
"Ayy, bisa lepasin tangan aku dulu? Sakit," kata Hanifa mencoba melepas cengkeraman tangan sahabatnya.
“Heh. Lo. Lepasin tangannya!" timpal Devan tak kalah kuat memegang lengan baju Hanifa.
Ayyan merasa geram melihat Devan yang tidak mengizinkan Hanifa pergi bersamanya. “Ini urusan aku sama Hanifa, ya, dan kamu jangan ikut campur."
Melihat sahabatnya yang memandang wajah tak suka kepada Devan, Hanifa mencoba menenangkan suasana. Sangat tidak baik membuat keributan pagi-pagi seperti ini.
“Devan, aku mau ngomong dulu sama Ayyan," pinta Hanifa. Seketika itu Ayyan melepaskan cengkeramannya.
Tak tega melihat wajah Hanifa, Devan juga melepaskan lengan baju Hanifa dan membiarkan mereka pergi.
"Ayy, kita harus bicara," pinta Hanifa yang kemudian berbalik menarik tangan sahabatnya ke dalam kelas.
“Sekarang jelasin sama aku. Tadi kamu kenapa ada di lorong berduaan sama si kulkas jalan itu?!" tanya Ayyan yang kini sudah memasang wajah kesalnya lengkap dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Hanifa yang merasa berada di ruang interogasi, menarik napasnya panjang seraya memperbaiki tempat duduknya.
“Ayy, kamu salah paham. Aku di sana sama Devan karena ada urusan. Itupun nggak cuman berdua doang. Siswa lain di sana juga banyak yang lagi bersihin halaman." Hanifa mencoba menjelaskan dengan kata yang sangat halus agar sahabatnya tidak marah lagi.
"Sejak kapan kamu punya urusan sama tu anak?" tanya Ayyan sedikit curiga.
"Sejak aku bantuin ayah kerja di rumah Devan."
Ayyan membulatkan matanya. “Tunggu. Ayah kamu, kan, dokter, berarti kalau dia kerja di rumah Devan, dia ngerawat Devan gitu?"
“Iya, Ayy. Aku kasihan sama ayah yang harus bolak balik tiap hari ke rumah Devan, sedangkan jadwalnya selalu padat di rumah sakit. Makanya aku bantuin ayah di rumahnya Devan," jelas Hanifa.
Ayyan mengangguk. Wajahnya juga sudah terlihat sedikit lebih tenang.
“Jadi, maksud kamu, Devan sedang menjalani rawat jalan begitu?" Hanifa mengangguk. “Emang si Devan sakit apa?"
Mendengar pertanyaan itu, Hanifa terdiam. Ia sebenarnya ingin memberi tahu penyakit Devan pada sahabatnya, namun ia urungkan. Ini belum waktunya Ayyan tahu, batinnya.
“Dia ... Mmm, sebenarnya penyakitnya nggak parah kok. Cuma butuh di rawat saja, itu kata ayah," jelas Hanifa. Kali ini dia tidak berbohong, ia berharap penyakit Devan tidak akan tambah parah dan setelah menjalani perawatan, dia akan sembuh.
“Ya sudah Ayy, aku mau cuci tangan dulu, ya." Hanifa keluar kelas dan meninggalkan sahabatnya yang masih menyimpan rasa penasaran tentang urusannya dengan Devan.
***
Hanifa sudah berdiri di tepi jalan sejak beberapa menit yang lalu. Dia memilih keluar lebih cepat agar tidak ketinggalan angkot atau taxi lagi. Hari ini, sopir pribadi ayahnya tidak bisa menjemputnya karena sedang sakit.
Ia melirik jam tangannya, kemudian menghela napas lega. Ia masih punya 30 menit sebelum terlambat sampai di rumah Devan. Saat sedang fokus menunggu angkot, tiba-tiba sebuah mobil putih menepi ke arahnya.
Hanifa sedikit takut kalau itu adalah orang yang berniat jahat padanya. Ia sempat akan berbalik masuk halaman sekolah saat kaca moobil itu terbuka.
“Woi. Mau kemana lo?" Suara seseorang menghentikan niatnya. Ketika berbalik, ia bisa melihat wajah Devan dari balik jendela mobil.
Hanifa melirik ke sekitar, berharap Devan berbicara dengan seseorang selain dirinya. Tapi sayangnya, hanya dia seorang yang sedang menunggu angkot siang-siang begini.
"Aku mau ke-"
“Lo mau ke rumah gue kan?" potong Devan. Hanifa mengangguk. “Masuk! titah Devan seperti biasa, memberikan perintah secara sepihak.
Sontak Hanifa menggeleng. “Aku mau tunggu angkot. Kamu pulang saja sana," usir Hanifa sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Gue nggak pulang ke rumah siang ini," beritahu Devan.
