiknya yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.
“Kak Ifa, bisa bantu Nia jawab ini nggak?" tanya seorang anak perempuan mendekat ke arah Hanifa.
Gadis bermukena putih susu itu tersenyum melihat wajah gemas Nia. Ia segera mengangguk dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
"Mana soalnya?"
Nia menunjukkan bukunya pada Hanifa. “Ini, Kak. Nia belum paham gimana cara mengerjakannya."
"Oh, yang ini." Hanifa mengambil buku dari tangan Nia dan bersiap untuk menjelaskan caranya.
“Misalnya, kan, Nia punya satu kotak cokelat. Kemudian isi dari satu kotak cokelat itu 12 bungkus. Setelah itu Nia makan 1 satu bungkus, dibagi ke Irfan dan Meta masing-masing 2 bungkus. Nah, pertanyaannya berapa bungkus cokelat Nia yang tersisa?"
Hanifa mengambil pulpen dan mulai menjelaskan cara menjumlahkan pertanyaan tersebut di sebuah kertas.
“Pertama-tama, Nia jumlahin dulu berapa bungkus cokelat yang Nia makan dan Nia bagi ke Irfan dan Meta, setelah itu Nia kurangi jumlah bungkus cokelat dengan hasil di atas. Kayak gini,
Cokelat yang dimakan \= 1
Cokelat yang dibagi \= 4
1+4 \= 5
Jumlah cokelat semula \= 12, jadi 12-5 \= 7.
Berarti jumlah cokelat yang tersisa adalah tinggal 7 bungkus." Hanifa memberikan coretan itu kepada Nia.
Anak perempuan cantik itu terlihat mengangguk paham. "Jadi, untuk pertanyaan seterusnya cara mengerjakannya seperti ini ya, Kak?"
Hanifa mengangguk. "Iya."
“Terima kasih, Kak Ifa," ucapnya tersenyum kegirangan.
“Sama-sama, Dek. Ya sudah kalau begitu kakak pergi ke kamar dulu, ya."
Nia mengangguk dan tersenyum ke arah Hanifa yang sudah menghilang di balik pintu.
***
Kring ... Kring ... Kring
Bel pertama berbunyi. Menandakan bahwa pembelajaran akan segera dimulai. Semua siswa yang tadinya masih ada yang sibuk mengobrol di bangku depan kelas bergegas masuk karena sebentar lagi guru mereka akan segera memberikan pembelajaran.
“Kamu cari siapa, Ayy?" tanya Hanifa saat melihat sahabat sekaligus teman duduknya memutar kepala mencari seseorang.
“Aku cari Rian. Buku fisikaku dipinjam sama dia kemarin. Hari ini kan pelajarannya bu Endah, kalau ada latihan bagaimana?"
“Tunggu saja. Mungkin sebentar lagi dia datang," ucap Hanifa mencoba menenangkan sahabatnya.
Belum sempat Ayyan mengangguk, Rio datang menghampirinya.
“Ini bukumu Ayy. Rian nggak bisa masuk hari ini, makanya dia titip ke aku."
Ayyan menerima bukunya. "Rian kenapa nggak masuk?"
__ADS_1
“Dia sakit. Kemarin dia dibawa ke rumah sakit," jelas Rio.
""Oh, gitu," ujarnya. "Terus keadaannya gimana?"
Rio menaikkan bahunya. "Aku kurang tau."
“Kasihan Rian. Btw, makasih, ya, Rio."
"Oke," jawabnya dan segera duduk di bangkunya karena bu Endah selaku guru pengajar sudah masuk.
“Hari ini ibu tinggalkan catatan untuk kalian. Soalnya hari ini ibu sedang sibuk dengan ujian kelas XII, jadi ibu harap kalian bisa menyelesaikan catatan sebelum jam istiharat. Minggu depan ibu jelaskan."
Satu kelas kompak menjawab. "Iya, Bu."
Rio selaku sekretaris kelas pun maju dan mengambil buku dari bu Endah. Setelah menyerahkan catatan pada Rio, bu Endah pergi untuk mengurus kepentingannya.
“Eh, Fa. Rian kan salah satu anggota kelompok kita. Gimana kalau kita jenguk dia setelah pulang sekolah?"
Hanifa hanya mengangguk. Mendengar Rian dibawa ke rumah sakit, tiba-tiba pikirannya melayang saat berada di rumah mewah kemarin.
Flashback On ...
“Ayo,Nak," pinta dokter Arif untuk kesekian kali.
Hanifa menghela napas. Kini, kakinya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Setelah memasuki kamar yang cukup luas, Hanifa belum melihat sosok Devan yang dimaksud ayah dan wanita tadi.
“Bagaimana dia bisa pingsan? Apa pagi ini sudah sarapan dan minum obat?" tanya dokter Arif seraya memeriksa laki-laki yang kini terbaring lemah tak sadarkan diri.
Jihan menggeleng. "Tadi bi Mar sudah membawa sarapan untuknya. Tapi Jihan nggak tahu apa dia sudah minum obat apa tidak Dok," jawab wanita itu.
Dokter Arif menghela nafasnya panjang. Ia pun melihat ke arah Hanifa untuk memintanya mengambilkan sesuatu.
