
Setelah mendapatkan izin dari Bram Hanna pergi menuju resto untuk bertemu dengan sahabat lamanya "Maaf yah Ra udah nunggu lama." ucapnya sambil duduk dikursi dekat Zahra
"Iyah gapapa Han santai aja, oiyah ngomong-ngomong gimana keadaan keluarga kamu?" tanyanya sambil meminum minuman yang dipesannya
"Allhamdulillah ustad Gofur, ustadzah Aqila, mamah, papah, dan mas Bram mereka semua baik-baik aja." Ucapnya sambil tersenyum
"Allhamdulillah kalo baik-baik aja, oiyah udah punya anak berapa pasti udah gede kan?" tanyanya sambil menggoda Hanna
Hanna menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawa pertanyaan Zahra "Belum Ra." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya
"Yaampun maaf yah Han aku gak tau kalo kamu belum punya anak maafin aku yah?" ucapnya dengan wajah memelas
Hanna hanya tersenyum kepada Zahra dan tidak berkata apapun. Zahra menanyakan sesuatu yang membuat Hanna harus berkata jujur "Tapi malam pertama kalian lancar kan?" tanyanya yang menggodai Hanna
Hanna terkejut dengan pertanyaan yang dikatakan Zahra, itulah penyebabnya makanya Hanna dan Bram sampai detik ini belum mendapatkan anak karena sampai detik ini Bram masih belum menyentuhnya sama sekali
Zahra menepuk pelan tangan Hanna "Eh ditanyain malah diam, jangan-jangan kamu sama Bram belum berhubungan?" ucapnya kepada Hanna
Hanna hanya menggelengkan kepalanya atas ucapan Zahra untuknya, memang betul mereka belum melakukan hubungan layaknya suami dan istri bagaimana mau melakukannya setiap malam mereka berdua selalu tidak satu ranjang alias pisah ranjang dan belum lagi sikap Bram yang jutek dan dingin kepada Hanna
Zahra syok dia tidak menyangka bahwa sahabatnya yang sudah menikah selama 1 tahun lebih belum melakukan hubungan sedikit pun "Ya ampun jadi sekarang kamu masih perawan dan Bram belum pernah nyentuh kamu sedikit pun?" ucapnya dengan wajah terkejut
Hanna mulai menceritakan kisah awal pernikahan itu terjadi kepada Zahra, dia yakin bahwa Zahra adalah sahabat terbaiknya maka dari itu setiap masalah yang dirasakan Hanna ia selalu curhat kepada Zahra begitu pula dengan Zahra jika dia ada masalah dia selalu cerita kepada Hanna itulah fungsinya persahabatan selalu menjadi tempat curhat dikala kita sedang mendapatkan masalah perihal hidup yang kita alami
Setelah Hanna selesai menceritakan semuanya wajah Zahra berubah menjadi marah kepada Bram atas sikapnya selama ini kepada Hanna dia tidak terima kalo Hanna diperlakukan seperti itu oleh Bram bagaimana pun juga Hanna adalah istrinya dan harus diperlakukan layaknya seorang ratu dikerajaan "Pokoknya aku gak terima yah Han kalo kamu tetap diperlakukan seperti itu sama Bram aku akan datangi dia aku akan omelin dia dan dia harus bersikap seorang suami idaman untuk kamu." ucapnya dengan wajah geram
Hanna terlihat khawatir dia tidak mau sahabatnya ikut campur dalam urusan rumah tangganya dan dia juga tidak mau memancing keributan dengan Bram atas sikap Zahra kalo memang Zahra benar-benar mendatangi Bram "Ra aku mohon plis gapapa aku gapapa jadi kamu gak usah datengin mas Bram yah." ucapnya dengan wajah memelas
Zahra masih tetap tidak terima atas perlakuan Bram dia tetap bersihkeras untuk mendatangi Bram "You don't deserve to be done like this hanna you have to be happy with your household not like this. it's like living in hell for me." ucapnya dengan menatap wajah Hanna
Hanna hanya bisa diam dengan ucapan Zahra, apa yang dikatakan Zahra ada benarnya juga bagaimanapun rumah tangga harus bahagia dalam kondisi apapun
°°°°°°
Bram sampai dirumah lebih awal dari biasanya, ia merasa capek dan lelah dengan pekerjaan kantor hari ini "Ahhh akhirnya sampe juga." ucapnya dengan wajah lelah
Bram memanggil pembantu rumahnya untuk membuatkan minuman kesukaannya karena Hanna lagi pergi dengan sahabatnya jadi dia meminta kepada ART rumahnya "Bi Bibi!" ucapnya dengan keras
__ADS_1
Bi inah pun menghampiri Bram karena dia mendengar panggilan dari Bram "Iyah pak ada yang bisa saya bantu?" ucapnya setelah menghampiri Bram
