Hanifa Untuk Devan

Hanifa Untuk Devan
Kejadian Waktu Ujian


__ADS_3

Suasana pagi itu terasa menegangkan. Bahkan hampir semua siswa siswi tak berkutik dari tempat duduk dan buku yang menempel di tangannya. Meski dibilang ini hari terakhir, tapi tetap saja pertempuran dengan ujian akhir terasa baru dimulai.


Walaupun Ujian Nasional sudah terlaksana dua hari lalu, tetap saja tak menghilangkan ketegangan yang melanda dalam hati Hanifa. Nilai yang tidak sempurna terus saja menghantui pikirannya. Bagaimana tidak? Untuk bisa masuk universitas kedokteran nilai yang dibutuhkan harus diatas rata-rata.


Sejak berangkat sekolah sampai detik ini, tangannya tak berhenti mencoret-coret kertas di depan mejanya. Mencoba mengingat rumus yang pernah dipelajarinya, dan mencoba menjawab soal-soal yang sudah tersedia di buku sekolahnya.


“Hwaaa ... Pengen pingsan hari ini," ucap Ayyan frustasi.


Hanifa yang sedari tadi fokus, kini tengah melihat ke arah sahabatnya yang memukul pelan wajahnya dengan buku. “Ayyan, itu buku buat dibaca, bukan untuk jadi mainan tangan kamu," tegurnya.


Ayyan yang menutup wajahnya dengan buku, perlahan melihat ke sumber suara. “Kenapa ya di dunia ini ada pelajaran Matematika?"


Hanifa menggeleng. “Ngawur kamu. Sudah, ah. Mending sekarang fokus belajar. Lima menit lagi masuk."


Wajah Ayyan semakin terlihat tak bersemangat. "Huft. Oke, sekarang pertemanan kita sampai di sini dulu ya, my book. Perutku mau diisi dulu." Ia berbicara pada bukunya sendiri.


"Fa, ke kantin dulu, ya," ujarnya dan beranjak pergi.


Hanifa yang melihat tingkah sahabatnya lantas menggelengkan kepala. Karena hanya duduk sendirian di depan kelas, Hanifa memilih masuk. Tapi saat kakinya berada di depan pintu, suara seseorang memanggilnya. Setelah Hanifa berbalik, orang tersebut tersenyum.


“Semangat, ya. Thats last day," kata Devan yang kebetulan lewat di depan kelas Hanifa.


Hanifa mengangguk. "Semangat juga," balasnya.


Devan yang melihat Hanifa sudah masuk kelas, langsung melangkahkan kaki ke ruangannya. Namun begitu baru sampai depan pintu, tiba-tiba kepalanya berdenyut. Devan menunduk, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya.


"Van, lo fine, kan?" tanya Arjun yang juga akan masuk berhenti saat melihat Devan memegang kepalanya.


Devan menarik napas demi menghilangkan rasa sakit tersebut. "Gue oke kok, Jun," jawabnya masuk mendahului temannya itu.


Bel masuk sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Semua siswa yang sedang mengikuti ujian terakhirnya terlihat sangat fokus, nyaris tak berkedip saat menatap lembar soal yang sudah dibagikan. Bagi sebagian siswa, ujian ini tak ubahnya seperti sedang buang air besar. Awalnya sangat menyusahkan tapi akhirnya melegakan.


Bahkan ada pula yang menyamainya dengan sedang berjelajah di hutan belantara. Entah ada hal apa saja yang akan ditemui nanti. Bisa keluar atau tidaknya tergantung dari persiapan kita sendiri.


Bagi yang sudah belajar, soal Matematika yang berjumlah 40 butir soal itu adalah hal yang mudah. Tapi bagi yang sudah belajar, 100 butir soal Bahasa Indonesia lebih baik daripada 40 butir soal Matematika. Hal itulah yang dirasakan Ayyan sekarang.


Sejak masuk ruang ujian, mulutnya tak berhenti bergerak. Membaca doa apa saja yang ia hafal. Berharap otaknya bisa diajak kompromi untuk satu hari ini. Hanifa yang melirik sebentar tertawa kecil melihat sahabatnya yang sudah sekian kali mengusap tangannya yang sedikit basah oleh keringat.

__ADS_1


Di tempat yang berbeda, Devan yang baru mengerjakan 25 soal tiba-tiba berhenti. Mouse yang dipegangnya terlepas begitu saja. Devan merasakan tangannya tak terasa lagi. Seluruh jari-jarinya terasa kaku dan mati.


Untuk beberapa menit tangannya tak bisa digerakkan. Sedangkan tangan kirinya sibuk memegang kuat tangan kanannya.


“Gue mohon, jangan sekarang," rintihnya seraya menatap tangan kanannya.


“Please, jangan untuk hari ini," gumamnya lagi.


Pengawas yang melihat Devan yang nampak kesakitan menghampirinya.


“Ada apa, Nak? Kamu baik-baik saja?" tanya pengawas bertubuh tinggi.


“Saya tidak apa-apa, Pak," jawabnya menyangkal. Pengawas itu terlihat mengangguk  dan berlalu.