Hanifa mendekat seraya memberikan tas perlengkapan yang ada di tangannya. “Ini, Yah."
Setelah memberikan tas itu kepada ayahnya, barulah dia bisa melihat wajah yang tengah tak sadarkan diri. Wajah itu terlihat sangat pucat. Itu adalah sosok yang seringkali mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
Devan, semoga cepat sembuh, ya. Bisiknya dalam hati.
Hanifa memegang dadanya. Entah kenapa, ada rasa sesak melihat kondisi laki-laki di depannya. Matanya terasa panas dan berair.
“Jadi, anak laki-laki yang dimaksud ayah adalah Devan? Anak yang mengidap nafasnya terhenti. Tumor otak," lanjutnya. Dia bersuara, tapi tak ada yang mendengar.
Flashback off ...
“Apa dia bisa disembuhkan?" gumamnya.
“Siapa?" tanya Ayyan. Sekecil apapun Hanifa berbicara, telinga Ayyan pasti mendengarnya.
Hanifa yang sedari tadi melamun, kembali tersadar dengan ucapan Ayyan tadi.
“Apa? Hanifa balik bertanya.
Ayyan mengerutkan alisnya. "Lah, kok tanya balik sih, Fa?"
Melihat wajah Hanifa yang seakan tak mengerti maksudnya, Ayyan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Fa, umurmu belum 40 tahun lho. Kok sudah pikun si? Tadi kamu bicara sendiri, kamu bilang apa dia bisa disembuhkan? Nah, aku tanya siapa yang bisa disembuhkan?"
__ADS_1
Hanifa baru sadar kalau tadi dia melamunkan Devan. Rupanya lamunannya didengar oleh sahabatnya. Sebenarnya Hanifa ingin bercerita, tapi ini bukan saatnya. Segera ia cari alasan agar Ayyan tak curiga dan bertanya lagi.
“Mmmm, maksudku Rian. Semoga penyakitnya tidak parah sehingga bisa segera disembuhkan," alibinya berbohong.
Ayyan mengangguk dan mengaminkan apa yang dikatakan teman sebangkunya barusan. Rupanya dia tidak menaruh curiga lagi. Hanifa melirik jam tangan mini di tangannya. Pukul 09.50, pertanda tinggal lima menit lagi istirahat.
“Oh iya, Fa, aku lupa. Kemarin kan kamu nggak datang latihan, hari ini sepulang sekolah kita akan mempersiapkan segala sesuatunya. Dan diharapkan semuanya untuk hadir.”
Hanifa mengangguk tanpa menoleh.
“Well, kemarin kamu kemana sih?" tanya Ayyan lagi.
Masih dengan tangan yang sibuk dengan catatan, Hanifa menjawab seadanya. "Kemarin aku pergi ke rumah sahabat ayah. Dan pulangnya agak sore, makanya nggak sempat hadir."
“Okey, tapi hari ini jangan lupa hadir ya. Nanti aku jemput ke rumah."
"Iya."
***
“Ummi, Ifa berangkat, ya. Assalamualaikum."
Ummi Fatimah yang sedang sibuk di dapur, menjawab seadanya karena dia yakin anaknya akan baik-baik jika pergi bersama Ayyan.
Benar saja, saat baru keluar pintu Hanifa disambut senyum Ayyan dengan motor Vario nya.
“Wah, tuan putri baru keluar nih," ledeknya.
Hanifa hanya menanggapi gurauan sahabatnya dengan tersenyum. Setelah naik, Ayyan melajukan motornya ke sekolah sebelum mereka terlambat.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di sekolah. Ayyan pun memarkirkan motornya, sedang Hanifa menunggu di dekat gerbang. Setelah itu, mereka pun bergegas ke lapangan.
Rupanya mereka terlambat satu menit. Anggota yang lain sudah mulai bekerja. Tanpa menunggu panjang, Ayyan dan Hanifa segera membantu. Namun Hanifa terkejut saat melihat Devan tengah membantu memasang tiang-tiang untuk pembuatan panggung.
“Apa dia sudah sehat?" tanya Hanifa dalam hatinya.
“Hanifa, tolong bantuin yang lain pasang tirai-tirai ini ya." Suara Wafi mengagetkannya.
Hanifa langsung mengangguk. “Baik, Kak."
Wafi tersenyum. "Terima kasih, ya."
***
Di tengah kesibukan semua anggota, Devan yang sedang istirahat dan tengah minum diam-diam sedang memperhatikan seseorang. Iris birunya naik turun memperhatikan objek di depannya. Matanya semakin menyipit saat tiang atas bergoyang dan akan jatuh menimpa orang di bawahnya.
Ia langsung melempar botol minumnya dan berlari cepat.
"HEI AWAS!!"
Devan berteriak agar orang yang sedang memasang tirai itu pergi. Namun rupanya yang diteriaki tidak mendengar.
Brakk!
Tiang besi itu jatuh menimpa Devan. Tangannya yang sebelah mengalami luka akibat melindungi seseorang. Untungnya, tiang besi yang jatuh hanya satu sehingga tidak membuat Devan mengalami luka serius.
Setelah melihat wajah yang ketakutan, Devan segera menepikan tiang itu dan pergi. Dia tidak memedulikan luka di tangannya yang sudah mengeluarkan cairan merah.
__ADS_1
***