
Tuhan.
Aku masih berkaca dalam jiwaku.
Menilik kembali ruang-ruang dalam gelap.
Masih belum ku temukan yang kau pilih.
Kapan kau tunjukkan?
Ataukah, ragaku yang belum melihat pilihan itu?
Setelah menulis beberapa isi hatinya, Devan segera menutup buku privatnya. Tak ingin ada orang lain yang mengetahuinya. Selesai memasukkan buku yang sedari tdi membuatnya sibuk, Devan menyapu seluruh lapangan basket.
Sepagi ini, mustahil ada siswa yang bermain basket, kecuali dirinya sendiri. Tapi kali ini, dia lebih memilih duduk bersandar menunggu seseorang yang sangat tidak penting dalam hidupnya.
“Assalamualaikum," sapa seorang dari belakang.
Devan menoleh, terlihat orang yang ditunggunya tengah tersenyum lebar dengan tas yang masih menempel di pundaknya. Rupanya dia baru datang.
“Eh, siput. Lo lambat banget sih. Udah 3 jam gue tunggu di sini." Devan mengomel, tanpa menjawab salam dari siswi yang tidak lain adalah Hanifa.
“Aku bukannya lambat, Van, tapi kamunya aja yang datang kecepetan. Ini kan masih jam setengah tujuh." Hanifa melakukan pembelaan pada dirinya sendiri, karena memang jam seperti masih dibilang cukup pagi bagi siswa yang tidak menjadi anggota OSIS.
“Ngeles aja lo," ujar Devan tak peduli dengan alasan tersebut.
Hanifa mengambil tempat duduk di satu kursi setelah Devan. “Aku bukan ngeles, tapi aku mengatakan yang sebenarnya."
“Iya. Iya. Terserah lo deh, sekarang cepet kasih tau tantangannya! Gue gak ada waktu lama-lama sama Lo."
Hanifa tersenyum. Segera dia memperbaiki posisi duduknya.
“Jadi, tantangannya adalah, kamu harus tersenyum setiap hari selama satu minggu."
Mendengar itu, kelopak mata Devan membulat sempurna. "What? Lo suruh gue buat senyum setiap hari?" Devan menertawakan permintaan dari Hanifa tadi. “Gila, lo!"
“Mau nggak terima tantangannya?"
“Nggak!"
"Lah kok gitu sih, Van? Kemarin kan kita sudah deal. Kamu nggak mau kan dibilang penakut?"
“Eh, siput. Gue nggak ya mau dikira gila gara-gara senyum nggak jelas," ungkap Devan.
Hanifa menghela napas panjang. Rupanya Devan belum paham maksudnya. “Bukan itu maksud aku, Van. Jadi setidaknya setiap hari itu, ada hal yang bisa buat kamu tersenyum." Hanifa diam sebentar.
"Oke, aku kasih keringanan jadi 3 hari. Bagaimana?"
"Terserah lo!" jawabnya bangun dan beranjak meninggalkan lapangan.
“OKE. JADI KITA DEAL YA. INGAT! WAJIB SENYUM SETIAP HARI!" Hanifa berteriak agar Devan mendengarnya. Dia merasa lega karena rencananya satu langkah sudah berhasil.
Tanpa disadari siapapun, Devan menghentikan langkahnya di depan pintu masuk karena mendengar suara gadis itu yang cukup kencang.
“Dasar siput," gumamnya menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis.
***
Hari ini pelajaran pertama kosong, padahal jam masuk sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Untuk menghabiskan waktu senggangnya, sebagian siswa ada yang bermain, berbincang-bincang, bahkan ada yang tidur. Tapi Hanifa bukan termasuk dari semua golongan itu. Kini, ia menyibukkan diri dengan buku di tangannya.
“Baca apa sih?" celetuk Ayyan yang baru datang dari luar. Ia menarik kepalanya agar melihat buku yang dipegang teman sebangkunya itu.
__ADS_1
“Kisah Wanita Teladan." Ayyan mengeja judul buku yang dipegang Hanifa. “Wah, buku baru nih. Kapan beli?"
Hanifa melihat ke arah sahabatnya yang tengah memakan snack. “Kemarin," jawabnya tersenyum.
Ayyan mengangguk. "Oh iya, siang ini kamu bisa kumpul nggak Fa?"
