
Sejak keluar dari kampus tadi, senyumnya tak pernah padam. Dari mulai mengikuti tes masuk kemarin membuatnya ingin cepat-cepat masuk kuliah. Ya, setelah ujian nasional yang dijalaninya beberapa minggu yang lalu, dokter Arif menyuruhnya untuk ikut tes masuk perguruan tinggi.
Setelah tes selesai, dia memilih menunggu di gerbang utama, menunggu taxi online yang akan membawanya pulang. Setelah lima menit, taxi yang ditunggu akhirnya tiba.
"Pak, antar saya ke Hermina Pasteur Hospital, ya," pesan Hanifa pada sopir taxi itu.
"Baik, Mbak," jawabnya.
Perjalanan dari kampus UNISBA ke rumah sakit tempat ayahnya bertugas cukup panjang. Setelah sampai tujuan, Hanifa segera membuka pintu mobil. Belum lama setelahnya, mata Hanifa menyipit melihat ayahnya yang baru saja keluar dari rumah sakit dengan tergesa-gesa.
“Ayah mau kemana buru-buru?" Hanifa bertanya pada dirinya sendiri.
Sebenarnya ia ingin mencegah ayahnya pergi, tak ia urungkan. Tapi karena rasa penasaran juga, akhirnya dia memilih mengikuti ayahnya.
"Pak, bisa ikuti mobil yang di depan itu?"
Sopir itu langsung mengangguk dan segera melajukan mobilnya. Setelah sampai tempat tujuan, Hanifa turun. Sebelum masuk, matanya sekilas membaca tulisan yang terpampang di depan gedung tempatnya berdiri.
“Rumah Sakit Ali Sadikin? Apa Ayah bekerja di sini juga? Tapi kok Ayah nggak pernah cerita, ya?" Pertanyaan-pertanyaan itu seketika berputar di kepalanya.
Tanpa ambil pusing, Hanifa langsung melangkahkan kakinya masuk. Kepalanya tak berhenti bergerak ke sembarang, mencari keberadaan sang ayah di rumah sakit elit itu. Setelah menemukan sosok sang ayah, Hanifa mengikuti ayahnya dari jarak yang cukup jauh. Kakinya terhenti saat ayahnya memasuki sebuah ruangan VIP.
Sebenarnya Hanifa ingin kembali saja, namun karena rasa penasarannya yang kuat membuat kakinya terus melangkah sampai bangku panjang dekat ruangan itu. Hanifa tak melanjutkan niatnya untuk masuk, melainkan memilih duduk di bangku panjang menanti sang ayah keluar.
“Ifa? Sedang apa di sini?" Suara dokter Arif tiba-tiba membuatnya terkejut.
"A-Ayah?"
Dokter Arif tersenyum. "Kamu sedang apa di sini?"
Mengetahui ayahnya akan bertanya seperti itu, Hanifa lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ifa ngikutin Ayah, ya? tebak pria itu.
Mendengar itu, Hanifa tersenyum kikuk. “Yaah, ketahuan deh. Maaf, ya, Yah," ujarnya. “Ayah ada tugas di sini?"
Sebelum menjawab pertanyaan putrinya, dokter Arif mendudukkan dirinya di dekat Hanifa. Kemudian mengambil nafas dalam. “Mungkin Ayah tidak bisa lama-lama
menyembunyikan hal ini sama kamu."
Wajah Hanifa bingung dengan ucapan ayahnya barusan. "Nyembunyiin apa, Yah?"
“Sebenarnya Ayah tidak bertugas di sini, tapi ada pasien Ayah yang harus Ayah operasi di sini," jawabnya.
“Pasien Ayah yang mana? Apa dia sudah selesai operasi?"
__ADS_1
Dokter Arif diam kemudian menarik nafasnya. "Operasinya tinggal beberapa hari lagi, Nak."
Hanifa mengangguk tanpa curiga. “Semoga operasinya berjalan lancar, ya."
“Nak, sebenarnya pasien Ayah yang akan operasi itu, adalah Devan."
“Apa?" tanya Hanifa tak percaya.
Sebelum berbicara, dokter Arif kembali menghela napas panjang. Terlihat ia sangat berat memberitahu Hanifa tentang hal tersebut.
“Selama ini, Devan tidak sedang baik-baik saja, Nak. Tumornya sudah masuk stadium 3. Jadi harus segera di operasi," kata dokter Arif menunduk.
Mulut Hanifa membisu. Seluruh tubuhnya terasa sudah tak berfungsi lagi. Matanya terasa panas. Kenapa Devan tak memberi tahuku? Segitu tidak sukanya dia sama aku? Batin Hanifa.
“Ayah tahu, kamu pasti akan khawatir dan mungkin marah padanya. Itulah yang Devan tidak mau memberi tahumu."
Hanifa menyeka air matanya. Sejak beberapa menit lalu dia sudah menangis. Entah apa yang membuatnya sangat sedih.
“Sekarang dia dimana, Yah?"
“Devan melarang Ayah untuk memberitahunya padamu, Sayang. Maafkan Ayah."
"Ayah, aku mohon. Aku ingin melihatnya sebentar saja," pinta Hanifa.
Tak tega melihat mata putrinya yang sepertinya akan basah lagi, dokter Arif mengalah. Ia kemudian beranjak dan memberi kode agar Hanifa mengikutinya. Setelah sampai depan pintu VIP yang dimasuki ayahnya tadi, kaki Hanifa masih terasa berat untuk masuk. Namun dia harus melakukannya.
“Devan, gimana kabar kamu? Kamu baik, kan?" tanya Hanifa dengan suara yang sangat pelan, tak ingin membangunkan laki-laki yang terbaring di depannya, sembari menahan tangisnya agar tidak keluar.