Hanifa langsung menolehkan wajahnya melihat Devan. “Kamu mau kemana?"
“Itu bukan urusan Lo." Devan masih setia mempertahankan tampang dingin nan cueknya.
__ADS_1
“Ya jelas lah itu urusan aku juga. Kamu kan pasien aku Devan," tegas Hanifa bak dokter sungguhan.
“Makanya lo ikut gue sekarang."
Hanifa masih berdiam di tempatnya berdiri.
“Lama banget mikirnya. Ya udah, kalau nggak mau ikut, gue tinggal," gertak Devan menutup kaca mobilnya dan bersiap pergi.
Tanpa menjawab, Hanifa segera melangkah dan masuk mobil. Dia tidak ingin harinya mengalami kesulitan seperti kemarin. Hal itu membuat kening Devan mengernyit, lalu tersenyum tipis.
Dasar. Batin Devan menggeleng pelan.
***
Di tengah perjalanan, suasana masih hening. Keduanya sibuk pada pikiran masing-masing. Devan yang tengah asyik mendengarkan musik di earphone-nya, sedang Hanifa sibuk memperhatikan jalan yang dilaluinya.
Entah kemana lagi laki-laki es itu akan membawanya. Semua pertanyaan dalam diam Hanifa terjawab saat mobil Devan masuk sebuah parkiran di samping bangunan besar.
Setelah keluar mobil, mata Hanifa menyipit saat membaca tulisan besar yang terpampang di depan bangunan.
“Toko Buku Gemilang?" Hanifa membaca tulisan yang tertera di depan pintu masuk.
“Lo mau masuk, apa mau jadi satpam di sini?" ucap Devan dengan gaya khasnya, dingin dan tak peduli.
Hanifa malas menanggapi ucapan dari Devan tadi. Ia memilih masuk mengikuti laki-laki es itu. Langkahnya terhenti saat menatap sebuah buku di sampingnya, tepatnya novel Ayat-Ayat Cinta 2, salah satu karya monumental dari Habiburrahman Shirazy. Bahkan sampai menjadi sebuah film layar lebar.
Refleks tangannya mengambil novel itu sambil tersenyum. “Ini novel yang aku ingin beli dari dulu. Tapi sayangnya aku nggak bawa uang hari ini," gumam Hanifa meletakkan kembali novel itu ke tempatnya.
Kembali ia melangkahkan kakinya mencari sosok Devan. Ia berjalan dari lorong satu ke lorong yang lain. Tempat itu sangat luas, karena merupakan salah satu toko buku yang terlengkap di kota itu. Semua jenis buku ada di sana.
Saat sedang sibuk mengamati setiap sudut ruangan, Hanifa terkejut dengan suara seseorang yang memanggilnya.
Laki-laki bertubuh tinggi dengan kulit kuning langsat itu tersenyum. "Aku lagi cari buku buat referensi, Fa. Kamu sendiri ngapain di sini?"
Belum sempat menjawab, Wafi sudah menambah pertanyaannya. “Mau beli buku juga?"
Hanifa menggeleng. Dia ke tempat ini tidak berniat membeli buku, melainkan menemani pasien ayahnya yang keras kepala.
“Aku kesini cuma-"
“Dia ke sini nemenin gue," sahut Devan yang sudah berdiri diantara Hanifa dan Wafi dengan wajah temperamennya. Penampilannya saat ini terlihat sangat rapi, atau mungkin mata Hanifa yang tidak pernah menyadarinya.
Wafi sedikit terkejut bahkan tak percaya dengan ucapan Devan tadi. Wafi sudah sangat mengenal Devan. Bahkan sejak dia menjadi anggota baru di organisasi.
"Kamu gimana keadannya, Van?" tanya Wafi ramah.
"Gue gak papa," jawab Devan ketus.
Wafi yang memang terkenal dengan kharismanya yang kalem dan berwibawa hanya tersenyum. Ia lalu memalingkan wajah ke arah Hanifa.
“Bener, Fa, kamu nemenin Devan ke sini?”
Hanifa mengangguk.
"Berdua doang?"
"Iya, emangnya kenapa? Ada masalah?" Lagi-lagi Devan yang menjawab. Seketika itu tangannya menarik lengan baju Hanifa dan mengajaknya keluar. Namun saat itu juga Wafi menghentikan mereka.
“Tunggu. Bagaimana mungkin kalian bisa berdua ke sini? Jangan bilang kalau kalian pacaran?"
Hanifa langsung berbalik saat mendengar pertanyaan Wafi tadi.
__ADS_1
“Bukan kak! Aku sama dia nggak-"
“Kalau iya kenapa? Nggak ada masalah kan sama lo?" Devan kembali memotong ucapan Hanifa.
