
Desi langsung kaget dan menengok,ternyata Davit ada di belakangnya.
"Oh,,i,,ini De,,Desi sedang telfonan sama teman ,besok Desi mau ke Mal sama mereka,, Desi keluar kamar karena takut Mas keberisikkan dengar Desi mengobrol,"Desi yang kaget membuatnya sedikit gagap.
"Oh,,udah ayo ke kamar,kita tidur ini sudah malam,,"
"Iya Mas,,"Keduanya masuk ke kamar.
Lalu mereka naik ke kasur dan tidur,Desi langsung tertidur karena memang sudah mengantuk.
Davit mengambil hp Desi di meja,Davit mau mengecek hp Desi,tapi ternyata hp Desi di kunci,dan Davit tidak tau kata sandinya.
"Rupanya sandinya sudah di ganti,,"Davit akhirnya tidak bisa membuka hp Desi,Davit lalu ikut tidur.
Pagi harinya Desi mengikuti anjuran Ari untuk biasa aja ke Davit,Desi seperti biasa menyiapkan baju kerja untuk Davit.
"Mas,,bangun,,sudah jam setengah tujuh nih,,"
"Eeemmm,,,Mas hari ini ke kantornya siangan aja,,Mas masih merasa lelah,"jawab Davit.
"Oh ya udah,, Mas lanjutin tidur lagi aja,,"
Desi lalu turun ke bawah,Desi mau sarapan karena lapar,semalam niatnya Desi mau makan bareng sama Davit tapi rencananya gagal karena Davit langsung tidur karena miliknya sakit.
__ADS_1
Tiga hari berlalu,Desi tiga hari ini juga datang ke kantor Davit,dan Desi selalu bilang kalau mampir karena habis dari mol apa dari rumah teman,padahal itu hanya alasan saja,karena sebenarnya untuk mata mata Davit dan Luna.
Ari dan Luna juga sangat pintar dan kompak dalam menyembunyikan hubungan mereka.
"Sayang,,kamu kesini lagi,,?"tanya Davit saat Desi masuk ke ruangan nya.
"Iya Mas,,kenapa ngga boleh,, Desi bosen Mas di rumah sendirian,"Desi lalu mendekati Davit dan duduk di pangkuannya.
"Ya Boleh,,jangan seperti ini,ini di kantor malu kalau ada yang masuk,turunlah,,"
"Ngga mau,Desi pengin kaya gini dulu,lagian kalau ada orang masuk pasti ketuk pintu dulu,"
Benar saja,Luna masuk karena mau minta tanda tangan.
"Oh sinih bawa ke saya,,mana yang mau di tandatangani,,"
"Ini pak,,"Kata Luna,Desi tetap ada di pangkuan Davit dan sengaja Desi sedikit memainkan tanganya di pipi Davit.
Luna yang melihatnya langsung menunduk,Davit sedikit melihat ke Luna,dan Desi melihat tatapan mata Davit ke Luna.
"Ini sudah saya tandatangani,,"sambil memberikan map nya ke pada Luna.
"Iya Pak terimakasih,,saya permisi,,"Davit menjawab iya.
__ADS_1
"Sayang turun lah,,kamu tuh lagi kenapa sih,,kenapa akhir akhir ini Mas rasa kamu aneh,,"Kata Davit sedikit nada suaranya beda dan sedikit tinggi.
Desi langsung turun,tanpa mengeluarkan suara dan mengambil tasnya yang ada di meja lalu berjalan menuju pintu.
"Sayang,,kamu mau ke mana,,?"Davit mengejarnya,tapi Desi terus berjalan dan membuka pintu.
Desi berlari saat sudah di luar ruangan Davit,karena Davit mengejarnya,Desi rupanya sangat sedih dengan perkataan Davit ,apa lagi tadi Desi melihat tatapan mata Davit ke Luna.
Ari dan Luna yang melihat Desi berlari kaget dan bangun dari duduknya, karena Davit juga keluar dari ruangannya sambil terus memanggil.
Desi sudah masuk lif saat Davit sudah dekat,Desi menatap Davit dengan tatapan sedihnya.
Desi sudah di bawah,dan bilang pada pak supir mau naik taxsi saja,dan menyuruh pak Supir pulang.
"Pak,,kenapa ngga mengejarnya ke bawah,,?"tanya Ari.
"Biar saja,,nanti juga di rumah kita ketemu,Desi hanya sedang ngambek aja,,"
Ari langsung diam,tapi Ari tau kalau Desi sekarang pasti sedang tidak baik.
"Sudah kalian lanjut aja kerja,,"Luna menjawab Iya,sedang Ari ngga menjawab tapi langsung duduk.
Desi di taxsi menangis,karena Desi benar benar sedih.
__ADS_1
jangan lupa like komentar dan votenya terimakasih...