"Maaf, ya. Aku masuk ke ruangan kamu tanpa izin. Aku cuman sebentar kok. Kamu yang kuat, ya, aku tahu kamu hebat," ucap Hanifa memaksakan dirinya tersenyum.
Melihat Devan yang tak bergerak sedikitpun, Hanifa tak kuasa menahan tangisnya. Ia pun segera berlari keluar. Kemudian mendudukkan dirinya di taman rumah sakit itu. Dokter Arif pun datang menyusul. Seakan mengerti perasaan putrinya, ia mencoba meredakan tangisnya.
“Kamu mau bicara dengan Devan?" tanya dokter Arif.
Hanifa menoleh dan mengusap sisa air matanya. "Memangnya bisa, Yah?"
“Kalau Ifa mau, Ayah bisa bawa Devan jalan-jalan."
Hanifa menggeleng. "Nggak usah, Yah. Kasihan dia pasti kelelahan."
“Nak, sebelum operasi pikiran pasien harus rileks dan tenang. Jadi, menurut Ayah kalau Devan dibawa jalan-jalan keluar atau ke taman malah bagus buat kesehatannya juga. Pokoknya Ifa harus datang sore ini sama Ayah. Ya, siapa tahu dengan kedatangan Ifa, penyakit Devan tiba-tiba ilang kan?"
Hanifa tertawa kecil mendengar kalimat terakhir ayahnya. “Ayah ada-ada saja. Mana mungkin sih penyakit Devan bisa ilang gara-gara ketemu manusia kayak aku?"
“Ya, siapa tahu, kan. Kamu ini, anggap Ayah kayak nggak pernah muda saja," gurau dokter Arif mengakhiri ucapannya. Melihat kebahagiaan di wajah sang ayah, Hanifa juga ikut bahagia.
__ADS_1
“Begitu dong senyum, kan makin cantik putri Ayah."
***
Mata Devan terbuka saat Jihan masuk ke ruangannya. Setelah meletakkan barang yang dibawanya, Jihan mendekati brankar sang adik.
“Bagaimana keadaan kamu, Van?"
“Masih sama," jawabnya cepat.
“Ya sudah, sekarang kamu makan, ya. Kakak suapin." Jihan membantu Devan bangun sampai posisi kepalanya disandarkan ke dinding. Kemudian menyuapinya dengan bubur yang baru saja diantar oleh petugas rumah sakit.
Sejak mengetahui kondisinya, Devan memang sudah bersikap lebih baik terhadap kakaknya. Dia tak lagi jutek seperti sebelumnya. Mungkin karena di sisa umurnya, dia ingin menghabiskannya dengan keluarga yang satu-satunya ia punya.
Baru beberapa suapan, Devan sudah menyuruh Jihan untuk meletakkan bubur itu. “Gue mau sholat," ujarnya seraya bersiap untuk tayamum.
Setelah selesai tayamum, Devan segera melaksanakan sholat Ashar yang sudah terlewat azan dua menit yang lalu. Kemudian membaca beberapa lembar Al-Quran. Hatinya seakan dimasuki cahaya tatkala mulutnya melantunkan ayat demi ayat dari kitab yang mulia itu.
Jiwanya semakin tenang tatkala bacaannya sampai pada ayat ke 147 dari Surah An-nisa yang artinya: “Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui."
Ayat itu terus diulangnya hingga suara ketukan pintu membuat ia harus mengakhiri bacaannya. Ketika tangannya baru menaruh mushaf di atas laci, matanya menyipit melihat dokter Arif yang sudah masuk dengan membawa kursi roda.
“Assalamualaikum, Nak Devan."
Devan tersenyum. "Waalaikumussalam, Dok. Tumben Dokter sore-sore ke sini?"
“Ah iya, kebetulan jadwal Om hari ini tidak terlalu padat. Jadi, Om bisa ajak kamu jalan-jalan sekitar rumah sakit."
Mata Devan menyipit. "Jalan-jalan?"
“Iya. Cuaca sore ini cukup indah, Nak Devan. Mungkin dengan begitu, suasana hati kamu jadi lebih baik. Ayo! Om bantu berdiri."
Meski masih bingung dengan apa yang dilakukan dokter Arif, Devan tetap menurut saat dokter Arif membantunya berdiri dan duduk di kursi roda. Lima menit kemudian, mereka sampai di taman yang terletak di tengah rumah sakit elit itu.
“Mmm, Nak Devan. Om mau ke toilet sebentar, ya," pinta dokter Arif dan langsung mendapat anggukan dari Devan.
Kini, tinggallah Devan seorang diri bersama pemandangan rumah sakit dan beberapa perawat yang lalu lalang di depannya. Perkataan dokter Arif benar, cuaca sore ini memang bagus.
Langit jingga yang cerah ditambah angin sepoi-sepoi melengkapi keindahannya. Bahkan, rambut ikalnya sudah beberapa kali dimainkan oleh angin yang lewat di dekatnya.
Tapi semakin lama Devan semakin bosan. Bukan karena pemandangannya, melainkan karena hanya dia seorang yang tengah duduk di taman itu. Memang ada pasien lain, tapi mereka bersama keluarganya. Bahkan ada yang bersama istri dan anaknya. Lima menit menunggu, dokter Arif tak kunjung datang lagi.
“Ck. Dokter Arif mana si? Apa toiletnya penuh makanya dia belum juga balik?" gumam Devan sedikit kesal.
Di tengah kekesalannya, suara seseorang menyapanya. "Kalau lagi sakit itu, marah-marahnya dikurangin," tuturnya.
__ADS_1
Seketika Devan menoleh. Matanya membulat sempurna melihat siapa yang sedang berdiri di sampingnya itu.
***