"Oiyah ibu belum pulang yah?" tanyanya pada bi Inah
"Belum pak ibu belum pulang tadi sih ibu bilang katanya sekitar setengah sembilan dia baru pulang dan saya harus kasih tau bapak dan tadi ibu juga udah masak buat bapak jadi bapak bisa langsung makan." ucapnya kepada Bram dengan senyum
"Jadi sebelum pergi Hanna udah siapin makan buat gua?" ucapnya dalam hati "Yaudah makasih yah bi infonya hmm tolong bikinin saya honey tea aja." ucapnya kepada bi Inah
"Yaudah saya buatkan dulu, saya permisi dulu." ucapnya dan langsung pergi menuju dapur untuk membuatkan Bram minuman
Bram pun pergi menuju ruang makan untuk memastikan apa benar Hanna sudah membuatkannya makanan atau tidak "Jadi benar dia sudah buatkan gua makanan sebanyak ini." ucapnya dalam hati
Bi Inah mendatangi Bram yang sedang berdiri menatap makanan diatas meja makan sambil membawa minuman yang diperintahkan oleh Bram "Maaf pak ini minumannya." ucapnya sambil memberikan minuman kepada Bram
Bram mengambil minuman tersebut "Yaudah makasih bi." ucapnya dan bi Inah pun pergi dari hadapan Bram untuk mengerjakan kerjaan yang harus dilakukan
Bram pun duduk dikursi meja makan dan minum tea yang dipesannya kepada bi Inah "Kok rasanya beda yah sama buatan Hanna?" ucapnya dengan diri sendiri setelah meminum honey tea tersebut
Dia langsung mengambil nasi kepiringnya dan mengambil beberapa lauk untuk disantap untuk makan malamnya, ia begitu sangat menikmati makan malamnya katena makanan yang dibuatkan Hanna begitu enak untuknya "Enak banget ini gua baru bisa merasakan nikmatnya masakan Hanna." ucapnya sambil tersenyum dengan mengunyah makanan yang ia makan
Hanna baru sampai dari rumahnya setelah bertemu dengan Zahra ia menuju dapur untuk mengambil segelas air putih karena diperjalanan ia merasakan kehausan, saat berjalan menuju dapur ia melihat meja makan dan melihat bahwa Bram sudah memakan makanan yang ia makan sampai setengah dari sisanya "Allhamdulillah mas Bram mau makan masakan aku sampe sisa segini." ucapnya dengan tersenyum
Setelah minum ia langsung masuk ke kamarnya dan Bram sudah menunggu didalam dia sedang membaca majalah disofa kamarnya "Assalamu'alaikum mas." ucapnya sambil menghampiri Bram yang sedang duduk sambil membaca majalah
Bram hanya diam dia tidak mengatakan apapun dan tetap melakukan bacanya
°°°°°°
Bram dan Hanna sarapan bersama Bram sangat dilayani baik oleh Hanna dan Bram merasakan dan tersentuh oleh sikap Hanna padanya "Dia tetap melakukan kewajibannya walaupun sikap gua udah keterlaluan sama dia." ucapnya dalam hati
Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Bram, Hanna memberikannya untuk Bram "Ini mas, ada yang mau ditambah?" tanyanya dengan tersenyum
Bram menggelengkan wajahnya dan langsung memakan sarapan yang telah dibuat Hanna "Makanan ini dari dulu tetap sama rasanya gak berubah tetap enak, Hanna lu memang wanita yang sempurna tapi gak tau kenapa gua masih belom bisa mencintai lu sempurna maaf." ucapnya dalam hati sambil menyantap sarapannya
°°°°°°°
Rina yang sedang berada direstoran bersama Willy sedang menikmati makan siang dengan mesra "Sayang kamu suka makanannya?" Tanya Willy dengan wajah melihat Rina
__ADS_1
Rina menganggukannya dengan wajah tersenyum bahagia dan tetap menikmati makan siang
Bram yang datang sendiri ke restoran saat ingin menuju meeting bertemu cliennya tetapi Bram sengaja berhenti disebuah resto untuk makan siang sebelum bertemu dengan cliennya. Bram tidak tahu bahwa resto yang dipilihnya untuk makan siang ternyata ada Rina dengan Willy yang sedang makan siang bersama-sama
Rina tidak mengetahui bahwa Bram berada diresto yang sama dengannya, saat Bram ingin menuju meja untuknya memesan makanan dia tidak sengaja melihat dan mendengar percakapannya denga laki-laki yang tidak dikenalinya "Itu Rina kan sama siapa dia? Siapa laki-laki itu?" ucapnya dalam hati sambil mengerutkan dahinya
"Sayang kamu pinter banget sih bodohin si Bram." ucapnya sambil mengelus rambut Rina dengan lembut