“Kumpul apa?" Hanifa bertanya dengan tetap fokus pada buku yang ada di tangannya.
Ayyan mengangkat bahu. ”Entahlah. Tapi kata yang lain, Kak Wafi menyuruh kita kumpul siang ini."
“PMI doang?"
“Mungkin Pramuka juga, soalnya tadi Irfan yang bilang kalau kita ada kumpul."
Mendengar penuturan dari Ayyan, Hanifa terdiam.
"Kalau Pramuka juga kumpul, berarti Devan ikut dong?" gumamnya yang sempat terdengar oleh Ayyan.
“Kamu bilang apa tadi?" tanya Ayyan menghentikan makannya, takut ia salah dengar.
Sebelum dicurigai, Hanifa segera mencari alasan. "Eh, nggak ada apa-apa kok, Ayy. Insya Allah siang ini aku bisa ikut."
“Yeay. Kamu bisa dong beliin aku minum?" ucapnya bersorak.
“Iya, iya," awab Hanifa.
“Makacih sahabat terbaik aku. Eh, tapi kamu nggak kerja?"
Hanifa melihat ke arah sahabatnya. “Hari Jumat aku libur, Ayy."
Ayyan mengangguk paham. Setelah itu ia melanjutkan aktivitas makannya, begitupun Hanifa. Dia sangat suka membaca, apalagi tentang kisah wanita hebat terdahulu.
***
Berbeda dengan Devan. Ia kini tengah memperhatikan penjelasan dari seorang laki-laki yang sudah dia cap sebagai seorang guru yang sangat tak disukainya, bukan penjelasan tapi tepatnya wajahnya. Devan sering kali bertanya pada dirinya, kenapa laki-laki seperti dia yang akan menggantikan pak Basuki untuk mengajar olahraga.
Bahkan ia seringkali merutuki kepala sekolah yang menjadwalkan olahraga di hari Jumat dengan seorang yang sangat tak disukainya. Sampai-sampai ia rela bolos di jam olahraga agar tak melihat wajah orang itu. Tapi kali ini rencananya gagal, dan ia terpaksa mengikuti jam olahraga gara-gara gadis berhijab panjang itu.
“Baiklah, saya rasa pelajaran hari ini sudah cukup. Minggu depan kita akan praktik, jadi saya harap kalian semua bisa hadir."
Semua siswa yang ikut jam olahraga saat itu mengangguk paham. "Baik, Pak."
"Yaaah, kok cepet banget selesainya. Belum puas deh liat bapak ganteng," ucap siswi yang dibelakang.
Devan yang mendengar keluhan para siswi itu membuatnya ingin muntah. Ia sangat heran dengan para siswi yang begitu mengidolakan laki-laki yang masih berstatus mahasiswa itu. Melihat senyumya saja, asam lambungnya sudah naik.
"Apa mata mereka udah kena hipermetropia?" gumam Devan.
“Ya sudah kalau begitu. Silahkan kalian kembali ke kelas."
Para siswa membubarkan dirinya setelah mengucap terima kasih.
Saat akan beranjak meninggalkan lapangan, langkah Devan terhenti dengan suara yang memanggilnya. Segera ia membalikkan badan.
“Ada hal apa ya Anda memanggil saya?" tanya Devan dengan bahasa yang sangat resmi, menunjukkan betapa tidak sukanya dia pada laki-laki di depannya.
"Siang ini ada rapat. Kamu beri tahu anggota yang lain dan jangan lupa hadir." Laki-laki yang menjabat sebagai mantan ketua organisasi itu tersenyum padanya, membuat Devan terasa mual.
“Ada lagi?" tanya Devan. Laki-laki itu menggeleng. "Kalau begitu, saya permisi."
Baru membalikkan badannya, suara laki-laki itu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Apa kamu benar-benar ada hubungan dengan Hanifa?"
Devan tersenyum sinis. "Maaf, ya, Pak. Saat ini saya sedang sibuk, permisi," jawab Devan berlalu tanpa melihat.
Laki-laki yang tidak lain adalah Wafi itu memandang tubuh Devan yang perlahan hilang di balik lorong.
