Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Pasangan Halal


__ADS_3

"Bismillahirrahmanirrahim. Saya terima nikah dan kawinnya Hanifa Salma Khadijah binti Musthofa dengan seperangkat alat sholat dan maskawin 45 gram dibayar tunai," ucapnya dengan satu tarikan nafas.


“Bagaimana para saksi?"


"Sah?"


“Sah!" jawab semua yang berada di ruangan sederhana nan sakral itu serempak.


Doa pengantin pun dilantunkan. Membuat mata Hanifa, dokter Arif dan umminya basah sempurna. Dia tak pernah menyangka jalan hidupnya seperti ini. Menikah di usia muda adalah bukan bagian dari rancangan hidup yang telah ia buat.


Namun bagaimanapun, hatinya bahagia karena cita-citanya untuk menjadi wanita hebat seperti bunda Khadijah akan segera terwujud. Perjuangannya untuk menjadi wanita solehah sudah di depan mata.


“Silahkan dipasangkan cincinnya, daan tanda tangani surat pernikahannya," titah pak penghulu.


Seorang wanita muda yang sudah anggun dengan gamis putih keemasan menyerahkan sebuah kotak warna merah berbentuk hati kepada laki-laki di depannya. Dengan sigap laki-laki itu mengambilnya. Ia lantas mengeluarkan sebuah cincin berlian putih cantik dan segera memasangnya ke jari manis Hanifa.


Hanifa mengusap sisa air matanya dengan tisu, kemudian menatap laki-laki yang tengah tersenyum padanya. Dengan perasaan yang masih tak karuan, Hanifa mengambil tangan laki-laki itu dan menciumnya.


Satu tangan yang lain dari laki-laki itu membacakan sebuah doa di atas ubun-ubun Hanifa. Ada rasa yang mendesir di hatinya tatkala laki-laki itu mengecup lembut keningnya.


Setelah akad selesai akad, pak penghulu dan beberapa petugas dari KUA pamit pulang. Hanifa yang masih dalam pelukan umminya pun kembali menangis. Entah bersedih karena harus berpisah dengan umminya ataukah bahagia karena kini dia akan menjadi seperti umminya.


“Sudah dong, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya berkurang lho," canda ummi Fatimah mengusap lembut pipi putrinya.


“Sekarang anak Ummi sudah menikah. Ifa sudah punya tanggung jawab. Ummi sudah mengajari Ifa bagaimana cara menjadi wanita solehah, kan?"


Hanifa mengangguk. “Mulai saat ini, surga Hanifa sudah pindah ke suamimu, sayang. Suami kamu adalah syurga dan nerakanya Ifa. Hormati suami Ifa seperti Ifa hormat sama orang tua, sayangi dia melebihi diri kamu sendiri nak. Jangan pernah menyakiti hatinya sekecil apapun bentuknya. Ifa harus jadi wanita yang hebat dan berbakti, ya."


Hanifa yang masih menenggelamkan wajahnya di pelukan umminya hanya mengangguk. “Ummi, terima kasih sudah rawat Ifa dari kecil sampai sekarang. Terima kasih atas semuanya. Meskipun Ifa bukan anak kandung Ummi, tapi Ummi menyayangi Ifa seperti putri Ummi sendiri."


Ummi Fatimah mengusap lembut pipi putrinya. “Sayang, kamu adalah putri kesayangan Ummi sampai kapan pun. Apapun akan Ummi lakukan untuk kamu nak. Sekarang Ifa fokus sama kehidupan Ifa, fokus sama rumah tangga Ifa, ya."


Setelah melepas pelukan umminya, kini Hanifa beralih memeluk ayahnya. “Selamat atas pernikahanmu, Nak. Kesayangannya Ayah sudah nikah, ya. Putri kecil Ayah sudah dewasa."


"Terima kasih, Yah, sudah menjadi Ayah yang hebat untuk Hanifa."


Dokter Arif mengangguk dan memandangi wajah teduh putrinya. Sama-sama sayang. "Sekarang Ifa harus bahagia, oke?" ujarnya dan mendapat anggukan dari sang putri.


“Selamat atas pernikahan kalian." Kini giliran Jihan yang mengucapkan selamat.


Hanifa tersenyum. "Terima kasih, Kak," balasnya dan langsung memeluk wanita itu.


