
Mata beningnya masih sibuk memperhatikan cuaca di luar. Sesekali ia kembali melirik jam di tangannya. Hujan di luar benar-benar lebat. Beruntungnya tidak disertai petir dan angin kencang. Menunggu hujan reda, jari tangannya pun fokus menekan sebuah nomor, mencoba menghubungi umminya agar tidak khawatir.
Sudah pukul enam sore, Hanifa sebenarnya sudah pulang sejam yang lalu tapi Jihan memintanya untuk berbuka bersama. Dan akhirnya, kepulangannya ikut tertunda karena hujan. Risau di wajahnya mulai terlihat. Bagaimanapun, dia harus segera pulang. Kalau menunggu hujan reda, entah sampai kapan. bisa-bisa sampai larut malam.
“Beneran Non Ifa mau pulang sekarang? Nggak tunggu hujannya reda dulu?" tanya Bi Mar menyerahkan payung hijau kepada Hanifa.
“Tidak apa-apa, Bi. Sebentar lagi hujannya pasti akan reda. Ummi pasti sudah nungguin di rumah," jawab Hanifa. “Ya sudah, Bi. Ifa pamit, ya. Assalamualaikum."
Dengan wajah khawatir, bi Mar mengangguk dan membiarkan gadis cantik itu pergi. “Waalaikumussalam. Hati-hati, Non."
Udara sore itu cukup dingin dengan hujan yang masih mengguyur bumi. Dengan tangan yang memegang payung, kaki Hanifa terus melangkah menerobos butiran besar yang berusaha menghalangi langkahnya. Melihat hujan yang bukannya reda tapi malah bertambah deras, Hanifa memilih berteduh di sebuah halte.
Di lain tempat, Devan yang baru selesai melaksanakan sholat Maghrib melangkahkan kakinya ke ruang tengah. Melihat bi Mar yang sedang sibuk merapikan meja makan tanpa Hanifa di sana, ia pun mendekatinya.
“Hanifa mana, Bi?" Devan bertanya saat tak menemukan bayangan Hanifa di sekitar ruangan.
“Non Ifa baru saja pulang, Den."
Devan menaikkan alisnya. “Di tengah hujan seperti ini?"
Wanita itu mengangguk. "Tadi Bibi sudah melarangnya, dan menyuruh non Ifa tunggu hujan reda. Tapi non Ifa menolaknya."
Devan berdecak kesal. "Dasar keras kepala," umpatnya.
"Bibi ke dapur dulu ya, Den."
Devan langsung mengangguk. Setelah bayangan asisten rumah tangga itu menghilang, kakinya segera melangkah ke kamar. Setengah jam kemudian, dia sudah kembali dengan jaket dan celana jeans hitam dan langsung meraih kunci mobilnya dan pergi.
“Dia pasti belum jauh dari sini," gumam Devan sembari meyapu setiap sudut jalan. Berharap menemukan sosok Hanifa di sekitar jalan dingin nan sepi itu.
Tebakannya tepat sasaran. Matanya langsung menyipit ketika menangkap sosok Hanifa yang sedang duduk di kursi halte. Tangannya memeluk tubuhnya yang kedinginan. Melihat hal itu, Devan langsung menepikan mobilnya.
__ADS_1
Hanifa sempat menoleh tatkala melihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempatnya duduk. Ada rasa takut di hatinya. Ia sempat berpikir untuk segera pergi, namun tak jadi karena melihat seseorang keluar dan berjalan ke arahnya.
“Devan, kamu ngapain ke sini? Harusnya kamu istirahat di rumah. Badan kamu jadi basah kan," ucap Hanifa khawatir.
“Gue nggak basah kok, cuman kena cipratan air dikit tadi," elaknya tidak mau membuat gadis itu khawatir. “Gue mau nganterin Lo pulang."
“Tapi Devan, kamu kan lagi sakit." Hanifa berniat menolak.
Mendengar itu, laki-laki tersebut membuang napasnya kasar. “Udah, Lo jangan bawel. Ni pakai." Devan melepas jaket yang dikenakannya dan memberikannya pada Hanifa.
Awalnya, Hanifa ingin menolak lagi. Namun ia sadar, Devan tidak akan pergi sebelum mengantarnya. Jadilah ia segera mengambil jaket silver itu dan memakainya.
Kali ini, Hanifa harus mematuhi apa yang diperintahkan Devan. Bukan karena penurut, tapi Hanifa ingin agar Devan segera pulang dan beristirahat.
Perjalanan sore itu cukup singkat. Tidak banyak kendaraan yang lewat karena gerimis masih menemani bumi. Setelah sampai depan rumah panti, Hanifa keluar dari mobil.
“Terima kasih ya. Besok jaketnya aku kembaliin. Aku mau cuci dulu."
“Enggak usah dikembalikan. Anggap itu sebagai ganti kado dari lo," balas Devan tersenyum.
“Assalamualaikum, ucap Hanifa di depan pintu yang langsung di buka oleh umminya.