“Mungkin aku harus tanya ke Hanifa langsung. Percuma ngomong sama anak itu." Wafi menarik napas dan mengeluarkannya kasar, kemudian pergi.
***
Hanifa memangku tangannya bosan. Sudah tiga puluh menit dia duduk di depan kelas menunggu sahabatnya. Sesekali melirik jam hitam mungil yang melingkar di tangannya. Beberapa temannya dari anggota PMI sudah hadir, namun Ayyan belum juga sampai.
“Nunggu siapa, Fa?" Suara Wafi mengagetkannya.
Sontak matanya melihat laki-laki yang sudah rapi dengan pakaian Pramuka lengkap dengan atributnya. Rambutnya yang belah samping terlihat sedikit basah, mungkin karena dia baru selesai sholat Jumat.
“Tunggu temen, Kak," jawabnya tersenyum.
Wafi mengangguk paham. "Ya sudah, jangan sampai telat ya." Laki-laki itu memberikan pesan.
Hanifa langsung mengangguk. Meski Wafi pembina Pramuka, tapi dia begitu peduli dengan organisasi yang lain. Buktinya, dia selalu mengingatkan dirinya agar tepat waktu.
Karena sudah lelah menunggu dan sebentar lagi rapat dimulai, Hanifa memilih bergabung dengan yang lain. Biarkan saja Ayyan mengomel, karena ini adalah kesalahannya sendiri.
Setelah mendapat beberapa masukan dari pembina, semua anggota PMI yang hadir saat itu beranjak untuk mengambil alat-alat untuk latihan.
Karena peralatan yang digunakan untuk latihan baik dari organisasi PMI maupun Pramuka hampir sama, tempat menaruhnya pun terletak di satu ruangan. Jadi, siapapun bisa mengambilnya.
Sebelum masuk ruangan tempat peralatan dan perlengkapan latihan, Hanifa menarik kepalanya ke jendela. Melihat apakah ada orang di dalam atau tidak. Ia melangkahkan kakinya masuk saat matanya tidak melihat siapapun di dalamnya.
Setelah dirasa sudah lengkap, ia berniat kembali ke lapangan membawa alat-alat tersebut. Namun saat baru membalikkan badan, tiba-tiba sosok Devan sudah berdiri di ambang pintu.
“Allahu Akbar!" Hanifa kaget sontak melepas apa yang ada ditangannya hingga terjatuh di lantai.
“Kenapa lo?" tanya Devan melangkahkan kakinya masuk dengan tatapan heran.
Hanifa mencoba memasukkan oksigen ke dalam paru-parunya. Mencoba menetral detak jantungnya dengan mengucap istigfar beberapa kali.
“Huuft. Tenang Fa, dia cuma manusia bukan hantu," gumamnya memunguti peralatan yang terjatuh tadi.
“Lo udah gak waras, ya? Ngomong sama lantai. Dasar siput aneh." Devan mengambil peralatan yang lain sembari melirik Hanifa yang bergumam tak jelas di telinganya.
Setelah selesai, Hanifa berdiri dan melihat Devan. Yang dilihat menyipitkan matanya.
“Lain kali, kalau masuk ruangan itu, ucap salam dulu," kata Hanifa dan pergi.
Devan memandang tubuh mungil itu sampai bayangannya hilang. “Tu cewek kenapa? Kayak liat makhluk gaib, kaget.”
***
Setengah jam mengikuti rapat, kini Hanifa sedang duduk istirahat di depan kelasnya. Kedua bola matanya terfokus pada beberapa siswa yang sedang latihan Pramuka. Terutama si pemasang tenda.
Dengan kemampuan mengikat tali seperti itu, siapa yang menyangka kalau dia tengah menderita penyakit yang mematikan.
Hatinya merasa teriris saat melihat senyum merekah di kedua bibirnya yang tipis setelah berhasil membuat tenda dengan waktu tercepat.
"Allah, andai senyum itu bisa aku lihat beberapa tahun lagi. Agar aku bisa menyembuhkan lukanya," gumamnya.
Tak berselang lama dari perkataannya tadi, suatu kejadian membuatnya terperangah dan berdiri. “Astaga, dia kenapa?" Hanifa berlari setelah melihat sesuatu. Sampai suara seseorang yang memanggilnya beberapa kali tak dihiraukannya.
***
__ADS_1