Setelah semua rangkaian acara sore itu selesai, ummi Fatimah beserta beberapa keluarga yang lain pamit pulang. "Sayang, Ummi pulang dulu ya. Besok Ummi ke sini lagi. Sekarang kamu temani Devan ya, jagain dia.”


Hanifa mengangguk. "Tentu, Umm."


Beralih dari wajah putrinya, kini mata ummi Fatimah sudah menatap lekat laki-laki yang baru saja mengambil tanggung jawab atas putrinya itu.


“Nak Devan, Ummi minta maaf ya tidak bisa menginap malam ini. Tapi Ummi janji, besok Ummi ke sini lagi. Tolong jaga putri Ummi, ya," nasehat ummi Fatimah pada menantunya.

__ADS_1


Yang dinasehati pun tersenyum seraya mencium punggung tangan wanita yang kini sudah menjadi ibu baginya. "Ummi bisa mengandalkan saya."


Ummi Fatimah mengelus pundak Devan dengan penuh kelembutan. "Jaga kesehatan kamu, Nak. Kamu harus sembuh. Kalian harus bahagia. Ummi yakin, Allah pasti memberikan kesembuhan kepada hamba-Nya yang beriman."


“Aamiin, terima kasih doanya, Umm."


“Kalian baik-baik di sini. Insya Allah besok Ummi ke sini. Kalau begitu, Ummi pamit ya. Assalamualaikum."


Devan dan Hanifa kompak menjawab. “Waalaikumussalam."


Setelah kepergian ummi dan ayahnya, kini hanya Hanifa, Jihan dan Devan yang ada di ruangan itu. Hanifa meminta izin untuk pergi mengganti baju dan sholat Isya. Setelah mendapat izin dari Devan, Hanifa segera keluar.


Selepas mengganti baju dan sholat Isya, Hanifa segera melangkahkan kakinya ke ruangan tempat Devan dirawat. Setibanya di dalam ruangan, wajahnya tersenyum mendapati Devan yang tengah khusuk dengan sholatnya, meski dalam posisi duduk.


Hanifa menghampiri laki-laki itu saat dia menggerakkan kepalanya ke kanan sembari mengucap salam. Setelah membaca doa, kini matanya tengah tersenyum menatap wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.


“Udah sholat?"


Hanifa mengangguk. “Sekarang kamu makan, ya. Setelah itu minum obat," tutur Hanifa segera mengambil semangkuk bubur yang sudah tersedia di sana.


“Dikit aja, ya, gue nggak suka bubur," pinta Devan saat tangan Hanifa hendak memasukkan sendok ke mulutnya.


Hanifa mengangguk. meskipun kini sudah resmi menikah, Devan masih saja menggunakan bahasa 'lo-guenya', tapi Hanifa tidak mempermasalahkan hal tersebut. Baginya, yang terpenting saat ini adalah bagaimana dirinya bisa menemani Devan menghadapi masa kritisnya.


Baru lima sendok makanan masuk ke mulutnya, tangan Devan sudah menghentikan aktivitas Hanifa yang akan menyuapinya lagi. Meski merasa berat, Hanifa tetap menuruti keinginan suaminya itu.


“Fa, lo nyesel nggak nikah sama gue?" tanya Devan dengan pandangan lurus menghadap Hanifa.


Gadis itu tidak memedulikan pertanyaan Devan dan tetap melanjutkan aktivitasnya.


“Fa, gue nanya sama lo," kata Devan lagi


Hanifa menatap Devan, kemudian tersenyum. Senyum yang tak bisa diterka oleh dirinya sendiri. “Van, apa ada orang yang menyesal ketika Allah sudah menjamin syurga untuknya?"


Devan terdiam. Pernyataan Hanifa tadi sudah cukup menjadi jawaban untuknya. Kini dia memilih untuk mengistirahatkan raganya. Sedangkan Hanifa, saat ini tengah menatap wajah teduh sang suami seraya merayu sang Pencipta lewat doa dalam hatinya. Semuanya seperti mimpi. Dirinya yang baru saja menerima kelulusannya kini sudah resmi menjadi istri seorang Devanno Ibrahim.


Pikirannya membawanya pada momen tiga jam yang lalu. Saat Devan secara terang-terangan melamarnya di depan ayahnya. Dia yang tak tahu akan pilihannya, tiba-tiba seperti mendapat cahaya saat sang ayah mengiyakan permintaan Devan.


Flashback on ...


“Ayah meridhoi kamu, Nak. Ayah sudah mengenal Devan sejak dia masih kecil. Ayah yakin, dia akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab."