Ummi Fatimah yang melihat putrinya yang baru pulang dalam keadaan basah kuyup segera menyuruhnya mandi dan mengganti pakaian. Hanifa pun menurut dan langsung masuk kamar.
Cuaca sore itu benar-benar tak bersahabat. Angin yang masuk lewat celah jendela Hanifa terasa sangat dingin. Selepas sholat Maghrib tadi, umminya membuatkan teh hangat untuknya. Kini tangannya sedang sibuk mengerjakan latihan soal yang diberikan waktu les siang tadi.
Di waktu bersamaan, Devan yang baru sampai rumah segera mandi. Selesai mengaji, kini matanya tengah tersenyum memandangi mushaf hijau yang ada di tangannya. Ingatannya saat di taman tadi berputar di kepalanya.
Beberapa jam yang lalu ..
“Gue boleh buka sekarang, kan?" tanya Devan memainkan kotak yang ada di tangannya.
__ADS_1
Hanifa mengangguk. "Silahkan."
Dengan cekatan, tangan Devan mulai membuka satu persatu kertas kado yang membungkus kotak itu. Tak butuh waktu lama, kotak itu berhasil di bukanya. Senyum Devan mengembang saat melihat isi dari kotak kecil itu.
“Maaf ya, Van. Aku ngasih hadiah sederhana itu. Ya, meskipun aku tahu kamu mampu membeli mushaf yang jauh lebih mahal daripada itu tapi aku ikhlas ngasihnya. Itu adalah mushaf pertama yang dibelikan ayah waktu itu.”
Devan melihat ke arah Hanifa. “Kalau ini hadiah berharga, kenapa lo kasih ke gue?"
Hanifa tersenyum mendengarnya. "Sesuatu yang berharga, pantas dimilki oleh orang yang istimewa," ucapnya.
“Van, kamu tahu nggak kenapa aku milih Al-quran sebagai hadiahnya?" Devan menggeleng. “Karena Al-quran adalah hal yang paling spektakuler di dunia ini."
“Maksudnya?" tanya Devan belum paham.
“Al-quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, di gua Hira melalui malaikat Jibril. Menurutku. Al-quran itu adalah surat cinta yang diberikan Allah kepada kekasih-Nya Muhammad. Coba deh kamu bayangin, wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, bisa kita rasakan sampai sekarang ini. yang pada waktu menerima wahyu pertama itu, Rasulullah sampai menggigil saking takutnya. Jadi, kalau kamu baca surat cinta ini dan mentadabburinya, aku yakin kamu pasti bisa merasakan bagaimana perasaan Rasulullah sewaktu menerima wahyu itu," cerita Hanifa dengan bersemangat.
“Kata ummi, Al-Qur'an adalah harta yang sangat istimewa bagi setiap manusia yang beriman, teman paling setia sewaktu kesepian, dan obat terampuh bagi hati yang gelisah. Dalam Al-quran, terkandung semua hal yang dibutuhkan manusia. Pelajaran akhlak ada, kimia ada, matematika ada, ilmu astronomi ada, semuanya ada."
“Bahkan obat dari segala penyakit pun tersedia. Kamu bisa anggap, Al-quran ini adalah teman pilihan yang dikirim Tuhan sama kamu. Aku yakin, kalau kamu coba bersahabat dengan Al-quran insya Allah kamu bisa menemukan kesembuhan dari penyakit yang kamu rasakan selama ini. "
Devan yang sudah menjadi pendengar setia sejak beberapa menit yang lalu tersenyum. “Pantesan aja dipilih jadi ketua Rohis, orang hobi ceramah. gumam Devan. Cita-cita lo mau jadi ustadzah ya?"
Hanifa menggeleng. "Cita-cita aku itu dokter, Van. Ustadzah itu cita-cita aku kalau sudah menikah. Aku ingin jadi ustadzah untuk anak-anakku nanti."
“Ya ya ya. Tapi, thanks, ya."
“Sama-sama."
Devan tak hentinya memandang mushaf yang ada di depannya itu. Bayangan wajah Hanifa yang semangat menceritakan keistimewaan dari kitab suci keempat yang diturunkan Allah sangat membuatnya takjub. Karena rasa penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Hanifa tadi, tangan Devan perlahan membuka halaman pertama dari mushaf hijau itu.
Bukan karena tak pernah membaca Al-quran, tapi selama ini Devan hanya membacanya saja. Tapi mulai sekarang, dia ingin mencoba mentadabburi ayat demi ayat dari surat cinta yang dimaksud Hanifa. Baru membaca surat pertama, hati Devan berdesir. Sedikit demi sedikit dirinya menemukan ketenangan di dalamnya.
__ADS_1
Detik ke detik, menit ke menit, perlahan Devan terhanyut dalam bacaannya. Setetes dua tetes air mata jatuh membasahi wajah bulenya. Kekhusyukannya terhenti saat azan Isya bergema ke dalam kamarnya. Kakinya bergegas mengambil air wudhu kemudian sholat.
***