Setelah kepergian pengawas tadi, Devan berusaha sekuat tenaga untuk membuat tangannya kembali normal. Tapi usahanya tak berhasil. Tangan kanannya masih tidak bisa digerakkan. Sedangkan waktu ujian tinggal 30 menit lagi.


Ya Allah, tolong saya kali ini saja. Izinkan saya menyelesaikan ujian ini. pinta Devan dalam hatinya.


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dilakukannya dan dia mendapat (siksa) dari kejahatan yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.


Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, rahamatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."


Perlahan tapi pasti, tangan Devan sudah mulai bisa digerakkan. Setelah kembali normal, Devan tak hentinya mengucapkan syukur dan segera menyelesaikan ujiannya. Alhasil, Devan dengan kesakitan yang dideritanya berhasil menyelesaikan ujian akhir hari ini.


Namun, keberuntungannya tak berlangsung lama. Lima menit sebelum waktu ujian dinyatakan selesai, rasa sakit kembali menyerang kepalanya. Seketika tubuhnya ambruk ke lantai saat akan berjalan keluar. Semua pengawas yang bertugas di ruangan itu dengan sigap membawa keluar Devan yang sudah tak sadarkan diri.


“Kita bawa ke rumah sakit. Ada yang tahu keluarganya?" tanya salah satu pengawas.


Arjun yang sudah mengenal Devan mengangguk. “Saya tahu Pak. Saya temannya.”


“Bagus, kalau begitu kamu ikut Bapak Arjun. Kita berangkat sekarang!" perintah pak Wawan seraya menutup pintu ambulance milik sekolah.


Sepuluh menit perjalanan, akhirnya ambulance yang membawa Devan sampai di rumah sakit. Dengan sigap, para perawat segera membawa Devan ke ruang UGD.


Beruntungnya, dokter Arif bertugas hari itu. Setelah mengetahui kalau pasiennya dilarikan, dokter Arif dengan langkah cepat ke ruang UGD dan memindahkan Devan ke ruang perawatan.


“Baiklah Dokter, kalau begitu kami pamit. Kami titip Devan," ujar pak Wawan selaku wali kelasnya.

__ADS_1


“Tentu, Pak. Terima kasih sudah membawa Devan ke sini. Kalau terlambat sedikit saja, maka kondisinya akan semakin memburuk."


“Kami mengerti, Dok. Sekali lagi terima kasih. Kami sudah menghubungi pihak keluarga. Insya Allah sebentar lagi mereka sampai. Kalau begitu, kami permisi, Dok. Assalamualaikum."


“Sama-sama, Pak. Waalaikumussalam."


Setelah kembali ke ruangan tempat Devan di rawat, kini dokter Arif menatap laki-laki yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Dokter Arif memijit pelipisnya, kemudian membuang nafasnya berat.


“Kenapa kamu lakukan ini pada Om, Devan? Kenapa kamu berbohong?" gumamnya menahan air matanya agar tidak keluar.


Melihat keadaannya saat ini, membawa dokter Arif pada percakapan dengan Devan beberapa hari sebelum bertemu dengan Hanifa.


Seminggu yang lalu ...


“Dok, kalau Devan nikah muda, menurut Dokter gimana?"


Laki-laki paruh baya itu tersenyum.


“Ya, kalau menurut Om tidak ada masalah selama kamu sudah siap lahir batin."


“Tapi Devan, kan, masih 18 tahun, Dok."


“Nak, menikah bukan hanya soal umur. Rasulullah saja menikahi Siti Aisyah saat usianya sembilan tahun. Pernikahan tidak selalu mempersalahkan umur, Nak, tapi tergantung kita bagaimana membawa bahtera rumah tangga agar bisa sampai pada Ridho Allah." Dokter Arif menjeda kalimatnya.


Kalau kamu sudah punya bekal agama yang mumpuni, dan siap memikul tanggung jawab yang besar sebagai seorang suami dan kepala keluarga ya, menurut Om nggak apa-apa. Malah itu lebih baik daripada harus berpacaran yang selalu membuka pintu Zina."


Mendengar penjelasan dokter Arif, Devan tersenyum.


“Tumben kamu tanya kayak begitu Van? Ada rencana nikah muda?" selidik dokter Arif sambil tersenyum.


“Insya Allah, Dok. Meskipun saya sendiri tidak tahu berapa hari lagi saya bisa bertahan, tapi saya ingin hanya ada satu wanita yang menemani saya nanti di Syurga. Walaupun akhirnya saya masuk neraka, setidaknya ada orang yang akan mencari saya dan membantu saya keluar dari sana."


Dokter Arif menepuk bahu Devan. Optimisme yang bagus nak. Om bangga sama kamu. "Sudah ada calonnya?"


Devan tertawa kecil. "Masih samar, Dok."


“Om akan dukung kamu 100% Van. Semangat, ya."

__ADS_1


Mengingat semua itu, dokter Arif bersedih. “Apa kamu sudah menyerah, Nak?" ujarnya menatap wajah Devan.


***


__ADS_2