Rina tersenyum atas sikap manis Willy kepadanya "Iyah dong siapa dulu? Dan aku akan jadikan Bram sebagai atm berjalan kita." ucapnya dengan tertawa kecil
Bram sengaja mendengar percakapan Rina dengan laki-laki itu dia sengaja menahan dirinya dan emosi untuk mendengar percakapan Rina dengan laki-laki tersebut "Jadi selama ini gua dijadikan ATM berjalan sama Rina? Ini gak bisa dibiarin!" ucapnya dengan wajah penuh emosi
Bram sudah tidak bisa menahan dirinya lagi dia langsung mendatangi Rina dengan wajah emosi "Apa maksud kamu memperlakukan aku sebagai alat ATM berjalan kamu?" ucapnya dengan keras sambil mendekati Rina dan Willy
Rina terkejut dengan kedatangan Bram yang tiba-tiba dia kikuk karena telah terpeegoki oleh Bram saat ini Rina tidak bisa berkutik apa-apa "Astaga mas Bram jangan-jangan dia dengar semua pembicaraan aku sama Willy?" ucapnya dalam hati dengan wajah panik
Bram menatap Rina dengan tajam kali ini ia sangat marah sekali dengan sikap Rina yang diam-diam hanya memanfaatin dirinya dan telah mengkhianati cinta sucinya "Rina aku gak nyangka kamu diam-diam hanya memanfaatin aku aja?" ucapnya dengan emosi
Rina kikuk dia tidak bisa berkata apa-apa kepada Bram. Dan Bram menatap Willy dengan marah "Jadi lu yang udah rebut dia dari gua?! Dasar laki-laki pengecut mental cemen bisanya merebut kebahagiaan orang!" ucapnya dengan menatap tajam Willy
Willy yang tidak terima dengan perkataan Bram langsung menonjoknya Bram yang tidak terima dengan tonjokkan Willy dia membalasnya
"Mulai sekarang kita putus dan kita udah gak ada hubungan apapun!" ucapnya kepada Rina dengan tatapan tajam
Bram langsung pergi keluar dari resto tersebut dengan amarah yang memuncak tapi Rina mengejarnya ia ingin menjelaskan semuanya kepada Bram
"Mas Bram tunggu mas!" ucapnya sambil berlari menghampiri Bram
Bram tetap berjalan tanpa menghiraukan Rina yang mengejarnya namun langkahnya terhenti karena Rina berhasil mencegah Bram dengan menangkap tangannya dari belakang "Mas tunggu mas kamu harus dengerin penjelasan aku." ucapnya kepada Bram dengan wajah pura-pura sedih
Bram tetap memalingkan wajahnya dari Rina dia masih tidak menyangka dengan perlakuan Rina kepadany "Aku bukan laki-laki bodoh yang bisa kamu manfaatkan kebaikan aku! Selama ini aku sangat mencintai kamu dibanding dengan istri aku sendiri tapi ternyata aku salah aku bodoh sudah ditipu sama perempuan gila kaya kamu!" ucapnya dengan keras
Rina menangis akibat ucapan Bram dia tidak ingin kehilangan Bram sekaligus dia tidak ingin kehilangan alat untuk mencetak uang untuk dirinya dan pacarnya "Aku harus membuat mas Bram percaya lagi sama aku, aku gak mau kehilangan dia karena dialah sumber uang aku mengalir." ucapnya dalam hati "Mas aku mohon percaya sama aku, aku tau aku salah mas aku minta maaf sama kamu aku mohon kita jangan putus dan aku janji akan tinggalin Willy dan aku akan memilih kamu mas." ucapnya sambil menangis dihadapan Bram
Tapi dia tetap pada pendiriannya dia tidak ingin dibodohi dan dimanfaatin lagi oleh wanita seperti Rina "Kamu fikir aku akan percaya lagi dan memaafkan kamu untuk kesalahan ini? think and look at our relationship up to here!" ucapnya dengan tegas
Rina tetap tidak menerima dengan keputusan Bram yang ingin mengakhiri hubungannya ia memohon kepada Bram dengan semampunya tapi itu tidak akan berubah dengan keputusan Bram "Aku akan memilih Hanna dibanding kamu aku akan memperbaiki hubungan aku dengan istri aku tapi tidak dengan kamu!" ucapnya dan langsung pergi meninggali Rina yang sedang menangis
Usaha Rina hanya sia-sia saja dia tahu bahwa Bram bukan laki-laki yang gampang ditaklukin lagi jika sudah dikecewakan "Aku bukan hanya kehilangan uang tapi sekaligus dengannya tapi aku gak boleh cengeng akuw masih punya Willy aku yakin dia tidak akan meninggalkan aku." ucapnya sambil mengusap air mata dipipinya
Makasih buat teman-teman yang udah baca cerita novel "Harapan diatas Doa" jangan lupa like, komen, share, vote author, follow ig author @sofiimwddh, dan ikuti terus cerita yang tiap author publish!
__ADS_1