“Tapi bagaimana dengan Kak Wafi, Yah?"


“Ayah yakin, dia pasti akan mengerti. Toh kamu juga belum jawab apa-apa kan?"


Hanifa mengangguk membenarkan semua perkataan ayahnya. Memang dia belum sempat menjawab lamaran Wafi karena berlari melihat Devan.


“Tapi bagaimana dengan Ummi, Yah?"

__ADS_1


Dokter Arif tersenyum. Ayah yakin, Ummi akan setuju dengan pilihan kamu sayang. jawabnya.


“Nak, Devan sangat membutuhkan kamu saat ini. Percaya sama Ayah, semua akan baik-baik saja."


Setelah memantapkan pilihannya, Hanifa kembali ke masuk. Hatinya tersenyum saat melihat Devan tengah khusyuk dengan bacaan Al-qurannya. Melihat Hanifa masuk, Devan menghentikan aktivitas mengajinya.


“Keputusan kamu gimana?"


Dengan penuh keyakinan akan anugrah dan cinta dari yang kuasa, Hanifa menerima lamaran Devan. Hal itu tentu membuat Devan sangat bahagia. Meski demikian, Hanifa masih belum percaya kalau Devan meminta akad dilangsungkan malam ini juga.


Dengan penjelasan dari Devan, dokter Arif yang awalnya menolak dengan alasan mempertimbangkan kesehatannya akhirnya setuju. Jihan yang saat itu sempat syok karena permintaan adiknya, pun ikut menyanggupi permintaan tersebut.


Beberapa detik setelah itu, semuanya langsung dipersiapkan. Mulai dari meminta izin kepada pihak rumah sakit dan dokter yang menangani perawatan Devan, sampai mencari penghulu dan pihak KUA untuk hadir di acara sakral itu. Semuanya dokter Arif yang melakukannya. Terutama memberi tahu umminya tentang pernikahan ini.


Sempat mendapat penolakan dari sang ummi, akhirnya dengan berkat kasih sayang dan kebesaran Allah ummi Fatimah pun ikut menyetujuinya. Bahkan dengan sukarela datang untuk menghadiri acara akad putrinya.


Rasa syukur tak pernah berhenti terucap dari hati Hanifa dan Devan. Semuanya berjalan lancar. Ruangan kamar itu disulap menjadi ruangan yang indah. Seakan bukan lagi seperti kamar tempat seseorang berjuang melawan penyakitnya.


Kebahagiaan Hanifa memuncak saat Devan membacakan doa di atas ubun-ubunnya. Sekarang agamanya sudah terasa sempurna karena Devan akan memegang tangannya ke dalam pelukan Sang Maha Pemberi Cinta. Bersama-sama berjalan menyeberangi lautan kehidupan, dan membawa mereka kepada pulau keridhaan Sang Pencipta.


Flashback off ...


Semuanya berputar seperti kaset di kepala Hanifa. Bagaimana baru kemarin dia mengenal sosok Devan, sampai akhirnya sekarang sudah menjadi sahabat hidupnya.


Lamunannya seketika menghilang saat telinganya mendengar suara langkah kaki. Senyumnya seketika mengembang tatkala melihat laki-laki yang baru saja masuk.


“Ayah," panggil Hanifa.


Dokter Arif tersenyum seraya membelai lembut rambut putrinya.


“Devan sudah tidur?"


Hanifa mengangguk kemudian menatap wajah Devan yang sudah terlihat pulas.


"Ayah sudah makan?"


“Sudah tadi di panti," jawab dokter Arif kemudian duduk di dekat Hanifa.


“Ayah tadi habis dari ruangan dokter Gibran.


“Siapa dia, Yah?"


“Salah satu dokter yang akan menangani operasi Devan. Katanya, operasinya harus cepat dilakukan. Kalau bisa besok. Jihan juga sudah menyetujuinya.”


Hanifa terdiam. Mendengar ucapan ayahnya membuatnya sedih. Dokter Arif yang paham dengan kesedihan putrinya membelai kepala Hanifa yang tertutup hijab.


Kenapa harus secepat ini ya Allah? Kalau aku tahu Devanlah yang akan menjadi teman hidupku, pasti sejak lulus kemarin aku menikah dengannya. Meski aku bukan pencabut nyawa, tapi aku mohon ya Allah, izinkan aku bersama Devan lebih lama lagi.


****

__ADS_1


__ADS_2