Mata gadis itu membulat sempurna mendengar ucapan Devan barusan. Rasanya dia ingin mencubit lengan laki-laki itu saat itu juga.
Wafi meyipitkan matanya. Baru akan berbicara lagi dengan Hanifa, Devan malah membawanya segera keluar dari toko itu. Meninggalkan Wafi yang masih menyimpan beberapa pertanyaan untuk Hanifa.
Saat berada di depan kasir, Hanifa menepis tangan Devan yang seenaknya memegang lengan bajunya. Dia memasang wajah kesal pada laki-laki di depannya.
“Devan, kamu kenapa sih bohong sama kak Wafi tadi?"
“Eh siput. Yang bohong siapa, si?"
Hanifa semakin kesal dengan Devan yang memanggilnya siput. “Nama aku Hanifa ya, bukan siput.”
“Gue panggil Lo siput kek, kadal kek, terserah gue."
Hanifa semakin geram. “Ngapain coba kamu bilang kalau aku ke sini nemenin kamu?"
Dengan tetap menunggu si tukang kasir menjumlahkan semua barangnya, Devan seakan tak menghiraukan ucapan Hanifa.
“Emang bener kan, lo ke sini nemenin gue."
Mendengar jawaban Devan tadi membuat Hanifa terdiam. Memang benar dia ke sini menemani Devan, karena tugasnya. Tapi bukan menemani, lebih tepatnya terpaksa mengikuti pasiennya yang keras kepala.
Sampai di dalam mobil, Hanifa masih memasang wajah kesalnya. Bagaimana kalau Wafi berpikiran yang enggak-enggak tentang hubungannya degan Devan? Malah Devan tadi mengiyakan pertanyaan Wafi kalau mereka ada hubungan. Hanifa sangat anti dengan pacaran sebelum menikah.
Baginya, pacaran hanyalah perbuatan sia-sia yang akan menghabiskan waktu dan tenaga. Dan agama sangat melarang pacaran tanpa ada ikatan apapun. Meski dengan dalih menjadi penyemangat.
Dalam hidup Hanifa, pacaran bukanlah satu-satunya penyemangat di dunia ini. Ada ummi yang sangat mencintainya, ayah yang sangat menyayanginya, dan sahabat yang peduli padanya. Itu semua lebih dari cukup untuk menjadi penyemangat hidup. Tapi begitulah kehidupan, kadangkala setiap manusia memiliki cara pandang yang berbeda, dan mempunyai cara tersendiri untuk mencari semangat hidup dan kebahagiaan.
“Kok lo sensi banget sih pas gue bilang kalau lo nemenin gue ke toko buku tadi? Lo takut si ketua sok-sokan itu cemburu ya? Atau lo suka sama dia?" Devan memberikan rentetan pertanyaan pada gadis di sebelahnya.
Hanifa mendengus. "Nama dia Wafi. Bukan ketua sok-sokan. Dan aku nggak ada rasa apapun sama kak Wafi, jawab Hanifa padat, singkat dan jelas.
Devan manggut-manggut seraya tertawa kecil. "So, nggak ada masalah kan sama ucapan gue barusan?"
Mendengar hal itu, Hanifa merasa semakin jengkel. Bahkan tawa laki-laki itu terdengar semakin keras. Bisa-bisanya dia tertawa saat melihat orang lain kesal karena ulahnya sendiri.
“Nih buat lo." Devan menyodorkan sebuah tas plastik putih ke arah Hanifa.
Bukannya mengambil pemberian itu, Hanifa malah menatap tajam ke arah Devan yang sedang fokus menyetir.
“Matanya nggak usah begitu juga kali." Devan melihat sekilas, kemudian kembali fokus pada kemudinya.
Hanifa masih belum menerima tas plastik itu bahkan sampai beberapa menit kemudian.
“Lama-lama tangan gue keram nih gara-gara Lo. Cepetan ambil!"
“Kalau aku nggak ambil memangnya masalah buat kamu?" tanya Hanifa dengan tatapannya yang masih tajam.
“Gue si nggak masalah ya. Tapi lo bakal nyesel aja nggak terima. Lo belum pernah denger ceramah, ya? Kalau kita nggak boleh nolak pemberian orang. Nih!" Devan masih setia menyodorkan plastik itu padanya.
Meskipun hati Devan sedingin es, tapi jiwa kebaikannya sehangat senja, itu yang dikatakan bi Mar pada Hanifa.
Meskipun merasa keberatan, tangan Hanifa mengambil tas plastik itu. Pelan-pelan ia membukanya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui isi tas plastik tersebut.
"Van, ini?"
****
__ADS_1